Terjerat Cinta Papa Bujang

Malviya house

Rumah mewah dan megah, bercat putih, pagarnya pun menjulang tinggi selain itu keamanan nya pun sangat ketat. Ternyata benar dugaan Sera bu Rita itu orang kaya. Sera memasuki halaman rumah mewah itu setelah diizinkan masuk oleh satpam. Sera terus berdecak kagum, baru halamannya saja sudah sangat luas, dihiasi bunga-bunga yang cantik. Sera memencet bel rumah mewah itu.

Tak lama seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.

"Selamat pagi, Mbak Sera ya? Silakan masuk," ucapnya.

Langkah Sera terasa ringan tapi canggung. Matanya menari-nari, mengagumi interior rumah. Langit-langit tinggi, lampu kristal menggantung indah, furniture serba elegan. Jantungnya berdegup lebih cepat.

"Eh nak Sera." Sapa Rita.

"Selamat pagi, bu." Sera tersenyum ramah.

"Ayo duduk dulu." Ucap Rita.

Sera merasa sedikit gugup duduk di sofa mewah ini.

"Santai aja Ser."

Rita memberitahu Sera bahwa cucunya itu berusia empat tahun. Rita juga memperkenalkan suaminya yang bernama Brata.

"Oma.. " Teriak anak kecil menghampiri Rita.

"Sayangnya oma."

"Nah anak ini yang akan kamu ajari, namanya Aydan Pratama Malviya."

"Hallo anak ganteng." Sapa Sera.

Aydan terus memperhatikan wajah Sera mungkin wajah yang baru ia lihat.

"Hallo, kaka namanya siapa?" Tanya Aydan.

"Nama kaka Sera." Ucap Sera gemas.

"Nah sayangnya oma kaka ini yang akan mengajari kamu berhitung, membaca dan mewarnai." Jelas Rita.

"Yey Aydan punya temen baru." Ucapnya Senang.

Rita tersenyum senang. "Aydan ini memang anaknya cepat akrab. Harusnya dia masuk PAUD, tapi Papahnya maunya privat aja dulu. Nanti umur lima tahun baru masuk TK."

Hari pertama les, Sera mulai mengajari Aydan menulis huruf abjad. Anak itu antusias, coretan tangannya memenuhi buku.

"Ini huruf A ya, Kak?"

"Iya, pintar! A buat...?"

"Aydan!" jawabnya mantap.

Tak terasa waktu berlalu. Seorang ART, Bi Wati, muncul di depan pintu.

"Aydan waktunya makan siang, kita ke bawah dulu yu." Ajak Bi Wati asisten rumah tangga.

"Tapi Aydan maunya sama kaka cantik." Ucap Aydan.

"Ayo kaka temenin." Putus Sera.

"Anak pintar." Ucap Sera sambil mengelus kepalanya gemas.

Ngomong-ngomong soal papah dan ibunya Aydan dari tadi Sera tidak melihatnya. Bu Rita juga tidak membahasnya. Tapi yasudahlah Sera kan kesini hanya untuk kerja.

Aydan nggak mau disuapin?"

"Nggak ah. Kata Papa, Aydan udah gede, bisa makan sendiri!"

Sera tersenyum bangga. "Wah, keren banget dong."

Setelah belajar selesai, Sera hendak pamit. Tapi Aydan menahan tangannya.

"Jangan pulang dulu, Kakak! Main sama Aydan dulu!"

Sera melirik Rita, ragu.

Rita mendekat. "Sera, boleh ya hari ini nemenin Aydan sebentar. Dia itu kalau udah suka sama orang, nempel banget. Kalau ditinggal, bisa ngambek sampai ngurung diri."

Sera tertawa canggung. "Ya sudah, nggak apa-apa Bu. Sekalian nemenin nonton kartun deh."

"Aydan jika sudah suka dengan seseorang seperti itu dan buruknya akibat papa nya selalu memanjakannya jika keinginannya tidak dituruti ia akan marah dan mengunci dirinya di kamar seharian tidak ada yang bisa membujuknya kecuali keinginannya dituruti."

Mereka duduk di ruang TV, menonton Spongebob dan Patrick. Aydan tertawa cekikikan, sesekali melirik Sera.

"Kak Sera, kamu suka Spongebob juga?"

"Dulu waktu kecil, Kakak nonton itu tiap pagi sebelum sekolah," jawab Sera.

"Berarti Kakak kayak Aydan dong!"

Beberapa menit kemudian, suara Aydan mulai menghilang. Sera menoleh, anak itu sudah tertidur pulas di sofa.

"Duh, tidur beneran..." gumam Sera.

Dengan hati-hati, ia menggendong Aydan ke kamarnya. Untung tubuhnya ringan. Setelah menyelimuti Aydan, Sera memperhatikan dekorasi kamar Aydan.

Warna putih abu yang bersih, penuh mainan. Tapi satu hal yang membuat Sera bertanya-tanya, tidak ada foto orangtua Aydan.

"Hm... aneh juga. Tapi bukan urusanku," batinnya

Sore menjelang. Aydan bangun, dan mereka kembali bermain ringan. Setelah Aydan mandi, Sera bersiap pulang.

Rita sempat menawarkan, "Kalau mau, kamu tinggal aja di sini. Lebih gampang."

Sera menggeleng halus. "Terima kasih Bu, tapi saya masih betah di kos."

Rita mengangguk mengerti. Sera melangkah ke pintu depan.

"Papah.. " Teriak Aydan menghampiri Papahnya yang baru pulang kerja.

Sera penasaran dengan papahnya Aydan, ia pun mendongak ke arah Aydan berlari. Mata Sera langsung melotot.

"Orang itu yang mobilnya gue tabrak?" Gumam Sera.

Ya dia adalah Aderlad Sehan Malviya. Jadi ternyata dia itu adalah papahnya Aydan sama saja dia adalah majikan Sera.

"Mampus gue." Ucap Sera menepok jidatnya.

Sera segera menutupi wajahnya dengan masker dan topi untung dia membawa masker dan topi.

Sehan segera menggendong putranya itu.

"Papah kenalin ini kaka cantik sekarang aku punya teman baru." Ucap Aydan polos.

"Huftt." Sedikit lega untung Aydan tidak menyebut nama Sera.

Sehan memang sudah diberitahu akan ada guru les privat yang mengajar Aydan sesuai permintaannya.

Sera menunduk saja.

"Kalo gitu saya pamit dulu." Ucap Sera.

Satu langkah

Dua langkah

Tiga langkah

"Tunggu." Perintah Sehan.

Sera diam mematung jantungnya berpacu dengan cepat.

"Ada apa?" Tanya Sera.

"Lain kali besok kesini nya lebih pagi." Ucap Sehan.

Sera hanya mengangguk lalu segera keluar dari rumah itu. Sera menunggu ojek online yang ia pesan karena tidak membawa motor.

Sehan yang melihat kepergian guru les anaknya itu hanya geleng-geleng kepala. Tidak mau tau urusannya.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.