Tidak.
Shaleta tidak akan membiarkan Shane kembali memperlakukannya dengan keji, dia harus kabur dengan cara apa pun. Shaleta bangkit dan menjauh dari Shane yang tampak menyeringai padanya.
"Kamu ternyata belum puas tidur denganku malam itu, mau mengulanginya lagi?" ujar Shane memperlihatkan tubuh kekarnya, pahatan yang sempurna untuk dilewatkan.
"Aku bekerja di sini, lihatlah seragam yang aku pakai saat ini," bantah Shaleta tak ada niatan apa pun selain bekerja di tempat ini.
Namun, naas Shaleta harus kembali bertemu dengan Shane. Dan membuat lelaki itu kembali beranggapan kalau dia mengikuti ke mana pun Shane pergi, astaga bisa gila kalau seperti ini.
"Kamu tahu aku sering datang ke sini bersama Maria, dan kamu mengambil kesempatan ini untuk kembali menjebakku!" hardik Shane tak mampu mengontrol emosinya.
"Aku tidak pernah menjebakmu," bantah Shaleta yang lelah terus membela diri terus.
Shane tertawa, kenapa ada wanita semunafik seperti Shaleta di Dunia ini. "Katakan saja berapa uang yang kamu butuhkan! Aku bisa membayar untuk itu asal kamu pergi jauh dari kehidupanku dan Maria."
"Aku masih mampu bekerja, dan aku tidak membutuhkan uangmu," seru Shaleta yang hilang kesabaran karena Shane selalu merendahkan dirinya.
"Lalu apa yang kamu inginkan? Kepuasan? Atau kamu ingin menggantikan posisi Maria, haa," tuduh Shane dengan keji. "Wanita licik, orang tuamu pasti tak mampu mendidik dan malu memiliki anak sepertimu. Munafik!"
Shaleta tanpa takut menampar Shane karena membawa nama orang tua, terserah mau bagaimana dihina seperti apa Shaleta tidak akan peduli. Tapi, jika menyangkut orang tua, semuanya akan berbeda.
"Jangan pernah menghina orang tuaku!" desis Shaleta naik pitam.
"Aku berbicara kenyataan, orang miskin yang selalu bermimpi menjadi cinderella," balas Shine tak terima Shaleta berani menamparnya.
Shaleta memutuskan untuk mendorong Shane, meninggalkan lelaki itu yang mengumpat tiada henti. Baru saja dia melayani beberapa tamu, dia dipanggil untuk menemui manager club ini.
"Ini gaji kamu selama beberapa hari kerja di sini," lempar Dike pada Shaleta.
"Kenapa aku diberikan gaji saat ini?" tanya Shaleta bingung.
"Kamu dipecat, dan jangan datang lagi ke tempat ini. Mengerti!" tegas Dike menatap Shaleta aneh.
Shaleta tentu saja terkejut bukan main, dia merasa tidak membuat kesalahan apa pun. "Tapi aku tidak bersalah, kenapa harus dipecat?"
"Kamu menampar tamu VIP club ini, dia tidak terima dan aku lebih memilih memecatmu," ujar Dike mengusir Shaleta.
Astaga, ternyata Shane yang melakukan hal ini. Sungguh rendahan, maki Shaleta.
Orang kaya memang bebas menindas orang miskin seperti dirinya, selama ini Shaleta bekerja paruh waktu untuk hidup di kota ini. Bahkan dalam seminggu Shaleta memiliki tiga pekerjaan paruh waktu, kalau bukan dia yang bekerja siapa lagi yang akan memberikan dia uang. Tidak mungkinkan uang bisa jatuh dari langit dengan sukarela.
"Sialan," maki Shaleta menendang mobil Shane, dan berbunyi. Seketika Shaleta langsung berlari sebelum satpam berdatangan.
***
"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Shane yang masih memantau pergerakan Shaleta dari jauh.
Nico melaporkan kalau Shaleta tidak pernah berbuat hal yang mencurigakan sama sekali, dan wanita itu juga tampak biasa menjalani harinya. Berangkat kuliah, kerja paruh waktu dan pulang. Rutinitas yang selalu sama Shaleta lakukan, hanya berbeda tempat kerja saja.
"Kamu yakin dengan laporanmu?" Pastikan Shane menatap Nico tajam.
"Saya yakin, memang ada yang salah dengan hal yang saya laporkan?" tanya Nico yang tampak bingung, tidak biasanya Shane meragukan informasinya.
Setelah dari club malam itu, Shane malah lebih sering bertemu dengan Shaleta. Entah di Restoran, toko perkakas, bahkan di showroom mobil juga ada wanita itu. Shane bisa gila di semua tempat yang dia datangi selalu saja ada Shaleta, dan itu membuatnya geram bukan main.
Shane memijit pelipisnya, kenapa isi pikirannya hanya Shaleta dan Shaleta saja? Padahal Shane sangat membenci hal itu, namun itu yang mendominasi.
"Terus ikuti dia," kata Shane masih curiga jika Shaleta memiliki rencana ingin menghancurkan hubungannya dengan Maria.
"Baik," jawab Nico pergi.
Shane beberapa kali menghubungi Maria untuk memastikan kalau Shaleta tidak mengadu, dan dia juga meminta tunangannya untuk segera kembali. Shane sebenarnya bisa membiayai seluruh hidup Maria, tapi dia tidak ingin mengekang wanita itu untuk tetap bekerja sesuai keinginannya.
Shane melonggarkan dasinya, rasanya sungguh mencekik akhir-akhir ini. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang untuk istirahat, hari yang sungguh melelahkan.
Shane tidak memiliki rumah, dia hanya memiliki apartemen saja. Dia ingin membeli rumah ketika menikah dengan Maria, dia ingin Maria yang memilih sendiri rumah mereka seperti apa. Shane menekan tombol untuk kode akses, dan masuk.
Baru saja membaringkan tubuhnya, bunyi bel terdengar. Mungkin cleaning service panggilan untuk membersihkan apartemen ini, dan dengan santai Shane membuka pintu. Namun, Shane hanya diam menatap siapa yang kini ada di hadapannya.
Shane ingin memaki keras, siapa pun itu.
Sementara itu, Shaleta sendiri cukup terkejut karena apartemen Shane yang akan dia bersihkan hari ini. Sungguh kebetulan yang sangat menyebalkan, Tuhan seolah mempermainkan kedua supaya bisa bertemu kembali.
"Cih, kamu belum menyerah juga," hina Shane tak membuat Shaleta bergeming.
Shaleta hanya ingin fokus pada pekerjaan yang sedang dia jalani, dia mengabaikan Shane yang selalu menghina dan menuduhnya. Tapi, setiap pekerjaan yang Shaleta lakukan jika menyangkut Shane. Pasti setelah itu dia akan dipecat, Shaleta bisa memastikan hal itu.
Shane menatap tajam Shaleta yang sedang membersihkan apartemen miliknya, dia tidak suka kalau wanita itu berada di sekitarnya. Keberadaan Shaleta begitu mengusik hidupnya, apalagi setelah malam itu.
Shaleta sejak pagi sibuk dengan tugas kuliah, dan harus bekerja juga. Alhasil, dia sampai lupa makan dan tubuhnya terasa lemas saat ini. Namun, Shaleta berusaha kuat dan menahannya.
"Awww," keluh Shaleta yang duduk sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
Shane melihat Shaleta berbuat yang aneh, dia bangkit dan menghampiri wanita itu. "Bangunlah, pekerjaanmu masih belum selesai."
"I-iya, aku tahu," kata Shaleta tidak kuat lagi, keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
"Cepatlah, aku tidak sudi melihatmu terus ada di apartemenku," balas Shane melihat tubuh Shaleta yang mengigil.
Shane menyentuh pundak Shaleta, tapi langsung ditepis wanita itu. Dia memang merasa perut dan pinggangnya begitu sakit, tapi dia tidak ingin memberitahu Shane. Wajah Shaleta memang menunjukkan kesakitan yang dalam, pinggangnya terasa ada yang meremas kuat.
“Pergilah,” ujar Shaleta membuat Shane kesal, pasalnya lelaki itu seperti tidak tega melihat raut wajah wanita di depannya.
“Kamu yang harusnya pergi, ini apartemenku,” sahut Shane yang diam-diam memperhatikan Shaleta yang terlihat aneh.
Shaleta hanya mengangguk, tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menahan rasa sakit ini. Namun, ketika Shaleta berjalan tiba-tiba tubuhnya lemas dan terjatuh. Beruntung Shane segera menangkap tubuh Shaleta sehingga tidak terjatuh.
“Lepas,” ucap Shaleta yang berwajah pucat, mencoba mendorong Shane menjauh.
“Apa yang kalian lakukan?”





