Terjebak Cinta, CEO Arogan

"Pak! Pak! Bangun! Ini sudah pukul delapan! Kita harus segera kembali ke Jakarta," ujar Irwan sambil menggoyangkan tubuh Nevan.

"Ehms…. Sebentar lagi yah, Sayang," balas Nevan sambil menarik selimutnya lagi. Mendengar itu Irwan langsung terkekeh.

"Hahaha. Sepertinya anda terlalu mabuk semalam, Pak," sahut Irwan sambil menahan tawanya. Setelah melirik makanan dan botol minuman beralkohol di atas troli sudah ludes tak tersisa. Mendengar itu Nevan segera membuka matanya. Ternyata orang yang ada di hadapannya bukanlah gadis cantik semalam. Melainkan asisten pribadinya si Irwan. Nevan mencari sosok itu ke sekelilingnya. Namun, tetap saja netranya tak menemukan siapapun kecuali mereka berdua.

Pandangan Nevan pun berlabuh pada troli yang masih berada di pojok ruangan. Ia teringat bagaimana gadis itu keluar dari sana lalu menyerangnya dengan penuh gairah. Bahkan, di tengah permainan panas itu. Mereka sempat makan dan minum bir bersama untuk meningkatkan tenaga dan stamina keduanya.

"Pak! Apa anda masih mengigau? Atau perlu saya carikan obat? Sepertinya anda terlalu banyak minum semalam."

"Tidak. Gue yakin kalau semalam gue nggak bermimpi. Memang ada seorang gadis di tempat ini."

"Benarkah?" Dengan sigap Irwan menyusur ke setiap jengkal ruangan di VIP itu. Takut ada penyusup datang. "Nihil, Pak. Tidak ada siapapun," lapornya pada Nevan yang masih duduk termenung di atas tempat tidur.

Kring. Kring. Kring.

Ponsel Irwan tiba-tiba berdering. Ia segera mengalihkan perhatiannya pada benda pipih itu.

"Halo. Selamat pagi, Tuan Irwan. Saya dari Istana Food Resto ingin mengabarkan jika hidangan yang anda pesan sudah siap untuk pertemuan Bos anda dan kliennya tiga jam lagi. Silahkan untuk diperiksa sendiri," kata seorang wanita dari seberang sana.

"Baik, saya akan segera kesana." Tut. Sambungan terputus.

"Ada apa?"

"Kita harus segera kembali ke Jakarta, Pak. Anda ada pertemuan dengan Mr. Maxim tiga jam lagi."

"Iya. Loe bener. Tunggu di luar. Gue akan segera menyusul."

"Baik, Pak." Setelah Irwan pergi Nevan tak kunjung beranjak dari duduknya. Ia masih kepikiran dengan kejadian semalam.

"Gue yakin. Kalau semalam gue tidak bermimpi. Gadis itu benar-benar ada di ruangan ini," gumam Nevan. "Ah. Entahlah. Gue harus segera pergi dari sini. Ada hal lain yang jauh lebih penting," tambahnya. Ia pun menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuhnya. Seketika matanya membulat melihat sebuah noda darah ada di seprai putih itu. Nevan menyentuh noda itu dan kembali teringat kejadian tadi malam. "Benar, kan? Gadis itu benar-benar ada."

****

Zee berjalan dengan sedikit tertatih ke arah rumah Bibi Juwita. Alat reproduksi masih terasa nyeri karena pergulatannya semalam. Namun, ia harus segera pergi sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Blak!

Zee membuka lebar-lebar pintu rumah itu.

"Bik! Bibik Juwita!" teriaknya memanggil nama adik kandung ibunya. Setelah kepergian kedua orang tuanya sepuluh tahun lalu. Zee memang diasuh oleh Paman Gobar dan Bibi Juwita. Sayangnya, Paman Gobar memiliki perilaku buruk. Ia suka mabuk, main judi dan main perempuan. Dia tidak punya hati nurani sedikitpun. Demi mendapatkan uang. Tak segan ia memukuli, bahkan menjual tubuh sang istri. Dan semalam nasib sial ia torehkan pada Zee. Dengan dalih akan memberikan pekerjaan yang bagus. Zee malah dijual pada seorang lelaki hidung belang. Untung Zee berhasil kabur meskipun ia sudah dicekoki dengan obat perangsang yang sangat ampuh. Hanya saja, obat biadab itu tetap menguasai tubuhnya. Sehingga sikap Zee tak terkendali malam tadi.

"Bik! Bibik!" Zee terus mencari sosok Bibi Juwita. Untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Ia tahu pasti Paman Gobar sudah mendapatkan laporan jika ia kabur semalam. Sehingga amarahnya pasti dilampiaskan pada wanita malang itu.

Zee berjalan semakin masuk. Hingga saat ia baru saja melewati sebuah pintu. Tiba-tiba sebuah tangan membekapnya dari belakang.

"Ehmb…!"

Zee yang pernah ikut latihan beladiri pun dengan mudah melepaskan diri. Akan tetapi, ia terkejut saat mendapati orang yang baru saja membekap mulutnya adalah sang Bibik.

"Bibik! Bik Juwita tidak apa-apa?" tanya Zee khawatir.

"Ssst…. Pelankan suaramu! Nanti Pamanmu tau," ujar si Bibik setengah berbisik. "Bibik sudah kemasi semua barang-barangmu. Pergilah secepatnya ke Jakarta. Temui teman Bibik yang bernama Narsih. Ini uang tabungan Bibik untuk bekal kamu kesana. Tempat ini sudah tidak aman lagi untukmu. Cepatlah pergi!" tambah Bibik tanpa menaikkan nada suaranya. Sembari mengulurkan sebuah tas ransel besar serta beberapa lembar uang seratus ribuan.

"Tapi, Bik. Bagaimana dengan Bibik? Bukankah kita berniat untuk pergi bersama?"

"Bibik bisa jaga diri baik-baik. Yang penting kamu harus pergi dulu. Bibik akan merasa sangat bersalah pada ibumu. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena suami Bibik. Untuk itu, Zee. Pergilah secepatnya!"

"Enggak, Bik. Bibik bisa dibunuh sama Paman kalau tau hal ini. Kita harus pergi bersama, Bik. Kita harus kabur bersama," timpal Zee kekeh.

"Tidak, Zee. Kamu harus pergi. Cepatlah! Bibik mohon!" Bik Juwita mulai memohon. Ternyata ucapannya pun didengar oleh Paman Gobar yang baru saja terjaga dari tidurnya. Ia segera bangkit lalu keluar dari kamar.

"Oh, bagus! Bagus ya kalian berdua!" kata lelaki itu dengan nada tinggi. Zee dan Bik Juwita terkejut. Reflek Juwita segera melindungi keponakan semata wayangnya. "Heh! Gadis nggak tau diri! Sialan kamu ya! Bisa-bisanya kamu kabur semalam. Malu-maluin aku saja! Kamu lupa aku ini siapa? Kamu itu utang Budi banyak sekali padaku! Kalau nggak karena kebaikanku. Mana mungkin kamu bisa hidup dan bersekolah sampai ke perguruan tinggi setelah kedua orang tuamu mati!" hardiknya.

"Jangan asal bicara ya, Mas! Kamu lupa ya! Zee itu aku yang membiayai. Bukan kamu! Jadi, kamu tidak pantas mengatakan hal itu!"

"Heh! Emang kamu bisa apa tanpa aku, hah?! Jual diri saja tidak becus! Harus aku yang carikan pelanggan. Sudah minggir sana! Aku harus bawa keponakan sialanmu ini ke Juragan Romli. Kalau tidak aku harus membayar ganti rugi. Cepat kesini!" Paman Gobar berusaha menarik tangan Zee, tapi segera dihentikan oleh sang istri.

"Cukup aku yang kau sakiti, Mas! Tidak untuk keponakanku!" kata Bik Juwita dengan nada penuh penekanan.

Plakkk!

"Bibik!!" Zee menjerit saat melihat sang Bibik ditampar dengan cukup keras oleh suaminya.

"Dasar wanita jalang! Sini kamu!" Paman Gobar menarik rambut Bik Juwita dengan kasar. Akan tetapi, tanpa ia sadari sang istri sudah menyembunyikan pisau dapur dari balik bajunya. Sehingga….

Jlepp!

Bik Juwita menancapkan benda tajam itu ke perut sang suami. Zee dan Pamannya pun tampak terkejut. Begitu juga dengan Bik Juwita yang tak menyangka akan melakukan ini pada lelaki yang sangat ia cintai itu.

"Juwita!!! Sialan kam–"

Jlepp! Jlepp! Jlepp!!

Sebelum berhasil menjambak rambutnya lagi. Bik Juwita menghunuskan pisaunya di dada sang suami berkali-kali.

"Ju… Juwita…."

Brukkk!

Paman Gobar pun terkapar dengan bersimbah darah. Sementara, Zee masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

"Bik!" Zee berjalan mendekat dengan wajah khawatir pada sang Bibik.

"Stop, Zee!! Pergilah! Pergilah sebelum ada polisi kesini!" teriaknya dengan sorot mata kosong.

"Tapi, Bik?"

"Pergiiii!!!" teriak Bik Juwita. Akhirnya, dengan berderai air mata Zee meninggalkan tempat itu. Sesekali ia menoleh ke arah rumah paling ujung yang dikelilingi tanah terbengkalai yang dipenuhi semak belukar itu. Sungguh, ia tak tega meninggalkan Bibiknya seorang diri disana. Namun, ia juga sudah berjanji pada mendiang ibunya untuk selalu mematuhi semua perkataan sang Bibik.

"Maafkan Zee, Bik. Maafkan, Zee," gumam Zee dengan bercucuran air mata.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.