Terpaksa Menikahi Mafia

“Cepat datang ke markas, Big Boss mempunyai tugas penting untuk kita”

Begitulah isi pesan yang baru saja Rafael terima, dia harus segera pergi ke tempat yang dimaksud, tak peduli apapun yang sedah dia lakukan jika Big Boss sudah memanggil maka dia harus segera datang jika tidak ingin mendapatkan hukuman.

Begitulah pekerjaannya, Rafael bekerja sebagai seorang pesuruh yang menjalankan bisnis gelap, yaitu menjual belikan senjata secara ilegal, tentu saja pekerjaanya ini membutuhkan keberanian lebih karena menentang hukum. Jika tidak berhati-hati, maka bukan tidak mungkin kalau Rafael bisa saja masuk penjara.

“I’m sorry, Honey. Aku harus segera pergi karena Big Boss memanggilku, sepertinya ada pekerjaan penting. Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita, love you so much,” Rafael mencium kening Fellicia dengan tergesa-gessa karena dia sudah harus pergi sekarang. Felicia sudah tau sejak lama bahwa yang disebut sebagai Big Boss oleh Rafael adalah atasan yang memegang semua kendali perbisnisan yang Rafael jalankan. Meskipun Felicia belum pernah melihat wajah Big Boss secara langsung.

“Tapi aku belum selesai bicara, Rafael,” cegah Fellicia.

“I’m sorry, tapi aku harus pergi sekarang, kamu tau kalau Big Boss sudah memanggil aku tidak bisa membantah, bye honey,” Rafael melambaikan tangan sebelum dia keluar.

Sementar Fellicia hanya bisa mengusap dada supaya bisa lebih bersabar lagi menghadapi tingkah Rafael. Terkadang dia merasa lelah dan ingin pulang ke Indonesia, menjalani kehidupan bebasnya seperti dulu. Fellicia memang hidup seorang diri karena orangtuanya meninggal ketika dia kecil dalam sebuah kecelakaan, tapi setidaknya dia selalu bahagia karena tidak pernah merasakan sakit hati karena tingkah seorang laki-laki.

Alano Costanzo yang lebih dikenal dengan sebutan Big Boss, itulah nama laki-laki yang kini tengah berdiri memperhatikan orang-orang berlalu lalang lewat dinding kaca di kamarnya sambil menikmati secangkir Baralo Red wine.

Suasana di Milan–Italia, tepatnya di sekitar rumah mewah milik Alano Costanzo sore itu terlihat sepi dan lenggang dari biasanya, namun Alano cukup menikmati suasana seperti itu, karena dia sangat menyukai kesepian. Sama seperti hidupnya yang tak pernah diwarnai oleh cinta.

Beberapa saat kemudian terdengar seseorang menekan bel di depan pintu kamarnya pertanda bahwa ada seseorang yang meminta izin untuk masuk ke kamarnya.

“Siapa di sana?” tanya Alano dengan sedikit berteriak karena kamarnya itu cukup luas, suaranya tidak akan terdengar sampai ke luar.

“This is Daddy,” jawab orang itu.

“Dad, come in please,” ujar Alano, kemudian dia mengambil sebuah remote control dan mengatakan, “Open the door!” maka pintu kamarnya terbuka secara otomatis.

Barulah dia bisa melihat sosok ayahnya yang sudah cukup berumur itu berdiri di depan pintu.

“Kenapa berdiri di sana, Dad? Please come in,” ucap Alano seraya berjalan ke arah sofa dan duduk di sana menunggu ayahnya.

“Waw, Aku tidak menyangka kalau ternyata anak yang dulunya masih aku gendong dan masih merengek-rengek minta dibelikan mainan kepadaku, tapi ternyata anak itu sekarang sudah tumbuh dewasa menjadi seorang pria yang tampan dan kuat,” Alessio tak berhenti memuji putranya sepanjang dia berjalan.

Alano mengerutkan keningnya, karena tak biasanya sang ayah memuji dia seperti itu. Meskipun dia tau kalau ayahnya adalah orang ekspresif dan penyayang, berbeda dengan dirinya yang dingin.

“Ada apa, Dad? Sepertinya ada sesuatu yang kamu inginkan dariku, itu sebabnya kamu memujiku seperti itu.” Alano langsung bertanya pada inti pembicaraan tanpa berbasa-basi lagi. Dia memang termasuk orang yang cuek dan dingin, apalagi kepada wanita. Bahkan, di depan anak buahnya dia sangat tegas.

Tawa Alessio pecah seketika, “Rupanya kamu juga sudah cukup pintar untuk mengetahui maksudku,” kata Alessio.

Alano hanya tersenyum tipis, rupanya benar dugaannya kalau ayahnya itu memang memiliki maksud lain.

“Jadi ada apa, Dad?” tanya Alano lagi sambil menuangkan segelas wine di gelas milik ayahnya.

“Oke, sepertinya kamu memang tidak suka berbasa-basi. Ada satu hal yang ingin aku katakan kepadamu, Alano,” jawab Alessio.

“What is it?”

“Kamu itu kan sekarang sudah sukses, kamu menjadi CEO perusahaan besar di Milan, selain itu kamu juga adalah pewaris tunggalku, rumah ini dan semua hartanya adalah milikmu, belum lagi kebun anggur, dan bisnis gelap yang kamu jalankan bersama anak buahmu. Selain itu wajahmu juga tampan. Menurutku itu semua sudah lebih dari cukup, lantas apa yang membuatmu tetap single?” tanya Alessio. Dia harus ekstra hati-hati jika ingin membicarakan tentang ini kepada Alano, karena dia tau bahwa Alano akan sangat sensitif jika disinggung tentang pasangan.

Terlihat dari raut wajahnya yang langsung berubah semu, dia memalingkan wajah ke arah lain, sepertinya Alano kesal karena untuk kesekian kalinya sang Ayah selalu membahas tentang itu.

“Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tidak ingin memiliki pasangan selamanya. Aku bahagia menjalani kehidupanku sekarang, hidup sendiri tidak membuatku merasa kesepian,” bantah Alano dengan tegas.

“Tapi, Al. Pikirkan ini baik-baik, Bagaimana jika aku sudah tidak ada lagi di dunia ini? Nanti kamu akan merasa kesepian, Bagaimana pun kamu butuh cinta dan wanita dalam hidupmu,” sanggah Alessio.

“No, Dad. Aku tidak butuh cinta apalagi wanita. Untuk apa? Wanita hanya akan membuatku sakit hati, wanita hanya akan menjadi penghambat bahkan penghancur dalam hidupku. Begitu pun dengan cinta, aku tidak pernah percaya lagi pada kata bernama cinta. Bagiku tidak ada cinta di dunia ini!” Alano berkata dengan penuh penekanan dengan harapan ayahnya akan mengerti apa yang dia rasakan.

“Alano, aku tau. Kamu seperti ini karena kamu melihat pada apa yang aku alami dengan ibumu. Tapi percayalah padaku, tidak semua wanita seperti ibumu, Al. Masih banyak wanita baik yang bisa mencintaimu dengan tulus di dunia ini. Apa yang terjadi padaku itu pure kesalahanku, aku yang telah salah mencintai seseorang,” kata Alessio tak kalah keras. Dia hanya tidak mau anaknya itu merasakan kesepian seperti apa yang dia rasakan sekarang setelah ditinggal oleh istrinya. Alessio tak ingin menikah lagi karena luka di hatinya masih belum sembuh.

“Lalu Bagaimana jika aku juga salah mencintai seorang wanita? Lebih baik aku tidak usah mencintai siapa pun selain dirimu , Dad.” Alano masih bersikeras pada keputusannya.

“Tapi bagaimana kamu bisa tau wanita itu tepat atau tidak untukmu jika kamu tidak mau mencoba membuka hatimu. Percayalah, tidak semua wanita seperti ibumu.” Alessio mengulangi perkataannya.

Alessio hanya ingin meyakinkan anaknya bahwa tidak semua wanita itu seperti mantan istrinya. Alessio memang pernah salah dalam mencintai seorang wanita, awalnya dia pikir mantan istrinya itu adalah wanita yang tepat untuk mendampingi hidupnya sampai dia meninggal nanti. Namun ternyata dia salah, wanita yang dia puja-puja justru meninggalkannya ketika dia berada di titik terendah hidupnya.

Ketika Alano berusia 10 tahun, Alessio sempat jatuh sakit selama beberapa bulan, karena itu dia tidak bisa memberikan kepuasan sex terhadap istrinya. Ternyata wanita itu tidak tahan, dia mencari laki-laki lain yang bisa memuaskan hasrat seksualnya. Setelah sekian lama akhirnya wanita itu ketahuan selingkuh oleh Alano, ya anak kecil itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ibunya melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lain sekian ayahnya.

Setelah itu Alessio meminta sang istri untuk meninggalkan selingkuhannya karena dia pun sudah dalam proses penyembuhan, tapi ternyata istrinya lebih memilih laki-laki lain dan meninggalkan dia serta Alano yang masih kecil. Sejak saat itu Alano benci perempuan terutama ibunya, dia berjanji tidak akan pernah mencintai wanita manapun dan dia juga tidak ingin menikah selamanya.

“Kamu sudah tau apa alasan terbesarku tidak ingin menikah, tapi selain itu ada alasan lain, Dad,” Alano masih mempertahankan pendapatnya dengan mencari berbagai alasan.

“Apa lagi? Karena kamu seorang mafia jadi tidak pantas untuk menikah atau jatuh cinta karena itu akan merusak citra kamu sebagai seorang mafia, bukankah begitu?” tanya Alessio dengan sedikit mencibir, sebenarnya dia tidak pernah setuju dengan pekerjaan yang dilakukan anaknya karena itu terlalu beresiko. Dia sudah melarang Alano berkali-kali untuk tidak lagi melakukan bisnis dengan menjual senjata secara ilegal karena secara materi keluarga mereka sudah lebih dari cukup, bahkan bisa disebut sebagai billionaire. Tapi Alano tidak pernah mendengarkan ucapannya, dia tetap saja menjalankan bisnis gelap itu.

“Aku dan anak buahku bukanlah mafia seperti organisasi Sisilia, kami hanya melakukan perdagangan senjata secara ilegal dan tidak melakukan kejahatan apapun lagi. That’s it, tapi tetap saja meskipun begitu jika aku menikah dan jatuh cinta maka aku tidak akan terlihat menyeramkan lagi di depan anak buahku,” ujar Alano.

“Terserah kamu, tapi ingatlah perkataanku ini jika kamu masih ingin melihat aku hidup maka kamu harus menikah secepatnya, aku berikan kamu waktu 3 hari untuk mencari calon istri. Jika kamu tetap tidak mau menikah, maka kamu akan melihat mayatku,” Alessio memberikan ancaman yang cukup mengerikan karena hanya ini satu-satunya cara supaya Alano mau menuruti permintaannya.

Alano memang menjalankan bisnis ilegal, tapi dia bukanlah seperti mafia pada umumnya yang kejam dan tidak punya hati. Setidaknya Alano masih memiliki rasa sayang terutama kepada ayahnya yang telah berjuang seorang diri untuknya selama ini. Alessio tau bahwa satu-satunya orang yang disayangi oleh Alano di dunia ini, hanyalah dirinya. Jadi Alano pasti akan takut dengan ancamannya.

“Dad, jangan asal bicara. Aku tidak suka kamu mengatakan itu,” bentak Alano.

Alessio hanya angkat bahu seraya bangkit dari duduknya, “Ingat ucapanku tadi, aku tidak main-main. Kalau kamu tidak percaya, maka silahkan buktikan. Tapi jangan menyesal,” ucapnya sebelum dia pergi dari kamar Alano.

“Dad, Daddy! Daddy, itu permintaan yang gila dan tidak masuk akal,” teriak Alano. Namun ayahnya tetap tidak menggubrisnya.

“Aaahh, sialan! Kenapa Daddy sangat ingin aku menikah!” Alano mengamuk, dia berteriak sambil menendang barang yang ada di depannya dan melemparkan apapun benda yang dia lihat, termasuk secarik kertas yang sedang dia pelajari sebelumnya, hingga satu buah gelas pecah dan kamarnya berantakan dalam sekejap.

Alano mengacak-acak rambutnya sendiri, dia menjambaknya dengan kuat. Ini sungguh pilihan yang sulit untuknya, kepala Alano terasa ingin pecah. Meskipun begitu, tapi otaknya yang pintar masih bisa dipakai untuk berpikir.

Ketika dia melihat sebuah surat kontrak yang tergeletak di lantai karena sempat dia lemparkan tadi, tiba-tiba Alano menemukan sebuah ide cemerlang. Entah dari mana datangnya ide itu, tapi yang pasti Alano merasa itu adalah jalan keluar terbaik untuknya.

“Pernikahan kontrak, aku bisa berpura-pura menikah di depan Daddy, meskipun sebenarnya tidak. Aku akan memberikan banyak persyaratan dan jangka waktu tertentu di kontrak itu. Sehingga aku tidak perlu menikah sungguhan. Ya, itu ide yang bagus,” pikir Alano.

Tanpa membuang waktu lagi, dia segera menelpon anak buahnya karena dia akan meminta bantuan kepada mereka untuk mencarikannya wanita yang tepat untuk dijadikan sebagai istri kontraknya.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.