Teacher on Escape

Batam, Februari 2019

Seorang pria dengan seragam khas polisi perairan dan udara (POLAIRUD) berwarna biru gelap sedang menatap ke ufuk timur, arah terbitnya matahari. Angin laut berhembus pelan meniup rambutnya yang dipotong pendek. Dia tampak sibuk memutar-mutar gawai di tangannya.

Dia menghirup udara yang beraroma asinnya laut dalam-dalam lalu rambutnya diusap kasar. Seorang polisi lain yang sedari tadi menatap dari kejauhan mendekatinya pelan lalu menepuk pundaknya, hingga pria tadi kaget dan hampir menjatuhkan gawainya. 

"Aduh mas Tri, bikin kaget aja sampeyan. Kok bisa jalan nggak kedengaran? Udah kayak makhluk halus mas Tri ini" Rutuknya kesal

"Lae Luki, kamu yang sibuk melamun sampai nggak mendengar langkah kakiku. Lagi ada masalah lae? Kusut kali mukanya"

"Biasalah Mas, masalah yang kuceritakan kemarin sama kamu itu. Sampai sekarang Shanty nggak bisa dihubungi. Nomor HP nya udah nggak aktif, media sosialnya pun ditutup semua. Nggak biasanya lho dia kayak gini. Aku khawatir Mas Tri, apalagi kemarin dia pamit mau praktek ke pedalaman Lingga. Udah dua minggu lebih nggak ada kabarnya" Ucap Luki lemas

"Orang tuanya udah Lae hubungi, adeknya? Atau keluarganya yang lain barangkali? "

"Udah, tapi nggak ada yang mengangkat. Menurut Mas Tri aku harus gimana? " 

"Maaf ya Lae, bukannya mau merusak hubungan kalian, tapi menurutku ini sangat mencurigakan. Sebelumnya kan Shanty nggak pernah begini. Apa mungkin ini ada hubungan nya dengan isu-isu yang kita dengar dulu?"

"Maksudmu rumor sampah tentang hubungan Shanty dengan abang kelasnya si Rio itu? Nggak mungkinlah Mas. Shanty bukan perempuan kayak gitu, lagian hubungan orang itu hanya sebatas teman satu kampung dan satu SMA"

Tri terdiam cukup lama, berusaha mencari kata yang tepat untuk mengungkap kecurigaannya karena Luki memang cinta mati dengan Shanty. 

"Maaf Lae, tapi pria yang namanya Rio ini bukan hanya sekedar teman sekarang, dia juga seorang perwira. Level yang sudah berbeda dengan kita yang hanya brigadir polisi. Tidak semua orang kuat waktu dihadapkan dengan uang dan jabatan Lae" 

"Maksudmu apa Mas Tri? Kamu jangan memperkeruh suasana. Aku cerita padamu bukan untuk mendengar kamu menjelek-jelekkan Shanty" Ucap Luki dengan nada tinggi

"Maaf, maaf, Lae. Cukuplah, aku salah. Tidak akan kuucapkan lagi hal jelek tentang Shanty, oke... "

Ditengah perdebatan yang mulai memanas, seorang polisi lain berlari lalu memanggil mereka berdua. 

"Hei kalian berdua, siap di posisi. Ada kapal penangkap ikan ilegal terlihat 25 derajat dari arah barat. Kali ini kita harus menangkap kapal licik ini"

"Siap Ndan, Lapan-enam" Ucap keduanya sambil memberi tabik lalu bergegas ke posisi masing-masing.

Patroli Kali ini hanya ada sebelas personel di kapal ini. Tiga orang berpangkat tamtama yang bertugas dalam hal logistik, 5 orang berpangkat brigadir yang bertugas dalam operasi lapangan, dua orang berpangkat bripka dan satu orang berpangkat IPDA yang bertugas untuk mengatur jalannya patroli. 

"Naikkan kecepatan kapal 3 knot lagi" Perintah IPDA Heru dari belakang kemudi

"Siap Ndan" Ucap Luki

"Sudah, tidak perlu formal. Fokus saja membawa kapal ini" Tegasnya lagi

Kapal pun melaju mengejar kapal penangkap ikan yang tidak terlihat mencolok itu. Warna kapal merah bercampur biru pudar. Dilihat dari bentuknya, ini seperti kapal penangkap ikan dari Vietnam, tetapi mereka dengan lancangnya memasang bendera merah putih pada kapalnya untuk mengelabui petugas kelautan. 

Kapal ilegal ini sepertinya menyadari mereka telah dikejar lalu meningkatkan kecepatannya. Tentu saja strategi mereka diimbangi oleh kapal POLAIRUD dengan menambah kecepatannya di batas maksimal. Bahkan dari arah depan ada juga kapal ferry milik polisi perairan yang menghadang kapal penangkap ikan ini. Akhirnya setelah pengejaran yang berlangsung alot selama lebih kurang 45 menit, kapal asing ini pun menyerah. 

Para kru berdiri sambil tertunduk di atas geladak kapal dengan tangan diletakkan di atas kepala. Sigap beberapa personel polisi segera meringkus mereka, sebagian lainnya dengan senjata lengkap masuk ke kapal dan menggeledah isinya.

Ternyata bagian luar kapal ini menipu, karena di bahkan dalamnya terbilang mewah. Dilengkapi dengan peti kemas yang besar bahkan ada pula alat pengolahan ikan. Berton-ton ikan  malah sudah dikalengkan. Sungguh kamuflase yang luar biasa. Tidak berapa lama, semua kru telah diborgol dan dipindahkan ke kapal polisi, sementara kapal illegal fishing dijaga dengan ketat oleh beberapa polisi.

***

Di sebuah ruangan dalam kapal polisi, para kru kapal jongkok dengan posisi tangan diborgol dan diletakkan di atas kepala sementara itu seorang Vietnam yang merupakan kepala kapal bernama Nguyen Trai, seorang ABK yang bisa berbahasa Indonesia, IPDA Heru, serta seorang lagi polisi yang baru tiba berpangkat AKBP masuk ke ruangan lain dalam kapal.

Luki, Tri, dan Hamid duduk mengawasi para kru kapal dengan posisi siaga. Beberapa petugas polisi lain berdiri di dek dan geladak kapal untuk memantau situasi.

"Hei, yellow boy, why is your face different? You are not Vietnamese?" Ucap brigadir Hamid

"Bukan Pak, Saya orang Indonesia" Jawab seorang ABK berbaju kuning sambil menatap jemari kakinya. 

"Oh ya, darimana Kau? "Tanya brigadir Luki

"Dari Sulawesi selatan Pak. Saya suku bugis"

"Udah lama gabung dengan kapal ilegal ini? Kok mau gabung sama mereka? "Lanjut Tri pula

"Nggak ada pilihan Pak. Keluarga Saya miskin sedangkan Saya anak paling besar. Selama ini Saya melaut sama bapak, tapi makin hari tangkapan ikan makin berkurang, padahal peralatan melaut kami masih sangat sederhana, tidak bisa mengimbangi peralatan orang luar Pak. Terpaksa Saya mencari pekerjaan lain" Sahutnya lemah

Luki sudah sering mendengar cerita ini. Bagaimana para nelayan begitu kesulitan menghadapi pelaut asing yang perlengkapannya jauh lebih modern. Ironisnya, walau ada bantuan dari pemerintah berupa mesin atau jaring, banyak juga nelayan yang menjualnya lagi entah dengan alasan apa. 

"Kamu mencari uang dengan cara menjarah bangsamu sendiri? " Cecar Luki lagi

"Maaf Pak" Pria berbaju kuning tertunduk malu

"Siapa nama mu dan berapa umur mu? "

"Nama saya Andi Isogi pak, umur saya tahun ini dua puluh tujuh"

"Wah, sudah cukup usia untuk menikah. Udah ada calon-nya? "

"Sudah Pak, tapi karena keluarga saya miskin belum bisa menikah. Di adat kami uang panaik itu mahal Pak. Makanya Saya bekerja keluar untuk mengumpulkan uang panaik Pak. Rencananya tahun depan kalau tabungan sudah cukup, saya akan pulang kampung dan melamar calon istri. Nggak akan melaut lagi Pak, mungkin akan berdagang atau bertani"

"Oh begitu, semoga berhasil melamar gadis impian mu. Carilah pekerjaan lain yang legal agar hidupmu tenang" Saran Luki. 

"Baik Pak, terimakasih" Sahutnya semakin tertunduk

Tiba-tiba pintu ruangan kecil tempat para ketua sedang rapat terbuka lalu keempat pria yang ada di dalamnya keluar dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak. Tetapi ada yang ganjil, Nguyen Trai yang tadinya diborgol sudah bebas kedua tangannya, demikian juga ABK yang barusan ikut mendampinginya ke dalam juga sudah tidak diborgol. Luki menatap heran sementara Tri dan Hamid hanya terdiam kalem, siap menunggu instruksi berikutnya.

Lalu pria yang berpangkat AKBP memberi isyarat dengan matanya pada ketiga brigadir yang mengawasi para kru kapal, Tri dan Hamid dengan sigap mulai membuka borgol para tawanan diikuti oleh Luki yang masih termangu-mangu, bingung bercampur heran dengan instruksi atasannya.

Tak lama, semua kru dibebaskan dan dikembalikan ke kapal mereka sementara itu Nguyen Trai menyalami IPDA Heru dan AKBP Hasan, seolah-olah sahabat lama. Luki hanya bisa menatap semua peristiwa itu dengan pikiran yang kacau balau sampai Hamid menepuk pundaknya

"Sadar woy, kenapa lae? "

"Entahlah bang, aku benar-benar bingung. Nggak ngerti aku" Tukas Luki

"Sudahlah, aku tahu perasaan mu. Sana balek dulu kamu ke kabin. Tenangkan dirimu sebentar, nanti kita bicara lagi"

"Siap bang" Ujar Luki sambil berlalu

Sementara itu semua anggota kapal telah kembali ke kapalnya masing-masing lalu kapal-kapal ini pun mulai bergerak ke arah tujuannya. Semakin jauh jarak yang terbentang hingga akhirnya kapal ilegal tadi hanya berupa noktah di kejauhan. 

***

Di dalam kabin, Luki merebahkan dirinya, merasa sangat penat dan bingung. Matanya nanar menatap langit-langit kabin, mencari jawaban atas semua kegundahan hatinya. Masih ingat dia peristiwa yang barusan terjadi waktu para kru hendak naik lagi ke kapal mereka. Tatapan Isogi yang sendu namun tajam seolah menghunjam hatinya. 

Carilah pekerjaan lain yang legal agar hidupmu tenang

Kalimat itu yang diucapkannya pada Isogi barusan, namun segera saja ini menjadi lelucon yang tidak lucu. Dia sendiri apa sudah menikmati uang yang legal? Sebenarnya apa pengertian legal? 

Dia merasa sangat jenuh. Ditutupkan matanya dengan kedua tangan.

Sejurus kemudian pintu kabin terbuka, dan Tri masuk sambil membawa segelas kopi yang mengepul hangat.

"Eh, mas Tri rupanya" Ucap Luki sambil menoleh ke arah pintu lalu bangkit dari tidurnya

"Santai saja Lae, nah minum kopi dulu"

"Makasih mas" Luki pun segera menyeruput kopi panas. Harumnya kopi menenangkan sarafnya yang masih tegang

"Gimana lae, udah mendingan? "

"Udah Mas, makasih ya. Maaf tadi aku sempat kesal sama kamu" Ucapnya tulus

"Easy Lae, biasa itu. Mengenai yang barusan terjadi jangan terlalu kaget Lae. Aku ngerti ini hal yang memalukan, tapi mau gimana lagi Lae? "

"Itulah Mas, selama ini aku di bagian administrasi tidak terlalu terpapar masalah yang kayak gini. Apa semua kapal yang tertangkap diselesaikan dengan cara begini? "

"Nggak Lae, ada faktor lain juga yang jadi pertimbangan. Bulan lalu kami juga menangkap kapal asing dari Taiwan tetapi dinaikkan ke pengadilan karena kapal itu selain menangkap ikan juga membawa narkoba bahkan dijadikan transportasi untuk human trafficking. Ngeri memang zaman sekarang? " Ujar Tri sambil menarik napas

"Iya dan kita turut andil dalam kengerian itu" Sesalnya entah kepada siapa

"Lae jangan terlalu polos. Tangkapan kecil begini nggak ada artinya. Sudahlah Lae nikmati ajalah mumpung cuma kita yang beroperasi di sini. Kadang kalau lagi apes kita harus juga 'berbagi' dengan TNI AL dan instansi PNS macam DKP, karena undang-undang tidak pernah merinci siapa yang berwenang penuh di lautan. Dari operasi begini, kroco macam kita ini bisa dapat 3 hingga 4 juta, kalau kamu tabung bisa cepat terkumpul sinamot mu biar bisa melamar si Shanty. Jangan terus dia merengek minta dinikahi" Saran Tri semangat

"Makasih Mas Tri, Aku hanya perlu waktu untuk terbiasa"

"Saranku Lae, jangan lurus-lurus kali. Siapa yang nggak berdosa di dunia ini? Mulai dari ustadz, pendeta, guru, siapa coba yang suci? Apalagi perkara uang, nihil lae. Semua orang suka uang. Sedangkan pejabat eselon tinggi yang gaji dan tunjangannya sampai tiga digit aja masih korupsi, apalagi brigadir macam kita yang gajinya ngos-ngosan. Lagian kalau pun kita bawa ini ke pengadilan, yakin Lae kebal uang jaksa sama hakimnya itu? Heh, kalau aku sih nggak" 

"Okelah Mas, makasih buat sarannya. Kita bahas masalah lain ajalah ya. Mumet otakku dibuat permainan dunia ini" Luki menghela napas sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding kapal

Tri yang paham betul sifat temannya segera mengalihkan pembicaraan ke pertandingan sepak bola liga inggris. 

"Jadi gimana pertandingan bola semalam, menang Liverpool Lae? 

" Menanglah mas, nggak mas tengok tendangan si Muhammad Salah, mantaplah pokoknya" Ujar Luki bersemangat

"Iya ya, jadi berapa skornya?"

"Nggak selisih jauh mas, cuma 3 - 2 tapi yang penting sih menang soalnya... "

Tiba-tiba gawai Luki berdering. Ada pesan masuk di aplikasi WhatsApp-nya.

Nanar dia menatap layar gawainya, tak percaya kalau orang yang dirindukannya mengirimkan pesan. Apa yang tertulis disana membuatnya semakin tidak percaya. Dia terdiam lama menatap layar gawainya, nggak tahu harus berbuat apa.

Sampai Tri pun kebingungan melihat tingkah Luki. 

"Ada apa Lae, kok bengong? Hei Lae!" Ujar Tri sambil melambaikan tangan di depan wajah Luki

Tetapi yang bersangkutan tidak merespon.

Akhirnya Tri merebut HP dari tangan Luki dan dia membeku membaca pesan yang tertulis disana. 

Shalom bang, apa kabar? 

Ku harap abang baik-baik aja. 

Bang, aku minta maaf sudah merepotkan mu selama ini tapi tolong jangan cari aku lagi bang. Aku sudah dijodohkan orang tua ku dengan yang lain. Selama ini abang nggak bisa kasih kepastian kapan mau menikahi aku. Maafkan aku ya bang, nggak bisa kutolak keinginan orang tua-ku. Semoga segera bertemu penggantiku, perempuan yang jauh lebih baik dari aku dalam segala hal. Terimakasih untuk semua kebaikanmu kiranya Tuhan yang membalas semuanya

Tri hanya bisa mengusap pelan bahu Luki.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.