" Apa yang kamu lakukan?" Ujarku sambil mencoba untuk bangkit dari ranjang.
Dia pun kembali mendorongku dan aku melawannya tapi kalah tenaga dengannya.
Dia semakin ganas menyerang dan menarik tanganku.
" Diam!
kalau kamu mau selamat, turuti saja apa mau ku" matanya melotot dengan suara keras membentak ku.
Rasanya ingin menangis dan berteriak "ibu tolong Riana".
Tuhan tolong jauhkan aku dari orang jahat ini.
Tak kuasa melawan dan tubuhku lemas seketika, dia pun langsung memeluk tubuhku dengan erat.
Sesak dada ini sampai untuk bernafas pun berat karena pelukan Raska yang sangat kuat.
" Tidur!" sekali lagi dia membentak ku.
Rasanya aneh, deg-degan dan takut sekali.
Berasa seperti suami istri, dia mendekap tubuhku dari belakang.
Untuk bergeser pun sulit karena posisi ini.
Mudah mudahan semua ini hanyalah mimpi belaka.
Mata terasa mengantuk dan sulit untuk di ajak kompromi.
Jangan - jangan makanan yang sudah ku makan tadi di beri obat tidur.
Hoaam... Aku tertidur di pelukan Raska.
Tidak pernah terbayangkan hidupku akan seperti ini.
Berapa duit yang sudah di keluarkan nya pada Bang Fajar untuk membeli ku?
Keesokan paginya Raska sudah bangun terlebih dulu.
Mata ini terasa seperti di lem dan sangat susah untuk di buka.
Terlihat Raska baru keluar dari kamar mandi.
" Sepagi ini" pikirku dalam hati.
Baru juga jam 05.00 apa ada kerjaan mendadak.
" Hari ini aku ke luar kota untuk cek lokasi pembangunan apartemen" katanya sembari membuka lemari pakaiannya.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum senang, karena malam ini bisa terbebas dari Raska.
" Pergi aja nggak usah balik sekalian" dalam hati aku bersorak penuh harap.
" Kamu pasti senang kan aku pergi" dia menoleh sambil memakai dasi warna coklat yang terlihat serasi dengan warna jasnya.
" Hah!" mulut ku seketika menganga.
Kok dia tahu yang di pikiranku, batinku.
Jangan - jangan selain jadi Bos mafia dia juga ahli baca pikiran orang.
" Aku bisa melihat dari raut wajahmu" ujarnya sambil mengeluarkan koper dan mulai memasukkan baju - bajunya.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Syukurlah, gumamku sembari mengelus dada.
Sepertinya dia terbiasa mempersiapkan keperluannya sendiri.
Aku memberanikan diri bertanya soal semalam.
" Apa yang sudah kamu lakukan padaku semalam?" Tanya ku.
" Hahaha...... Kamu pikir aja sendiri apa yang dilakukan oleh dua orang lelaki dan perempuan ketika sudah dewasa saat berduaan di dalam kamar" jawab Raska sambil tertawa penuh kemenangan.
Tak terasa air mata ini menetes membasahi pipi.
" Kenapa kau tega melakukan semua ini padaku" aku menangis sesenggukan meratapi nasib.
" Kau sudah ku beli dari Abang mu, jadi ya terserah mau ku apakan kau sudah jadi milikku" kata Raska sambil memegang daguku dan mengangkat mendekati wajahnya.
" Apakah aku bisa kembali pulang setelah ini?" Tanyaku lagi.
" Hahaha... Lucu sekali kau ini!
Apa yang sudah di dapat seorang Raska tidak akan pernah bisa lepas" jawab Raska sambil melepaskan daguku dengan kasar dan berlalu menghadap kaca di depan ranjang.
Aku masih terpana melihatnya.
Bagaimana ini, sampai kapan aku harus seperti ini?
Aku ingin bebas, ingin menikmati kehidupan seperti biasanya.
Aku juga punya keinginan bekerja di sebuah perkantoran.
Yah meskipun rasanya tidak mungkin, karena aku hanya tamatan SMA. Rencananya setelah tabungan ku cukup, aku ingin kuliah sambil kerja.
Tapi impian - impian itu hancur kala aku harus berada di rumah seorang mafia karena Bang Fajar.
Aku sangat benci dengan Fajar lelaki brengsek dan mata duitan itu.
Semoga saja dia mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang sudah di lakukan nya padaku.
Ingin sekali aku menemuinya dan memukuli sampai babak belur.
Aku benci kamu Bang Fajar........
" Kamu boleh keluar dari kamar tapi tidak untuk keluar rumah" kata Raska sambil melangkah sembari menyeret kopernya keluar dari kamar.
Aku pun mengikutinya dari belakang.
Setelah dia turun sampai lantai bawah, aku segera masuk kamar dan menjatuhkan tubuhku di ranjang.
Aku menangis sejadi jadinya, aku tidak peduli lagi jika ada yang mendengar. Sampai - sampai aku tidak tahu Mbak Titin masuk dan membawakan ku sarapan.
" Maaf Non saya langsung masuk karena pintunya terbuka.
Sabar ya Non" kata Mbak Titin sambil meletakkan nampan di meja.
Lalu dia menghampiri ku dan duduk di tepi ranjang.
Aku tidak menjawab, hanya suara tangis yang keluar dari mulutku.
" Ya udah kalo Non Riana gak mau cerita, sekarang hapus air matanya dan mandi nanti saya ajak jalan - jalan" hibur Mbak Titin menenangkan dan menghapus air mataku.
Aku mengangguk lalu bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
Semoga saja ada jalan keluar untuk kabur dari rumah ini, mumpung Raska pergi ke luar kota.
Setelah selesai, aku di suruh sarapan terlebih dahulu baru turun ke bawah.
Rumah ini memang luas dan asisten rumah tangganya juga lebih dari sepuluh.
Mereka bekerja sesuai tugas yang sudah diberikan oleh ketua asisten.
Ya, saking banyaknya sampai harus ada ketuanya.
Dan Mbak Titin asisten khusus untuk melayani ku dan mengantarkan kemanapun aku pergi.
Mereka tersenyum dan menundukkan kepalanya saat melihatku melewati mereka.
Aku membalas senyuman mereka dengan tulus.
Apa aku nantinya akan jadi seperti mereka?
Tapi itu jauh lebih baik daripada menjadi budak nafsu Raska.
Memang sih semalam dia hanya memeluk saja tapi kan nggak tahu nantinya.
Ku perhatikan setiap sudut demi sudut rumah ini dan aku sangat takjub sampai rencana akan kabur pun sempat terlupakan.
Mbak Titin memberi tahu ku semua ruangan yang ada di sini seperti seorang pemandu wisata.
Ya, sangat detail dan jelas.
Saat kami sampai di depan pintu keluar sudah ada satpam yang berjaga.
Waduh kalo begini caranya akan susah untuk kabur.
" Selamat pagi Non, mau kemana" satpam di depan pintu itu menyapa ku.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
" Saya di minta Tuan Raska untuk mengajak Non Riana jalan - jalan di taman samping, biar nggak bosan Man" Mbak Titin menjelaskan tujuannya pada satpam yang bernama Salman itu.
Mbak Titin mengajakku duduk di bangku taman yang penuh dengan berbagai jenis bunga yang cantik dan warna - warni tersebut.
Banyak kupu-kupu yang menghampiri dan berebut hinggap untuk menghisap madunya.
Mbak Titin menceritakan awal mula bagaimana dia bisa berada di sini.
Mulai dari masa kanak-kanak yang sangat menyenangkan dan tertipu sebuah agen penyalur tenaga kerja ke Hongkong.
Hingga mendapat perlakuan kasar di penampungan untuk di jual sebagai pelayan pria kesepian.
Hingga akhirnya ia di tebus Raska untuk di jadikan pembantu di rumahnya.
Dunia memang sangat kejam dan tidak berpihak pada orang miskin seperti kami.
Bahkan di permainkan oleh orang - orang yang berkuasa.
Setelah bosan di taman Mbak Titin mengantarkan ku ke kamar kembali.
Sesampainya di kamar ku rebahkan tubuh ini di ranjang.
Sepertinya akan susah keluar dari sini huft . .. aku menghela nafas panjang sambil memandangi langit - langit kamar.
Bosan juga tidak ada tv.
"Orang kaya pelit" gumam ku sembari membenamkan wajahku ke bantal.
Di saat aku membalikkan tubuh tiba-tiba ada seorang lelak
i duduk di tepi ranjang.
" Astaghfirullah" aku berteriak kaget dengan kehadiran laki - laki itu.





