Matahari baru saja menampakkan dirinya di ufuk timur, menyelimuti kota dengan sinar lembut yang berangsur-angsur mengusir kegelapan malam. Di sebuah kamar hotel mewah yang sunyi, Nina terbangun dari tidurnya dengan perasaan campur aduk. Cahaya pagi yang masuk melalui tirai tipis terasa menyilaukan, membuatnya meringis kecil saat mencoba membuka mata. Sejenak, ia lupa di mana dirinya berada, namun ketika ingatannya kembali, rasa sesak di dadanya pun mengemuka.
Di sebelahnya, Andi masih tertidur pulas, napasnya teratur dan tenang. Nina menatapnya sejenak, memerhatikan raut wajah pria yang telah memberinya begitu banyak, namun sekaligus menyisakan perasaan hampa yang sulit dijelaskan.
Ia perlahan bangkit dari ranjang, berusaha untuk tidak membuat suara yang bisa membangunkan Andi. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena malam panjang yang baru saja ia lalui, tetapi juga karena beban pikiran yang tak kunjung hilang sejak pertemuan mereka.
Nina mengenakan kembali pakaiannya yang tergeletak di lantai dengan gerakan pelan. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah ada sesuatu yang mengikat hatinya, mencegahnya untuk benar-benar meninggalkan tempat ini. Ia meraih tasnya yang berada di sudut ruangan, kemudian berhenti sejenak, menatap sosok Andi yang masih terlelap.
"Aku harus pergi," bisik Nina pelan, meskipun ia tahu Andi tak akan mendengarnya.
Dengan hati-hati, ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar, meninggalkan Andi sendirian di kamar yang sunyi. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Nina menghela napas panjang, merasa beban di dadanya sedikit berkurang. Ia berjalan melewati lorong hotel yang sepi, menuju lift yang akan membawanya ke lobi.
Di dalam lift, Nina menatap bayangannya di cermin yang besar. Wajahnya terlihat lelah, dengan mata yang sedikit bengkak akibat kurang tidur. Ia mencoba merapikan rambutnya yang kusut, namun hasilnya tak seberapa. Pikirannya sudah mulai beralih ke hal lain—ke kehidupannya yang nyata, yang menanti di luar sana.
Saat tiba di lobi, Nina melangkah keluar dengan cepat, berusaha menghindari tatapan penasaran dari petugas hotel. Di luar, udara pagi yang segar menyambutnya, sedikit mengurangi rasa penat yang menggelayuti tubuhnya. Ia melangkah menuju trotoar, mencoba memanggil taksi untuk segera membawanya pulang.
Setelah beberapa menit menunggu, sebuah taksi berhenti di depannya. Nina segera masuk dan menyebutkan alamat rumahnya. Sepanjang perjalanan, ia hanya terdiam, memandang keluar jendela dengan pikiran yang berkecamuk. Apa yang baru saja ia lalui semalam terasa seperti mimpi yang tidak nyata, namun bekas sentuhan Andi di tubuhnya masih terasa, mengingatkannya bahwa semua itu benar-benar terjadi.
Taksi melaju di jalanan yang masih sepi, mengantarkannya pulang ke rumah yang ia tinggali seorang diri. Rumah kecil yang sederhana, jauh dari kemewahan hotel tempatnya menginap semalam. Setibanya di rumah, Nina segera membuka pintu dan masuk ke dalam, meletakkan tasnya di meja dan melangkah langsung ke kamar mandi.
Ia merasa kotor, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Tubuhnya penuh dengan keringat dan sisa-sisa dari malam sebelumnya, membuatnya merasa tidak nyaman. Tanpa membuang waktu, Nina menyalakan shower dan mulai membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Air yang mengalir di tubuhnya membawa sedikit rasa lega, namun tidak cukup untuk menghapus perasaan bersalah yang kini menguasai hatinya.
Di bawah aliran air, Nina mencoba menenangkan pikirannya. Ia tahu bahwa keputusan yang ia ambil tidak akan mudah, namun ia juga tahu bahwa ini adalah jalan yang ia pilih sendiri. Andi telah memberinya sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan dari orang lain—sebuah kehidupan yang lebih baik, meski dengan harga yang mahal.
Setelah selesai mandi, Nina keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian bersih. Ia memeriksa jam di ponselnya, menyadari bahwa ia harus segera berangkat ke kampus jika tidak ingin terlambat. Dengan cepat, ia mengemas buku-bukunya dan bersiap untuk pergi. Namun sebelum keluar dari rumah, ia berhenti sejenak, menatap bayangannya di cermin.
"Aku bisa melakukannya," gumam Nina pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
***
Perjalanan ke kampus terasa lebih panjang dari biasanya. Nina duduk di dalam angkutan umum, dikelilingi oleh suara hiruk pikuk jalanan yang mulai dipadati kendaraan. Namun, pikirannya masih melayang ke tempat lain—ke hotel, ke Andi, dan ke keputusan yang telah ia buat.
Sesampainya di kampus, Nina segera menuju ke kelasnya. Kampus mulai ramai dengan mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Beberapa teman sekelasnya menyapa Nina, namun ia hanya membalas dengan senyuman kecil, berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan kacau yang ia rasakan. Ia berusaha memasang wajah tenang, meskipun di dalam hatinya, badai emosi masih bergejolak.
Di dalam kelas, Nina berusaha fokus pada mata kuliah yang sedang berlangsung. Dosen menjelaskan materi dengan penuh semangat, namun kata-katanya hanya masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan Nina. Ia merasa sulit untuk benar-benar fokus, pikirannya masih terganggu oleh bayangan Andi dan apa yang telah terjadi semalam.
Setelah beberapa jam, kelas akhirnya selesai. Nina merasa lega bisa keluar dari ruangan itu, berharap udara segar bisa sedikit menghilangkan kekacauan di pikirannya. Ia berjalan keluar dari gedung kuliah, menuju taman kampus yang biasa ia kunjungi untuk menenangkan diri.
Nina duduk di bangku taman, membiarkan angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya. Ia memejamkan mata, mencoba untuk tidak memikirkan apa pun. Namun, bayangan Andi dan suara bisikan lembutnya masih terus menghantuinya. Ia merasa bingung dengan perasaannya sendiri—di satu sisi, ia merasa bersalah, namun di sisi lain, ada rasa nyaman yang tak bisa ia pungkiri.
Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi, memecah keheningan di sekitarnya. Nina membuka pesan yang masuk dan melihat nama Andi tertera di layar. Pesan singkat itu membuat jantungnya berdebar lebih kencang.
*"Nina, bagaimana kabarmu? Apakah kau sudah pulang dengan selamat? Aku harap kau baik-baik saja."*
Nina menatap layar ponselnya, merasa ragu untuk menjawab. Namun setelah beberapa detik, ia memutuskan untuk mengetik balasan.
*"Saya baik-baik saja, Pak Andi. Terima kasih atas perhatiannya."*
Pesan itu dikirimkan, dan Nina menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa ini baru permulaan dari hubungan mereka yang rumit. Namun, Nina juga sadar bahwa ia telah memilih jalan ini, dan kini tidak ada jalan untuk kembali.
***
Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi yang berlalu begitu saja. Nina berusaha menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal, namun bayangan Andi terus menghantui pikirannya. Setiap kali ponselnya berbunyi, ia selalu berharap itu adalah pesan dari Andi, meskipun ia tahu bahwa perasaan ini tidak seharusnya ada.





