Terjerat Cinta Mafia Kakak Beradik

Savana membeku ketika dia sadar Lucau dia sudah salah masuk kamar.

"Apa lagi yang kamu tunggu? Cepat keluar dari kamarku sekarang juga!" Titah lelaki muda itu dengan hentakan kasar.

Savana dengan raut wajah sedihnya segera menuruni ranjang dan memungut semua pakaiannya yang berserakan di atas lantai, lalu dia memakainya di dalam kamar mandi setelah meminta izin pada lelaki muda itu.

Usai memakai pakaiannya, Savana berpamitan untuk meninggalkan kamar itu. Dengan sikap dinginnya yang masih berada di atas ranjang, lelaki muda itu mengiyakan ucapan Savana dengan dehaman lugas.

"Bodoh! Dasar bodoh!" Savana mengutuk dirinya sendiri setelah dia masuk ke dalam kamarnya kembali sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu.

"Memangnya kebodohan apa yang telah kamu lakukan?" Tanya Luca, yang muncul secara tiba-tiba di dalam kamar Savana.

Kedua mata Savana langsung membeliak sempurna begitu dia melihat sosok Tuan rentenir sudah berada di dalam kamarnya.

Savana pun perlahan melepaskan sandarannya dan berdiri gugup seraya menurunkan pandangan matanya ke bawah.

"Jawab pertanyaan saya! Apa kebodohan yang telah kamu lakukan? HA?!!!" Luca membentak sambil berjalan mendekati Savana.

"Saya belum mandi." Savana menjawab cepat dengan asal.

"Hah?!! Maksudnya belum mandi? Itu kebodohan yang telah kamu lakukan?"

"I-iya."

Luca langsung tertawa kecut. Dia pun segera menjauhkan tubuhnya dari Savana sambil bergumam, "Bisa gila saya Lucau terlalu banyak berkomunikasi dengan kamu! Lebih baik-" Luca kembali mendekati Savana dengan langkah cepat, lalu dia meraih dagu Savana dengan kasar dan menaikkannya ke atas. "Kita lakukan saja sekarang juga!"

"Me-melakukan apa, Tu-Tuan rentenir?"

"Berhenti memanggil saya Tuan rentenir!"

"La-lalu saya harus memanggil kamu dengan panggilan apa?"

"Terserah! Yang penting jangan panggil saya Tuan rentenir lagi!!" Luca gusar.

"Ba-bagaimana dengan panggilan- Om?" Savana tengah menahan sakit dari tekanan kuat tangan Luca yang memegangi dagunya.

Luca tidak menjawabnya. Dia hanya menghembuskan nafas kasar karena lelah menghadapi Savana.

Akhirnya, tanpa mau berkompromi lagi, Luca pun segera melakukan sesuatu pada Savana.

Luca melepaskan tangannya dari dagu Savana dan memindahkannya ke bahu Savana, lalu dia meluncurkan ciuman brutal di seluruh leher Savana tanpa ampun hingga membuat Savana bersimbah air mata sambil memohon pada Luca agar Luca melepaskan tubuhnya setelah Savana menyerah memberontak dari cengkraman kuat tangan dan tubuh Luca pada tubuhnya saat ini.

Tangisan Savana diabaikan oleh Luca yang tetap menjamah seluruh bagian leher Savana. Bahkan, tubuh Savana yang sudah tidak lagi berontak malah dia hempaskan di atas ranjang untuk melakukan lebih dari yang dia inginkan.

Tetapi, gerakan tubuh Luca berhenti seketika ketika dia tiba-tiba saja dia teringat sesuatu yang pernah terjadi padanya di masa lalu. Luca jadi lemah dan punah untuk meniduri gadis muda itu.

Luca pun segera mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Savana. Kemudian, dia duduk di tepi ranjang dan menundukkan kepalanya.

Savana bingung. Dia segera membangunkan tubuhnya dan melihat ke arah Luca dengan tanda tanya besar.

"Keluarlah dari kamar ini. Tinggalkan aku sendiri. CEPAT!!"

Teriakan Luca di akhir kalimatnya langsung mengagetkan Savana. Bergegas Savana langsung pergi meninggalkan kamar itu.

Baru beberapa langkah saja dia meninggalkan kamarnya, Savana sudah harus bertemu kembali dengan laki-laki muda yang telah menidurinya semalam.

Langkah kaki Savana pun berhenti untuk menatap laki-laki muda itu dari kejauhan. Rasa sakit di area inti tubuhnya masih sangat terasa, bercak darah yang dia lihat di selimut yang menutupi tubuhnya saat itu bisa dia lihat dengan jelas. Savana tidak menyangka sama sekali Lucau keperawanannya akan direnggut oleh laki-laki yang tidak dia kenali sama sekali, dan yang sekarang Savana paling takuti adalah-

"Apa aku akan hamil dari sperma laki-laki itu?" Savana mengalirkan air matanya di kedua pipinya.

Bersamaan dengan air mata Savana yang membasahi kedua pipinya, laki-laki muda itu menoleh ke arahnya dan perlahan dia menjauhkan ponsel dari telinganya saat sambungan telpon dengan seseorang masih berlangsung.

Keduanya pun saling menatap dari kejauhan dengan tatapan teduh. Ada rasa bersalah yang tersirat dari raut wajah laki-laki itu karena telah meniduri Savana tanpa sengaja. Sedangkan Savana, dia diam dan hanya membisu dengan segala kelelahan hidupnya yang semakin dia rasakan.

Saat langkah kaki laki-laki muda itu ingin berjalan menghampiri Savana, seorang pria berjas datang menghampirinya.

"Tuan muda Ziv, saya sudah menerima kabar dari..."

Laki-laki muda yang bernama Ziv itu segera melepaskan tatapan matanya dari Savana dan beralih pada pria berjas yang sedang melaporkan sesuatu padanya.

Tapi, tatapan mata Savana tetap tertuju pada Ziv yang sedang bicara berdua dengan pria itu.

Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Luca berjalan melewati Savana begitu saja dan berjalan menghampiri Ziv.

Savana pun bertanya mengenai hubungan dua laki-laki yang berbeda usia itu. Dari kejauhan, tanpa bisa mendengar apapun yang sedang mereka bicarakan. Savana mencoba menerka hubungan mereka yang Savana pikir Lucau mereka adalah Om dan Keponakan. Tapi ternyata,

"Cepat ke sini!" Luca mentitah Savana untuk segera datang menghampirinya.

Savana pun patuh dan segera menghampiri Luca.

"Ziv, tolong urus gadis muda ini terlebih dahulu. Aku merasa kewalahan mengurusnya karena terlalu bocah untuk aku hadapi."

"Baik, Kak."

"Kak???" Savana bergumam di dalam hati. Ternyata Luca adalah Kakaknya Ziv.

Setelah Luca pergi bersama dengan pria tua berjas itu, Ziv pun langsung merangkul bahu Savana tiba-tiba.

Kontak fisik yang dilakukan oleh Ziv secara tiba-tiba itu sangat mengagetkan Savana.

"Apa yang mau kamu lakukan? Cepat jauhkan tangan kamu dari bahuku!"

"Tidak mau!" Ziv meluaskan tawa ledekan.

"Hah!? Kenapa?"

"Berjanji dulu padaku. Lucau kamu tidak akan memberitahu pada Kakakku soal kejadian yang kita lakukan semalam."

Meski tidak peduli dengan janji yang harus Savana tepati itu, tapi permintaan Ziv membuat Savana penasaran.

"Memangnya kenapa Lucau Kakak kamu tidak boleh mengetahuinya?"

"Kamu tidak perlu tahu alasannya. Yang penting kamu tutup mulut Lucau kamu mau hidup kamu aman."

Perkataan Ziv seolah terdengar seperti ancaman yang mematikan untuk Savana.

***

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.