The Arrogant Boss

Aurora memilih mengejar sang atasan, memasukkan ponsel blackberry ke dalam tas totebag.

"Pak Austin," Aurora memanggil sopan tepat dari belakang.

Austin berhasil berhenti, berusaha tidak akan menghentikan aksi nekat ini lalu ia berjalan menuju Austin dan berhadapan dengannya begitu intens. Aroma maskulin tubuh mulai tercium, seakan menjalar di tubuh. Wajah keras yang tampak arogan menbuat mulai kikuk.

Memberanikan menatap mata biru yang kini ikut membalas tatapan tampak mengintimidasi. Aurora menatap kedua pengawal setia melindungi.

"Ada apa?" tanya Austin akhirnya dengan angkuh.

"Pak— saya Aurora, saya Assisten Pak Anton ingin berbicara." Aurora terbata.

"Mengenai apa?"

"Mmhh ... masalah tadi pagi Pak, saya minta maaf."

"Menyingkirlah! Aku tidak punya waktu denganmu."

"Pak saya benar-benar minta maaf, saya membutuhkan pekerjaan ini. Saya mohon pak," Aurora memohon.

Austin tidak menjawab sepatah kata pun. Dia memilih pergi meninggalkan Aurora termangu syok atas kepergiannya. Betapa tidak menyangka dengan sifat Arogan dan angkuh pria itu.

Apa dia baru saja meremehkan kinerja Aurora yang banyak dipuji orang.

Tidak pantang menyerah, ia sedikit berlari. Kali ini nekat menarik paksa tangannya, genggaman erat membuat pria itu berhenti. Auirora sentuh kulit mulus, dengan warna kulit perunggu sensual juga tampak sexy.

Aurora terhanyut sesaat. Dengan sigap, Austin menarik paksa tangan yang tampak kokoh bagi bangunan gedung. Ia tampak marah, lalu menatap kasar.

"Jangan menyentuhku sembarangan!" Ancamnya dengan suara bariton yang khas.

"Pak, saya mohon maafkan saya." Aurora masih berjuang.

"Kamu!" Austin membalas seakan ingin menerkam bulat-bulat.

Aurora menatap para pengawal yang mulai bersiaga seakan ingin menggeret ia keluar dari sini.

"Pak, saya mohon."

Austin menyentuh leher, mengatur embusan napas sebaik mungkin lalu memberi perintah untuk meninggalkan mereka berdua. Terlihat dari tatapan tidak suka para pengawal, tapi mau tak mau terpaksa membiarkan mereka berdua.

"Waktuku hanya satu menit. Katakan kamu mau apa."

"Saya mohon Pak, jangan pecat saya. Saya sangat menginginkan pekerjaan ini. A-aku sudah lama mendambakannya," ucap Aurora parau.

"Lalu kalau saya tidak memecatmu, apa kamu bisa menjamini tidak melakukan kesalahan itu lagi?"

"Yaa saya—"

"Atau kamu kembali melakukan itu lagi, lagi dan seterusnya. Wanita sepertimu memang cantik tapi di perusahaanku tidak butuh itu saya membutuhkan cara kerjamu yang profesional bukan mengandalkan kecantikanmu." Austin berkata ketus, tentu menusuk hati dengan katanya.

Pria jahat yang pernah ia temui, 'pria Arrogant' teriak Aurora membara dalam hati.

"Saya bisa menjamini kalau hal itu tidak akan terulang Pak."

"Alasan basi."

Aurora ingin mencekik leher pria di depannya saat ini, rasanya hampir mengangkat bendera putih.

"Baiklah, aku akan melihatmu. Kita lihat saja nanti bagaimana." Austin berucap dang langsung pergi berlalu.

"Itu artinya saya masih bisa bekerja disini Pak?" tanya Aurora sedikit berteriak.

Austin tidak memberikan jawaban, malah pergi melenggang. Aurora terdiam mematung memikirkan sifat sombongnya itu tapi cukup tenang karena tidak jadi diberhentikan.

Akhirnya ia beranjak keluar kantor, berjalan seperti orang kebingungan. Mulut tak henti komat kamit memikirkan sifat CEO angkuh itu.

"Benar-benar hari yang sangat buruk, punya pimpinan yang super duper kejam, arogant bahkan begitu buruk dari apa pun." Kesalnya sambil menuju halte bus.

***

Aurora menunggu tunangannya di cafe favorite mereka sejak lama. Ya, semalam Aurora menelphone balik. Betapa bahagia dia kembali lagi ke tanah air. Kesempatan terbaik bisa ia lakukan hari ini, hari sabtu bukan hanya libur kantor juga hari yang sangat pas menikmati jalan bersama sang tunangan.

Sembari menunggu tunangan, ia memesan kopi. Aurora adalah wanita pecinta kopi hitam, selain enak baginya kopi itu mampu menenangkan pikiran juga jiwa raga kala merasa merindu juga sedih.

Aurora mencium aroma kopi yang masih terasa panas sambil menyeruput perlahan. Betapa nikmat tiada tiara.

Seseorang menyentuh pundak Aurora, "Lama menungguku?" tanyanya sambil duduk di samping.

Ia menatap, "Frank?" Aurora memeluk spontan sambil berlinangan air mata rindu.

Frank Dave, sang tunangan akhirnya menemuinnya. Aurora dan Frank terpaut usia cukup jauh, bahkan semua orang mengira ia adalah anaknya, bagaimana tidak usia Aurora saat ini 21 tahun sementara Frank sudah 40 tahun.

Mereka sudah bertunangan, saling mencintai sejak lama namun dia belum juga melamar. Aurora mencintai pria itu karena hanya dia yang punya, dia yang merawat dari kecil akibat dari kegagalan orangtuaku. Mereka meninggalkan Aurora entah ke mana.

Aurora wanita sebatang kara.

Frank seorang pria pekerja keras, pria yang sangat dewasa. Karena itulah ia menyukai karakter pria itu, tidak perduli setua apa pun dia.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Aurora setelah saling melepas pelukan.

"Baik. Sibuk dan aku akan libur selama enam bulan ... tapi bukan berarti aku bebas sayang," ucap Frank berusaha tersenyum.

Frank bekerja menjadi pengawal pribadi seorang CEO, Aurora sudah lama berpisah dengan Frank. Saat ini dia memang kembali, walau pun waktu hanya enam bulan tapi akan ia pergunakan sebaik mungkin waktu kebersamaan mereka.

"Frank," uccap Aurora saat Frank menciumi buku-buku jari Aurora.

"Yes, ada apa Rora sayang. Apa kamu ingin mengatakan sangat merindukanku?" tanya Frank menahan bahagia bangga.

"Tentu saja, aku sangat merindukanmu." Aurora mulai serius.

Frank menatap Aurora sedalam mungkin, mengembuskan napas teratur.

"Kamu tau apa yang aku rasakan saat ini?"

Aurora menggeleng.

"Aku sangat ingin menikahimu," ucap Frank menyentuh pipi kekasihnya yang mulus.

Aurora tertegun, masih menatap sendu. Ada celah secuil kata sulit terlontar.

"Lalu, apa yang kamu khawatirkaan?"

Frank memudarkan senyuman. "Rora, maafin aku ya." Frank berkata sambil tertunduk.

"Untuk apa?"

"Untuk belum bisa menikahimu dalam waktu dekat ini," ujar Frank.

Apa yang terjadi dengan Frank sebenarnya. Kenapa mendengar kata pernikahan saja dia selalu menghindar bahkan untuk ciuman bibir saja belum pernah Aurora rasakan. Hingga akhirnya mengangguk lemah, ia sedih kalau Frank belum punya keinginan menikahi. Ia tahu usia juga belum terlalu tua tapi mengingat umurnya juga pengorbanannya pada Aurora?

"Sudahlah— sekarang lebih baik kita membahas tentang pekerjaan kita saja bagaimana?" Rara tersenyum mengalihkan pembicaraan menyesakkan.

Frank mendongakkan wajahnya, lalu dia tersenyum alami setelah Aurora menghentikan pembahasan itu.

"Bagaimana dengan atasanmu?" tanya Aurora sembari menyeruput kopi.

"Dia pria sibuk selama enam bulan. Akan lebih sibuk di banding aku."

"Akan menjadi hari melelahkan."

"Aku sudah menjaga sejak usianya enam tahun. Dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri walau dia memiliki sikap dingin karena sifat Arogant aku tidak punya keberanian mengatakan ingin menghabiskan waktu liburan denganmu."

"Benarkah. Kedatanganmu saat ini tidak akan membuatnya mencarimu?"

"Aku sudah meminta izin. Tuan-ku seorang CEO juga pemilik perusahaan. Sudah sangat lama perusahaan itu tidak ada yang mengurus so, dia merasa harus bertanggung jawab."

Arrogant. Kenapa mendengar kata Arogant ingatan tertuju dengan pria buruk itu.

Astaga!

Semoga ia bisa bekerja sebaik mungkin tanpa kesalahan lagi, ia muak kalau berhadapan dengan pria buruk itu lagi.

"CEO atau lebih tepatnya pemilik perusahaan tempatku bekerja juga Arrogant. Menyebalkan!" Aurora berkata sambil memasang wajah masam.

"Benarkah?"

"Kemarin aku telat karena berkas kantor ku bawa pulang, busku lama datang alhasil aku telat. Kamu suda bisa menebak itu adalah hari yang sangat buruk bagiku."

Frank tertawa lucu, "Kamu semakin cantik kalau lagi marah begini."

"Cantik apaan. Orang marah mana ada yang cantik, yang ada jelek." Aurora bernada manja.

"Iya iyaa— memangnya kamu bekerja di mana sekarang?" tanya Frank santai.

Auora menatap Frank, kenapa ia lupa memberitahukan tempat bekerjanya. Memang sih baru beberapa minggu, tapi bukan maksud ia menutupi pekerjaan. Mungkin karena kesibukan mereka masing-masing jadi lupa saling memberikan kabar.

Akhirnya Aurora tertawa sembari menepuk jidat tanda lupa. Frank masih setia menatap menunggu jawaban, wajah teduh yang begitu melekat.

"Aku diterima di perusahaan ternama itu berkat kampusku, aku adalah orang satu-satunya yang diterima." Aurora mengenang.

"Hebat. Kamu memang gadisku yang hebat Rora. Aku beruntung memilikimu. Katakan memangnya di mana?" tanya Frank lagi.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.