Prangg!!
Malam-malam buta Syera terbangun dari tidurnya karena Syima dan Raihan terdengar sedang bertengkar. Awalnya malas untuk kepo tetapi setelah mendengar Syima sesegukan membuat Syera berlari keluar.
Syera mulai mencemaskan Syima kakaknya tetapi setelah berada di anak tangga terakhir, Syera tidak sengaja mendengar Syima membentak Raihan.
"TIDAK! Aku telah lama menginginkan pekerjaan ini Mas, tapi Mas menyuruhku untuk berhenti dan aku tidak akan pernah mau!" bentak Syima.
Raihan terkejut mendengar istrinya berani membentaknya. Baru kali ini Syima berkata seperti itu.
"Syima! Mas ini suamimu, mas tidak pernah mengajarkanmu berbicara seperti itu!" ujar Raihan.
Syima seperti orang kesurupan saat ini karena tangisannya semakin menjadi-jadi. Jika tetangga mendengar pasti akan mengira Raihan telah berlaku kasar pada Syima.
Entah kenapa Syima berperilaku seperti itu hingga Raihan semakin curiga bahwa bukan karena pekerjaan tetapi karena selingkuh Syima tidak ingin berhenti kerja.
Raihan mengepalkan kedua tanganya hingga tiba-tiba Raihan melayangkan bogem ke arah tembok dinding pembatas antara ruang makan dan ruang tamu.
Syera dan Syima sama-sama dibuat kaget karena selama ini semarah apa pun Raihan, dia tidak pernah bertindak seperti itu. Raihan memang tipe pria yang marah hanya lebih memilih diam dan tidur karena tidak mau memperpanjang masalah.
Tidak hanya sekali Raihan melayang bogem mentah di tembok dinding, tetapi berkali-kali sehingga tangannya mengeluarkan darah.
Syima hanya terpaku melihat tetapi tidak ada niat untuk menghentikan suaminya, hingga tiba-tiba Syera muncul dan menarik tangan Raihan lalu mencoba mendorong keras Raihan agar menjauh dari dinding tembok itu.
"KAK! Kakak sudah gila? Ini tangan Kakak sampai berdarah!" teriak Syera karena merasa ngeri melihat darah yang mengalir begitu banyak sehingga mengena dinding itu.
Syera menoleh menatap tajam ke arah Syima yang hanya berdiri dan tidak melakukan apa-apa. Dia merasa aneh karena sang Kakak tidak coba menghentikan Raihan.
Raihan terlihat diam dan menundukkan wajah, rasa menyesal dan kecewa sudah menyelubungi hatinya. Tangan dan tubuh Raihan terlihat bergetar hingga dia terduduk di atas lantai, kakinya seolah tidak kuat untuk menopang bobotnya lagi.
"Kalian kenapa sih? Kak Syima, kenapa Kakak hanya di situ? Kakak tidak melihat suami Kakak ini terluka?" tanya Syera dengan pertanyan beruntun.
Syima masih tidak menjawab dia hanya diam tanpa raut cemas pada wajahnya. Jujur saja Syima sudah kehilangan perasaannya terhadap Raihan karena saat ini dia sedang memupuk benih cinta bersama sang atasannya.
"Kak?" panggil Syera lagi karena Syima tidak merespon sedikit pun ucapannya.
Akhirnya Syima menoleh ke arah Syera dengan wajah datar.
"Jangan masuk campur kamu anak kecil!" ucap Syima dingin dan berlalu meninggalkan Raihan dan Syera yang masih ada di ruang tamu itu.
Syera mendengus kesal, lalu segera menuju ke arah lemari tv untuk mengambil kotak p3k. Syera kini duduk berhadapan dengan sang Kakak ipar.
"Kak, kemarikan tanganmu," ucap Syera.
"Tidak perlu Syera," tolak Raihan dengan suara sendu.
Raihan masih berpikir waras saat ini, dia tidak mau memanfaatkan kesempatan untuk bersentuhan dengan adik iparnya.
"Sini!" Syera langsung saja menarik tangan Raihan lalu meringgis ngilu.
"Sakit ya? Maaf, aku akan perlahan ya, Kak," lanjut Syera lagi.
Dengan telaten Syera mencuci luka pada jari-jari tangan Raihan yang terluka, lalu mengoleskan obat. Terlihat pada wajah Syera meringgis karena ngilu.
Raihan sempat kagum dengan kecekatan Syera, dia menatap wajah Syera curi-curi dan jujur dia sedikit terpesona.
Raihan sadar pikirannya mulai memuji Syera yang terlihat begitu cantik. Apalagi dengan rambut yang tergerai jatuh menutupi sebagian wajahnya membuat mata Raihan susah berkedip.
"Ok, sudah selesai," ucap Syera yang membuat Raihan langsung memalingkan wajahnya menatap ke arah jari tangannya yang sudah tertutup oleh plaster luka.
"Terima kasih, Syera," ucap Raihan tulus.
Saat ini netra mata mereka bertemu, entah kenapa Syera seperti terhipnotis menatap mata Raihan. Syera baru sadar anak mata Raihan berwarna kecoklatan tidak seperti anak matanya berwarna hitam.
"Syer?" Raihan melambaikan tangannya di depan wajah Syera karena Syera terlihat melamun.
Setelah sadar Syera langsung berdehem dan tersenyum canggung. Lalu kembali mengemasi peralatan obat untuk dimasukkan ke dalam kotak p3k lagi.
Suasana menjadi canggung hingga Raihan coba memecahkan suasana dengan mengeluarkan uang dari dalam dompetnya lalu memberikan kepada Syera.
"Ini buat uang jajan kamu." Raihan memberikan Syera uang lembar merah sebanyak lima lembar.
"Tapi Kak, uang jajan Syera masih ada untuk bulan ini," ucap Syera.
Syera memang diberikan uang jajan setiap bulan oleh kedua orang tuanya, tidak jarang juga Syima dan Raihan sering memberikan uang jajan untuk Syera.
"Tidak apa-apa anggap saja ini uang jajan sebagai tanda terima kasih dari Kakak karena kamu membantu Kakak," ujar Raihan.
Raihan menarik paksa tangan Syera lalu diletakkan uang itu pada telapak tangan Syera. Raihan lalu tersenyum dan meninggalkan Syera yang masih berdiri kaku.
Setelah bayang-bayang Raihan tidak terlihat Syera langsung saja menyentuh dadanya.
"Kenapa aku deg-degan," ucap Syera perlahan.
Syera berjalan kembali ke kamarnya. Sampai di dalam kamar dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Syera kembali teringat senyuman Raihan tadi.
Segera dia menggelengkan kepalanya.
"Pasti aku sudah gila," ucap Syera.
Syera memutuskan untuk kembali melelapkan matanya dan melupakan pikiran anehnya.
***
Keesokan paginya Syera bangun seperti biasa karena hari ini masih hari Rabu untuk dia bersekolah. Dengan cepat Syera bersiap lalu turun untuk sarapan.
Syera melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Ah, aku sudah hampir terlambat gara-gara lambat tidur semalam," gerutu Syera sambil menuju ke meja makan lalu mengambil roti panggang 2 lembar.
Syera tidak melihat Syima di meja makan, tetapi dia tidak mau ambil pusing karena memang dia sudah terlambat. Syera pamit dengan Raihan yang masih santai memakan sarapannya.
Syera menghidupkan motor scoopy milik Raihan yang dipinjamkan padanya untuk memudahkan pergi ke kampus. Dengan kecepatan tinggi Syera langsung menuju ke sekolahnya.
"Mujur saja setelah aku masuk, bel baru bunyi kalau tidak, aku tidak bisa ikut ujian penilaian hari ini," ucap Syera.
Sewaktu hendak turun dari motor, Syera merasa seperti ada yang kurang, dia melihat sekitar motornya lalu memeriksa kantongnya tetapi tidak ada yang kurang.
Sehingga dia ingin menarik tasnya tetapi tidak menemukan keberadaan tas itu.
"Eh, tas aku?" tanya Syera pada dirinya sendiri.
Syera meraba-raba punggungnya,
"Sialan, tas aku ketinggalan," gerutu Syera merasa kesal. "Bagaimana ini, apa aku harus pulang lagi tapi kan sebentar sudah mulai kelas," lanjut Syera lagi.
Tidak ada cara lain selain terpaksa meminjam peralatan menulis pada temannya. Syera melangkah cepat menuju ke arah kelasnya agar dia bisa meminjam peralatan menulis pada Nora.
Baru saja hendak melangkah masuk ke dalam kelas, tiba-tiba ada yang memanggil Syera. Sontak Syera menoleh dan matanya membulat.
"Syera!"
(Tbc ...)





