TERPAKSA MENIKAHI MANTAN IBUKU

"Kakak darimana? Apa dari dapur?" Tanya Ziva curiga.

"Tidak, aku dari taman tadi cari angin sebentar," bohong Dion.

Ziva pun menelisik bau badan suaminya,kalau memang benar suaminya ini merokok, tentulah baju dan tubuhnya pasti bau asap.

"Tidak jadi merokok?" Ziva masih tidak percaya dengan ucapan sang suami.

"Tidak," ujar Dion singkat.

Ziva menghela nafas kasar, dia jelas mendengar suara desahan dari dapur, sewaktu ingin membuka pintunya ternyata dikunci. Tidak mungkin kan kalau Bibi melakukan itu. Ziva sedikit curiga pada suaminya, tapi dengan siapa Dion melakukannya? Sementara, dia tidak memiliki bukti untuk menuduh suaminya.

Dion lalu membaringkan tubuhnya di ranjang, tubuhnya sedikit lelah setelah tenaganya dikuras habis oleh Denisa tadi. Dion bahkan tidur sambil membayangkan wajah Denisa.

Keesokannya, Dion terbangun. Dia melihat Ziva sudah tidak ada di sampingnya. Lelaki tampan itu pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, dia lalu turun ke meja makan untuk sarapan.

"Pagi sayang," sapanya seraya mencium pucuk kepala sang istri, tapi tatapan mata dan senyumnya mengarah pada Denisa membuat wanita itu tersipu malu.

"Pagi Ma, Pa," sapanya lalu duduk di samping istrinya.

Dion tersenyum bahagia saat melihat makanan kesukaannya ada di meja. "Terima kasih Ma, sudah membuatkan aku makanan ini," ujar Dion seraya mengedipkan sebelah matanya pada Denisa.

Denisa hanya tersenyum mengangguk. Ziva dan Zico saling pandang, kenapa Denisa dan Dion seolah saling kenal.

"Mama tahu darimana makanan kesukaan Kak Dion?" Tanya Ziva curiga.

"Perlu kalian ketahui, suamimu dan Mama adalah tetangga sebelah rumah, bahkan kami sangat dekat. Dia selalu membantu Mama jika Mama kesusahan, begitu pula sebaliknya," cerita Denisa.

"Pantas kalian begitu akrab," kata Zico.

"Tidak perlu cemburu gitu sayang, Mama kamu dan aku adalah sahabat dulunya," kata Dion.

"Apa sih Kak, siapa juga yang cemburu?" Elak Ziva.

Selesai sarapan, Dion mengantar sang istri pergi ke kampus, barulah dia pergi ke kantor. Sementara Zico, masih di rumah.

"Papa, masih sakit?" Tanya Denisa seraya memegang kepala sang suami.

"Masih sedikit pusing Ma," jawab Zico.

"Istirahatlah Pa, apa mau Mama kerokin?" Tawar Denisa.

"Boleh Ma," sahut Zico.

Denisa lalu mengambil minyak kayu putih kemudian membalurkan di punggung sang suami lalu mengerokinya. Denisa juga memijat punggung dan kaki Zico hingga membuat tubuh lelaki itu menjadi segar kembali.

"Terima kasih Ma. Mama memang yang terbaik," puji Zico.

"Sama sama Pa, sekarang Papa istirahat saja," kata Denisa.

Zico lalu memejamkan matanya, tak butuh waktu lama lelaki tampan itu sudah berada di alam mimpi. Denisa pun ikut berbaring di samping suaminya.

Siang hari, gawai Zico berdering, ternyata dari asistennya. Zico terpaksa bangun karena dering hapenya yang terus mengganggu tidurnya.

"Ada apa Alex?" Tanya Zico.

"Maaf Tuan, saya mengganggu istirahat Anda, klien dari kota S ingin memajukan meeting besok hari jadi sekarang," kata sang asisten.

"Tidak apa, saya sudah membaik kok, saya akan datang, kirim saja alamat tempat meetingnya," sahut Zico.

"Baik Tuan," ujar sang asisten.

Merasakan ranjangnya bergerak, Denisa membuka matanya. "Mau kemana Pa?" Tanyanya.

"Ada meeting dadakan Ma, dan kemungkinan Papa pulang terlambat," kata Zico.

"Baiklah, akan aku siapkan air hangat dan bajumu," kata Denisa.

Wanita cantik itu pun pergi ke kamar mandi, setelah menyiapkan air hangat, Denisa lalu menyiapkan baju sang suami. Wanita itu bahkan memakaikan baju untuk suaminya. Setelah sang suami pergi, Denisa kembali merebahkan tubuhnya, dia ingin istirahat sejenak sebelum membuat makan malam.

Baru saja dia terlelap, gawainya kembali berdering. Denisa mengira itu adalah sang suami. "Hem, ada apa Pa?" Jawabnya.

"Papa merindukanmu sayang, cepat datang ke kantor Papa sekarang ya," ujar Dion diiringi senyum licik.

Denisa melihat kembali nomornya, "Dion? Ngapain kamu telepon siang siang?" Omel Denisa.

"Haruskah aku ulangi lagi? Datang ke kantor sekarang, sopirku akan menjemputku," titah Dion.

"Tapi Di," Denisa ingin protes, tapi Dion sudah menyelanya, "Tidak ada bantahan Denisa, atau aku cabut investasi yang aku tanamkan di perusahaan suamimu."

Mau tak mau, Denisa akhirnya pergi ke kamar mandi lalu mengambil bajunya. Setelah berganti pakaian, sopir Dion sudah ada di bawah. Denisa pun memasuki mobil mewah itu.

Tak sampai 30 menit, mobil mewah Dion sudah sampai di halaman kantornya. Denisa langsung turun dan naik ke lantai 25. Begitu Denisa masuk ke dalam ruangan Dion, lelaki itu langsung menciumnya dengan brutal. Denisa yang awalnya hanya diam, lama lama terhanyut juga.

Mereka pun kembali melakukannya, Dion tersenyum puas, selama ini, tidak ada yang bisa menghilangkan dahaganya meski dia berulang kali bermain dengan wanita manapun. Hanya Denisa yang bisa membuatnya meledak ledak seperti sekarang ini.

Dion memeluk tubuh Denisa dari belakang kala mereka sudah selesai dengan permainan panasnya. Mereka tengah beristirahat di ruang pribadi Dion. Tiba tiba, gawai Dion berbunyi, tertera nama sang istri disana.

"Ya sayang," jawabnya.

"Kak, kuliahku sudah selesai. Aku ke kantor Kakak, atau Kakak yang jemput aku kesini?" Tanya Ziva.

"Tunggu disana, aku akan menjemputmu," kata Dion.

Bisa bahaya kalau Ziva datang kesini melihat bajunya dan Denisa berceceran di bawah. Dion lalu mencium kening Denisa yang masih terlelap karena kelelahan.

"Aku pergi dulu sayang, makan siang dan juga baju kamu sudah aku siapkan, terima kasih," tulis Dion pada kertas kemudian dia letakkan di samping Denisa.

Zico ternyata sudah sampai di rumah. Meetingnya hanya sebentar, dia mencari cari keberadaan sang istri yang tidak terlihat sejak tadi.

"Kemana dia? Kenapa pergi tidak pamit?" Gumamnya.

"Darimana kamu?" Tanya Zico saat sang istri baru saja tiba di rumah.

"Ehh Papa, kok sudah pulang? Katanya pulang terlambat," ujar Denisa.

"Bukan itu jawaban yang aku inginkan, Denisa. Jawab pertanyaanku tadi!" bentak Zico.

"Hehehe, maaf, tadi aku habis bertemu teman lama. Aku lupa tidak memberitahumu tadi," jawab Denisa kikuk.

"Teman lama? Siapa?" Zico mulai menginterogasi.

"Hehehe, itu sayang, dia teman lamaku, dia baru saja tiba tadi pagi, dan mengajakku berkumpul. Besok kapan-kapan aku kenalin," kilah Denisa.

Wanita itu pun memeluk suaminya, dia harus menjinakkan terlebih dahulu harimau tampannya ini sebelum lelaki ini mengamuk. Denisa memegang kening sang suami.

"Sudah tidak pusing?" Tanyanya.

"Tidak, setelah kamu pijat dan kerok tadi, badanku sudah membaik," jawab Zico.

"Baiklah, duduklah di meja, aku akan membuatkanmu teh jahe untuk menghangatkan tubuhmu," kata Denisa.

Lelaki itu hanya menurut saja, dia masih belum puas dengan jawaban sang istri tadi. Besok saja dia akan mencari tahu sendiri.

Setelah makan malam, Zico mengajak sang istri ke kamar. "Ma, Papa mau mandi, apa Mama tidak ingin mandi juga?" Goda Zico dengan mengedipkan sebelah matanya.

Tak ingin suaminya curiga, Denisa pun tersenyum mengangguk. Mereka pun melakukannya. Kamar mandi yang senyap kini ramai oleh suara des**an keduanya.

Zico menelisik semua bagian tubuh sang istri. Dia mencari, mungkin saja ada satu tanda yang bisa menguatkan dugaannya. Namun ternyata tidak ada. Zico jadi merasa bersalah karena telah menuduh Denisa yang bukan bukan.

Denisa tidur di pelukan sang suami karena lelah, bagaimana tidak, dia harus membuat dua orang lelaki mabuk kepayang di waktu yang berurutan.

Zico turun untuk makan, dia lapar karena tenaganya sudah habis dikuras oleh Denisa tadi. Dia melihat sang putri dan juga menantunya sedang bersenda gurau di meja makan.

"Loh Pa, Mama mana? Kok turun sendiri?" Tanya Ziva.

"Mamamu tertidur karena kelelahan," jawab Zico.

"Memangnya Mama habis ngapain kok kelelahan?" Tanya Ziva dengan lugunya.

"Tadi habis main dari rumah temennya, makanya dia kelelahan," jawab Zico sekenanya.

"Tumben Mama keluar, biasanya ngurung aja di rumah," kata Ziva.

"Iya, temennya baru datang dari luar kota, makanya mereka ketemuan," sahut Zico.

Dion tersenyum mendengar ucapan Papa mertuanya, ternyata mantan kekasihnya ini pandai juga berbohong. Sepertinya, ini akan semakin menarik. Memiliki 2 wanita cantik di waktu yang bersamaan. Mereka pun makan malam bersama.

Selesai makan, Zico membawakan Denisa makan malam. Dia tidak ingin sang istri sampai sakit gara gara terlambat makan.

"Sayang, makan dulu, setelah itu baru tidur lagi," ujar Zico.

"Ngantuk Pa," sahut Denisa.

"Ayo duduk dulu, biar aku suapi, setelah itu kamu boleh tidur kembali," titah Zico.

Denisa pun bangkit, dia duduk dengan mata terpejam. "Aakk."

Zico tersenyum melihat kelakuan istrinya. Dia lalu menyuapi sang istri hingga makanan di piring itu habis.

"Pa, Mama ngantuk, jangan ganggu Mama lagi," pintanya.

"Iya sayang," sahut Zico.

Zico menaruh piring itu di nakas. Setelah cuci muka dan menggosok gigi, Zico berbaring di samping sang istri. Dia memeluk tubuh indah Denisa dari belakang, lelaki itu menciumi bahu sang istri. "Kamu lelah ya, maaf," bisiknya.

Zico merapatkan pelukannya, namun saat akan memejamkan mata, dia melihat bekas kissmark di belakang telinga Denisa. Seperti masih baru. Zico mulai mengingat ingat kembali kegiatannya di kamar mandi tadi.

"Apakah ini ulahku, seingatku aku tidak melakukannya? Tapi, kenapa ada tanda disini? Apa Denisa habis bermain dengan lelaki lain sebelum aku. Siapa laki laki itu?"

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.