Tangisan Pilu Sang Istri

Manda merasa begitu sangat takut dan terkejut bahkan tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat saat mendengar teriakan dari bibir suaminya yang selalu bersikap lembut padanya. Teriakan keras dari Dimas membuatnya merasa ketakutan yang lebih dalam. Air matanya pun tiba-tiba tanpa diminta, mengalir deras karena ini adalah pertama kalinya dia mendengar suaminya berteriak seperti itu. Ini adalah pertama kalinya pria itu menaikkan nada bicaranya dengan begitu sangat keras padanya.

Rasa cemas dan kaget benar-bensr begitu sangat mendominasi sekali perasaan Manda saat ini, hal itu pun membuatnya merasa gelisah dan takut terhadap apa yang sedang terjadi. Bingung harus bersikap seperti apa dan bagaimana, terlebih tubuhnya yang sama sekali tidak bisa diajak kompromi dalam keadaan yang menegangkan seperti ini.

Sungguh, ia benar-benar begitu sangat takut sekali saat melihat amarah luar biasa yang terpancar dari sorot mata suaminya itu. Sorot matanya begitu sangat tajam, membara dan menusuk hingga ke jantung. Manda bahkan tak sanggup meski hanya untuk menatapnya saja.

"Mas ...," lirihnya masih dengan tubuh yang bergetar. Air matanya tak sanggup lagi ditahan, lolos begitu saja dari mata indahnya membasahi pipi dan itu cukup membuat Dimas tertegun.

"Sayang, maaf!" seru Dimas terkejut melihat perubahan dalam diri Manda.

Pria menyadari bahwa sudah bersalah karena berteriak tepat di depan wajah istrinya, pria yang selalu bersikap lemah lembut itu, tiba-tiba berubah menjadi sangat mengerikan bagaikan monster yang tak bisa menahan dirinya.

Dimas langsung memeluknya erat, mencoba untuk menenangkan istrinya itu dan menuntunnya kembali masuk ke dalam kamar. Pria itu benar-benar takut sekali karena melihat perubahan yang tak bisa dari istrinya itu. Tak pernah terbayangkan olehnya, kalau istrinya selalu bersikap manja itu bisa terlihat begitu sangat ketakutan seperti itu. Ia masih terus memeluk Manda sampai waManda itu benar-benar merasa tenang. Mengecup puncak kepalanya berkali-kali, demi untuk bisa menenangkan waManda muda itu.

"Manda ... Sayang. Tolong, maafkan, Mas," ucapnya membingkai wajah Manda lalu mengecup bibir ranum istrinya sekilas. Kembali memeluk tubuh yang masih begitu sangat tergugu itu.

Manda bukan lemah, ia hanya merasa lelah karena terus diperlakukan dengan tidak baik oleh ibu mertuanya dan sekarang justru mendapatkan bentakan dari suaminya yang selalu bersikap lembut padanya. Hati dan pikirannya langsung melayang dan menari-nari, memikirkan bahwa mungkin suaminya itu sudah tidak lagi mau bersikap lembut padanya. WaManda itu benar-benar begitu sangat salah paham sekali.

Dimas kembali melepaskan pelukan eratnya dan menatap lekat manik indah istrinya yang masih mengembun lalu mengecup kedua mata indah itu. Pria itu kembali meminta maaf berkali-kali, berusaha untuk bisa mendapatkan kata maaf dari istrinya.

Sementara itu, Manda sendiri masih tetap diam dalam lamunannya, semuanya terasa begitu sangat cepat, sampai-sampai tak menyadari bahwa suaminya sudah menangis. Pria itu tetap mencoba untuk berusaha menenangkan hati istrinya yang mungkin sampai saat ini masih merasa begitu sangat terkejut dengan suaranya.

"Sayang, bicaralah .... Tolong, jangan diam saja seperti ini."

"Aku, benar-benar begitu sangat takut sekali, jika kamu hanya terus berdiam diri seperti ini. Maafkan aku," tuturnya kembali mengecup kedua punggung tangan Manda bergantian. "Sayang, tolong maafkan aku ...."

"Mas," lirihnya dengan sesegukan. Wanita muda itu menatap lekat suaminya dengan sorot mata sendu, terlihat jelas ada kekecewaan di dalamnya tapi berusaha semaksimal mungkin disembunyikan, agar suaminya tak terus merasa bersalah padanya.

"Iya, Sayang. Mas minta maaf, tolong jangan seperti ini, ya. Mas mohon," ucap Dimas memohon karena sudah bersikap kasar pada istrinya itu.

Pria itu benar-benar merasa tidak sadar sama sekali karena sudah bersikap kasar seperti itu, ia hanya merasa terlalu kesal dan emosi dengan sikap keluarganya yang sampai saat ini tak bisa memperlakukan wanitanya dengan baik. Padahal, selama ini Dimas dan Manda sudah bersikap sangat sabar dalam menghadapi semua perangai mereka. Apapun yang diminta selalu diberikan.

Padahal, sejak awal ... Dimas sudah memberikan peringatan pada istrinya itu, untuk tidak terlalu patuh dan menuruti apa saja yang diminta oleh ibu dan adiknya, karena ia memang begitu sangat tahu sekali dengan perangai mereka. Sekali permintaannya dituruti, maka akan selalu meminta hal yang lainnya lagi.

Pria itu sebenarnya tak melarang jika istrinya ingin memberikan hal-hal terbaik untuk keluarganya, hanya saja ... ia tak ingin jika nantinya ... istrinya itu akan selalu merasa sakit hati, jika perangai mereka berdua tak sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran dan juga harapan Manda.

Manda itu begitu sangat baik dan lembut bahkan selalu merasa tidak enak hati dengan hal apapun. Dimas selalu berpesan, bahwa ada baiknya sesekali boleh melawan ibu dan juga adiknya, apabila mereka melakukan sesuatu yang sudah diluar batas.

Tapi, karena memang hati Manda itu yang terlalu lembut sampai enggan untuk sedikit saja menyakiti hati mereka dengan cara apapun itu, baik disengaja maupun tidak disengaja. Dan, jika sudah seperti itu, maka waManda itu akan lebih memilih untuk mengurung diri di dalam kamarnya dan menangis sampai puas.

"Iya, Mas. Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit terkejut saja, saat ketika tadi, dibentak," lirihnya membuat Dimas semakin merasa sangat bersalah sekali.

Dimas langsung mengecup punggung tangan Manda berkali-kali, menunjukkan bahwa dirinya benar-benar merasa menyesal karena sudah bersikap kasar. Padahal, dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia tidak pernah ingin melukai hati istrinya dalam bentuk apapun. Jangankan untuk melayangkan tangan di wajahnya, membentaknya saja sudah cukup membuat hatinya sakit dan terluka.

Dan, tanpa disengaja dan tak sadar ... pria itu sudah melakukan sesuatu yang menjadi pantangannya selama ini. Semuanya terjadi, bukan semata-mata karena pria itu ingin menghakimi atau memarahi istrinya, bukan. Tapi karena sudah terlalu kesal dan marah, karena istrinya selalu menangis setiap kali dia pulang. Keadaan yang seperti ini, tidak pernah mau dilihat olehnya tapi selalu saja melihatnya.

"Sayang, tolong maafkan, Mas. Mas janji, tidak akan bersikap kasar lagi padamu," ungkapnya seraya berjanji di depan Manda.

Wajah Dimas yang memelas membuat Manda merasa tidak tega dan langsung tersenyum manis.

"Iya, Mas. Aku tahu, kamu tidak akan pernah mungkin sampai hati untuk membentak. Mungkin tadi, itu hanya sebuah kesalahpahaman semata saja."

"Tidak apa-apa, Mas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Sebenarnya, wanita muda itu hanya merasa terkejut saja, tidak ada maksud untuk marah pada sikap Dimas. Mengingat, selama ini Manda tidak pernah diperlakukan kasar oleh almarhum kedua orang tuanya, jadi ia pun merasa tidak ingin dikasari oleh suaminya. Selama ini ... wanita muda itu selalu diperlakukan lembut dan mendapatkan suami yang lembut, cukup membuat hatinya tenang, meskipun tidak dengan ibu mertua dan juga adik iparnya.

"Sekali lagi, tolong maafkan, Mas."

"Iya, Mas. Gapapa, maafkan aku juga kalau terkesan berlebihan. Baru dibentak segitu saja, aku sudah menangis. Maafkan aku yang cengeng ya, Mas," tutur Manda lembut. "Aku, hanya merasa terkejut saja. Atau mungkin, hatiku yang memang dalam keadaan tidak baik-baik saja, makanya mudah terluka tadi."

"Sekali lagi, maafkan aku ya, Mas ...."

"Tidak, Sayang! Kamu sama sekali tidak bersalah!" Dimas berkata penuh dengan penekanan.

"Sudah cukup, jangan terus meminta maaf atas kesalahan yang tidak kamu perbuat. Aku yang salah disini!"

"Aku yang sudah membawa kamu masuk kedalam keluarga yang sama sekali tidak bisa menghargai kamu, aku yang salah karena sudah membawa kamu untuk ikut hidup susah bersama denganku. Aku yang bersalah, Sayang, aku yang bersalah."

Manda menggelengkan kepalanya lemah, lalu membungkam bibir suaminya dengan telunjuk indahnya. "Sssttt, jangan bicara seperti itu, Mas. Aku ikhlas hidup bersama denganmu. Aku tak peduli, kehidupan apa yang akan kita jalani sekarang atau nanti, selama itu bersama denganmu. Aku akan dengan senang hati menjalaninya, Mas."

"Aku, hanya memilikimu, Mas. Aku sudah tak memiliki siapapun lagi, selain dirimu. Jadi, aku akan tetap ikut denganmu, kemanapun kamu pergi, Mas. Aku tidak akan pernah mengeluh, sekalipun kita hidup susah."

"Aku tak masalah jika tidak diperlakukan baik oleh mereka. Yang terpenting di dalam hidupku itu adalah kamu, Mas."

"Aku hanya perlu kamu di dalam hidupku. Itu sudah lebih dari cukup bagiku, karena hanya kamu yang bisa membuatku tetap hidup bahagia sampai pada saat ini."

"Jangan pernah berpikir bahwa aku menyesal karena hidup bersama denganmu. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menyesal telah mengenalmu dan hidup bersama denganmu, Mas."

"Aku, menikah denganmu karena tujuan ingin hidup bersama dan juga karena Allah. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkanmu sekalipun kamu jatuh miskin atau jatuh sakit, Mas. Aku akan tetap berada disampingmu, menggenggam tanganmu dan kita bersama-sama mewujudkan semua impian kita."

"Bagiku, hidup bersama denganmu itu sudah cukup membuatku sangat bahagia, Mas. Aku bisa menjadi apapun saat bersama denganmu, kamu selalu memperlakukan aku dengan baik bahkan begitu sangat baik sekali."

"Jadi, apapun yang terjadi dan apapun yang ingin mereka lakukan padaku, itu sama sekali tak membuatku akan meninggalkanmu, Mas. Tidak akan."

Dimas merasa terharu sekali mendengar semua kata-kata yang baru saja keluar dari bibir istrinya, ia memang tahu kalau istrinya begitu sangat lemah lembut. Tapi, ia tak pernah menyangka kalau Manda akan begitu sangat ikhlas sekali hidup bersama dengannya.

"Aku benar-benar merasa sangat beruntung sekali karena menikah denganmu, Sayang. Aku memang tidak pernah salah dalam memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku. Kamu, begitu sangat tulus sekali menjalani kehidupan rumah tangga yang sama sekali belum bisa membuatmu bahagia."

"Aku, selalu memberikan luka padamu, luka yang dibuat oleh keluargaku. Tolong maafkan aku, Sayang ...."

"Aku berjanji padamu, bahwa aku akan selalu menjagamu dan anak-anak kita kelak sampai kapanpun, aku janji. Bahkan, aku rela menukar nyawaku dengan nyawa kalian nantinya."

"Mas ...," rengek Manda merasa sangat tidak suka sekali, jika suaminya itu membicarakan tentang kematian.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.