Terpaksa Menikah

Aku mematut diri di cermin, manatap pantulan diri, sudah pantaskah penampilanku untuk bertemu keluarga suamiku?

Dress motif bunga panjang selutut, make up tipis, membuatku terlihat lebih segar. Mama melarangku mengenakan celana jeans favoritku, katanya, "Kasihan dedek bayinya, kegencet pinggang celanamu."

"Nggak Pa-pa lah, Ma. Masih rata ini," protesku.

"Kamu nggak berubah ya? Sudah mau jadi ibu, kelakuannya masih kayak anak kecil. Suka membantah kalau dinasehati orang tua.

Biar masih kecil, bayi juga punya nyawa, dia butuh bernafas juga. Pokoknya lupakan jeans, atau pakaian ketat model apapun! Pakai pakaian yang longgar!" omel Mama panjang lebar, padahal aku hanya bicara sedikit.

"Pakai daster maksud Mama? Nggak ah, malu! Kayak emak-emak!"

"Eh siapa bilang? Banyak daster kekinian, kalau nggak mau daster ya pakai dres, yang penting nggak nekan perutmu! Mama sudah persiapan beberapa dress yang bisa kamu pakai kemana-mana, modelnya cantik tapi bisa menutupi perutmu."

Nggak nyangka aku, ternyata hamil diluar nikah serepot ini. Harus rela mengorbankan banyak hal untuk menutupi kehamilanku. Membayar suami pura-pura, pakai pakaian yang nggak asik.

Masih untung orang tuaku tidak mengusir ku, kalau sampai itu terjadi, aku nggak tahu bakal seperti apa hidupku. Jadi gembel mungkin?

"Nah, gitu kan cantik anak Mama?" ujar Mama, saat aku menyusul Abdi yang sedang ngobrol hangat dengan Papa.

"Kan memang aku cantik dari dulu, Ma." Aku berucap dengan bibir mengerucut.

"Cantik luar saja tidak cukup, harus dibarengi attitude, benar kan Nak Abdi?" Bibirku makin mengerucut mendengar ucapan Mama.

"Iya Ma," ucap Abdi sopan, hingga sukses membuat senyum Mama mengembang sempurna.

"Dasar penjilat!" rutukku dalam hati.

"Sudah, kalian berangkat sekarang, keburu siang!" titah Mama.

"Sudah siap kan? Berangkat sekarang yuk, Dek?" ucap Abdi lembut.

Kesambet apa manusia batu itu? Kok bisa bersikap lembut padaku? Kalau hanya sandiwara, dia patut diacungi empat jempol sekaligus, aktingnya benar-benar memukau.

"Ayo!" Tangan Abdi terulur menggandeng tanganku, yang masih syok dengan perubahan sikapnya.

"Jangan lupa berikan oleh-olehnya, ya Nak Abdi?" pesan Mama sebelum kami masuk mobil.

Sepanjang perjalanan menuju hotel, kami hanya diam. Abdi fokus menyetir, sementara aku sibuk menatap ke arah jalanan di sampingku. Merenungi nasibku yang tahu mau dibawa kemana

Hidupku seolah sedang dijungkir balikkan, aku yang biasanya menjadi idola, dielu-elukan hampir semua pria. Kini hanya dianggap angin lalu oleh laki-laki, bergelar suamiku itu.

Banyak pria yang rela melakukan apa saja agar bisa dekat denganku, tapi laki-laki ini memperlakukan aku seperti mahluk astral, antara ada dan tiada. Ada tapi tak dianggap ada.

"Aku harap kamu nanti bisa bersikap semestinya, di depan keluargaku," ucap Abdi memecahkan kebisuan diantara kami.

Aku menoleh, menatap laki-laki itu. Pandangannya lurus ke jalan, sama sekali tak melirikku.

"Maksudnya?"

"Bersikap lah seolah kita ini pasangan yang bahagia," jelasnya.

"Bahagia gimana? Kamu sendiri bersikap acuh padaku."

"Kamu bisa pura-pura mesra, kan?" Dahiku mengernyit mendengar ucapan Abdi.

"Hanya pura-pura, akting saja masak nggak bisa sih? Kamu harus ingat, keluargaku tidak tahu kalau pernikahan kita hanya sandiwara. Aku tidak mau mereka kecewa, karena sudah aku bohongi" lanjutnya.

Selain Mama, Papa, Abdi dan aku. Tak ada orang lain yang tahu, kalau pernikahan ini palsu. Hanya untuk menutupi aibku. Keluarga Abdi bahkan tidak tahu, kalau sudah berbadan dua.

Kata Papa, makin sedikit yang tahu makin bagus. Tak sepantasnya aib diumbar-umbar, cukup menjadi rahasia kami saja.

"Dan satu lagi, jangan panggil aku dengan sebutan 'Kamu'. Panggil aku Mas, aku ini suamimu, hormati aku!" ucapnya tanpa menoleh kepadaku.

"Banyak banget aturannya," protesku.

"Yang punya aib itu kamu, sekarang terserah kamu, kalau mau semua orang tahu rahasia ini," jawabnya dingin.

"S*alan!" umpatku kasar.

"Jangan mudah mengumpat, nanti jadi kebiasaan," sindirnya.

Aku hanya bisa mendengkus kesal, biasanya semua keinginanku selalu dituruti, oleh orang tuaku maupun pegawainya. Kini aku harus patuh pada salah seorang karyawan Papa. Ngenes.

"Kita sudah sampai, ingat! Jaga sikap!" ucapnya penuh penekanan.

"Iya," jawabku jengkel.

"Senyum, masak pengantin baru mukanya ditekuk gitu?"

"Iya iya! Bawel amat jadi orang. Perasaan aku menikah dengan laki-laki, kok mulutnya pedes kayak perempuan," sindirku.

"Kita sudah sampai," ucap Abdi, seraya memarkirkan mobilnya.

"Itu keluargaku sudah menunggu." Abdi menunjuk serombongan orang yang sedang memasukkan barang bawaan ke mobil travel.

"Ayo kita susul mereka." Tanpa menunggu jawabanku Abdi turun dari mobil.

"Ayo turun!" ucap Abdi ketika melihatku hanya diam.

Gegas aku turun dari mobil, dan menyusul Abdi. Tiba-tiba Abdi menggandeng tanganku. "Bersikap lah mesra, kita ini pengantin baru Ingat! Hanya sandiwara," ujarnya.

Huft! Aku sempat GR tadi, kupikir es batu itu mulai mencair.

"Nggak usah kamu ulang-ulang, aku juga ngerti!" ketusku.

"Senyum!" sentak Abdi, membuatku terpaksa melakukan apa yang dia minta.

"Nah, itu Abdi!" seru Ibu, ketika mami berjalan mendekat ke arah mereka.

"Bu," kusapa perempuan berusia lebih dari setengah abad itu. Tak lupa mencium punggung tangan, dan kedua pipinya. Begitu juga kepada saudara perempuan Abdi yang lain.

"Duh ... Nak Delia ini bener-bener cantik luar dalam ya? Tidak hanya parasnya, hatinya juga cantik, sopan dan hormat sama orang tua," puji ibu mertuaku.

"Ibu bisa saja," ucapku malu-malu.

"Nania, ayo sini! Kamu belum salaman sama Mbak Adelia!" Ibu mertuaku memanggil gadis remaja yang dari tadi sibuk dengan bawaannya.

"Wah, Mbak Adelia cantik banget ya Mas? Kulitnya bening kayak kaca, pantes aja Mas Abdi betah di kota. Sampai lupa sama Mbak Dind--" belum selesai Nania berkata, Ibu dan Mas Abdi sudah memelotinya.

"Nggak usah didenger omongan Nania, dia suka ngawur kalau ngomong," kilah Ibu.

"Nggak pa-pa, Bu," sahutku.

"He ... he ... maaf Mbak." Nania menatapku tidak enak, begitu juga Ibu.

Abdi punya kekasih di kampung, Ibu pikir aku tidak tahu. Mungkin Ibu pikir aku akan cemburu kalau tahu ada gadis lain di hati Abdi, padahal aku tidak peduli. Aku terlanjur sakit hati dengan sikap Abdi. Yang kuinginkan saat ini adalah menghancurkan hubungan Abdi dengan kekasihnya itu.

"Kami pulang dulu Nak Adelia, tolong sampaikan ucapan terimakasih kami pada kedua orang tuamu. Di, kamu jaga Non Adelia, jangan sampai kamu membuat dia sakit hati," pesan Ibu sebelum masuk mobil travel.

"Iya Bu, Ibu nggak usah khawatir." Sahut Abdi.

"Hhh, Pencitraan!" rutukku dalam hati.

Nggak di depan orang tuaku atau di depan orang tuanya. Abdi selalu menjadi sosok yang dipuja, tapi kepadaku dia bersikap dingin kaku.

"Main-main lah ke desa suamimu Adelia, biar kamu mengenal keluarga Abdi lebih dekat," ucap Kakak Abdi, yang aku lupa namanya siapa.

Mendengar ucapan kakak iparku, aku jadi punya ide. Akan ku selidiki siapa gadis yang menelfon Andi tadi pagi. Secantik apa kah dia? Hingga Abdi memilih setia dan mengabaikan aku?

"Tentu saja saya akan ke desa kalian, Mbak. Tapi nunggu Mas Abdi ada waktu." Lagakku sudah seperti istri sholehah saja.

"Kami tunggu. Selamat tinggal!" ucap Kakak iparku itu lalu masuk mobil travel.

To be continue ....

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.