Setelah berkata seperti itu Anneth berniat pergi dari sana. Muak jika harus menghadapi pria asing yang bernama Sean itu. Bukannya dia sok jual mahal. Anneth hanya tidak ingin seseorang datang dengan membawa maksud tertentu. Sangat mudah ditebak kalau pria ini memiliki keinginan untuk mengenal lebih pada dirinya. Dan inilah yang sedang Anneth hindari.
Sejak kejadian menyedihkan waktu itu, Anneth telah bersumpah untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan yang namanya laki-laki. Tapi bukan berarti itu membuatnya harus jatuh cinta pada sesama wanita. Tidak seperti itu. Anneth trauma, jujur dia mengakuinya. Hal inilah yang membuatnya selalu bersikap dingin pada laki-laki yang ingin mendekati. Hatinya sudah terkunci rapat.
"Nona, percaya tidak kalau aku akan langsung memerintahkan seseorang untuk menyelidiki latar belakangmu jika kau meninggalkan aku seperti ini. Duduklah dan mari kita bicara. Just fun. Oke?" ucap Sean agak tersinggung melihat wanita cantik ini hendak pergi meninggalkannya. Dia merasa dibuang.
Langkah Anneth terhenti. Ini, ini yang paling dia benci. Dengan raut wajah yang terlihat sangat buruk dia terpaksa kembali duduk di tempat semula. Setelah itu Anneth bersedekap tangan, menatap dingin ke arah pria yang tengah memilin bibirnya. Mirip b*jingan.
"Relaks, baby. Jangan tegang begitu. Nanti cantikmu hilang," ledek Sean yang kini sudah tersenyum lebar. Kekesalannya hilang entah kemana.
"Berhenti mengatakan omong kosong dan cepat jelaskan apa maksudmu ingin meminta seseorang untuk menyelidiki latar belakangku!" sahut Anneth tanpa basa-basi.
"Tidak ada maksud apapun, Nona. Aku murni hanya ingin berkenalan saja denganmu. Sungguh!"
"Maaf, aku tidak membuka jasa pengenalan diri. Kau silahkan cari wanita lain saja yang bisa dijadikan obyek untuk bersenang-senang. Permisi!"
Jika tadi Sean merasa tersinggung, kali ini tidak. Dia malah tertawa melihat wanita itu pergi dengan raut wajah yang begitu kesal. Ada kepuasan tersendiri yang Sean dapatkan setelah membalas penghinaan yang tadi dia dapatkan.
"Hmmm, sayang sekali aku gagal berkenalan dengannya. Padahal dia adalah wanita pertama yang berhasil membuat gairahku bangkit sejak kembali ke negara ini," ujar Sean menyayangkan apa yang terjadi. Dia menarik gelas milik wanita itu kemudian iseng mencicipi isinya. Dan begitu kopi yang masih setengah panas masuk ke dalam mulutnya, Sean dibuat ternganga syok mengetahui rasa dari minuman tersebut. "Brengsek! Apa-apaan wanita itu. Kenapa dia harus memesan kopi sepahit ini. Lidahnya sudah mati rasa apa bagaimana!"
Rupanya kopi yang tadi dinikmati oleh wanita dingin itu rasanya sangat luar biasa pahit. Cepat-cepat Sean memanggil waiters dan memesan segelas minuman yang cukup manis untuk menghilangkan rasa pahit yang seperti membakar lidah.
"Tunggu dulu. Setahuku para wanita sangat menyukai makanan dan juga minuman yang manis, tapi kenapa wanita itu tidak? Apa yang salah darinya? Mungkinkah dia adalah korban trauma dari masalalu? Astaga, misterius sekali," gumam Sean menerka-nerka. Dia kemudian menoleh ke arah pintu masuk sebelum akhirnya menampilkan satu senyum aneh di bibir. "Aku jadi penasaran siapa dia sebenarnya. Dari cara bicara, riasan, dan juga barang yang dikenakan sepertinya dia bukan berasal dari keluarga sembarangan. Hmmm, sepertinya aku bisa menggunakan wanita ini untuk menghentikan perjodohan yang ingin dilakukan oleh Ibu. Ya, benar. Aku harus segera mencari tahu seluk beluk wanita itu secepatnya!"
Akan tetapi yang jadi masalah adalah kemana Sean harus mencari tahu tentang latar belakang wanita tersebut? Sedangkan dia sendiri baru satu minggu pindah ke negara ini. Mungkinkah dia akan berhasil? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
***





