"Dok, pasien di kamar VIP 02 histeris."
Gerak cepat. Tak tunggu waktu lama Levin mempercepat langkahnya hingga pemandangan mengerikan itu sudah terpampang di depan mata. Perban di kepala gadis itu sudah terlepas, dengan rambut yang tak karuan. Bahkan ia tampak mendorong penyangga infusan hingg selang terlepas dan mengeluarkan banyak darah dari lengannya.
"Kenapa gue masih hidup?! Kenapa gue gak mati aja?!"
Kedua orang tuanya sudah kewalahan hingga tak sanggup lagi menahan gadis yang sedari tadi memukul-mukul perutnya itu.
"Asley, lepasin, sayang. Jangan seperti ini." Ibunya mencoba memeluk dengan erat.
"Lepasin. Ma. Aku mau mati ... Aku mau mati ...!"
"Asley, kamu jangan putus asa seperti ini, kamu masih punya Mama dan Papa." Ayahnya turut bicara.
Tak tega melihat darah yang terus mengucur deras dari lengan gadis itu. Ia segera memasang kembali selang ke tangan Asley, hendak menyuntikkan obat penenang, tapi dicegah oleh suster di sampingnya.
"Pasien punya riwayat alergi obat bius, Dok. Ia akan kejang jika sehari menghabiskan dosis normal seperti pasien lainnya. Sedangkan setengah dari dosisnya sudah digunakan ketika kami menjahit luka pasien."
Sial! Jika seperti ini terus akan semakin parah adanya. Levin melemparkan dua benda yang semula tergenggam di tangannya. Menarik tubuh Asley dan kemudian memeluknya dengan hangat.
"Sssttt ... kamu tenang ya ... ada saya, ada saya di sini. Kamu tenang."
Bagaikan lahan kering tersiram air hujan. Perlahan gadis itu mereda, hingga akhirnya ia tenang seiring dengan detakan jantung yang ia nikmati dalam dekapan dada bidang Levin. Hanya sesekali isak tangis yang terdengar, Asley tak lagi berontak.
Semua orang yang berada di ruangan itu tercengang seketika, tak terlepas Anandita yang menatap pahit di ambang pintu. Ini seperti kejadian masa lalu, di mana ketika Levin menyelamatkan Laura yang juga histeris dan nyaris bunuh diri dari atas gedung kampus. Hanya saja bedanya Laura depresi karena tekanan orang tua.
"Aku mau mati aja, Dok ...." Gadis itu berucap dengan lirih.
"Tapi kenapa?" Levin membingkai lembut wajah gadis itu.
Asley tak lagi berbicara selain hanya bngkam dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Katakan sama saya, apa yang terjadi?" Tetap lembut, Levin membujuk.
"Aku, hamil." Kedua tangannya tertaut melilit ujung selimut yang semula menutupi tubuhnya.
Roboh, wanita yang sejak tadi menatap sendu purinya itu kini tak sanggup lagi berdiri. Bahkan suaminya sudah tampak wajahnya kian merah padam. Entah malu atau marah, keduanya bercampur menjadi satu.
Kekecewaan tergambar jelas di wajah wanita yang bahkan nyaris pingsan jika tidak dipeluk suaminya.
"Mama sudah sering bilang sama kamu untuk tidak berhubungan dengan laki-laki itu! Kenapa kamu gak pernah mau nurut?! Mama kira kamu seperti ini karena hanya diputuskan pacar kamu itu, bukan sebab meninggalkan aib!"
"Ma, jangan terlalu keras," pekik suaminya. "Ini rumah sakit, malu."
"Tapi Mama kecewa, Pa. Mama kecewa!" Sorot mata wanita itu menatap dengan nyalang hingga membuat Asley menggigil ketakutan dalam dekapan Levin. "Dokter, lepaskan saja, biarkan dia mati!"
Levin menutup mata dengan rapat.
Please, gadis ini hanya korban. Kenapa dia harus diperlakukan seperti ini? Dia tertekan, bahkan mungkin mengalami depresi berat!___benak Levin.
"Kalo seperti ini? Siapa yang mau tanggung jawab? Hah?!" Wanita itu berusaha merebut Asley yang masih dalam dekapan Levin. "Siapa yang akan tanggung jawab?!" Bahkan tangannya tak segan memukul wajah gadis itu.
Levin benar-benar tak tega dengan kondisi psikis gadis itu. Hingga beberapa kalimat ibunya kembali menggema di seluruh rongga pendengaran.
Kamu tak bisa seperti ini terus, Levin. Kamu tak bisa selamanya menunggu Laura sadar dari koma, Mama tak tega! Levin, Mama serius. Mama juga mau punya cucu, sama seperti orang normal lainnya.
"Biar saya yang tanggung jawab!"
Sunyi, seperti tak ada lagi suara yang bergema di ruangan itu selain hanya deru nafas yang terdengar. Bahkan Anandita tampak menganga sambil tak henti air mata itu mengalir tanpa isak tangis.
Lagi, Levin pada akhirnya harus mengulang kepahitan Anandita yang sempat ia ciptakan dulu. Dia kembali terluka.
***
Gila!
Itu merupakan hal gila pertama yang Levin lakukan dalam hidupnya. Menikahi gadis korban hamil di luar nikah? Kenapa ia bisa segila itu?
Ia masih mengurung diri di kamar Laura sejak pernyataan gilanya tadi di ruangan sebelah. Levin hanya memeluk diri di atas sofa, sambil tak henti kedua mata itu menatap ke arah istrinya yang masih setia terbaring di atas ranjang rumah sakit bersama belasan alat pembantu kehidupan.
Please, bangun, sayang. Cegah aku untuk menikahinya. Marahi aku, pukuli aku. Please, bangunlah, Laura.
seseorang mengetuk pintu ruangan itu, kemudian muncul seorang suster menghampirinya.
"Maaf, Dok. Pasien tidak mau diganti perban jika bukan Dokter Levin yang melakukan," ujar suster itu sambil satu tangan memeluk rekam medis pasien. Ia masih terdiam, menunggu jawaban dari mulut Levin yang seolah sukar untuk berucap.
"Katakan, sebentar lagi saya ke sana." Akhirnya, Levin menyetujui.
Harapan itu masih ada. Sekali lagi Levin menoleh ke arah istrinya, berharap adanya gerakan kecil meski hanya sebuah gerakan jemari saja. Masih tetap sama. Laura masih setia dalam mimpi panjangnya tanpa ingin membagi mimpi bersama suami yang selama ini berharap ia kembali.
Langkah kian gontai itu ia akhirnya menutup pintu dengan tatapan tak lepas dari wujud Laura yang masih terbaring dengan tenang. Hilang sudah, pandangannya kini terhalang oleh kokohnya pintu kayu berbahan jati menutupi seluruh ruangan.
Maafkan aku, Laura.
Sementara itu, wanita yang pada awal kedatangannya tadi menangis, kini raut wajahnya sudah berubah menjadi lebih bengis dan menakutkan. Sedangkan Asley tampak pula memalingkan wajah, ia memang terbilang gadis yang keras kepala.
Tak ada lagi sapaan ramah terhadap pasien seperti pada umumnya. Levin langsung menghampiri dan meraih beberapa alat medis yang tersedia di atas nampan seorang suster mengiringinya. Tanpa banyak bicara, ia tetap cekatan membuka perban yang melilit kepala gadis itu sambil sesekali membubuhkan alkohol pada luka yang menganga demi menghindari lengketnya perban itu.
Sesekali Asley meringis, Levin akan menghentikannya untuk sesaat. Ia menoleh, kemudian tersenyum singkat seraya kembali pada perban di kepala Asley.
"Mama sudah katakan sejak awal, seharusnya kamu itu gak pacaran sama dia!"
Rupanya permasalahan mereka masih juga belum selesai. Levin kembali menutup mata, kurang setuju dengan cara wanita itu memvonis anaknya. Ini seharusnya tidak perlu dibahas di tempat umum, Levin sangat tahu bagaimana malu dan hancurnya perasaan gadis yang saat ini tengah dalam keadaan terpojok. Terlihat dari bibirnya yang bergetar serta dua sorot mata yang tetap bertahan meski sudah berembun.
"Bukan Rico yang melakukannya, Ma," gadis itu menjawab.
***





