"Nah, itu dia, Bu. Aku juga berpikir begitu. Mbak Nia itu terlalu manut dengan suaminya," celotehku menanggapi pendapat ibu mertuaku. Aku tahu ibu mertuaku pasti mendukungku, soalnya Ibu itu baik, nggak kaya cerita-cerita tentang ibu mertua yang jahat di novel-novel online. Yang agak keras itu bapak mertuaku, tapi bapak sudah nggak ada beberapa tahun silam, dan Mas Firman itu mirip banget bapak mertua sifatnya.
"Ya begitulah, Jen, kalau wanita nggak bisa berdaya sendiri. Semua tergantung sama suami. Iya kalau suaminya bener, diajak ke syurga bersama, lah kalau suaminya bejad kaya gitu, mau kabur aja mikirnya dua belas kali. Takut nggak bisa makan, takut kalau kabur nggak ada yang nafkahi. Jadi biasanya memilih bertahan walaupun suaminya kaya gitu."
Aku tahu itulah prinsip Bu Firda yang sejak dulu beliau pegang. Matanya menerawang jauh, mungkin mengingat kisahnya dengan Pak Slamet. Ia lantas mengambil gelas tehnya dan menyesap cairan berwarna cokelat itu. Bibirnya mengecap-ngecap rasa manis yang tertinggal.
"Iya, Ibu benar. Padahal dengan suaminya yang dulu, Mbak Nia itu nggak begini lho, Bu."
"Itulah kenapa Ibu nggak pernah mau menikah lagi setelah Bapak meninggal. Ibu takut kalau suami kedua nanti tak sebaik bapak."
Wajah Bu Firda berubah sendu, matanya mulai mengembun. Bapak memang memberi memori tersendiri pada Bu Firda meskipun sudah lama bapak meninggal.
Aku jadi ikut menunduk, haru, lebih tepatnya bingung juga kalau Ibu sudah mulai menangis karena mengenang bapak.
"Eh, itu kalau Ibu ya, Jen. Kalau misal suami pertama memang jahat, ya sah-sah saja menikah lagi, siapa tahu dapat suami yang lebih baik." Bu Firda memegang lengan Jeni, membuat ia sedikit terkejut.
"I ... iya, Bu. Ibu benar." Tak berani aku berkomentar apapun lagi. Meskipun aku dekat dengan ibu tapi kalau bercerita tentang suamiku juga rasanya gak enak, apalagi dia termasuk anak kesayangan ibu.
Lama kami terdiam, aku memutuskan untuk memanggil Mas Firman dan Gilang untuk makan. Baru saja badan hendak bangkit dan berputar, Mas Firman dan Gilang muncul dari ruang tengah.
"Udah mateng, yah, Bu?" tanya Mas Firman sembari menghirup wangi tempe goreng yang baru matang.
"Udah nih. Ayo pada makan semuanya!" ajak Bu Firda, ia menepuk kursi di sebelahnya seraya tersenyum pada cucu kesayangannya.
Gilang beringsut mendekat ke samping neneknya, matanya tertuju pada segelas teh di depannya.
"Ini punyaku kan, Mbah?" tanya Gilang sambil memegang segelas teh yang hangat.
"Itu punya Bapak, Lang. Nanti ibu bikinkan buat kamu, tadi ibu lupa," sahut Jeni seraya bangkit berdiri.
Sebelum beranjak, Bu Firda mencegah menantunya. "Biar ibu saja yang bikin, Jen. Kalian makan saja dulu," ucap Bu Firda seraya bangkit dan menuju ke meja tempat teh dan kopi disimpan.
Firman menyenggol lengan istrinya, alisnya naik turun memberi kode pada istrinya.
"Apa?" tanya Jeni lirih, ia melirik ke arah Ibu yang sedang mengaduk gelas berisi air putih.
"Sudah ngomong sama ibu soal Nida?" Firman membalas istrinya dengan berbisik. Ia penasaran apakah istrinya benar-benar serius dengan idenya.
"Belum." Nida menjawab acuh. Ia sendiri belum tahu bagaimana memulai percakapan itu degan Ibu. Meskipun Ibu mertuanya baik, tapi ia justru merasa segan. Mengecewakan ibu mertuanya adalah hal yang paling ia hindari selama ini. Bu Firda sudah melebihi ibunya sendiri.
Firman menghela nafas dengan lega. Ia pikir istrinya akan nekad meminta izin pada ibu.
Bu Firda datang dengan membawa segelas teh hangat. Ia lantas bergabung dengan mengambil nasi. Tidak ada percakapan diantara mereka. Sayur oyong dengan sambal dan tempe goreng membuat mereka larut dalam sarapan pagi yang sederhana namun nikmat.
"Ehm." Tenggorokan jeni terasa gatal, kata-kata yang sudah ia susun tercekat di tenggorokan. Lidahnya kelu. Sampai sarapan selesai, tak ada satupun kata-kata tentang Nida yang muncul dari mulutnya.
Setelah selesai makan, Jeni membereskan sisa makanan dan membuat air gula merah serta cendol bersama suaminya. Ia harus buru-buru menyelesaikan semua pernak -pernik membuat es cendol sebelum waktu terlalu siang. Karena kalau kesiangan, biasanya cendolnya tidak akan habis.
Karena hari ini Mas firman dan Gilang libur, Jeni jadi bisa meminta tolong ke mereka untuk membawakan bahan-bahan yang sudah siap ke gerobak dorong yang ada di depan rumah. Gula cair, santan serta cendol nanti akan ditata lebih rapi kalau sudah di lapak.
Firman membawa termos jumbo berisi santan, dan Gilang membawa toples besar berisi gula merah cair. Jeni menyusul dibelakang mereka membawa termos berisi cendol.
"Sudah semua, Mas," ucap Jeni memberi aba-aba agar gerobaknya segera dibawa ke lapak.
"Yaudah aku berangkat sekarang." Firman membawa tas di pundaknya dan mendorong gerobaknya. Jeni dan Gilang mengikuti dari belakang.
Tempat jualan mereka tak terlalu jauh, hanya beberapa meter di perempatan jalan besar. Di sana ada juga pedagang gorengan dan seblak yang sudah ready di tempat saat gerobak Jeni datang.
"Eh, lagi libur yah Mas Firman?" Renita yang jualan gorengan menyambut kedatangan mereka.
"Iya nih Mbak Ren. Udah larisan belum!?" tanya firman melongok sisa gorengan di etalase.
"Alhamdulillah, masih pagi jadi masih agak sepi. Mbak Jum tuh yang larisan dari tadi. Anak-anak SMP pada libur jadi pada nyeblak pagi-pagi," jawab Renita sambil menunjuk ke arah Mbak Jum yang sedang sibuk membuat seblak.
Mbak Jum yang ditunjuk hanya tersenyum saja.
"Udah ya, Jen. Aku sama Gilang pulang dulu," pamit Firman pada istrinya. Jeni mengangguk-angguk sambil menata lagi sedotan dan plastik di atas meja.
"Iya, Mas. Gilang kalau mau main jangan jauh-jauh ya," jeni berpesan pada anak satu-satunya.
"Iya, Bu," jawab Gilang sambil berjalan menjauh.
Siang itu Jeni cukup sibuk melayani pembeli es dawetnya. Mungkin karena cuaca di luar sedang cukup panas sehingga orang-orang banyak yang mencari es cendol. Sampai pukul 1 siang, dagangannya sudah hampir habis. Saat pembeli terakhir selesai dilayani, ia menaruh tubuhnya di kursi pelanggan.
Jeni teringat kalau tadi ia membawa ubi rebus dadi rumah. Ia mengambil bungkusan di tas yang ia bawa. Sambil mencomot ubi rebus itu, ia juga iseng membuka ponselnya yang sejak pagi belum sempat ia sentuh.
Ternyata ia mendapatkan pesan yang cukup panjang dari Nida. Saat membaca pesan itu, wajah Jeni berkerut-kerut.
[ Tante Jeni, aku dimarahin Ibu karena mengadu soal Bapak. Tadi siang saat bapak bangun tiba-tiba dia langsung ke kamarku, Tan. Bapak lihat aku habis mandi tadi, terus bapak melukin aku. Aku teriak-teriak manggil ibu. Waktu ibu masuk, aku ceritain ke ibu tentang bapak yang tiba-tiba datang, Tan. Tapi malah aku yang dimarahin. Katanya aku ceroboh nggak bisa kunci kamar. Aku takut Tante. Aku takut sama bapak, aku takut sama ibu. Apa aku kabur aja ya Tan?"]
"Astaghfirullah!!! Aduh bagaimana ini?!"
Jeni Semain bingung harus bagaimana. Sepertinya keadaan Nida semakin parah. "Ya ampun, Mbak Nia kenapa jadi kaya gitu sih!!" Kesal, Jeni meremas jadi jemarinya sendiri.





