Terjerat Cinta Satu Malam (Gadis Kecilku)

Malam telah tiba, Mahendra sudah berada di Restoran yang terletak di dalam hotel. Mauren juga sudah stay di sana, dirinya akan memulai misinya. Jian juga ada di sana juga, dirinya hanya memantau saja.

"Lah, tidak jadi datang kenapa?" tanya Mahendra tampak kesal ketika mendapat telepon dari rekan kerjanya yang mengatakan kalau acara makan malam ternyata batal.

"Sorry, Hen. Mendadak ada urusan darurat, tidak bisa ditunda lagi."

Mahendra menutup teleponnya saking kesalnya.

"Buang-buang waktu saja!" gerutu Mahendra yang langsung beranjak dari tempat duduknya, dirinya memutuskan untuk pulang saja.

BRUK!

Tak sengaja Mahendra menabrak seorang gadis, tak lain adalah Mauren. Gadis cantik itu sampai terjatuh, ini adalah salah satu trik Mauren.

"Sorry!" Mahendra mengulurkan tangan kanannya membantu gadis itu untuk berdiri.

Mauren menerima uluran tangan dari Mahendra, "Terima kasih, Om," ucap Mauren dengan nada suara dibuat manja dan seksi.

"Aduh!" teriak Mauren meringis, ekspresi wajahnya terlihat jelas kalau dirinya seperti orang kesakitan.

"Kenapa?" tanya Mahendra bingung kenapa gadis itu tiba-tiba saja teriak kesakitan.

"Sepertinya kaki aku keseleo, Om. Sakit banget! Ssshhttt ... kalau kaki aku sakit begini bagaimana aku bisa kembali ke kamar hotel." Mauren semakin menunjukkan kalau kakinya benar-benar sakit.

"Ya sudah, saya bantu kamu berjalan." Mahendra melingkarkan satu tangannya di pinggang gadis itu.

Mauren begitu terkesima melihat aura duda tanpan ini. Ternyata melihat secara nyata lebih mempesona dibandingkan di foto.

"Sakit, Om! Aku gak kuat berjalan." Mauren mulai merengek, mulai drama kalau dirinya tidak kuat berjalan.

"Sorry! Kalau begitu saya akan gendong kamu, tidak apa-apa?" tanya Mahendra terlihat sangat kaku.

"Boleh Om. Maaf, Om. Aku sudah merepotkan Om begini," sahut Mauren.

"No problem! Lagian kaki kamu sakit seperti ini karena saya juga, kan!" Mahendra tersenyum, senyumannya membuat Mauren semakin meleleh saja, raut wajahnya yang maskulin ditambah satu lesung di pipi kirinya, usianya tertutup oleh auranya yang menawan.

Mahendra langsung meraih tubuh Mauren hingga berada dalam pangkuannya.

Jian ternyata masih memantau, dirinya sangat puas sekali dengan cara kerja Mauren untuk mendekati Mahendra.

"Kalau sudah begini, Mahendra akan terjebak di dalam kamar bersama Mauren. Oke, Mauren. Lanjutkan pekerjaan kamu, aku suka! Kau ternyata pintar juga." Jian tersenyum lebar, berharap rencananya dan Mauren berhasil.

Jian memutuskan untuk keluar dari Hotel, dirinya sangat yakin kalau malam ini Mauren tidak akan gagal. Jian berharap nantinya kehadiran Mauren bisa membuat Mahendra melupakan Stella, wanita yang sudah mematahkan hatinya.

"Di mana kamar kamu?" tanya Mahendra ketika sudah berada di lantai 5. Tadi Mauren sempat berkata kalau kamarnya berada di lantai 5.

"Di sana, Om. Di kamar nomer 505," jawab Mauren.

Tak terasa sampai juga di depan kamar hotel. Mahendra menurunkan tubuh gadis itu dari pangkuannya.

"Saya akan pijitin kaki kamu," tawar Mahendra, kebetulan Mahendra memang mengerti dan bisa memijit. Selain itu, ia tidak tega melihat gadis itu kesakitan.

"Baik, Om. Kalau Om tidak keberatan," ucap Mauren yang langsung menerima tawaran Mahendra.

Mauren membukakan pintu kamar hotelnya, tak lupa gadis itu menutup pintu kamarnya kembali. Jalannya masih pincang, Mahendra membantu Mauren untuk berjalan.

Mauren duduk di atas sofa, Mahendra jongkok di bawah kedua kaki Mauren, melepaskan kedua sepatu gadis yang usianya setara dengan Ariel putranya. Duda tampan dan berkarisma itu mulai memijit kaki kanan Mauren yang katanya keseleo.

"Aw... pelan-pelan, Om. Sakit!" Rintih Mauren semakin membuat Mahendra percaya kalau gadis itu memang tengah kesakitan.

Mahendra tersenyum, baru kali ini dirinya bisa tersenyum tulus kepada perempuan. Ia tersenyum saking gemasnya melihat ekspresi Mauren yang kesakitan akibat pijitan darinya.

"Sudah selesai!" Mahendra pun beranjak berdiri tegak.

Perlahan-lahan Mauren juga berdiri, mencoba untuk berjalan apakah kakinya terasa masih sakit atau tidak?

Mauren sampai jingkrak-jingkrak saking senangnya, sebenarnya memang kakinya tidak sakit.

"Wah ... Om hebat! Kakiku sudah tidak terasa sakit lagi!" Mauren berpura-pura akan terjatuh lagi.

"Awas! Hati-hati!" Dengan gesitnya Mahendra meraih salah satu tangan Mauren niatnya menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh lagi.

Namun, malah tangan Mauren yang menarik tangan Mahendra, bahkan Mauren dengan sengaja menghempaskan tubuhnya secara kasar di atas sofa. Tangan Mahendra semakin tertarik hingga tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh gadis itu.

'Yes Berhasil!'

Mauren tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berlian ini, Maueren akan mulai mempraktekkan tips dari artikel yang sudah ia baca. Jari tangan Mauren yang lentik mulai meraba-raba wajah sampai leher Mahendra.

"Om, temani aku untuk malam ini? Please ...." pinta Mauren tersenyum nakal, sampai bibirnya yang mungil itu mengigit lembut daun telinganya Mahendra. Bahkan sampai memberanikan diri mengecup bagian leher Mahendra. itu salah satu tips yang Mauren pelajari dari sebuah artikel.

Mahendra merasa kesulitan untuk beranjak, seperti ada magnet dalam dirinya. Gairahnya seketika terangsang, hingga membuat Mahendra tidak bisa berkutik sama sekali. Bahkan, kedua matanya sampai terpenjam merasakan sentuhan dari Mauren.

"Anggap saja sebagai ucapan terima kasih dariku, karena Om sudah menolongku," ucap Mauren, kedua tangannya sudah melingkar di tengkuk Mahendra. Gadis itu tidak akan membiarkan pria itu lepas darinya.

Mahendra tercengang, dirinya baru tersadar setelah mendapatkan sentuhan yang membuat tubuhnya kaku dan panas bahkan merinding. Ini pertama kalinya bagi dirinya menghadapi gadis liar seperti Mauren.

Ternyata Mahendra masih normal, baru saja tangan Mauren yang nakal, dan mendapatkan sebuah kecupan lembut di lehernya, sudah membuat tubuhnya panas dingin

"Argh! Tidak bisa!" Tolak Mahendra berusaha memberontak, kedua tangannya menepis kedua tangan Mauren yang melingkar di tengkuknya. Hingga dirinya bisa terlepas dari dekapan gadis itu.

"Kau masih muda, kenapa kau sudah menjadi wanita penggoda seperti itu! Jangan menggodaku! Aku tidak akan pernah tergoda sedikit pun! Dasar gadis sampah! Sepertinya aku sudah tertipu. Kau butuh uang berapa? Aku akan memberikan uang berapa pun yang kau minta," ucap Mahendra, nada suaranya terdengar membentak, terlihat angkuh sekali. Mahendra merapikan pakaiannya, memutar tubuhnya membelakangi Mauren.

Mauren semakin tertantang saja, ternyata tips itu tidak mempan. Mauren tidak menyerah, dirinya beranjak berdiri, lalu kembali memeluk tubuh Mahendra dar arah belakang.

"Aku tidak butuh uang dari kamu, Om. Beneran tadi itu kaki aku sakit, sama sekali tidak menipumu. Aku hanya gadis yang tengah patah hati. Aku memergoki kekasihku sedang bermain ranjang dengan wanita lain. Rasanya aku ingin membalas rasa sakitku ini, mungkin dengan cara aku melakukan apa yang dia lakuka, rasa sakit dihatiku akan terobati mungkin." Mauren kembali drama.

Mahendra kembali dibuat kaku oleh gadis itu.

"Bagaimana kalau kita kenalan dulu, namaku, Mauren. Nama Om siapa? Bisakah kita menjadi teman? Itu pun kalau Om tidak keberatan. Hm! Soal status, Om ini pasti sudah punya anak dan istri, kan? Tapi... aku tidak peduli deh. Jadi, gimana kalau malam ini kita senang-senang saja?Anggap saja malam ini Om sedang mendapatkan durian runtuh. Kapan lagi coba?" Mauren tidak menyerah, sikap jutek, angkuh dan dinginnya Mahendra membuat Mauren semakin ingin menaklukkan pria tersebut.

"Ngaco! Saya tetap akan menolak. Saya bukan tife laki-laki yang suka main perempuan, kau salah orang! Kalau kau ingin melampiaskan nafsumu untuk membalas sakit hati atas pengkhianat pacarmu jangan sama saya, cari saja pria cassanova di luaran sana." Mahendra masih menolak, berusaha menepis kedua tangan Mauren yang melingkar di perutnya.

Namun, Mauren malah memutar tubuh Mahendra, mendorong tubuh pria itu sampai kembali terhempas di atas sofa. Dengan gesit, Mauren melepaskan sepatu yang digunakan Mahendra, jari tangan Mauren memberikan sedikit kelitikan pada bagian bawah kaki Mahendra.

"Dasar gadis gila!" desis Mahendra yang kembali dibuat tak berdaya oleh gadis itu.

"Sepertinya punya Om ini sangat besar, padat dan berisi. Sepertinya aku akan puas jika menikmati punyamu ini, Om." Mauren semakin liar saja, tangan Mauren beralih, bahkan dirinya memberanikan membuka rel selentingan benang yang menutupi benda pusaka tersebut. Hanya dengan sekali sentuhan, benda pusaka itu seketika bereaksi.

"Lepas! Dan hentikan!" sentak Mahendra mencoba menolak rasa nikmat yang sudah ia dapatkan dari sentuhan tangan gadis itu.

"Hentikan, saya mohon! Hentikan!" bentaknya lagi.

Mahendra mendorong tubuh gadis itu sampai terjatuh, Mahendra menyembunyikan kembali miliknya yang sudah keluar dari tempat persembunyiannya.

"Kau gila!" Rahang Mahendra sampai mengeras saking marahnya.

Mauren tidak menyerah, dirinya meraih kedua kaki Mahendra, melingkarkan kedua tangannya di kedua kaki laki-laki tersebut.

"Om, aku tidak akan membiarkan kamu pergi!" Mauren benar-benar sudah gila, tertantang juga dengan tawaran Jian. Terlanjur juga tangannya menyentuh benda haram tersebut. Tak munafik juga, hasratnya juga seketika muncul begitu saja.

"Lepas!" Mahendra kembali menyentak Mauren.

Namun, gadis itu tidak ada rasa sakit sama sekali meskipun beberapa kali dibentak oleh pria itu, dirinya akan kembali melanjutkan aksinya. Masih ada cara lain lagi yang sudah ia pelajari.

Berhasilkah Mauren membuat Mahendra terjebak dan tidak bisa menolak?

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.