Terjebak Empati & Cinta Paksaan

Selina kembali ke rumah sakit keesokan harinya, meski pikirannya masih terperangkap oleh kejadian semalam. Rafael yang sebelumnya terbaring tak berdaya kini sudah mulai stabil. Namun, meski fisiknya telah pulih, luka emosional yang ada dalam dirinya tetap tidak bisa disembuhkan dengan cepat. Itu yang Selina rasakan saat ia memasuki ruang perawatan dan mendapati pria itu duduk di ranjang, matanya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak kosong dan hampa.

Sore itu, udara di rumah sakit terasa lebih berat, seolah dunia sedang mengawasi mereka berdua. Selina menatap Rafael yang terlihat begitu rapuh-tidak seperti pria yang ia temui semalam dalam kondisi mabuk. Dia tampak seperti seorang pria yang pernah memiliki segala sesuatu yang berharga dalam hidupnya, namun kini kehilangan segalanya dalam sekejap.

Rafael menoleh saat mendengar langkah Selina. Matanya yang tajam menatapnya penuh perhatian, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ada kekosongan yang terasa lebih dalam dari biasanya.

"Dokter Selina, terima kasih telah menyelamatkan hidup saya," ujarnya dengan suara serak, matanya masih terfokus pada wajah Selina.

Selina hanya mengangguk. Ia belum bisa sepenuhnya memahami mengapa ia merasa sangat terhubung dengan pria yang baru saja ia kenal dan bahkan dalam keadaan mabuk telah melanggar batasan. Ia menghela napas dan duduk di kursi yang ada di dekat ranjang, mencoba berbicara dengan lebih tenang.

"Jangan terlalu banyak berpikir, Rafael. Kamu baru saja melewati keadaan yang sangat buruk. Mungkin ini waktunya untuk merenung dan memulihkan diri." Suaranya terdengar lembut, meskipun hatinya sedang dipenuhi amarah dan kebingungan.

Rafael hanya tersenyum pahit. "Merenung?" katanya, dengan nada sinis. "Saya rasa merenung tidak akan mengubah apapun. Hidup ini hanya tentang keputusan yang kita buat, bukan?"

Selina menatapnya, merasa ada kekesalan yang mengalir dalam kata-kata Rafael. Ia tak bisa menyangkal bahwa ia merasa tersentuh dengan penderitaan yang dialami pria itu, meskipun ia tidak sepenuhnya memahami alasan di baliknya.

"Apakah kamu ingin berbicara tentang apa yang terjadi? Mungkin itu bisa membantu," tawar Selina, lebih karena rasa ingin tahu daripada keinginan untuk membantu.

Rafael menunduk, tangan yang terkulai di samping tubuhnya menggenggam selimut dengan erat. "Saya tidak tahu lagi apa yang bisa saya katakan, Selina. Semua terasa begitu rumit... semuanya sudah berantakan."

Suasana menjadi hening sejenak. Selina merasa kesulitan untuk memahami apa yang sedang dirasakan oleh Rafael. Ia tahu bahwa pria ini bukan orang yang mudah untuk mengungkapkan perasaan, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatnya merasa perlu untuk lebih bersabar.

Tiba-tiba, pintu terbuka, dan seorang perawat masuk dengan dokumen medis. "Dokter Selina, ada beberapa laporan terbaru yang perlu Anda lihat." Perawat itu menyerahkan berkas-berkas yang Selina perlukan untuk mengecek kondisi pasien lainnya.

Tanpa berkata apapun lagi kepada Rafael, Selina berdiri dan melangkah ke luar kamar. Namun, sesaat sebelum pintu menutup, ia mendengar suara berat Rafael memanggilnya.

"Selina..."

Ia berhenti dan menoleh, merasa ada sesuatu yang menggantung di udara.

"Apa kamu akan menghindariku setelah ini?" tanya Rafael, suaranya penuh keraguan.

Selina tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi. Ia bukan tipe orang yang suka membiarkan orang lain terluka, namun ia juga tidak tahu bagaimana menghadapinya. Hubungan mereka baru saja dimulai dalam kondisi yang kacau, dan ia merasa terseret dalam sesuatu yang lebih besar dari sekadar masalah pribadi.

"Aku tidak akan menghindarimu," jawabnya dengan suara pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi, kita harus menghadapinya satu per satu. Aku ingin kamu sembuh dulu."

Rafael hanya mengangguk, namun ada keheningan yang sangat panjang antara mereka. Ia merasa ada ketegangan yang sulit dijelaskan, sebuah ketertarikan yang berkembang begitu cepat namun sulit untuk diungkapkan. Selina pun merasakan hal yang sama, meskipun ia berusaha keras untuk menolaknya.

Setelah beberapa menit, Selina kembali ke ruang kerjanya, namun pikirannya terus teralihkan oleh Rafael. Entah mengapa, pria itu tidak pernah bisa ia lupakan. Meskipun perasaan yang ia rasakan lebih rumit dan sulit untuk diterima, ada semacam rasa ingin tahu yang menguasainya.

Namun, saat ia memasuki ruang kerjanya, sebuah panggilan telepon tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. Selina mengangkatnya tanpa berpikir panjang.

"Selina, kamu sudah memikirkan tentang apa yang kami bicarakan kemarin?" suara ibunya terdengar langsung di telinganya, keras dan jelas.

Selina menatap layar ponselnya, berpikir sejenak. "Ibu, ini bukan waktu yang tepat. Aku sedang sangat sibuk di rumah sakit," jawabnya, mencoba terdengar tenang meskipun hatinya terasa seperti dibebani.

"Aku mengerti, tapi kamu harus memikirkannya dengan baik. Kamu tahu bahwa ini adalah kesempatan yang baik. Kamu harus menghargai keinginan orang tua," ujar ibunya, tidak memberikan ruang untuk diskusi lebih lanjut.

Selina menutup telepon itu dengan hati yang semakin berat. Ia merasa terperangkap antara apa yang diinginkan keluarganya dan apa yang ia rasakan. Pikirannya kembali ke Rafael, dan bagaimana kehidupannya akan berubah setelah pertemuan mereka yang tak terduga. Ia tak pernah membayangkan akan berada di persimpangan jalan yang begitu rumit.

Hari-hari setelahnya terasa semakin sulit bagi Selina. Ia mencoba untuk melanjutkan hidupnya seolah-olah semuanya normal, tetapi hatinya terus dihantui oleh perasaan yang semakin kuat terhadap Rafael. Setiap kali ia melihatnya, setiap kali ia mendengar suaranya, hatinya berdebar lebih cepat.

Namun, ia juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa ia terikat oleh perjodohan yang sudah diatur untuknya. Keluarganya menginginkan ini, dan ia tahu betul bahwa menentang mereka bukanlah pilihan yang mudah. Di sisi lain, ada perasaan yang semakin sulit untuk disembunyikan terhadap Rafael-perasaan yang membuatnya bingung dan terperangkap dalam dilema yang tak terpecahkan.

Selina tahu, keputusan yang ia ambil ke depan akan mengubah hidupnya selamanya. Tetapi apakah ia cukup berani untuk memilih jalannya sendiri? Ataukah ia akan terus terjebak dalam peran yang telah ditentukan untuknya?

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.