Sara terkejut saat dirinya dipeluk. Jika suasana yang terjadi begitu buruk dan mengingat ekspresi Rion tadi seharusnya pria itu marah, bukan?
Pelukan mereka lepas seiring Rion membuat jarak. Sara bingung harus bersikap bagaimana, karena dia berada di posisi yang salah. Dia tidak ingin jika bersuara nantinya hanya akan memperumit keadaan.
"Jangan melakukan hal tadi lagi."
Sara sendiri masih tidak terima sebenarnya, jadi dia berada dalam pergolakan batin. "Aku tidak senang dengan sikap mereka."
"Kau tidak perlu merasa senang. Hanya ... diam saja tanpa harus melakukan apa pun."
Sara mengernyitkan alis. "Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Dia menyamakan istrimu seperti pelayan, lalu mengatakan hal yang tidak-tidak soal pernikahan kita."
"Aku minta tolong padamu untuk tidak melakukan apa pun."
"Kenapa? Tidak hanya satu kali mereka menginjak harga diriku."
"Tetap saja, kau tidak perlu sampai emosi."
"Bagaimana tidak emosi? Aku juga memiliki hati, bukan hanya mereka saja."
"Tidak bisakah aku meminta tolong saja padamu? Sesungguhnya, ini membuatku sangat gila."
Rion tampak tertekan dan Sara tidak ingin keras kepala lebih jauh. Mereka baru saja kehilangan kakek, masih belum terbiasa betul dengan keadaan. Sara tidak ingin melihat Rion lebih bersedih lagi.
Sara menganggukkan kepala pada akhirnya. Mereka pun saling berpelukan. Sementara di balik itu, Sara harus meredam keinginan untuk memperjuangkan harga diri di depan keluarga Rion sehingga dia menjadi Sara yang tetap diperlakukan dengan buruk.
Sebelumnya, Sara berpikir kalau mereka akan berbelanja layaknya keluarga namun dia justru menjadi seperti pesuruh. Hanya karena dia bergantung pada Rion, maka orang-orang jadi menghinanya.
"Bawakan ini juga," ucap Charla, menyerahkan kantong berisi sepatu mahal yang baru saja dibeli dari sebuah toko.
"Lihat itu, Anakku! Sepertinya pakaian yang terpajang di manekin akan sangat cocok untukmu."
"Benarkah? Kalau begitu, ayo, kita ke sana."
Sara mengikuti mereka dalam keadaan kedua tangan yang penuh oleh barang belanjaan. Dia persis seperti pelayan yang menemani majikan. Sampai kapan dia akan merasakan penghinaan di dalam hidupnya?
"Sara, kemarilah!"
Sara menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
"Tentu saja. Memang, siapa lagi?" ucap Belinda.
Sara menghampiri mereka, dipilihkan satu pakaian yang menurutnya cukup minim. Dia disuruh untuk mencobanya dengan alasan Rion menyukai wanita berpenampilan menarik. Meskipun dia ragu soal itu namun tetap mencobanya.
Benar saja, Sara bisa dikatakan sangat cantik mengenakan gaun merah itu. Ibu dan anak juga menata penampilan Sara dengan harapan dapat mengubah nilai biasanya di mata Rion menjadi lebih baik.
"Maafkan aku, Kak Sara. Aku juga akan mengakui kesalahanku di depan Kak Rion. Jangan marah lagi padaku, ya?" Charla tiba-tiba berkata.
"Kakak adik sebaiknya tidak bertengkar dan selalu hidup rukun," tambah Belinda.
Sara merasa janggal, akan tetapi dia tidak tahu harus mencurigai tentang apa dari perlakuan mereka yang tiba-tiba berubah baik dalam sekejap mata.
Mereka juga memesankan kamar hotel untuk dia dan Rion. Pada saat itulah Sara agak gugup, menunggu kehadiran Rion di kamar hotel. Dia berdebar membayangkan akan bagaimana reaksi suaminya jika tahu dia berpenampilan berani begitu.
Jujur saja, dia tidak berdandan lantaran tidak tahu bagaimana tipe Rion. Dia takut nanti dibenci jika melakukan hal di luar kebiasaannya. Itu adalah caranya menjaga hubungan pernikahan mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Pintu kamar hotel terbuka, menunjukkan sosok seorang pria. Sara terkejut melihat siapa yang datang.
"K—kau siapa? Kenapa bisa masuk ke mari?"
Pria asing itu tidak menjawab atau pun menyerah akan langkah Sara yang terus menjauh. Dia terus mendekat sampai sang wanita harus naik ke ranjang agar bisa pergi ke sisi lain. Sayangnya, Sara berhasil diraih dan membuat dia berusaha menahan diri dengan memberatkan tubuhnya di ranjang.
"Lepaskan aku!"
Pakaian Sara robek ketika berusaha melepaskan diri. Kekuatan wanitanya tidak dapat menandingi kekuatan seorang pria. Dia berhasil diperangkap.
Pada saat itu, sebuah ide muncul untuk memukul selangkangan sang pria asing dengan lutut. Sara bergegas ke luar kamar kemudian, dengan tergopoh-gopoh meninggalkan hotel. Dia pulang menggunakan taksi, menutupi tubuhnya dengan tangan. Selama itu dia menangis.
Pantas saja Charla dan sang mertua baik. Ternyata, mereka ingin melakukan hal keji dengan menyuruh orang untuk menodai dirinya di hotel. Rion hanyalah dalih supaya dia terjebak dalam permainan ibu dan anak itu.
Sesampainya di rumah, Sara hendak mencari orang yang telah berlaku demikian buruk padanya. Hanya saja, dia menemukan hal mengejutkan lain ketika berhasil melewati pintu utama.
Sara berpapasan dengan suaminya. Dia tidak ingin membayangkan apa yang dipikirkan Rion mengenai penampilan dan juga keadaan, karena dia sendiri sedang kesulitan menata diri setelah hendak dinodai oleh pria lain.
"Kau di rumah, Rion? Bukankah sekarang seharusnya berada di kantor?"
Rion menunjukkan berkas di tangannya. "Aku pulang untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Kau sendiri, kenapa berkeliaran dengan penampilan seperti itu?"
"Rion."
Percakapan mereka terpaksa selesai sampai di sana saat Belinda dan Charla datang.
"Kau harus melihat ini."
Belinda menyerahkan sesuatu pada Rion. Itu adalah video singkat, menunjukkan Sara dan seorang pria. Pakaian yang dikenakan sama dengan pakaian Sara saat ini.
Apa yang akan dipikirkan Rion soal itu?
Rion menatap istrinya dengan berang, sedangkan yang ditatap tampak bingung. Sara masih belum tahu kalau video yang ditunjukkan adalah dirinya bersama seorang pria di kamar hotel.
"Kau sudah melihatnya sendiri, bukan? Istrimu bukanlah wanita baik," ucap Belinda.
Sara mengerutkan dahi. "Apa maksud Tante?"
Belinda menunjukkan video rekaman di ponselnya. "Seorang teman melihat menantu keluarga Atkinson masuk ke kamar hotel bersama pria. Dia mengirimkan bukti ini padaku. Bisakah kau menjelaskannya, Sara? Kau telah membuat malu kami dengan sikap kotormu."
"A—aku ...."
Sara menatap suaminya yang melemparkan pandangan ke arah lain. "Rion, aku tidak seperti yang dituduhkan. Kau percayalah padaku bahwa aku bukan orang seperti itu."
"Sudah seperti ini, tunggu apa lagi, Rion? Kau harus berpisah dengan orang yang telah mencoreng nama baik keluarga Atkinson!"
"Benar, Kakak! Kakek pasti juga sedih melihat kelakuan kakak ipar yang begini."
"Apa maksud kalian? Bukankah kalian yang memilihkan pakaian ini dan mengatakan padaku kalau Rion akan datang ke hotel?"
"Hah?! Kau sudah gila, ya, Kak? Kami hanya duduk diam di rumah hari ini."
"Tidak mungkin seperti itu. Kalian—"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Sara! Kau sudah membuatku sangat marah!" Belinda memukul-mukul dadanya. "Oh, Tuhan! Bagaimana bisa wanita ini datang ke rumah kami dan membuat kekacauan besar?"
"Ibu, tenanglah. Aku akan membantu Ibu untuk duduk."
Sara menyentuh tangan suaminya. "Rion, kau percaya kalau aku bukan wanita seperti itu, bukan?"
"Aku mendapatkan notifikasi pengeluaran rekeningku. Kau berbelanja begitu banyak hari ini."
"Apa?"
Sara memeriksa tas, tidak sadar kalau kartu pembayarannya hilang. Apa ibu dan anak yang sedang melakukan drama itu mengambilnya secara diam-diam? Dia tidak menyadari sama sekali.
Rion melepaskan tangan sang istri darinya, lalu berkata dengan ekspresi pahit, "Kita sampai di sini saja, Sara."
"Maksudmu apa?"
"Aku akan meminta pengacara untuk mengurus perpisahan kita."
Setelah berucap hal memilukan, Rion ke luar dari rumah. Charla dan Belinda tertawa penuh kemenangan lantaran rencana mereka berhasil. Sementara Sara terduduk di lantai dengan raut wajah terkejut tidak percaya.
Dia dan Rion akan berpisah. Apa ada makna lain dari kata-kata itu kecuali perceraian?





