Clara baru saja mendapatkan pelepasannya. Ia tak menyangka ia bisa menyentuh miliknya sendiri sembari membayangkan wajah Mark, calon ayah tirinya. Biasanya ia hanya akan membayangkan pria-pria bertubuh kekar yang sedang bermain dengan miliknya, namun kali ini ia justru lebih gila.
Kenapa otaknya selalu tentang Mark.
Setelah menenangkan diri. Clara duduk dari tidurnya dan berniat keluar kamar untuk mengambil minum.
Clara membuka pintu kamarnya secara perlahan tanpa berniat menutupnya kembali. Namun siapa sangka, baru dua langkah ia keluar dari kamarnya, Indra pendengarnya langsung menangkap suara yang tak asing baginya. Dan suara itu berasal dari kamar maminya.
Clara tahu suara itu. Ia tak bodoh bukan. Bahkan suara benturan kulit pun ia sangat tahu.
Otaknya langsung mengarah pada Mark yang saat ini sedang menggagahi maminya. Penasaran, Clara langsung berjalan cepat menuju lantai atas. Jantungnya berdetak cepat, darahnya berdesir saat suara desahan maminya terdengar begitu gila. Apalagi kini posisi Clara sudah ada di depan kamar maminya yang pintunya tak tertutup sempurna.
Clara menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Terlihat sangat jelas jika saat ini milik Mark sedang keluar masuk di surga maminya. Milik Mark yang ia bayangkan ternyata tak jauh beda dari aslinya. Bahkan lebih amazing yang nyata.
Clara menggigit bibir bawahnya kuat. Keringat dingin membasahi. Tubuhnya juga mendadak panas apalagi saat ini ia melihat maminya yang berteriak nikmat mendapatkan pelepasannya.
Clara, Lo ngapain ini Clara. Mengintip mamimu sendiri sedang bercinta. Yang benar saja, batin Clara.
*****
Clara menutup pintu kamarnya cukup kuat. Entah apa yang ada dalam benaknya, ia bisa dengan begitu santainya menyaksikan persetubuhan maminya dengan calon Daddynya itu.
Dan gilanya lagi, ia juga menginginkannya.
"Ya Ampun Clara, jernihin otak lo.." ucap Clara yang mencoba mendoktrin otaknya.
Clara menatap miris dirinya di cermin. Ini berkat dirinya yang kehausan tadi, namun harus melihat kejadian gila itu.
Ia mengumpat kasar. Ia tak habis pikir, Maminya bisa melakukan hal gila itu pada Mark yang notabennya masih calon suami.
Tapi jika ia pikir-pikir, hal seperti itu untuk zaman sekarang ini, sangaatlah biasa. Bahkan anak muda zaman sekaraang ada yang masih kecil tapi sudah kehilangan keperawanan. Dan semua itu mereka serahkan pada pacar mereka yang notabennya belum tentu akan jadi suami mereka.
Jadi jika maminya melakukan hal tak senonoh itu dengan Mark, ia memaklumi karena untuk sekelas maminya dan Mark yang bule, tentu penasaran mereka ada.
Apalagi maminya yang tak perlu memikirkan tentang keperaawanan lagi.
"P*nis bule itu gimana ya ukurannya?" ucap Clara bertanya pada dirinya sendiri. Karena ia sendiri selama ini hanya melihat di koleksi filmnya dan tak pernah melihat secara langsung.
Membayangkannya saja membuat Clara basah. Kau butuh pelampiasan Ra. Jadi sebaiknya lo cari sesuatu.
Clara melepas semua pakaiannya lalu kembali menatap cermin. Menatap dirinya yang tak tertutup apapun sama sekali.
Jangan tanyakan seberapa nafsunya Clara. Karena jemarinya sendiri sudah aktif mengusap bagian bawahnya membuat Clara seketika memejamkan matanya menikmati sensasi yang ada.
Ia tak bisa mengelakkan tentang rasa itu. Rasa nikmat yang sungguh membuatnya melayang.
Namun jujur ia tak puas dengan hasil tangannya sendiri. Ia ingin mencoba dimasuki, walaupun sebenarnya ia masih tersegel.
Clara berhenti melakukan aktivitasnya. Ia memilih untuk mandi walaupun saat itu sudah tengah malam.
Selesai merelax kan tubuhnya, Clara menyentuh perutnya karena merasa lapar.
Awalnya Clara enggan keluar karena saat ini ia hanya mengenakan baju kaos longgar satu jengkal di atas lututnya dan tak mengenakan pakaian dalam sedikitpun.
Namun rasa laparnya menguasai akal sehatnya. Alhasil ia memutuskan untuk memasak mie instan di dapur.
Secara perlahan Clara membuka pintu kamarnya dan berjalan mengenap endap. Sebenarnya ia tak perlu khawatir karena ia yakin Mark dan maminya sudah tertidur karena kegiatan panas keduanya tadi.
Clara meraih panci kecil lalu meletakkannya di atas kompor. Ia lalu menuang air.
Sebelum meraih sebungkus mie, Clara dikejutkan dengan suara pintu kamar yang tertutup. Ia segera bersembunyi dan mengintip siapa yang muncul.
Betapa terkejutnya Clara saat ia melihat yang keluar adalah Mark. Pria itu keluar tanpa mengenakan satupun pakaian alias Buugil.
Mark berjalan menuju dapur di mana Clara juga ada di sana.
Panik bukan main, Clara pun langsung bersembunyi di bawah meja makan di mana ia yakin tak akan terlihat siapapun.
Dari bawah sana, ada satu titik penglihatan Clara, yaitu 'senjata' Mark yang waaww menurut Clara. Pantas saja maminya dibuat menjerit nikmat. Ternyata yang masuk sebesar itu. Karena tadi ia tak bisa melihat lebih jelas.
Clara menahan nafasnya saat Mark duduk di kursi meja makan. Bahkan bagian bawah Mark tak tertutup sedikitpun.
Ingin rasanya Clara menyentuhnya, namun sepertinya itu mustahil karena akan membuat perang dunia kedua.
Pertengkaran hebat akan terjadi jika ia melakukan hal tersebut.
Clara kesusahan meneguk ludahnya saat Mark menggenggam miliknya. Ia sangat ingin menggantikan jemari Mark dengan jemarinya.
Clara menjangkau secara perlahan ,tentu saja tak sampai menyentuhnya.
Ia menggigit bibir bawahnya karena tak kuat menahan sensasi.
"Sayang...!"
Deg!
Itu suara Lauren.
"Kenapa tak mengenakan baju? Nanti jika Clara bangun dan keluar kamar bagaimana?" panik Lauren.
Lauren hendak pergi mengambil baju Mark, namun segera di tahan oleh Mark.
Mark menarik Lauren duduk di pangkuannya membuat Clara semakin menahan nafasnya.
Saat itu Lauren sedang mengenakan dress dibawah paha sedikit.
Mark mengangkat dress Lauren yang tentu saja langsung membuat Clara kaget. Karena Lauren tak mengenakan pakaian dalam.
Clara bisa dengan jelas melihat kem*luan maminya. Sungguh tebal dan montok. Tak ada rambut yang menutupi area tersebut.
Dalam pangkuan Mark, Lauren mendesah karena Mark memainkan milik Lauren dengan jemarinya.
Clara mengumpat kesal karena ia mendadak basah dan juga ingin diobok-obok seperti itu.
Aaagghhh..mark...
Desah Lauren sungguh membuat suasana panas.
Mark membuka kangkangan paha Lauren menjadi lebih besar lagi. Ia mengusap daging kenyal tersebut dari bawah ke atas, begitupun sebaliknya. Ia melakukannya atas bawah secara bergantian.
Semakin lama semakin cepat, bahkan membuat Lauren berteriak nikmat karena Lauren baru saja mendapatkan pelepasannya.
Tubuh Lauren langsung lemas.
Clara pikir Mark akan berhenti di sana, namun ternyata ia salah. Calon daddynya itu justru memegang 'perkakasny' lalu memasukkannya ke dalam milik Lauren yang tentu saja sudah basah.
Clara semakin dibuat mengumpat kasar karena desahan Lauren.
Bayangkam saja. Bagaimana rasanya saat kalian melihat dengan mata kepala kalian sendiri bahkan ini dari jarak dekat, dua kelamin menyatu dan saling memberi kenikmatan.
Clara merasakam hidungnya gatal. Paniknya semakin menjadi saat ia ingin sekali bersin.
Tak mungkin ia bersin di sini. Bisa hancur semuanya jika ia bersin di sini.
Geli dihidungnya semakin menjadi. Ia menatap ke depan. Milik Mark masih asik keluar masuk dalam milik maminya. Bahkan desahan Lauren semakin menjadi.
Clara melihat kondisi, saat Lauren hampir sampai dan teriakan nikmatnya sudah menghiasi pendengaran, tanpa tak tahu rasa kasihannya, Clara bersin cukup keras dan setelahnya ia menutup mulutnya erat-erat dengan tangannya.
"Suara apa itu Mark?" tanya Lauren yang cemas.
Bahkan ia yang hampir sampai pun langsung kehilangan rasa.
"Suara apa?" tanya Mark.
"Aku denger suara..suara bersin.."
Mark menggerakkan kembali pinggulnya tanpa peduli dengan kecemasan Lauren.
"Mark jangan dulu. Tadi itu suara apa sayang.."
Cup..
Mark mengecup leher Lauren. Bagian bawahnya masih bekerja naik turun.
"Agghh...nggak..nggak ada suara apa-apa sayang.." ucap Mark kesusahan menahan nafsunya.
"Tapi Mark."
Mark mengumpat. Ia sudah tak tahan lagi..
Ia berdiri dari duduknya, dan dengan cepat ia mengangkat Lauren ke atas meja lalu melebarkan paha Lauren dan kembali memasuki Lauren.
menghentakkan kuat bagian bawahnya pada lubang kenikmatan milik Lauren membuat Lauren kembali Mendesah kuat.
Rasa itu membuat Lauren kembali menjerit. wanita itu merasakan getaran kenikmatan lagi yang mulai menggerayangi tubuhnya..
"Iya sayang.. di sana sayang.. Jangan berhenti.. Ini nikmat Mark...agghh..."
Teriakan Lauren yang penuh kenikmatan pun terdengar.. Ia telah sampai begitupun dengan Mark.
Keduanya sama-sama kelelahan. Lauren langsung turun dari meja makan.
"Aku ke dalam dulu sayang. Takut Clara keluar.. Kamu buruan pakai bajunya.."
Mark tersenyum. Ia melihat Lauren berjalan cepat menuju lantai atas, sedangkan Mark kembali duduk di tepat duduk.
Clara dibuat melongo. Cairan cinta Mark masih menetes dari ujung rudal cintanya. Dan lagi-lagi ini hal pertama baginya. Biasanya ia hanya melihat itu dari film-film yang ia tonton. Namun sekarang ia bisa melihatnya sendiri.
Clara menggigit bibir bawahnya. Sudah entah yang keberapa kalinya ia menggigit bibirnya ini. Dan jika terus berlanjut, mungkin bibirnya akan terluka.
Clara mengusap wajahnya kasar, "Ya ampun, gue mau nyentuh ini..." bisik Clara nyaris gila. Ia bahkan menjulurkan tangannya namun kembali ia tarik.
"Keluarlah. Kau tak lelah berjongkok di bawah sana?"
Deg!
Clara terdiam. Ia membeku di tempatnya. Apa tadi? Mark sedang bicara dengan siapa? Atau apa ia salah dengar? Clara melirik ke sana ke mari dan tak ada siapa-siapa.
Jantungnya bergemuruh. Ia tak ketahuan bukan? Posisinya masih aman bukan. Bisiknya membatin. Namun ia seketika nyaris terpekik saat wajah Mark muncul di hadapannya.
"Atau kau mau menyentuh milikku?" Ucap Mark dengan santainya dan jangan lupakan sedikit senyuman tipis di bibir pria itu.
"Ma--Mark."
"Hai.. Kau puas melihat permainanku dengan mamimu?"
MAMPUS KAU CLARA.....
-*****-





