Malam hari pun tiba. Aina dan Naysa pergi ke perpustakaan kota, siapa yang menyangka the real of love story Aina akan dimulai dari sini..
Aina mengambil salah satu buku yang bertema Psychology dan Nasya masih memilih-milih buku yang akan dia baca. Aina membaca buku sambil berjalan mengikuti Nasya, tiba-tiba...
"Bbbrruuggghhh"
"Aawww," rintih Aina.
"Mm-maaff Mba." Ucap seorang laki-laki yang sedang terburu-buru menuju pintu keluar. Laki-laki itu mengambil buku Aina yang tidak sengaja terjatuh olehnya.
"Ini bukunya, maaf yah." Ucap laki-laki itu sambil menyerahkan buku pada Aina.
Aina mengambil buku itu dari tangan laki-laki yang sudah menabraknya.
"Lain kali kalo jalan hati-hati dong!!" Ketus Aina.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya kepada Aina. "Michael."
Aina tidak menanggapinya, karena memang sedingin itu dia kepada laki-laki. Aina lebih memilih duduk di sofa perpustakaan yang sudah di sediakan sambil melanjutkan bacaan nya. Justru malahan Nasya yang membalas uluran tangan Michael.
"Nasya." Nasya tersenyum malu-malu. Michael membalas senyumannya tapi ia melirik ke arah Aina.
"Jangan di ambil hati yah, Aina memang gitu kalau sama cowok. Dingin, datar, cuek, tapi dia aslinya baik kok, ramah, asik." Ujar Nasya.
"Aina? Jadi cewek itu namanya Aina?." Tanya Michael untuk memastikan.
"Iyah."
"Nasya!!" Panggil Aina. "Sebenarnya yang ngajak ke perpustakaan itu aku atau kamu si?." Tanya Aina dengan nada kesal karena dirinya merasa di cuekin oleh Nasya.
"Iyah Aina, aku kesitu." Balas Nasya sambil mengambil buku random yang berada di rak perpustakaan. "Dah, Michael." Nasya pun lari kecil sambil menghampiri Aina yang sedang duduk di sofa tersebut.
Michael yang benar-benar terpesona dengan Aina saat pertemuan tadi membuatnya terus memikirkan gadis itu. Gadis yang tidak terlalu tinggi, mengenakan pakaian gamis polos berwarna hitam dan hijab berwarna lavender, membuat Michael yang sedang menyetir mobil senyum-senyum sendiri.
Michael, pria berusia dua puluh tujuh tahun. Seorang dosen muda yang berhasil lulus dari universitas luar negeri. Sudah 2 tahun dia mengajar di salah satu Universitas yang berada di Jakarta, dan sekarang ia meminta di pindahkan mengajar di cabang Semarang, tempat kelahirannya. Michael, seorang anak tunggal dari pasangan dokter Wijaya dan ibu Sri, seorang psikiater.
"Aku masih penasaran sama gadis itu. Kata temannya, dia itu dingin, datar dan cuek kalau sama cowok. Apa alasannya? Kenapa dia bersikap seperti itu pada laki-laki? Apa dia tidak suka laki-laki?, ah masa iyah si. Atau dia punya trauma, mungkin?." Tanya Michael pada diri sendiri.
*** *** ***
Aina dan Nasya masih membaca buku di perpustakaan itu. Saat Aina membalik lembaran buku, Aina menemukan kata-kata motivasi yang tertulis di buku itu. Tulisannya seperti ini.
"Yang hari ini penuh keputusasaan, bisa jadi di masa depan akan merasakan banyak kebahagiaan. Yang hari ini gagal, bisa jadi di masa depan akan mendapatkan keberhasilan.
Yang hari ini terlihat dekat sekali, bisa jadi di masa depan menjadi orang asing yang seperti tidak saling mengenali. Yang hari ini memiliki segalanya, bisa jadi di masa depan kehilangan semuanya.
Yang hari ini hidup, bisa jadi besok akan mati. Yang hari ini saling membenci, bisa jadi di masa depan akan saling mencintai. Yang hari ini tidak mempunyai apa-apa, bisa jadi di masa depan mempunyai semuanya.
Hidup itu akan terus berubah. Tidak selamanya stuck di itu-itu saja. Banyak plot twist kehidupan yang akan dirasakan. Maka dari itu, tetaplah berusaha dan berdoa. Karena takdir manusia berbeda, dan "goals-nya" tidak terjadi pada kalender yang sama.
#quotespsikologi - Unamoonroll"
Itu sebabnya Aina menyukai buku-buku tentang psychology, berkat itu Aina sudah bisa belajar menerima diri sendiri, sudah bisa berdamai dengan luka dan juga keadaan. Tapi ia masih trauma dengan laki-laki, karena ia beranggapan kalau laki-laki itu kasar, suka menyakiti hati perempuan. Bagaimana tidak ia beranggapan seperti itu, karena laki-laki terdekatnya yang membuatnya beranggapan seperti itu. Walaupun pasti ada alasannya.
"Aina, udah jam 21.30 nih, perpustakaannya juga udah sepi. Pulang yuk." Ajak Nesya. Aina melirik kanan kiri, dan benar sudah tidak ada orang di perpustakaan.
"Ya udah yuk, balik." Aina menutup bukunya dan menaruhnya kembali ke rak buku bersama Nesya.
* Lokasi : lampu merah, perempatan jalur jalan ke rumah masing-masing.
"Besok jangan lupa yah buatin surat izinnya," ucap Aina.
"Siap." Balas Nesya sambil mengangkat jempolnya.
Lampu rambu lalulintas sudah berwarna hijau yang mengartikan para pengendara sudah aman berjalan.
"Daah"
"Daah"
Aina dan Nesya sudah terpisah oleh jalur jalan. Aina mulai menaikan gas motornya lebih tinggi dari biasanya karena jalanan sepi, Aina berteriak di sepanjang perjalanan. "Huuuaaa aaaaa aaaa aaaaa." Karena dengan begitu beban hidupnya tak terasa, walaupun Aina seorang guru Agama, ia tidak terlalu fanatik. Maklum saja karena Aina seorang manusia biasa, kadang bisa menjadi ukhti dan terkadang bisa menjadi kunti.
"Ccccccccccciiiiiiiiiitttttttt," setelah Aina sampai rumah, ia langsung membuka pintu.
"Kkkkkkkrrrrrriiiiieeeettt,,, assalamualaikum." Salam Aina, dan ia langsung berjalan menuju kamarnya untuk langsung merobohkan badannya di atas kasuk yang empuk.
"Brruugghh." Tak lupa Aina membaca do'a sebelum tidur.
"Bismillahirrahmanirrahim bismikallahumma ahya wa amut wa bismika amut, aamiin." Tak butuh waktu lama Aina langsung tertidur.
*** *** ***





