Terpikat Janda Kakakku

Arga dan teman-temannya berkumpul di klub malam, meski dia bukan penggemar alkohol. Kadang-kadang, ia minum beberapa gelas wine untuk bersantai. Arga hadir malam ini karena papanya menelponnya, ingin membicarakan hal penting setelahnya. Arga menduga ini berkaitan dengan rencana pernikahan seperti yang diberitahu oleh Ratu.

Namun, Arga merasa belum siap membahas hal itu. Ia masih merasa kehilangan kakaknya yang sangat dicintai dan dihormati. Menurutnya, tidaklah pantas jika ia menikahi istri kakaknya, terlepas dari alasan apapun. Di klub malam yang ramai ini, Arga dan teman-temannya duduk di ruang VVIP yang terisolasi oleh dinding kaca tebal. Mereka dapat melihat ke luar, tetapi orang di luar tidak bisa melihat mereka. Ruangan ini juga kedap suara, menciptakan suasana yang tenang.

Arga dan teman-temannya melihat dengan jijik seorang pria yang dikerumuni oleh wanita penghibur di luar. Mereka terlibat dalam perilaku yang tidak pantas untuk diperlihatkan di tempat umum. Bahkan, wanita-wanita itu telah berhasil membuat pria tersebut tanpa kemeja. Meskipun Arga juga seorang pria, ia tidak akan sembarangan dalam bersikap terhadap wanita atau membiarkan wanita yang tidak ia kenal menyentuh tubuhnya. Ketika bersama Ratu, dia selalu menolak tawaran-tawaran tersebut, ingin menjaga hubungan mereka hingga pernikahan. Arga yakin pada kekuatan cinta mereka.

Namun, kenyataannya berbeda. Setelahnya, wanita tersebut malah menjadi kakak iparnya. Arga pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya, lebih tepatnya untuk menjauh dari Ratu yang kini bersama Candra.

"Hei, kalian tahu siapa dia?" teman Arga, Danny, menunjuk pria tampan yang dikelilingi oleh wanita penghibur di sudut ruangan.

Namun, teman-temannya hanya menggelengkan kepala, tidak tahu siapa pria tersebut.

"Namanya Rayhan, blaster Indonesia Inggris. Mahasiswa semester akhir di perguruan tinggi swasta. Tahu pekerjaannya apa?" tanya Danny.

Seorang teman memotong, menganggap informasi itu tidak penting. Danny kecewa, karena dia ingin berbagi cerita tentang Rayhan.

Waktu berlalu dan hanya tinggal Danny dan Arga di ruangan itu. Biasanya, Arga yang lebih dulu meninggalkan teman-temannya. Kali ini, dia malas pulang.

"Kau keberatan tidak jika aku meneruskan cerita tentang pria tadi?" tanya Danny saat melihat Arga bersandar di sofa dengan mata tertutup.

Arga menjawab malas, "Terserah."

"Dia adalah Rayhan, pria yang tadi kita lihat di sudut ruangan."

Hening. Arga tidak merespons kata-kata Danny, tetapi Danny yakin bahwa pria itu masih mendengarnya.

"Dia seorang gigolo, langganannya kebanyakan wanita kaum sosialita. Sebenarnya dari dulu aku ingin bicara padamu. Tapi aku takut hal ini akan menyakiti perasaanmu," jelas Danny.

"Berisik!" bentak Arga.

"Ckk, aku serius Arga! Aku tidak bercanda," namun Arga tetap diam dengan posisinya semula, hingga Danny memijat pelipisnya.

"Ya Tuhan, mengapa Engkau memberikan teman seperti dia kepadaku? Untunglah aku kaya, kalau tidak..."

"Kalau tidak, kenapa?" potong Arga tajam.

"Haisshh... mengapa kau menjadi begitu menjengkelkan sekarang! Aku hanya ingin mengatakan bahwa Rayhan adalah pria simpanan istri kakakmu!" jelas Danny.

Bug.

Tangan Danny memegang pipinya yang baru saja mendapat pukulan dari Arga. Darah mulai keluar dari sudut bibirnya. Danny sebenarnya sudah memperkirakan reaksi ini, karena ia tahu betapa Arga menghormati kakaknya.

"Jaga mulutmu, brengsek! Sekali lagi kau menyentuh hal yang berhubungan dengan kakakku, aku tidak akan ragu untuk mengakhirimu," ancam Arga dengan mata merah karena amarah yang dikendalikannya dengan susah payah.

"Dari dulu, sebenarnya aku sudah ingin mengatakan ini, apa pun risikonya, termasuk ini," kata Danny sambil menunjuk lebam di pipinya.

"Yang aku katakan adalah kenyataan. Aku juga punya bukti jika kau ragu padaku." Tanpa berkata lagi, Arga melangkah keluar dari ruangan tersebut. Dia tidak ingin kehilangan kendali dirinya dan mengulangi pukulan pada salah satu sahabatnya.

"Hei! Aku tahu suatu hari nanti kau akan mencariku karena hal ini!" teriak Danny sebelum Arga berhasil mencapai pintu ruangan itu.

Arga membanting pintu ruangan dengan kuat. Untuk sejenak, dia menjadi pusat perhatian kaum wanita di klub tersebut. Selain memiliki wajah yang tampan, Arga juga memiliki tubuh atletis yang membuatnya menjadi idaman para wanita.

Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Sudah dua bulan sejak kepergian kakaknya. Semakin lama, Arga semakin tenggelam dalam kesibukan mengurus perusahaannya. Dia merasa lega bahwa orang tua tidak pernah membicarakan pernikahan seperti yang diceritakan oleh Ratu.

Arga tiba di rumah pada dini hari. Rumah terasa sepi. Ia menuju kamarnya dengan langkah lelah, ingin segera beristirahat. Kegiatan hari ini telah menguras energi dan pikirannya. Tanpa sadar, Arga langsung tertidur tanpa membersihkan diri.

Bunyi ketukan keras pada pintu membuat Arga terbangun dari tidurnya. Ia berjalan dengan malas menuju pintu dan membukanya. Tatapan tajamnya bertemu dengan pelayan yang terlihat panik.

"Maaf, tuan, nyonya menginstruksikan agar tuan segera datang ke rumah sakit," kata pelayan dengan nada sedikit takut. Majikannya dikenal memiliki sikap yang sangat dingin.

"Kenapa aku harus pergi ke sana?" tanya Arga.

"Tuan besar pingsan pagi ini, nyonya membawanya langsung ke rumah sakit..."

"Bodoh! Mengapa kalian tidak segera membangunkanku, hah!"

"Sudah, tapi tadi..."

Arga keluar dari kamar setelah mengambil kunci mobilnya, tanpa peduli pada pelayan yang masih berdiri di depan pintu, masih terkejut dan memegangi dadanya. Arga menginjak pedal gas dengan cepat untuk segera sampai ke rumah sakit. Ketika sampai di sana, ia bergegas menuju ruang operasi di mana ayahnya sedang ditangani oleh para dokter.

"Mah."

Arga memeluk ibunya yang sudah duduk di depan ruang operasi, air mata masih mengalir di kedua pipinya.

"Arga. papahmu, nak."

"Papah kuat, Arga yakin semuanya akan baik-baik saja. Mamah harus tetap tenang," Arga merangkul ibunya memberikan rasa nyaman. Namun, dalam hatinya juga penuh kekhawatiran. Dia tidak ingin kehilangan lagi, belum sepenuhnya pulih dari pukulan kehilangan kakaknya.

Tidak lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka dan beberapa perawat membawa ayahnya ke ruang perawatan. Arga bangkit untuk berbicara dengan dokter yang menangani ayahnya.

"Bagaimana, Dok? Apa papah saya baik-baik saja?" tanya Arga.

Dokter itu mengambil napas dalam sejenak, terlihat ia merasa berat memberikan penjelasan.

"Kami berhasil menangani masalah pada jantungnya, tetapi kami harus mengangkat satu ginjal milik Pak Galih karena kondisinya sudah tidak bisa diselamatkan." Jelas Dokter.

"Apa itu berbahaya, Dok?" tanya Arga lagi.

"Beliau sekarang hanya memiliki satu ginjal, jadi kami perlu benar-benar memperhatikan pola makan dan merawat kesehatannya, terutama karena beliau juga memiliki masalah jantung. Kami perlu menjaga suasana hatinya sebaik mungkin. Itu saran saya," Arga merasa lega setelah mendengar penjelasan dari dokter, dan Dara juga tampak tenang. Mereka menunggu Galih sadar dari pengaruh obat setelah operasi. Beberapa alat masih melekat di tubuhnya.

"Arga, biarlah mamah yang merawat papahmu di sini. Kamu bisa pulang dan istirahat. Mamah tahu tadi kau baru saja bangun tidur. Jangan terlalu sering pulang larut malam, sayang. Jaga kesehatanmu. Hanya kamu yang menjadi harapan Papah dan Mamah," ujar Dara dengan penuh kasih sayang.

"Mah. Arga, tidak apa-apa. Arga bisa tidur di sofa jika Arga merasa kantuk. Aku bisa mengurus urusan kantor dari sini," kata Arga sambil menanggapi.

"Baiklah, kamu tidur saja dulu. Nanti mamah akan membangunkanmu jika papah sudah sadar," ucap Dara.

Arga menuruti kata ibunya, apalagi ia merasa sangat mengantuk. Akhirnya, ia tertidur pulas di sofa ruangan tersebut.

Arga terbangun mendengar suara seorang pria di dalam ruangan. Ternyata dokter sedang memeriksa papahnya. Papahnya sudah sadar dan ibunya setia berada di sampingnya.

"Arga," suara lirih Galih masih jelas terdengar.

"Ya, Pah, Arga di sini," Arga mendekati tempat tidur ayahnya.

"Mamah dan papah tahu bahwa kamu telah menghindari kami akhir-akhir ini. Kami yakin kamu sudah mengetahui apa yang ingin kami bicarakan padamu," Dara mengutarakan perasaan suaminya karena Galih belum mampu berbicara atau bergerak banyak.

"Papah dan mamah ingin kamu menikah, kami yakin kami sudah memikirkannya dengan matang. Dia adalah yang terbaik untukmu! Dia adalah wanita baik, kami sudah menjadikannya seperti putri kami sendiri," lanjut Dara.

Arga tetap diam, ia ingin ibunya berbicara lebih lanjut. Saat ini, ia tidak boleh gegabah dalam bertindak sesuai anjuran dari dokter untuk menjaga suasana hati ayahnya.

"Mamah berharap kamu bisa menerima rencana ini nanti. Kami ingin kalian menjadi keluarga yang bahagia," kata Dara.

"Siapa yang mamah maksud? Siapa wanita yang ingin aku nikahi?" tanya Arga.

Dara menghela nafas dengan berat, ia tahu Arga mungkin akan menolaknya. Galih memberikan dukungan dengan menggenggam tangan istrinya untuk memberi keberanian.

"Mantan istri kakakmu, ibu dari cucu kami," jawab Dara.

"Baiklah!" sahut Arga.

Dara dan Galih saling pandang, terkejut dengan kecepatan jawaban Arga.

"Apa maksudmu, Nak!?" tanya Dara.

"Bukankah mamah menginginkan aku menikah? Aku bersedia jika itu akan membuat kalian bahagia," ujar Arga.

Dara kemudian memeluk Arga erat, tangisnya pecah. Ia merasa bahagia karena putranya menerima rencana pernikahan ini.

"Kalian akan menikah dua hari lagi, sebelum mamah dan papah pergi ke Tiongkok untuk perawatan dan istirahat. Kami sudah membicarakannya dengan dokter, dan dia mendukungnya," jelas Dara.

"Mamah atur saja semuanya, Arga pasti akan melakukannya," ujar Arga.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.