"Yes!!! Makasih ya kakakku yang tercinta. Yang paling cantik. Terima kasih untuk semuanya.” ucap Anggun sambil menerima dua buah paper bag yang diberikan Liontin padanya.
“Kok cepat banget pulangnya kak.” lanjutnya pada Sandrian setelah mencium pipi sang kakak.
“Ya… bagaimana mau lama -lama. Baru selangkah keluar dari pintu sudah diberi ultimatum. Dipulangkan tepat pada waktunya.”
Ketiga lalu tertawa bersama -sama.
“Hmmm… by the way, kenapa paper bag nya ada dua kak?” tanya sambil memandang wajah Sandrian dan Liontin berganti-gantian.
“Hmmm jadi begini loh Nggun. Satunya itu Martabak bdari kakak, yang paper bag warna biru. Sedangkan paper bag yang warna merah,itu adalah humberger dari kak Sandrian.” jawab Liontin sambil tersenyum.
Anggun menatap wajah Sandrian.
“Benarkah itu Kak. Dalam rangka apa ini?”
“Sebagai ucapan terima kasih karena sudah diizinkan untuk jalan sama kakaknya.”
“Hmmmm… nyogok nih ceritanya.”
“Nggak kok. Ini tulus.”
Anggun langsung memeluk Sandrian sambil tertawa.
“Terima kasih calon kakak ipar.”
Sandrian pun ikut tertawa sambil mengacak -ngacak rambut Anggun.
Dia jadi teringat pada adik perempuan satu -satunya yang sedang berada di kota E.
Setiap kali bertemu pasti selalu suka manja -manja padanya seperti itu.
“Ehhh maaf ya Kak Sandrian. Entar malah kak Liontin jadi nervous lagi.”
Anggun lalu melepaskan pelukannya.
“Ah nggak kok. Masa sama adik sendiri nervous. Oya, kamu mau masuk dulu San.”
“Hmmm next time aja Sweetheart. Sepertinya akan turun hujan lagi, jadi aku pulang dulu.”
“Iya. Tapi janji ya, lain kali singgah sebentar dulu. Ok.”
“Iya aku janji Sayang. Hmmm aku pulang dulu ya. I love you.”
Setelah mengecup kening Liontin, Sandrian melambaikan tangannya pada Anggun.
“Bye… bye adik ipar.”
“Ok see you kakak ipar.”
Baru saja Sandrian pergi, sebuah Audi hitam pekat memasuki halaman rumah bertingkat dua itu.
Lalu terlihat Wulan dan Mama Santy turun dengan wajah ceriah, disusul oleh Bobby.
“Ehhh baru dari mana kamu?” tanya mama Santy sambil menatap Liontin penuh selidik.
“Aku baru dari danau Ma. Ak…”
“Oh begitu ya. Saat kakakmu kerja kamu malah seenaknya pergi luntang lantung. Cepat masuk. Buatkan minuman untuk Wulan dan Nak Bobby. Mama juga pengen kopi hitam.”
Menatap wajah Bobby dengan ramah lalu katanya lagi, “Nak Bobby mau minum apa?”
“Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Aku juga mau kopi hitam. Panas.”
“Tuh kamu dengar sendiri. Nak Bobby juga mau kopi hitam. Jadi siapkan kopi hitam dua gelas. Sama susu hangat untuk Wulan. Bawa juga dengan kacang goreng di toples.”
“Ma. Kan ada bi Siti, kenapa harus kak Liontin. Ka…”
“Jangan membantah Anggun. Kalau sudah gadis itu jangan terlalu manja. Harus kerja. Jadi terbiasa. Tidak bakal malu -maluin kalau sudah kawin nanti.”
“Kalau begitu kak Wulan juga harus kerja. Bukannya dia juga sudah gadis? Mama jangan pilih kasih dong. Seolah-olah ka…”
“Cukup Anggun. Wulan itu sekarang sudah jadi artis jadi cantiknya harus maksimal. Tapi kalau kamu mau, sana, bantu Liontin. Jangan membantah lagi. Malu dong sama Nak Bobby nya. Dia kan tamu di sini.”
Liontin masuk langsung ke dapur,disusul oleh Anggun.
Sementara itu Wulan bersama mama Santy ke ruang tamu,menemani Bobby.
“Kak. Seharusnya kak Liontin jangan menurut saja. Kak Li…”
“Sttt… sudahlah Nggun. Apa yang dikatakan oleh mama itu benar. Kita harus belajar kerja dari sekarang. Jadi saat kita sudah menikah nanti, kita sudah bisa mengurus keluarga kita dengan baik. Mengurus suami dan anak -anak kita dengan baik.”
Anggun akhirnya diam saja. Tidak banyak komentar lagi.
Hujan pun mulai menetes membasahi bumi.
Tidak hanya gerimis saja tapi langsung lebat.
“Apa itu?” tanya Wulan yang baru saja masuk sambil menunjuk ke arah kedua paper bag yang diletakkan oleh Anggun di atas lemari, berdampingan dengan toples gula dan kopi.
“Itu punyaku Kak. Martabak dan Humberger pemberian kak Liontin dan kak Sandrian. Kakak jangan mengambilnya.”
“Halah… makanan murahan. Aku alergi makanan murahan seperti itu. Aku ini kan artis. Entar bisa rusak tubuhku.”
Wulan melenggang keluar sambil mencibir.
*** *** ***
Pukul 00.16 menit…
Liontin terbangun dari tidurnya.
Dia merasa sangat haus.
Ketika dia mengambil botol air yang ada di atas meja kecilnya, ternyata botol itu kosong.
Dia lupa mengisinya.
Airnya dia memutuskan untuk ke dapur untuk minum air di sana sekalian mengisi air minum ke botolnya.
Di luar masih hujan walaupun tak segera sore tadi.
Dengan langkah cepat dia langsung menuju dapur setelah menyalakan lampunya dulu lampu tengah.
Tak lupa pula dia menyalakan lampu dapur.
Menuangkan air dari dalam ceret ke dalam gelas hingga setengah gelas lalu meneguknya hingga habis.
Setelah itu dia mengisi air ke dalam botol hingga penuh.
“Ssshhhh awww…”
Liontin meringis saat merasa sesuatu yang terdesak di bawah sana. Dia kebelet pipis.
Ingin ke kamar dan masuk ke kamar mandi miliknya di sana tapi ini sudah emergency.
Akhirnya dia memutuskan untuk ke kamar mandi untuk tamu saja.
Meletakkan air botol air minumnya di atas meja lalu berlari kecil ke kamar mandi.
Telinganya menangkap suara dari ruang tamu.
Kriet… kriet… kriet…
Seperti suara ranjang bergoyang.
Keningnya berkerut sesaat tapi… dia lalu menepuk keningnya sendiri.
Dia lalu teringat kalau Bobby Lesmana tadi tidak pulang karena hujan sangat lebat dan tadinya sempat mati lampu.
Meneruskan langkah ke kamar mandi dan menuntaskan hajatnya.
Ah lega rasanya.
Setelah membersihkan diri dan toilet, Liontin kembali ke kamarnya.
Tapi langkhnya terhenti di depan kamar tamu.
“Ahhh… ahhhh… teruskan sayang. Ak… ak.. Oh… sayang. In… ini enak sekali. Nik.. Nimatnya.”
Suara itu yang menghentikan langkah Liontin.
“Suara itu lagi?” gumamnya sambil menempelkan telinganya ke daun pintu tapi tidak suara terdengar lagi.
Liontin menghela nafas dan menggeleng --gelengkan kepalanya.
“Oh my God Liontin. Ada apa dengan dirimu. Gara -gara suara itu kamu jadi seperti ini? Kemana mana telinga kamu seperti mendengar suara itu.”
Liontin lalu membalikkan badannya dan hendak kembali ke kamarnya tapi…
“Ouhhhh… hentak lebih dalam lagi Sa… yang. Begitu. Be.. Begitu. Ak… Aku suka. Ouhhhh…*
Suara itu lagi. Dan suara itu seperti… suara mama Santy.
Lalu terdengar suara laki-laki.
“Yes. Yes.. You fucking bitch. Legitnya. Nikmatnya….”
Dan…
Kriet… kriet… kriet… dug… dug…
Kriet… kriet.. Kriet… dug… dug…
Itu suar ranjang. Dan sepertinya ranjang itu terlalu keras bergoyang hingga membentur tembok.
Posisi ranjang memang sedikit mepet ke tembok.
Dug… dug… dug…
Nafas Liontin ikut tersengal - mendengar suara itu.
Bukan karena apa -apa. Tapi dia penasaran siapa-siapa yang ada di dalam?
Bukannya Bobby tidur di ruang tamu? Artinya suara laki -laki itu pasti suara Bobby. Lalu siapa perempuannya?
Ingin merekam suara itu tapi dia tidak membawa ponselnya.
“Liontin!!!”
Suara Wulan memanggilnya dari arah belakang membuat Liontin terkejut.
Lalu perlahan mendekati sang kakak.
“Kamu ngapain di situ? Kamu mau ngintipin Bobby tidur ya?”
“Oh nggak begitu kak. Tadi aku mau ambil air minum di dapur karena aku lupa bawa air. Dan aku mendengar suara di kamar tamu. Suara ranjang berderit dan s…”
“Ya tentu saja Lion. Kan ada Bobby di dalam.”
“Tapi kak. S…”
“Sudahlah Liontin. Kakak mau kembali ke kamar. Kamu juga. Ayo. Sana masuk.”
“Kakak? Lagi ngapain?”
“Kakak juga baru habis minum air di dapur. Lupa bawa air minum. Cepat masuk.”
Liontin akhirnya masuk kembali ke kamarnya dengan seribu pertanyaan di benaknya.
Bersambung…





