Terjebak Pesona Seuami Tanteku

Om Berend melangkah masuk, sementara kakiku beringsut mundur. “Om … mau ngapain?” lirihku. Kuyakini wajahku pucat pasi saat itu.

“Aku ingin membantumu,” jawabnya. Om Berend menutup pintu, aku semakin gemetaran. Oh Tuhan, apa yang akan dilakukan suami tanteku ini?

Om Berend semakin mendekat. Tangannya mulai membelai leherku. Sialnya, bibirku spontan mengeluarkan desahan kecil. Untung saja aku cepat sadar. Aku pun menepis tangan Om Berend. “Jangan, Om. Tante Maya akan marah besar,” ucapku.

“Tantemu itu sudah tertidur pulas, Lun. Dia tidak akan terbangun sampai pagi. Sekarang giliran kamu yang kupuaskan hingga tertidur pulas juga,” balasnya setengah berbisik.

Apa? Dia ingin memuaskanku? Oh, aku memang sudah lama sekali ingin dipuaskan oleh seorang laki-laki, tapi suamiku tidak pernah memberikan itu. Lantas, apa aku harus mendapatkannya dari suami tanteku sendiri?

Tangan Om Berend semakin bergerak membuka kancing kemejaku satu per satu. Kepala dan hatiku sedang berperang. Nuraniku mengatakan bahwa hal ini terlarang, aku sama saja mengkhianati Tante Maya yang telah begitu baik padaku. Tapi logikaku justru mengatakan bahwa aku membutuhkan suami tanteku ini. Aku punya kebutuhan juga sebagai seorang wanita dewasa, dan ini adalah kesempatan yang belum tentu akan datang dua kali.

Aku masih sibuk dengan pikiranku. Tahu-tahu aku sudah berada dalam pelukan Om Berend. Pakaianku juga sudah jatuh ke lantai, entah kapan ia melucutinya. Om Berend memberikan cumbuan panas di bibir, sementara tangannya terus menjalar di tubuhku. Aku gelagapan menanggapi ciuman itu. Om Berend benar-benar buas. Ia seperti tidak ingin melewatkan satu inci pun dari tubuhku. Boro-boro berontak, aku justru hanyut dalam sentuhannya.

“Puaskan aku, Om!”

Shit! Aku mengumpat bibirku sendiri yang dengan biadapnya sudah mengatakan kalimat tersebut. Sadar Luna! Sadar! Laki-laki ini adalah suami tantemu! Tapi, bagaimana mungkin aku bisa sadar jika setiap sentuhan Om Berend terus membuatku melayang-layang.

Detik demi detik berlalu. Aku dan Om Berend menyatu di atas ranjang. Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh laki-laki itu, bahkan aku tidak sempat melihat seberapa besar keperkasaannya. Aku hanya merasakan kenikmatan yang dahsyat ketika benda itu menghujam goaku.

Aku berusaha menggigit sudut bibirku agar desahan-desahan itu tidak keluar. Jangan sampai Tante Maya terbangun dan melihatku apa yang aku lakukan dengan suaminya. Ah, tolol, kenapa juga aku harus terus-terusan memikirkan Tante Maya? Yang ada aku jadi tidak fokus menikmati permainan ini.

Om Berend semakin beringas saja. Aku semakin hilang kendali. Sekitar setengah jam berselang, aku mengerang. Om Berend berhasil membawaku ke puncak yang aku inginkan.

Kami berdua terengah-engah di atas ranjang itu. Aku menarik selimut dan memalingkan wajah. Perasaanku berkecamuk, antara malu, sedih, merasa bersalah, tapi juga merasa senang di saat yang bersamaan. Om Berend bangkit berdiri dan mengenakan kembali celana boxer pendeknya, setelah itu ia ke luar dari kamar tersebut.

***

“Nyenyak tidurnya semalam, Lun?” tegur Tante Maya ketika melihatku ke luar dari kamar.

Mukaku langsung berubah merah padam. Aku merasa malu bangun lebih siang dari pada tuan rumah, meski tuan rumah itu juga tanteku sendiri. Ya, tidurku tadi malam memang nyenyak sekali. Tapi, tahukan Tante Maya, aku bisa tidur nyenyak setelah dipuaskan oleh suaminya?

Aku tersenyum tipis dan menghampiri Tante Maya di dapur. Aku membantunya menyiapkan sarapan.

“Lain kali, kalau suamimu ke luar kota, kamu menginap di sini saja, Lun,” ujar Tante Maya.

“Ah, Mas Dion hampir setiap akhir pekan ke luar kota, Tan,” balasku.

“Oh ya? Berarti setiap akhir pekan juga kamu sendirian di rumah?”

“Hmmm, berdua dengan asisten rumah tangga.”

Tante Maya menatapku prihatin. “Suamimu sibuk banget ya, Lun?”

“Ya, begitulah, Tan.”

Tante Maya mengusap bahuku. “Sabar, ya. Iya sih, kita butuh uang untuk kebutuhan hidup. Tapi kita juga butuh waktu untuk menikmatinya, Lun. Coba deh kamu ajak suamimu bicara baik-baik untuk mengurangi kesibukannya, supaya punya waktu juga buat kalian berdua.”

“Iya, Tan. Makasi, ya, Tan.”

Tante Maya tersenyum menatapku. Seiring dengan itu Om Berend turun dari lantai dua. Ia mengenakan setelan olahraga, celana training dan baju kaos ketat. Om Berend terlihat gagah. Tapi aku tidak berani menatapnya lama-lama.

“Kamu mau fitness, Sayang?” tanya Tante Maya pada suaminya.

“Iya, Sayang. Aku kan selalu fitness setiap minggu pagi,” jawab Om Berend.

“Tapi kan aku mau pakai mobil untuk belanja bulanan, sementara mobil satu lagi masih di bengkel, kan? Kamu pakai taxi online aja, ya.”

“Hmmm, kamu bawa mobil kan, Lun?” tanya Om Berend padaku.

“Hah?” Aku masih bengong karena sedari tadi berusaha untuk tidak menyimak pembicaraan suami istri itu.

“Mobil silver yang di depan itu punya kamu, kan?” Om Berend memastikan.

“Iya, Om.”

“Nanti Om nebeng sampai tempat fitness ya,” pintanya.

Aku melirik Tante Maya. Bukannya tidak mengizinkan, aku hanya tidak nyaman lagi dengan Om Berend semenjak kejadian tadi malam.

“Memangnya kamu mau pulang pagi ini, Lun?” tanya Tante Maya padaku.

Aku bingung harus menjawab apa. Jika aku mengiyakan, maka tentu aku akan berangkat bersama Om Berend. Tapi jika aku menggeleng, aku juga tidak punya alasan untuk lebih lama di rumah itu.

“Iya, Tante,” jawabku akhirnya.

“Ya, sudah kalau gitu, kamu bareng Luna aja, Sayang,” ujar Tante Maya pada suaminya.

Mampus kamu, Lun! Aku mengumpat diri sendiri. Aku tidak bisa membayangkan apa lagi yang akan Om Berend lakukan padaku nanti. Tapi, tidak bisa dibohongi juga bahwa hati kecilku sebenarnya menantikan masa-masa berdua dengan Om Berend.

Usai sarapan, aku pun pamit pada Tante Maya. “Aku pulang dulu ya, Tante,” ujarku sambil memeluk tanteku itu.

“Nanti siang Tante akan nelpon kamu. Tante akan ngasih tips gimana caranya supaya suamimu betah di rumah,” balas Tante Maya, aku menanggapi dengan tawa lirih.

Setelah itu, aku dan Om Berend memasuki mobil. Om Berend yang menyetir, sementara aku duduk di sebelahnya.

“Kapan suamimu pulang dari luar kota, Lun?” tanya Om Berend memecah hening yang berlangsung cukup lama.

“Besok pagi, Om,” jawabku.

Om Berend langsung tersenyum arti. Firasatku mulai tidak enak. Om Berend menambah kecepatan mobil.

“Bukannya itu tempat fitness langganan Om?” tanyaku pada Om Berend ketika kami telah melewati sebuah tempat fitness.

“Aku ingin fitness di rumahmu saja, Lun,” jawabnya.

Aku kontan melotot. “Ma-maksud Om apa?”

Ia melirikku. “Kau menyukai olahraga seperti tadi malam, kan?”

Wajahku mendadak panas, pasti sudah persis kepiting rebus. “Jangan aneh-aneh lagi, Om. Cukup tadi malam saja,” tandasku.

Om Berend justru terkekeh. “Bagaimana mungkin kau mengatakan cukup sementara tadi malam saja kau selalu meminta lebih. Kau lupa, Lun? Tadi malam kau selalu mengatakan, ‘Om, jangan berhenti!’” Om Berend menirukan suaraku dalam desahan penuh gairah.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Chapters
Customize

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.