"Selamat pagi. Selamat datang di minimarket kami. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Monika kepada dua orang yang mendekat ke arahnya. Mereka tampak aneh, tidak seperti pembeli lain pada umumnya. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, semua tampak misterius.
Kedua pria berpakaian serba hitam itu saling pandang sebelum mengangguk satu sama lain. Salah satu dari mereka melepas kacamata hitam dan menatap tajam ke arah Monika. Aura menyeramkan tampak di sana. Jelas dia memiliki niatan tertentu.
"Nona Monika Alexandra," panggil pria itu dengan suara bas yang cukup berat.
"Ya?" Monika berusaha tetap tenang, menatap lawan bicaranya dengan pandangan waspada. Tampilan mereka bukanlah orang biasa, seperti bodyguard atau semacamnya.
"Maaf, ada yang bisa kami bantu?" Kasir lain ikut bersuara. Dia tidak ingin ada oknum yang membuat keributan di tempatnya bekerja. Lagipula, Monika terlihat membutuhkan bantuan untuk menghadapi dua orang yang tak diundang. Gelagat yang mereka tunjukkan kurang bersahabat. Bisa saja tujuan utamanya untuk mengganggu.
"Bukan urusan Anda!"
"Tentu saja urusan saya. Anda membuat keributan di toko tempat saya bekerja. Enyahlah jika Anda berdua datang bukan untuk berbelanja."
Merasa salah tempat, pria pertama memberikan isyarat dengan anggukan kepala. Dia menatap ke luar sekilas, seolah memastikan kalau polisi belum datang. Persis seperti ciri-ciri pencuri atau penodong.
"Nona, ada yang ingin kami bicarakan. Bisa ikut dengan kami sebentar?" Si pria misterius kembali menatap Monika, mengabaikan kasir lain yang berusaha memecah konsentrasinya barusan.
Monika tak lantas bersuara. Dia merasa tidak memiliki hubungan dengan orang-orang asing ini. Karena masalah apa mereka mencarinya?
"Nona?"
"Maaf, saya sedang bekerja. Jika ada yang ingin Anda sampaikan, katakan saja di sini!" Monika meneguhkan hati, berusaha menangani situasi tak terduga yang terjadi.
Salah satu pria itu mengambil napas dalam, mau tak mau harus mengatakan tujuannya datang kemari. Jika membuang waktu lebih lama lagi, tuannya akan murka. Emosinya meledak-ledak tak terkendali.
"Anda mengenal tuan Jonathan Wu?" Selembar foto dikeluarkannya dari saku jas, ditunjukkan pada Monika.
Degup jantung gadis 25 tahun itu seolah terhenti seketika. Entah kenapa rasanya sesak di dalam dada, termasuk muncul firasat tidak mengenakkan yang dirasakannya. Tentu saja dia sangat mengenal pria dalam potret itu. Pria yang mengabaikan ibunya demi menikahi wanita lain. Pria yang pernah menjadi harapan terbesarnya, tapi semua sia-sia.
Pukulan terbesar dalam hidup Monika Alexandra adalah saat Jonathan Wu memilih istri mudanya. Dia marah dan membencinya, sampai harus menghilangkan marga sang ayah dari namanya. Dia enggan menyandang nama belakang pria itu. Apa pun alasannya.
Diam beberapa detik, Monika tak langsung menjawab. Dia masih meraba arah pembicaraan kedua tamu tak diundangnya. "Maaf, mungkin Anda salah orang. Saya tidak memiliki urusan dengannya lagi."
Pria misterius itu kembali mengangguk pada temannya. Entah apa maksudnya, Monika tidak mau memikirkannya. Sesekali memperhatikan situasi minimarket yang semakin ramai.
"Bukankah Anda mengenalnya? Dia membutuhkan bantuan Anda sekarang."
Monika masih bungkam sambil memikirkan keselamatan ayah yang dibencinya. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa mengabaikannya.
"Apa ada masalah?" Monika akhirnya bersuara meski tak langsung mengakui Jonathan sebagai ayah kandungnya. Nyatanya, mereka memang tak lagi berhubungan satu sama lain. Meski begitu, raut khawatir tampak di wajah cantiknya.
"Kalau begitu silakan ikut kami."
“Tidak. Tunggu dulu.” Monika menggeleng tegas, suaranya sedikit meninggi. "Katakan pada saya, apa masalahnya!"
Perseteruan Monika dengan dua orang itu sudah menjadi pusat perhatian. Beberapa pengunjung minimarket mulai melihat ke arah mereka.
Setelah dipikirkan matang-matang, Monika akhirnya mengalah. Dia memilih mengesampingkan tugasnya sejenak sebagai kasir minimarket. Toh, masih ada temannya yang berjaga. Akhirnya, dia keluar menuju gang sempit yang tidak banyak dilalui orang-orang. Di sana, mereka lebih leluasa berbicara.
"Apa yang terjadi? Kenapa Tuan-Tuan mencari saya?" Sebisa mungkin Monika mempertahankan sikapnya yang tenang. Dia tidak ingin gegabah mengambil keputusan sebelum tahu permasalahan yang sebenarnya.
"Anda tahu masalah keuangan yang berkaitan dengan tuan Jonathan?" pria itu kembali bertanya, mengamati ekspresi wajah lawan bicaranya.
Monika menarik napas dalam-dalam. Dia tidak tahu dan memang memilih tidak mau tahu. Setidaknya, hidupnya lebih tenteram tanpa kehadiran ayahnya.
"Saya tidak tahu. Terakhir kami bertemu tiga bulan yang lalu. Setelahnya, tidak pernah bertemu atau bahkan berkirim pesan. Mungkin beliau sibuk dengan perusahaan tempatnya bekerja atau istrinya. Aku memang putrinya, tapi kalian bertanya pada orang yang salah. Hubungan kami tidak sebaik itu."
"Silakan ikut dengan kami sebentar. Ada masalah di perusahaan yang berkaitan dengan beliau dan Anda harus mengurusnya."
"Kenapa harus saya? Masih ada anak dan istrinya yang lain. Mereka yang selama ini hidup bersama dengannya, bukan saya!" Monika mundur dua langkah, sedikit menjauh. Kecurigaan semakin bertambah di dalam hatinya. Alarm tanda bahaya segera berbunyi, memintanya untuk lebih waspada.
"Nona, kami hanya menyampaikan tugas untuk membawa Anda ke sana."
"Sayang sekali, saya sedang bekerja dan tidak bisa ikut seperti permintaan Anda."
Melalui ujung matanya, Monika melihat kedatangan tiga orang pria berpakaian hitam-hitam dari arah lain. Dia harus segera pergi dari sini, lebih tepatnya menyelamatkan diri.
"Nona, tolong jangan buang waktu Anda!" Pria itu mulai melangkah mendekati gadis rambut pirang yang cantik rupawan. Wajah menyeramkan miliknya terlihat jelas sekarang, membuat degup jantung Monika semakin tidak karuan di dalam sana.
"Ini tidak benar!" cetusnya dalam hati. Detik berikutnya, Monika berbalik dan mengambil langkah seribu. Dia harus segera menjauh. Jika tidak, entah nasib buruk seperti apa yang akan diterimanya.
"Nona, berhenti di sana!" teriak pria yang menyadari pergerakan Monika.
Bodoh jika gadis itu menghentikan langkahnya. Dia justru mengumpulkan tenaga untuk secepatnya kabur dari sana.
"Tangkap Nona Monika! Jangan biarkan dia lolos. Tuan Muda akan murka!"
Sekilas Monika mendengar perintah yang pria itu ucapkan, tentu saja membuatnya semakin panik. Tidak ada jalan lain. Dia harus menyelamatkan diri. Harus!
Lima orang itu mulai bergerak, mengejar Monika dengan segala cara.
Dengan napas tersengal, Monika berhasil memaksakan kakinya untuk tetap bergerak, menjauh dari para pengejar. Sesekali dia menengok ke belakang, menghitung jarak yang terasa semakin dekat. Hanya lima meter lagi dia akan sampai di jalan raya yang menjadi penghubung gang sempit dengan minimarket. Dia bisa berteriak minta tolong begitu sampai di sana.
"Dapat!" Sebuah tangan kekar berhasil mencengkeram pundak Monika, membuat pergerakannya terhenti seketika. Monika menepis tangan itu, membuat tubuhnya hampir terhuyung ke depan.
Monika masih bisa berlari meskipun sempoyongan. Sayangnya, tangan lain kembali datang. Percobaan Monika untuk kabur gagal. Dia kalah cepat dari pria yang kini menahan tubuh kecilnya.
"Lepas!" Monika meronta, berharap tenaganya cukup untuk memberikan perlawanan berarti. Namun, cengkeraman pria itu terasa semakin erat saja.
"Amankan dia!" teriak pria yang tampaknya adalah pemimpin orang-orang itu. Wajahnya merah padam, naik pitam karena hampir mendapat masalah dengan kaburnya Monika.
Tanpa menunggu waktu lama, pria yang berhasil menahan Monika kini mengangkat tubuh ramping itu di atas pundak seperti sekarung beras. Rontaan, teriakan, dan perlawanan yang coba dilakukan tak ada gunanya sama sekali. Tubuhnya begitu kokok, lebih keras dibandingkan samsak tinju. Perlawanan Monika tak membuatnya gentar sama sekali, langkahnya semakin mantap menuju mobil hitam yang tiba-tiba terhenti di tepi jalan. Decit remnya terdengar memekakkan telinga.
Hanya dalam hitungan detik, pintu mobil itu terbuka. Tubuh ramping Monika terhempas di kursi belakang, menghantam jok hitam yang terlihat mahal. Hanya ada seorang pria di balik kemudi, menatapnya tanpa berkata apa pun. Pintu tertutup sempurna bersamaan bunyi debam yang membuat Monika tertahan di sana.
"Siapa kalian?!" geram Monika sambil terus berusaha membuka pintu. Namun, teriakannya tak dihiraukan sama sekali. Dengan sisa tenaga yang ada, gadis itu masih coba mencari jalan keluar. "Buka pintunya!"
Bukannya menuruti permintaan Monika, pria dengan setelan rapi itu justru menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil hitam seharga miliaran rupiah melaju dengan kecepatan tinggi tanpa halangan berarti, membuat tubuh Monika kembali terpelanting ke belakang.
Teriakan menggema. Monika memegangi kepalanya yang terbentur cukup keras. Dia tidak tahu apa salahnya sampai harus ada di situasi seperti sekarang. Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka membawanya pergi dengan paksa?
"Apa yang ...."
"Duduk diam di tempat Anda, Nona! Jika tidak, ucapkan selamat tinggal pada dunia ini!" Suara dingin itu berhasil membuat Monika terenyak.
Kehidupannya terlalu berharga untuk ditinggalkan. Masih ada banyak mimpi yang harus diperjuangkan. Hingga akhirnya, gadis itu hanya bisa duduk diam di tempatnya, mengamati jalanan di luar sana yang tampak asing baginya.
"Kita ke mana?" tanya gadis dengan rambut pirang kecokelatan pada pria yang fokus dengan jalanan di depannya. Perjalanan mereka sudah berlalu tiga puluh menit tanpa bersuara.
"Perusahaan."
Monika merutuk pria itu dalam hati. Dia tahu mereka akan pergi ke perusahaan tempat ayah kandungnya membuat masalah. Yang ingin dia ketahui, siapa yang akan ditemui untuk mengurus semua masalah yang ada, bukan tempat apa yang akan dituju oleh mereka.
"Nona akan mengetahui semuanya nanti."
Suasana kembali hening. Sisa perjalanan mereka berakhir dalam diam. Monika enggan bertanya karena tidak akan ada jawaban yang akan diperolehnya. Dia hanya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Meski begitu, kepalanya penuh oleh berbagai tanya. Masalah pelik seperti apa yang dilakukan oleh Jonathan sampai melibatkan putrinya? Mungkinkah itu sesuatu yang begitu penting?





