Suami Mokondoku Membawa Madu

Mira masih menatap ke depan sana, pandangannya mulai terlihat buram. Namun dia kembali bertekat untuk terlihat tegar di mata anak anaknya, Mira mencoba untuk melihat ke atas mobilnya untuk menghalau air mata yang sudah ingin keluar itu, beruntung dia masih bisa mengendalikannya.

“Kita mau ke mana ini nak?” tanya Mira dengan lirihnya, suaranya sudak mulai serak namun sebisa mungkin dia membernarkan suaranya.

“Aku pengen ke tempat makan langganan kita bu,” jawab Imran yang hanya diiyakan oleh Mira. Perempuan itu segera menginjak pedal gasnya, kecepatannya dia tambah supaya lebih cepat sampai di lokasi yang diinginkan putranya itu.

Setelah sampai di tempat parkir, Mira keluar lebih dulu. Dia tidak melihat ke arah sekitanya, perempuan itu lebih fokus ke papan besar yang menyambut kedatangannya. Dia ingat betul, waktu itu pertama kali dia makan di sini bersama Puri. Bukannya menjadi makan malam yang romantis, yang ada dia malah disuruh mengasuh anak-anak dari si Yusno.

"Kejutan!" seru seseorang sambil memeluk tubuh Mira.

"Ada apa ini? tumben tidak ngabari dulu kalau mau pulang," ucap Mira sambil membalikkan badannya. Dia begitu senang melihat kedua gadis yang berada di depannya, bahkan air matanya sampir luluh begitu saja.

"Nanti tidak jadi kejutan dong bu, duduk sini bu. Aku sudah pesankan makanan kesukaan kalian," ucap seorang gadis yang memakai hijab sambil mengandeng tangan ibunya itu.

"Banyak ini makananya? Apa kita habis nanti? Owh iya gimana ngajarnya Zahra?" Kebetulan Zahra sudah keterima CPNS tahun kemaren, dia ditempatkan di kabupaten sebelah sehingga dia sudah jarang berkunjung lagi menemui Mira, bahkan akhir pekan Mira sering melarang Zahra datang karena dia hanya libur di hari sabtu saja.

"Alhamdulillah bu, lancar. Owh iya ada kejutan lagi loh bu," ucap Zahra sambil menggengam erat kedua tangan ibunya itu.

Belum selesai putri sulung Mira itu berkata, dari belakang sudah ada yang memeluk tubuh Mira. Dari lengan yang hanya memakan baju pendek itu, Mira langsung mengenalinya. Apalagi bau parfum yang sangat dia hafal, membuat perempuan itupun langsung menyungginkan senyumnya.

"Ibu, huhuhu. Bagaimana ceritanya? Kenapa ayah bisa seperti itu? Waktu untuk kita saja dari dulu sudah tak ada. Sekarang malah bersenang-senang dengan_ huhuhu ibu," ucap gadis itu sambil menangis tersedu.

"Sayang, liat ibu," kata Mira sambil membalikkan badan dan memegang kedua pipi putri keduanya itu.

Matanya terlihat bengkak, hidungnya merah. Bahkan sesekali dia menarik ingusnya. Gadis itu bernama Nahla, putri keduaku yang paling cengeng namun sangat perngertian dan perasa. Tingkahnya yang paling manja, membuat Mira masing sering menganggapnya seperti anak kecil.

"Liatlah ibu, ibu tak apa-apakan? masih baik-baik saja bukan?"

"Ibu_" panggil Nahla sambil memeluk tubuh Mira kembali.

"Tak apa, ayo duduk. Ibu akan ceritakan semuanya," ucap Mira sambil menarik pelan tangan Nahla.

Setelah mereka semua duduk, Mira meminum jus yang sudah tersedia di atas meja. Perempuan itu melihat anak-anak yang ada di depannya satu persatu, mata Zahra sudah memerah, sedangkan Nahla dia menunduk sambil bahunya tergunjang serta isaknya yang makin terdengar, sedangkan Imran terlihat jelas kalau matanya menyimpan amarah.

"Maafkan ibu, ini semua salah ibu. Ibu tak pernah mengira kalau kedekatan om Yusno dengan ayahmu akan membawa dampak besar. Bagaimanapun mereka saudara, ibu tak berhak memisahkannya bukan? Ibu hanya bisa membatasinya, namun kalian juga tahu bukan kalau mereka bekerja di tempat yang sama? waktu mereka bersamapun akan lebih lama lagi," ucap Mira sambil menarik nafasnya secara perlahan.

"Jadi ibu sudah mengetahuinya?" tanya Imran, sedangkan Mira hanya bisa menganggukkan kepalanya.

"Kenapa ibu tidak cerita ke kita?" tanya Nahla dengan lirihnya namun penuh dengan penekanan.

"Ibu kira ayahmu sudah berubah, ternyata malah semakin menjadi," jawab Mira sambil diikuti rasa sesalnya karena tidak bisa menjaga ayah anak-anaknya itu.

"Ibu sanggup menerima semua ini? Kenapa tidak melepaskannya saja?" tanya Zahra secara perlahan.

"Hah...." Mira mencoba meraup semua udara di dekatnya, dadanya sudah mulai terasa berat mengingat kejadian yang dia alami.

"Bu, Ayah tak pernah peduli kepada kita bukan? Ibu masih ingat saat dek Imran dan dek Nahla sakit? Apa yang dilakukan ayah? beliau malah lebih mementingkan membantu om Yusno bukan? mengantarkan anaknya yang lagi sakit, padahal om Yusno sendiri tak menghiraukannya," pelan Zahra mengutarakn isi hatinya sambil mengusap lembut tangan Mira, sebagai tanda untuk mencoba memberi kekuatan kepada ibunya itu.

Imran bangkit dan berjalan pindah duduk ke kursi kosong yang ada di sebelah Mira, dia mengusap lembut pundak ibunya itu. Nahla tidak maukalah, dia juga bangkit dari duduknya lalu memeluk tangan Mira dan duduk di sisi lainnya. Seketika tangis Mira tumpah begitu saja, di dalam hatinya Mira bersakki kalau mereka adalah anak-anak yang berbakti, dengan kasih sayangnya mencoba untuk memberiku kekuatan kepada ibunya yang sedang dalam keadaan terpuruk. Bagaimanapun Mira berjanji kepada dirinya sendiri untuk tetap tegar dan kuat dalam mengatasi masalah ini.

"Bu, bahkan ayah rela menjual mobil hadiah dari ibu hanya untuk om Yusno, modal dia membangun usahanya. Tapi apa? setelah berhasil bahkan mereka malah merendahkan ibu," ucap Nahla sambil memeluk lengan Mira lebih kencang lagi.

"Ada atau tidaknya sosok ayah, tak memberikan pengaruh kepada kita. Karena sejak awal dia sudah menjadi ayah bagi om Yusno bukan kita," Ucap Imran dengan lembut. Namun mampu menusuk hati Mira, air mata Mira semakin deras, dia menyadari kalau sebegitu tadak adanya Puri di hati mereka.

"Ibu berhak bahagia," kata anak sulung Mira sambil menatap lekat wajah ibunya itu..

"Carilah kebahagian ibu," timpal Imran.

"Bila bercerai menjadi salah satu jalannya, kami selalu mendukung keputusan ibu," sambung Nahla.

"Kalian akan selalu mendukung keputusan ibu bukan?"

"Pasti bu," jawab mereka serempak.

"Ibu tidak akan menceraikan ayah, biarlah ayah membayar kewajibannya dengan memberikan hak kepada kalian meski hanya sebatas hak nafkah lahir saja," Jelas Mira dengan terbata.

"Bu, bukankah tanpa itu kebutuhan kita semua masih terpenuhi?" tanya Zahra sambil menatap lekat wajah ibunya itu.

"Betul sayang, tapi hal itu tentu sangat berpengaruh bagi ayah kalian. Setidaknya biaya dia bersenang-senang akan berkurang bukan?" jawab Mira dengan ringannya bahkan dia mencoba untuk mengukir senyum di bibirnya itu.

“Aku sudah mempertimbangkan semuanya. Uang yang dia hambur-hamburkan hanya dari gajinya saja, dulu aku tak pernah mempermasalahkan kalau uang itu untuk kebutuhan pokok dia, tetapi sekarang dari pada uang itu untuk wanita lain lebih baik anaknya sendiri yang menikmatinya. Meskipun anak-anak sudah mempunya usaha sendiri-sendiri, tanpa sepengetahuan ayahnya tentunya,” batin Mira sambil menatap satu persatu wajah putra putrinya itu.

“Kita sepakat untuk menutupi usaha ini dari mas Puri, karena kita tau mas Puri akan selalu menceritakannya kepada mas Yusno yang pada akhirnya mereka akan merongrongnya hingga usaha yang kita lakukan menjadi gulung tikar. Seperti waktu dulu awal kita merintis usaha,” batinnya lagi sambil menerawang kejadian yang telah berlalu itu.

"Ayo kita nikmati hidangan ini," Ajak Mira sambil mengambil sendok yang sudah tersedia.

Berlahan anak-anak mulai duduk ditempatnya, mereka mencoba kembali bersenda gurau sambil menikmati hidangan yang ada. Sesekali mereka mengeluarkan candaan untuk Mira, perempuan itu tahu kalau mereka mencoba menghibur ibunya yang sedang bersedih itu. Meski terasa berat, Mira berusaha untuk tertawa demi mereka.

“Ya, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kalian,” gumam Mira sambil mengepalkan kedua tangannya.

Brak

“Apa-apaan anda!”

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.