Tawanan Cinta Tuan Jackson

Desahan seorang wanita terdengar menggema di ruang tamu apartemen milik Jack. Ya, saat ini pria itu tengah bersenang-senang dengan salah satu wanita simpanannya bernama Karin.

Setelah keluar dari kediaman Wilson tadi perasaannya menjadi campur aduk. Apalagi setelah gadis yang ingin ia miliki menolaknya dengan mentah-mentah. Harga dirinya seolah dijatuhkan begitu saja oleh gadis itu.

Selama ini tidak ada yang bisa menolak pesona dari seorang Jackson Lee. Tapi, ia tidak percaya jika Michelle justru tidak tertarik sama sekali dengannya. Benar-benar sulit dipercaya, pikirnya.

Karena tidak bisa mendapatkan gadis itu, ia ingin melampiaskan kekesalannya saat ini dengan wanita simpanannya ini. Menyiksanya dalam kungkungan nya sampai ia merasa puas.

"Ahh, Jack ... pelan-pelan," lenguh wanita itu saat merasakan nyeri di gundukan besar miliknya. Jack terlalu kencang meremas miliknya hingga membuatnya tidak tahan dengan rasa sakit itu.

Tapi, sepertinya Jack tidak peduli dan terus memainkan tangannya di sana. Bahkan tangan satunya makin liar mengobrak abrik bagian sensitif lainnya milik Karin. Di saat hampir mencapai klimaksnya, tiba-tiba Jack menghentikan permainan tangannya. Membuat wanita itu mendesah kecewa karena gagal mendapat kenikmatannya.

"Jack, kenapa berhenti. Ayo lanjutkan," keluh wanita itu menoleh ke arah Jack yang sudah menegakkan kembali tubuhnya untuk duduk. Pria itu sama sekali tidak menjawabnya dan malah sibuk membersihkan tangannya dengan sapu tangan.

Karena kesal, wanita itu pun akhirnya ikut bangkit. "Hari ini kau terlihat tidak seperti biasanya. Apa sedang ada masalah?" tanya nya.

"Tidak ada," jawab Jack sangat singkat.

"Tapi, hari ini kau terlihat berbeda sekali. Katakan saja jika memang ada masalah," ujar wanita itu berusaha membujuk.

Jack langsung menuangkan minuman beralkohol dari botol ke gelas kecil yang ada di meja. Lantas, meneguknya perlahan.

"Jack ... " panggil Karin karena tidak mendapat jawaban juga.

"Kau terlalu banyak berpikir," ucap Jack sembari meneguk minumannya lagi hingga tandas.

Mendengar jawaban itu, Karin menangkup kedua rahang tegas milik Jack dan langsung melumat bibirnya dengan sensual. Kedua tangannya kemudian tergerak untuk membelai dada bidang milik pria itu hingga ke perutnya dengan perlahan. Ia berusaha mengembalikan gairah Jack seperti sebelumnya agar bisa memuaskannya lagi.

Tapi sepertinya tindakan itu tidak membuat Jack serta merta membalas lumatan di bibirnya. Terpaksa Karin melepas kembali ciumannya itu.

"Apa ada wanita lain yang mengusik pikiranmu?" tanya nya dengan nada kesal.

"Tidak," jawab Jack dingin.

"Lalu, kenapa kau tidak membalas ciuman ku? Tadi kau juga tidak memuaskan ku. Jadi apa kalau bukan ada wanita lain?"

"Aku sedang tidak ingin membahas itu."

Karin menghela napas pelan, mencoba untuk meredam rasa kesalnya. "Ayolah, sayang. Aku tidak mau kalau kau sampai menduakan ku lagi. Selama ini aku sudah setia bersamamu, melayani mu. Aku bisa memberikan segalanya untukmu selama kau mau. Kurang apalagi aku hingga kau tetap tidak mau konsisten dengan satu wanita?" keluh wanita itu yang membuat Jack langsung berdiri. Sontak ia terkesiap dengan tindakan tiba-tiba itu.

"Sudahlah, tugasmu hanya untuk menyenangkan ku. Bukan untuk mengatur ku."

Jack merapikan kembali kemeja dan celana yang dipakainya. Setelah itu ia memungut jas kerjanya di lantai dan meninggalkan wanita itu.

"Jack!" seru Karin namun tidak dihiraukan pria itu dan dia tetap pergi.

"Sial! Aku pasti akan segera membuatmu berada dalam genggaman ku, Jack," gumam wanita itu menatap nyalang ke arah keluarnya Jack dari apartemen.

***

Setiba di mobil, Jack mendapat panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Dengan malas, ia pun menerima panggilan itu dan menempelkan benda pipih hitam itu ke telinganya.

"Aku ingin bertemu denganmu," ucap seorang gadis dari seberang sana.

Jack mengerutkan keningnya, merasa asing dengan suara itu.

"Kau siapa?" tanya nya.

Terdengar decakan dari lawan bicaranya.

"Aku Michelle. Kita bertemu di kafe Rotella."

Setelah itu panggilan pun berakhir. Jack yang menyadarinya hanya tersenyum, ternyata cepat juga gadis itu berubah pikiran.

Setelah menyimpan ponselnya kembali, pria itu segera menyalakan mesin mobil dan melajukan nya ke kafe yang disebutkan Michelle tadi.

Tidak butuh waktu lama untuk Jack tiba di sana. Setelah masuk ke dalam kafe ia segera menghampiri Michelle yang sudah duduk menunggunya di dekat dinding kaca bagian dalam kafe tersebut.

"Tidak menyangka, jika kau begitu cepat berubah pikiran dan langsung mengajakku untuk bertemu," ucap Jack yang langsung duduk di hadapan Michelle sebelum dipersilakan lebih dulu.

Gadis itu sama sekali tidak heran dengan minusnya attitude yang dimiliki pria itu. "Tidak perlu basa-basi. Aku ingin langsung bicara ke intinya," jawab Michelle.

"Oh, mau membahas apa memang?" tanya Jack dengan tampang santai.

"Berapa banyak yang harus keluarga ku ganti untuk membalas semua kebaikan keluargamu dulu?" tanya Michelle dengan raut wajah serius.

"Berapa banyak? Maksudmu, kau ingin membalas budi dengan uang, begitu?" balas Jack skeptis.

"Tentu saja, kau pikir aku mau menjual diriku untuk semua itu. Jangan mimpi!" jawab Michelle tajam.

Pria di hadapannya langsung terkekeh mendengarnya.

"Kau pikir uang dari keluarga Wilson itu cukup untuk membayar semuanya. Kau juga jangan mimpi, Nona. Semua jasa dari keluarga Lee sama sekali tidak sebanding dengan kekayaan yang dimiliki keluarga mu itu!" balas Jack tidak mau kalah.

"Lalu apa yang kau mau? Jangan mempersulit ku," tegas Michelle kesal.

Jack hanya tersenyum sembari menarik segelas minuman di hadapan Michelle. Dengan tidak tahu malu ia langsung meminumnya hingga tandas.

Michelle memasang wajah muak menatap kelakuan buruk pria itu. Jika bukan karena masalah keluarganya yang baru ia tahu tadi dari ibu dan ayahnya, ia juga tidak akan datang kemari dan mengajak pria itu bertemu.

Apalagi ia sadar telah mencium aroma parfum wanita di pakaian Jack. Ia yakin, pria itu pasti baru bertemu dengan wanita simpanannya sebelum datang menemuinya.

"Sial!" batin Michelle.

"Oh, maaf, karena aku sudah meminum minuman mu?" ucap Jack tersenyum tanpa dosa.

"Terserah." Michelle segera membuang wajah, semakin muak dengan sosok di hadapannya.

Pria itu malah tersenyum. "Jika kau masih ingin membalas budi tapi tidak ingin menikah denganku, kau bisa menerima cara lain."

"Apa itu?" sahut Michelle seketika.

Jack mencondongkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Michelle. "Jadi pelayan di rumahku."

Gadis itu sontak melebarkan kedua matanya tak percaya. Apa-apaan itu?

"Kau pikir putri dari keluarga Wilson serendah itu hingga bisa kau jadikan pelayan mu?!" bentak Michelle tak terima.

"Bukankah kau juga seperti itu padaku. Kau bahkan berani menolak ku di hadapan keluarga mu," balas Jack tersenyum sinis.

"Jika kau menolak juga tidak apa-apa, itu berarti keluarga Wilson masih memiliki hutang. Dan mungkin saja perusahaan ayahmu itu akan segera hancur."

"Kau mengancam ku?"

"Menurutmu?"

Keduanya saling melempar tatapan sengit. Tidak ada yang ingin mengalah satu sama lain dengan masalah ini. Tapi, jika Michelle masih bersikeras untuk melawan, perusahaan keluarganya yang akan menjadi taruhannya.

"Oke, aku akan menjadi pelayan di rumahmu," jawab Michelle akhirnya.

Ada kebahagiaan tersendiri saat mendengar jawaban itu. Cepat atau lambat, Jack akan membuat gadis itu menjadi miliknya. Seorang Jackson Lee tidak mungkin bisa dikalahkan dengan mudah. Apalagi jika urusan wanita. Ia tidak terima kalau gadis di hadapannya ini tidak bisa ia miliki juga.

"Baiklah, jika itu keputusanmu. Kau bisa datang ke rumahku besok," ujar Jack kemudian.

"Oke."

Michelle langsung bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi.

"Tunggu!" Jack menarik pergelangan tangannya dengan cepat. "Kau tidak berniat untuk membayar terlebih dulu minuman yang sudah kau pesan ini, Nona?" tanya pria itu menunjuk gelas minuman yang sudah ia habiskan tadi.

"Kau yang menghabiskan nya, jadi kau yang bayar!" jawab Michelle dengan ketus, lalu segera menarik kembali tangannya dari Jack. Bergegas ia pergi dari hadapan pria itu karena sudah tidak tahan berlama-lama lagi dengannya.

"Gadis yang menarik."

***

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.