Aku mengajar mulai pukul 7.00 pagi. Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang aku ampu. Tidak banyak memang murid di kelas 6. Hanya 11 anak saja. Aku pun sudah mulai bergaul dengan guru-guru. Ada Pak Darto yang gemuk dan berkumis lebat. Atau Pak Marjo, guru matematika berambut jamur yang begitu misterius.
Pak Darto cukup ekstrovert. Terbuka, blak-blakan. Pernah suatu hari, kami para guru rapat evaluasi dalam ruang kepala sekolah. Sambil menunggu Bu Irda masuk, Pak Darto, yang duduk tepat di sampingku, mulai usil.
"Gimana?" sikunya menyenggolku ketika aku sedang menjumput lumpia rebung dari kotak makanan yang disajikan. Hampir saja lumpia itu terpental. "Bu Irda... manteb to?"
Belum sempat aku menjawab, Pak Darto sudah terkekeh. Perutnya yang tambun bergetar hebat, mirip ikan buntal yang terancam oleh musuh-musuhnya. Aku tahu maksud Pak Darto. Ia pasti sedang menggodaku. Tepatnya, ingin meminta pendapat bagaimana susu Bu Irda menurut penilaianku.
Pak Darto memang agak genit dibanding yang lain. Istrinya gendut, anaknya sudah empat. Katanya, istrinya cerewet dan suka berkacak pinggang. Makanya, menurut cerita-cerita yang beredar di kalangan para guru, Pak Darto lebih sering mengungsi ke Umbul. Pamitnya rapat mendadak di rumah Pak RT, tapi ia lebih suka kerayapan ke Umbul, menonton atraksi payudara.
Ah, Darto-Darto... kamu pasti sudah menikmati ranumnya buah dada Bu Irda...
Kubiarkan saja ia terus menggodaku. Tawanya yang cekikikan masih menghiasi ruangan. Beberapa guru berusaha menegur Pak Darto. ”Husss..” kata mereka. Orangnya memang sulit diduga, banyak tingkah dan alasan. Makanya, aku hanya terus berulang-ulang menjawab, "Ya-Ya-Ya." kalau ia sedang menerocos. Maksudku, supaya ia puas dan segera menghentikan cocotannya itu.
*^*
Ketika mengajar, murid-murid sepertinya menaruh hormat padaku. Siang itu, di ruang kelas, aku duduk siaga seperti seekor elang yang sedang mengintai mangsanya.
"Sinta, maju." tunjukku pada perempuan berambut kucir ganda. Yang aku tunjuk diam saja. Malah tampak celingukan.
"Santi kali, Pak..." seorang murid yang duduk di tengah mengingatkanku.
"O iya, Santi..." jawabku mengoreksi. Aku selalu lupa nama gadis ini. Padahal ia cukup cemerlang dan cantik. Wajahnya memang tidak mulus karena beberapa jerawat sudah menjajah bagian kening dan pipinya yang cukup berisi. Ia bermata sipit, beralis tebal, dan berbibir sensual. Pipinya tembel. Anak ini selalu merapikan rambutnya dengan gaya kucir ganda seperti itu. Jika diurai, rambutnya hanya sebatas pundak.
"Buat kata berakhiran 'wan'!" perintahku. Santi beringsut maju, memungut pelan kapur tulis yang aku sodorkan dan mulai menulis di papan tulis.
Sembari memperhatikan materi di dalam buku, aku mendengar anak-anak tertawa cekikikan. "Ada apa sih?" pikirku.
Aku membaca apa yang ditulis oleh Santi...
"P-E-R-A-W-A-N."
"Kurang ajar nih, gue dikerjain,” geramku dalam hati.
Tawa pun meledak di seluruh kelas. Rio, si rambut kribo, tergelak seperti orang kesurupan. Ia membanting-bantingkan tubuhnya ke kanan-kiri, sambil memegang perut, membuatku tampak lebih salah tingkah siang itu.
Sssttt... aku mengacungkan jari dan dengan satu komando, seluruh kelas kembali tenang meskipun masih terdengar cekikikan-cekikikan yang sayup. Dengan senyum tersipu, Santi mengembalikan kapur itu kepadaku.
Sebenarnya, Santi itu pintar. Cuma pendiam dan suka usil. Berbeda dengan gadis yang duduk tepat di sebelah kanannya, Iyuth, yang sama-sama jahil tapi bercandanya tidak pernah cerdas.
Badan Iyuth lebih padat berisi. Dadanya sudah mulai tumbuh. Aku sering meliriknya sewaktu pelajaran olah raga. Betisnya tebal dan suka memakai sepatu semi-bot macam Dr. Martin jaman dulu. Ia tampak pede tapi kesannya kurang sopan.
Pernah suatu hari ia menodongku, "Pak, beliin pulsa dong." wajahnya tak mau lepas dari ponselnya.
Karena niatnya usil, maka kujawab dengan tak kalah usilnya juga. "Okey, tapi kasih dulu nomor ponselmu."
"Nggak jadi!" jawabnya ketus. Ia melengos dan pergi membelakangiku. Rambutnya yang agak bergelombang, ditata dengan jambul kecil di depannya, terhambur ke arahku. Aku pun mengacuhkannya tanpa beban. Anak jahil kok dilayani, batinku.
Ada satu lagi yang namanya aku hafal. Deva. Duduk di belakang Santi. Wajahnya ayu tapi melas. Gara-gara wajahnya yang mellow itu, orang sekaliber Pak Marjo pun sering dibuat mengalah. Padahal, dengan raut muka seperti Angry Bird, Pak Marjo cukup disegani. Ibaratnya, Pak Marjo datang, dunia tenang!
Pernah suatu ketika, Pak Marjo menghukum Deva yang langsing itu untuk berdiri menghadap tiang bendera. Tuduhannya, terbukti secara sah dan meyakinkan telah menyontek! Tapi dengan mudahnya ia membujuk Pak Darto agar menyelamatkannya. Modus operandinya, ia pura-pura sakit dan minta diantar pulang. Pak Marjo, yang merasa berhak menghakimi, blingsatan karena tak menemukan tawanannya di lapangan sekolah.
Esok paginya, Pak Marjo tidak lagi mengungkit-ungkit hukumannya kemarin. Mungkin karena Deva berhasil menunjukkan wajah memelasnya sehingga Pak Marjo tidak tega untuk meneruskan perkaranya.
Sepertinya mereka bertiga satu gank. Kompak. Kalau jajan, suka makan dengan tema yang sama. Tempura 2 tusuk. Minumannya juga serempak. Hmm, apakah mereka pakai daleman yang warnanya sama? Aku menduga-duga dengan pikiran nakal.
^*^
Aku melirik sekilas ke arah arloji. Pukul 3:00.
Aku duduk bersila dan menata baju yang telah selesai aku seterika. Saatnya mengumpulkannya ke dalam lemari baju tua yang ada di hadapanku. Aku beranjak naik diiringi suara gemerisik dari kertas koran yang dijadikan alas duduk. Tempat itu memang berubin namun bukan keramik. Apa-apa harus kukerjakan sendiri karena jauh dari orang tua. Sayup-sayup, lagu Metallica mengusir kesunyianku di dalam rumah.
Sambil menata-nata baju, secara tak sengaja aku melihat dari pantulan cermin yang tergantung di kamar tidurku. Bayangan dua anak perempuan sedang mengintip ke dalam rumah lewat jendela ruang tamu. Sebenarnya ada tiga makhluk. Tapi yang terakhir hanya terlihat topinya saja yang menyembul dari samping. Mereka tampak gaduh.
Aku pun buru-buru mengemasi sisa-sisa baju yang belum selesai ditumpuk ke dalam lemari. Aku jejalkan baju-baju itu begitu saja dan menutup lemari rapat-rapat. Sewaktu membalikkan badanku, makhluk-makhluk itu, yang ternyata kusadari adalah gadis-gadis yang tak asing di kelasku, buru-buru bubar sambil heboh sendiri.
"Huss, ngapain kalian ke sini?" tanyaku dengan sorot tajam kepada mereka. Setelah kubuka pintu, terlihat Anak usil and the gank itu datang ke rumah sore hari lengkap dengan memakai baju dan atribut Pramuka. Masing-masing dari mereka menggenggam tongkat bambu.
"Jelajah desa, Pak." kata Iyuth sambil membetulkan posisi topi bundarnya. Santi pura-pura tak menyimak dengan sibuk menengok kanan-kiri. Deva memilih untuk menatapku sambil mengibas-ibaskan tangannya memancing hembusan angin.
"Terus?" kejarku penuh selidik.
"...terus, kita kehilangan jejak deh, Pak." jawab Iyuth kikuk yang disambut dengan senggolan siku Deva. Mungkin Deva merasa tidak enak denganku karena Iyuth terlalu keliatan bohongnya.
Di antara jengkel dan kesal, aku mempersilakan mereka masuk. Iyuth lebih dulu, dibuntuti Santi dan Deva. Aku mendahului mereka pergi ke dapur dan sesampainya di sana, aku setengah berteriak. "Minum apa nih?"
"Terserah deh, Pak, asal bukan air putih." sahut Santi asal jawab dari ruang tamu.
Aku memutuskan untuk menyuguhi mereka sari jeruk. Segar pasti siang-siang begini. Ketiga gelas itu aku tata rapi di atas nampan dan kubawa masuk ke ruang tamu. Glek! Belum sempat kusodorkan gelas-gelas itu ke tengah meja, aku menelan ludah.
Iyuth sudah mengurai dasi Pramukanya dan melepas tiga buah kancing dari atas. Ia tampak sibuk mengibas-ibaskan tangannya, menggiring angin ke arah lehernya. Dagunya ia naikkan ke atas, ke bawah. Kadang kepalanya ia miringkan. Lehernya bersih dan putih.
Mungkin aku harus berterima kasih kepada matahari sore ini karena ketika aku membungkuk untuk menaruh gelas-gelas itu, aku mengintip cepat singlet putih dari balik baju pramuka Iyuth. Belahan dadanya mulai tumbuh, tapi belum besar.
Mereka menyerbu minuman yang aku sodorkan. Deva begitu rakus. Mungkin ia sangat kehausan, sampai-sampai sari jeruk itu meleleh di antara bibirnya dan turun meluncur mengikuti dagu, leher, dan masuk ke dalam balik bajunya. Aku merasa kalau Deva sangat seksi.
*^*
Jangan lewatkan baca juga kisah super baper “Takdir Cinta Gigolo Kampung”





