SUGAR BEBS

Detik sebelum dibacakan surat wasiat.

06 Juni 2014

Sudah berlalu tiga hari sejak Hanif, istri, beserta anak sulungnya dimakamkan. Berita tentang mereka pun tersebar seantero Indonesia. Pemilik usaha ritel kedua terbesar di Indonesia, meninggal dengan cara yang tragis, banyak memenuhi kolom surat kabar juga laman berita online. Pun siaran di TV.

Hanya saja, Xena tak mau mendengar semuanya. Bagi gadis itu, mereka bertiga masih ada. Masih dalam meeting penting yang dibahas di Pandeglang. Xena ingat, kunjungan mereka juga diperuntuk untuk pabrik baru yang sebentar lagi diresmikan.

Suara pintu kamarnya terketuk yang membuat Xena mengangkat wajahnya dari bantal. Ia tak ingin beranjak dari sana sama sekali. Sekadar makan saja, Narti yang siapkan dan memastikan kalau nona mudanya makan dengan benar. Walau sukar sekali membujuknya.

“Masuk aja, Mbak,” sahut Xena dengan sedikit mengencangkan suaranya. Ia pikir, Narti yang masuk ke dalam namun ia salah sangka. Riga yang masuk dengan pandangan tajam ke arahnya. Tanpa ragu, pria itu pun tanpa permisi duduk di tepi ranjangnya. Tak jauh dari duduk Xena yang kini menatap Riga penuh curiga. “Kak Riga,” cicitnya pelan sekadar memastikan kalau benar pria yang ia kenal ini, orang yang sama.

“Pagi ini kenapa enggak mau makan?”

Xena kembali menundukkan wajah. Menggeleng pelan sebagai jawaban.

“Makan, Xena.”

Lagi-lagi gelengan Xena beri. “Pengin ikut Mommy dan Kak Val aja.”

Satu hal yang mulai kini Xena ingat mengenai perlakuan Riga padanya. Tanpa ragu, Riga mengendongnya. Membuat Xena menjerit tapi diabaikan. Hingga ia didudukkan dalam sedan mewan yang ia tau milik pria bermata tajam itu, baru lah Riga bicara. “Kita makan.”

“Tapi Xena enggak mau!”

“Makan, Xena!”

Untuk kali pertama, Riga menggunakan suara penuh domin@sinya. Membuat Xena ciut nyalinya mendadak. Yang kini ia lakukan hanya mengetatkan pegangannya pada seat belt yang sudah melingkari tubuhnya.

Sepanjang jalan, Xena membisu pun Riga. Lengannya yang kokoh mencengkeram kemudi dengan eratnya tanpa Xena tau, ada sesal yang merayap di hatinya karena nada bicaranya tadi. Hingga deru mesin mobilnya ia matikan pertanda sudah sampai di lokasi tujuannya, gadis itu tak mau mengeluarkan kata.

“Kita sampai.” Riga melepas seat belt dan menoleh sekilas pada Xena yang juga mengimitasi geraknya. “Maaf kalau saya bicara kasar tadi.”

Ucapan itu sukses membuat Xena menoleh, membuat mereka bersemuka akhirnya. Mata setajam elang tadi sudah berganti dengan tatapan demikian teduh. Xena ingat, tatapan itu selalu Riga beri saat dirinya ada di antara Vally juga tunangannya itu. Iya. Riga adalah tunangan dari sang kakak. Yang Xena rasa, sama-sama merasakan rasa sakit akan kehilangan orang yang sama.

“Iya, Kak. Xena juga minta maaf bikin susah.”

Sebuah usapan lembut Xena terima, membuatnya memejam sebentar. Menikmati. “Vally bilang, kamu suka bubur kampiun di sini.”

Lalu mata Xena mengedar dan akhirnya ia terkekeh. Tersenyum girang karena hal ini sedikit banyak membuat sedihnya berkurang jauh. “Makasih, Kak Riga.”

“Kita makan, ya. Nanti siang, ada pembacaan akta waris dari Pak Ronald. Kenal, kan?”

Senyumnya lindap saat itu juga

***

Tiga hari setelah meninggalnya orang tua Xena.

06 Juni 2014

Riga tak main-main memberinya informasi. Saat mereka tiba, di rumahnya sudah penuh dengan anggota keluarga baik dari pihak ibu juga ayahnya. Mereka semua menatap Xena penuh minat. Seperti siap memberi kepalanya untuk dikekang oleh gadis lima belas tahun itu. Xena jadi bergidik ngeri menyaksikan mereka semua. Mengencangkan genggaman tangannya pada Riga yang tak beranjak dari mana-mana kecuali sisinya.

“Aku takut, Kak,” bisik Xena pelan saat mereka sudah duduk di ruang tamu. Sebagian Xena mengenalnya, sebagian lagi tidak.

Riga yang mendengar keluhan Xena, sedikit menunduk ke arahnya. Berusaha menenangkannya. “Ada saya. Kamu tenang saja.”

Dan mereka menempatkan diri pada posisi tepat di dekat seseorang yang Xena kenal sebagai rekan kerja ayahnya, Ronald Nasution. Ia sempat berjabat tangan dan mendengar ucapan bela sungkawa dari bibir pria paruh baya itu.

“Semuanya sudah berkumpul saya rasa.” Ronald mulai angkat bicara, membuat kasak kusuk yang sejak tadi ia dengar, terhenti. Hening kemudian menyapa semua yang ada di sana termasuk saat ia melirik ke arah putri bungsu dari orang yang ia segani selama ini. bukan hanya sebatas rekan kerja, hubungannya dengan keluarga Dirdja yang satu ini, lekat sekali. Bahkan Ronald tak pernah segan untuk dimintai bantuan Vally saking menganggap gadis itu seperti anaknya sendiri.

Mengetahui Hanif meninggal dengan cara yang tragis seperti ini, timbul hasrat yang berbeda dalam benaknya. Mungkin, setelah ini pekerjaannya akan berat tapi ia siap. Apalagi saat ia teringat seminggu lalu, Hanif dengan konyolnya mengirimkan satu surel. Yang membuatnya datang ke kantor sahabatnya itu tanpa ragu. Menerjangnya dengan banyak pertanyaan yang membuat dirinya keheranan luar biasa.

“Surat wasiat itu perlu, Ron. Masa seperti itu saja enggak tau?” kelakar Hanif kala itu. Tadinya, Ronald tanggapi seloroan itu dengan senyum lega tapi mendapati kabar tiga hari lalu, membuatnya merenung. Apa itu jelas seperti pertanda?

“Saya, Ronald Nasution, dengan ini menyatakan bahwa telah diberikan kuasa untuk dan atas nama Hanif Dinandirdja, SE, sebagai pengacara pribadinya. Dalam hal ini, bekerja di bawah naungan pribadi untuk dan atas nama keluarga inti Dirdja. Meliputi Bapak Hanif Dinandirdja selaku pemberi kuasa, beserta Nyonya Rossie Putri Sanjaya dan dua putri mereka, Vallerie Leah Dinandirdja dan Roxeanne Arizona Dinandirdja.”

Satu per satu orang yang ada di sana, Ronald tatap. Mereka semua memilih menunggu karena Ronald sendiri tau, apa yang mereka tunggu. Rasanya ia ingin tersenyum girang tapi juga disertai takut yang amat.

“Dan atas kuasa yang diberikan, dengan ini saya secara sah dapat membacakan surat wasiat yang ditulis pemberi kuasa, dalam hal ini Bapak Hanif Dinandirdja, SE.” Ronald menarik napasnya pelan. Surat wasiat itu memang pernah ia baca, segala point yang tertera di sana membuat keningnya berkerut heran tapi setelah mendapat penjabaran yang cukup masuk akal, di mana ia sendiri menyetujui pemikiran seorang Hanif, ia buka perlahan.

“Selamat pagi, semua saudara dan saudariku. Dan terkhususkan untuk putriku tercinta, Xena, apa kabar? Papa harap, kamu senantiasa sehat dan bahagia. Tak ada yang lebih Papa inginkan kecuali senyum kamu yang sehangat mentari pagi. Juga Vally, putri kebanggaan Papa sampai kapanpun. Jika seorang Ronald sudah membacakan surat ini di depan kalian, artinya Papa sudah bertemu Tuhan. Bahagia bersama-Nya. Untuk istriku tercinta, jangan sedih, bertahan sebentar saja karena aku pasti menjemputmu. Bangun di pagi hari tanpa satu cangkir kopi buatanmu, rasanya hampa.”

Xena mengetatkan genggamannya pada Riga. Dalam bayangnya, senyum sang ayah yang hangat, lekat sekali dalam ingatannya. Duduk bersantai di sofa kesayangannya sembari membaca majalah bisnis. Ditemani Mommy di sampingnya. Bahagia sekali. Dan kini, bayang itu tak lagi nyata di depannya. Sungguh, ini membuat Xena kembali sesak.

Telinganya sengaja ia tulikan tak ingin mendengar apa-apa selain merajut kenangan yang tak akan ia kaburkan sama sekali dalam benaknya. Satu per satu nama keluarga dari pihak sang papa, mendapat bagiannya. Ia tak peduli. Pekerjaan ayahnya pun ia tak tau karena Vally selalu melarangnya untuk tau lebih jauh selain alamat kantor ayahnya pun dirinya.

Katanya, “Kamu lulus SMA dulu baru Kak Val beritahu, betapa bisnis Papa harus kamu tau dengan baik karena kita Dirdja.”

“Kenapa kalau kita Dirdja?”

Xena ingat, Vally tergelak dengan pertanyaannya. “Kita punya tanggung jawab besar, Xena. Nanti kamu pasti tau. Sekarang, kamu puas-puasin semasa SMA karena enggak akan kembali.”

Kening Xena berkerut.

“Enggak ingin berkencan dengan teman sekelas atau cowok yang naksir kamu memangnya?” goda Vally saat itu. Membuat xena merinding seketika.

“Ih, aku enggak minat.”

“Ah, kalau cowoknya sekeren Riga pasti kamu mau. Ya, kan?”

Gantian Xena yang tergelak. “Mungkin. Kak Riga memang keren, sih. Kak Val beruntung banget dicintai Kak Riga.”

Vally mengangguk penuh binar di matanya. “Suatu saat, akan datang pria seperti Riga buat kamu. Kakak yakin banget.”

Hingga ia merasa ada yang menyentuh tepat di bahunya. Membuat lamun itu buyar begitu saja. Xena ingin memaki siapa pun yang menyentuhnya, namun saat ia menoleh, didapati Riga di sana dengan tampang kaku.

“Kamu harus siap, Aldrich Riga Angkasa. Ini amanat dan kamu harus jalankan.”

Lalu yang Xena ingat, banyak suara mencemooh serta tak terima yang bersumber dari kumpulan saudara sang ayah.

“Enggak bisa seperti itu dong! Pria ini hanya orang luar! Enggak mungkin memimpin Djena!!!”

“Benar! Riga orang luar. Enggak pantas menempatkan posisi tertinggi di sana. Lalu kami ini apa? Pelayannya? Tak sudi!!!”

“Kami tak masalah kalau Djena dipimpin Xena nantinya. Walau sekarang Xena masih kecil tapi paling tidak, nantinya Djena akan kembali ke tangan yang sah. Selama masa tunggu, kenapa bukan kami, saudara yang sah dari seorang Hanif yang menggantikan?”

“Ah, jangan-jangan kau, Ronald, yang mengada-ada dengan surat wasiat itu! Akui saja, lah!”

Xena menatap Riga penuh tanya sementara pria yang masih belum mau melepas tangannya, masih menatap satu per satu semua orang yang ada di depannya. Xena tau, aura kelam yang Riga tampilkan dalam sorot matanya sungguh menakutkan. Seolah sedang membuat banyak perhitungan atas apa yang ia dengar kini.

“CUKUP!” Suara Ronald yang cukup kencang menginterupsi. Hening sontak hadir tanpa aba-aba di sana. Masing-masing dari mereka saling berpandangan juga memberi tatapan tajam ke arah Xena dan Riga. Oh, jangan lupakan tatapan tak suka yang demikian kentara yang dilempar begitu saja ke arah Riga.

“Surat ini sah dibuat sebelum terjadi hal yang sangat membuat kita berduka. Juga point yang tertera di sana cukup jelas. Jikalau terjadi hal di luar kendali, seorang Vallerie tidak bisa memimpin roda Djena, maka Aldrich Riga Angkasa sementara waktu yang akan mengurus semuanya. Pembagian dividen akan tetap berjalan sebagaimana mestinya diawasi birokrasi hukum yang berjalan. Laporan setiap bulan Xena harus mengetahuinya. Hingga Xena cukup usia, 23 tahun nantinya.

Xena melongo. Baginya, usaha sang ayah sama sekali tak ia ketahui. Dan kini? Ah, itu belum seberapa dibanding dengan perkataan seorang Ronald di akhir surat wasiat itu dibacakan.

“Dan sejak surat ini dibacakan, wali hukum yang akan mengurus Xena hingga bisa memimpin Djena nantinya, ada di tangan Aldrich Riga Angkasa.”

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.