Stay With Me (Gaza dan Clara)

Bab 2

Gaza tertunduk lesu. Dia tidak menyangka Clara akan berbuat sejauh ini. Sebelum meninggalkannya, Clara mengancam dirinya untuk tidak melarikan diri. Apalagi dia akan melakukan visum hari ini bersama tim bantuan hukum dari Fakultas Hukum.

Ayah Clara mengatakan, jika dia tidak akan membantu Clara lagi karena dia sangat kecewa atas perbuatan gadis tersebut. Gadis itu memilih jalannya sendiri untuk menyelesaikan kasus ini. Yaitu: Menuntut penyelesaian kasus ini melalui lembaga hukum fakultas.

Meminta bantuan hukum kepada tim tersebut, tidaklah sulit bagi Clara sebab dia adalah bagian dari tim tersebut. Sebenarnya Gaza senang atas tidakan Clara. Apabila ini berhasil, penyidik akan menangani kasus ini dan semua akan terungkap. Namun, di benak Gaza terlintas wajah ayah Clara. Dia seorang anggota dewan yang terkenal dengan wibawanya.

Tuan Renaldi Wijaya Kusuma. Sosok anggota dewan yang sangat menjunjung tinggi moral bangsa. Dia adalah sang penegak keadilan bagi rakyat jelata. Bagaimana jika publik mengetahui kasus ini? Citra itu akan tercoreng.

Untuk menghilangkan penat, Gaza beranjak dari kantin menuju perpustakaan kampus. Di sana dia akan menemui sahabatnya. Darinya, dia akan mengetahui perkembangan kasusnya. Gaza menempuh jalan lain untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dia akan menyelidiki secara diam-diam. Banyak yang dia pertimbangkan jika mendukung cara Clara.

Di depan perpustakaan besar itu, Gaza memilih duduk di bangku depan pintu masuk. Pemuda berwajah oriental itu mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk menghubungi temannya. Dia tidak mungkin masuk ke dalam karena kartu identitasnya telah dicabut oleh pihak Universitas. Gaza menunggu temannya di depan perpustakaan. Oleh karena bosan, Gaza menyulut rokok yang dia simpan di saku celananya sambil melihat sekeliling.

Pemuda itu memandang bangunan berlantai tiga di depannya. Kemarin, dia masih bekerja di sini. Melayani para mahasiswa yang akan meminjam buku. Matanya beredar memandang sekitar bangunan. Meja administrasi terlihat dari pintu kaca. Dia merindukan duduk di meja itu. Sekarang posisinya telah tergantikan dengan yang lain.

Gaza menyugar rambut ikalnya dan tangan satunya memainkan batang rokok yang dia pegang. Matanya menatap tajam jendela yang selalu tertutup di ruang bawah perpustakaan itu. Ruangan itu yang menjadi awal mula petaka yang dia hadapi sekarang.

***

Kejadian sebelumnya.

Sore itu, pesanan buku oleh pihak Universitas datang. Gaza membantu temannya untuk menyusun buku di ruang bawah. Ruangan tersebut digunakan sebagai gudang buku atau tempat menyimpan buku yang baru datang, tapi belum terdata. Ada juga buku lama yang kondisinya sudah tidak layak lagi.

Oleh karena buku yang datang banyak, Gaza dan temannya melupakan waktu yang berlalu. Senja datang menyapa. Setelah semua selesai, teman Gaza pamit terlebih dahulu sedangkan Gaza masih harus bersiap.

Perpustakaan sudah sepi, hanya ada seorang office boy yang telah selesai membersihkan seluruh ruangan perpustakaan. Dia menunggu Gaza keluar. Kemudian dia akan mengunci seluruh pintu di perpustakaan tersebut.

Saat Gaza bersiap untuk keluar perpustakaan, tiba-tiba Clara datang. Dia bersikeras untuk meminjam buku, meskipun Gaza sudah memberitahu jika perpustakaan sudah tutup.

"Tolong, Mas, ya. Bukunya untuk besok pagi," pintanya.

"Mbak-nya nggak lihat, komputer udah mati semua! Gimana mau cari buku, Mbak?"

Namun, Clara tetap pada pendiriannya. Melihat permohonan gadis cantik di depannya, akhirnya Gaza luluh. Dia meminta kepada office boy tersebut untuk menunggunya sebentar. Sementara dia dan Clara mencari buku yang gadis itu minta secara manual.

Tiga puluh menit kemudian, Gaza menemukan buku yang Clara cari. Segera dia mencatatnya di note untuk sementara dan keesokan paginya dia akan mendatanya di komputer. Kemudian Gaza menyerahkan buku tersebut pada Clara. Gaza pun keluar perpustakaan bersama dengan Clara.

Hari telah gelap ketika keduanya keluar dari perpustakaan. Saat menuju tempat parkir, Gaza sempat berbasa-basi dengan Clara. Gadis itu menanggapi obrolan tersebut dengan ramah.

***

Esok hari, hal tidak terduga terjadi. Gaza di panggil pimpinan perpustakaan ketika dia baru tiba. Pemuda itu mengikuti langkah atasannya tersebut ke ruang bawah tempat penyimpanan buku.

Betapa terkejutnya laki-laki itu, ketika mendapati ruangan tersebut berantakan penuh dengan botol alkohol dan putung rokok berserak. Bau menyengat menusuk penciumannya, saat Gaza masuk ke dalam ruangan itu.

Tidak hanya itu, dia juga melihat alat kontrasepsi bekas yang tercecer di sudut ruangan. Pemuda itu menelan ludah karena jijik melihat benda yang dia lihat.

"Kamu yang terakhir di ruangan ini, kan, Za?" tanya Ibu Maria, pemimpin perpustakaan tersebut.

"Iya, Bu. Tapi, kemarin rapi." Pemuda itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya pagi ini.

Kemudian Ibu Maria membawa Gaza ke ruangannya. Pemuda itu berjalan dengan perasaan tidak menentu. Dia diliputi rasa bersalah karena ini adalah tanggung jawabnya. Dia yang terakhir berada di ruangan itu.

"Za, CCTV depan, merekam kamu keluar bersama perempuan. Ada yang bisa kamu jelaskan sebelum rektor panggil kamu?" tanya perempuan berhijab itu, setelah mereka duduk di meja pimpinan di lantai paling atas.

"Ya Ampun, Bu. Itu mahasiswi Hukum yang mau pinjam buku!" Gaza menggaruk kepalanya. Ternyata masalahnya bertambah rumit.

"Itu sudah malam, Za. Perpustakaan tidak menerima pelayanan lagi setelah pukul lima sore!" Pemuda itu terlihat menyusun kata untuk membela dirinya.

"Kemarin saya susun buku sama Toni. Kemudian Toni pulang terlebih dahulu." Gaza menjeda kalimatnya. Dia menenangkan diri untuk melanjutkan ceritanya.

"Saat saya akan keluar perpus. Mahasiswi itu datang. Dia merengek untuk pinjam buku."

Ibu Maria masih menunggu Gaza untuk menjelaskan semua.

Dia melihat mata Gaza. Tidak ada kebohongan di sana. Dia tahu bawahannya ini adalah orang yang jujur. Selama bekerja di tempat ini, tidak pernah melakukan kesalahan fatal yang merugikan orang lain.

"Lantas kamu kasian dan mencarikan buku yang akan dia pinjam. Ya Allah Gaza! Karena kasian sama orang kamu dapat masalah!" Wanita paruh baya itu memijit pelipisnya.

"Ada saksi, Bu! Office boy yang kerja kemarin sore." Ada secercah harapan untuk Gaza. Senyum yang tadi redup, tiba-tiba tersungging di wajah tegangnya.

"Office boy? Oke kalau gitu saya akan mencari tahu orang tersebut." Kemudian Ibu Maria mempersilakan Gaza bekerja kembali.

Di lantai dasar, semua karyawan menunggunya. Mereka meminta Gaza untuk menjelaskan yang terjadi, termasuk Toni.

"Gimana, Za?" tanya Toni.

"Masih diselidiki Bu Maria, tunggu aja!" jawab Gaza. Karyawan yang lain berebut untuk menanyakan kejadian yang sesungguhnya kepada pemuda itu.

Gaza hanya menjawab seadanya. Dia juga masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja dia alami. Semoga atasannya segera menyelesaikan kasus ini.

Satu jam berlalu, Gaza menunggu keputusan kasusnya dengan waswas. Dia tidak berkonsentrasi melayani para peminjam buku yang harus mengantre lama karena kelambatannya bekerja.

"Santai, Za!" Toni berlalu sambil menepuk bahu pemuda itu dan Gaza tersenyum untuk membalasnya.

Selang beberapa menit, Bu Maria memanggilnya untuk datang ke kantor.

"Za, kamu yakin ada office boy yang kerja sore itu?"

"Yakin, dia yang nunggu saya, Buk."

"Di catatan kepegawaian, nggak ada office boy yang masuk sore itu, Za."

***

Gaza dan Toni duduk di ruang Rektor dengan perasan tidak menentu. Mereka tidak menyangka keterlambatannya kemarin, membawa masalah besar yang siap membelenggu. Saat mereka berdua sedang berbincang, Pak Santoso-Rektor Universitas- datang bersama Bu Maria dan Clara. Sebelum duduk, gadis itu menghunus Gaza dengan tatapan tajam. Oleh karena gugup, berkali-kali Gaza membenahi kaca matanya yang telah terpasang dengan rapi.

"Bapak mengucapkan terima kasih karena kalian mau berkumpul di sini untuk menyelesaikan masalah yang memalukan ini." Semua mendengarkan Pak Santoso berbicara.

"Langsung saja, mungkin Gaza juga Toni sudah melihat kondisi perpustakaan pagi ini. Tolong jelaskan apa yang kalian ketahui tentang hal ini." Rektor itu berbicara dengan lembut.

Toni menjelaskan semua yang terjadi dari pertama buku datang sampai dia berpamitan untuk pulang. Setelah itu, Gaza menjelaskan semua yang terjadi di perpustakaan setelah Toni pulang. Clara tidak menyanggah keterangan Gaza karena semua yang terjadi memang benar adanya.

"Baiklah, setelah Bapak mendengar semua penjelasan kalian. Bapak akan mengungkapkan sesuatu. Ini sangat aneh. Pertama, seperti yang kalian ketahui. Terdapat adanya barang-barang terlarang di dalam gudang penyimpanan buku. Kedua, semua CCTV perpustakaan mati, kecuali di lantai tiga dan di pintu keluar."

Gaza dan Toni saling pandang. Mereka tidak mengetahui akan hal ini. Padahal Gaza berniat mengusulkan untuk melihat seluruh CCTV. Jika CCTV yang hidup hanya di lantai tiga, itu berarti percuma karena kejadiannya ada di lantai bawah dan Clara meminjam buku ada di lantai dasar, tempat administrasi. Sedangkan CCTV di pintu keluar, tidak menyorot ke dalam ruangan. Ia mengarah ke luar ruangan.

"Pak, saya mohon untuk mencari office boy yang kemarin bekerja saat sore hari setelah perpus tutup. Dia satu-satunya saksi saat itu," mohon Gaza.

Toni memandang Gaza. Dia menautkan alisnya. Sebelum dia berbicara, Ibu Maria terlebih dahulu memotong ucapannya. "Sudah Ibu bilang, Za. Tidak ada daftar office boy yang kerja sesore itu di perpustakaan. Ibu sudah menanyakan ke bagian kepegawaian juga, mereka tidak tahu menahu tentang pegawai itu."

"Maaf, saya menyela. Memang benar tidak ada office boy yang kerja lewat jam lima sore dan tidak ada pegawai yang masuk daftar pengganti di catatan saya. Ada office boy yang izin dua hari karena sakit. Tapi pekerjaannya digantikan oleh yang lain dan sore itu, semua office boy sudah pulang sebelum jam lima." Keterangan Toni semakin membuat Gaza terbelalak.

Semua karyawan baru ataupun magang, semua harus menemui Toni sebagai bagian koordinasi perpustakaan. Apabila Toni berkata demikian, sudah dipastikan office boy tersebut memang tidak ada.

Clara yang melihat sendiri ada office boy, membenarkan perkataan Gaza. Dia juga bersaksi, jika pegawai tersebut menunggu Gaza mengambilkan buku untuknya. Namun, semua dibuat bingung oleh keterangan keduanya. Apalagi didukung oleh CCTV yang tidak berfungsi, hal itu semakin menyulitkan semua orang.

"Gaza dan Clara, Bapak berharap masalah office boy tidak kalian karang. Semua mengatakan tidak ada karyawan baru yang masuk, bagaimana bisa kalian mengatakan demikian?" Suara Pak Santoso lebih tegas saat ini. Hal itu membuat Gaza dan Clara menunduk.

"Saya sebelumnya meminta maaf atas semua yang terjadi, Pak. Ini murni karena kelalaian kami. Ke depannya saya akan mencari tahu lebih dalam masalah ini, terutama masalah office boy yang Gaza sebutkan tadi." Ibu Maria menengahi. Dia berkata dengan sangat lembut. Wanita paruh baya itu menyesal tidak teliti atas kejadian ini sehingga karyawan terbaiknya mendapatkan masalah.

Dua jam berlalu, semua masih membahas masalah yang kacau ini. Masing-masing pihak bersikukuh dengan pendapatnya. Akhirnya, rektor menengahi dan menyudahi sidang hari ini.

"Saya berharap masalah ini tidak diketahui oleh publik karena nama Universitas kita dipertaruhkan." Semua setuju dengan pendapat Rektor.

***

Setelah keluar dari ruang Rektor, Toni mengajak bicara Gaza di kantin yang masih terlihat sepi karena para mahasiswa belum banyak yang keluar untuk istirahat. Mereka berdua berdiskusi di sudut kantin tersebut.

"Za, lo yakin ada office boy petang itu?"

"Kamu denger tadi Clara bilang apa? Dia nunggu aku ambil buku yang mau dipinjam Clara."

"Astaga, Za! Gue nyesel ninggalin lo sendiri. Gue buru-buru kemarin. Setau gue, office boy yang pulang duluan bareng gue udah kunci semua pintu. Tinggal pintu depan, itu tugas lo. Dan lo tinggal serahin kunci ke satpam, kok, jadi rumit gini, ya?"

"Nasibku, Ton."

"Gue heran, CCTV mati, ada office boy yang tiba-tiba nongol. Gue kayak orang bego, nggak tau apa-apa. Lo nggak matiin CCTV, kan?"

"Mana bisa aku, Ton. Itu tugas IT. Aku Cuma ngurus komputer sama rapikan buku aja, abis itu pulang."

Mereka terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Toni menggebrak meja. Membuat Gaza tersedak kuah bakso yang dia makan.

"Gue cari tau ke anak IT nanti." Gaza bergegas minum untuk meredakan batuknya. Kemudian dia memaki Toni yang membuatnya celaka.

***

Keesokan paginya, masalah yang membelenggu Gaza dan Clara tidak kunjung reda. Kasus itu menyebar ke seluruh penjuru kampus. Ibu Maria mendapatkan banyak kecaman karena dia dituduh menyembunyikan karyawan mesum.

Gaza yang bertugas meminjamkan buku mendapat banyak pertanyaan dari mahasiswa yang ingin mengetahui kejadian sebenarnya. Dia kewalahan menjawab pertanyaan tersebut. Toni yang melihat temannya terdesak, memintanya untuk pergi dan dia menggantikan pekerjaannya, meskipun tugasnya sendiri sedang menumpuk.

Gaza masuk ke ruang istirahat. Dia memikirkan semua yang terjadi. Di lingkup perpustakaan ini saja, masalah tidak kunjung mereda. Benaknya teringat akan Clara. Dia terus bertanya-tanya apa yang sedang gadis itu lakukan sekarang.

Ya Allah Clara, kamu lagi apa? Kamu dengar berita ini nggak? Semua sudah menyebar ke mana-mana, batin Gaza.

Tiba-tiba Toni masuk ke ruangan itu dengan tergesa. "Za, gawat! Ternyata Clara itu anak anggota dewan. Sekarang dia disidang sama Rektor. Semua dosen dan mahasiswa nuntut Clara untuk tanggung jawab."

"Maksud kamu apa? Kenapa Clara yang salah?"

"Dia disalahkan karena dituduh mesum di perpus!"

Gaza terbelalak, jika Clara saja bersalah dalam situasi ini, bagaimana dengan dirinya?

Beberapa saat kemudian Bu Maria menemui Gaza. Dia meminta pemuda itu untuk datang ke ruangannya. Muka wanita itu sangat tegang saat mereka duduk bersama di ruangannya.

"Za, Ibu minta maaf. Ini bukan keputusan Ibu, tapi demi kenyamanan bersama. Untuk sekarang, Ibu istirahatkan kamu dari pekerjaan sampai masalah ini mereda. Suasananya sudah sangat kacau, Za. Ibu nggak tau lagi harus gimana."

Gaza tertunduk. Dalam hatinya ingin memberontak. Dituduh melakukan sesuatu yang sangat memalukan. Tapi, dia hanyalah bawahan. Menentang pun percuma.

"Kamu ke ruang Rektor sekarang, ya. Bantu Clara."

***

Setelah berada di ruang rektor, Gaza melihat Clara sedang membela dirinya di hadapan Rektor dan dosen yang menyudutkannya. Gadis itu terlihat menahan air matanya. Segera Gaza meminta izin untuk masuk. Semua mempersilakan pemuda itu untuk duduk dan setelah dia duduk semua yang ada di ruangan itu memberondong Gaza dengan pertanyaan yang sulit untuk dia jawab.

"Maaf Gaza dan Clara. Untuk meredakan masalah ini, saya harus memanggil orang tua kalian supaya masalah ini segera diselesaikan."

"Jadi, Bapak menuduh saya berbuat mesum? Saya tidak terima, Pak! Saya mau visum untuk membuktikan ini semua!" Suara Clara meninggi. Air mata menetes di pipinya. Gaza segera menenangkan gadis itu, tetapi penolakan yang dia dapat. Clara menatapnya penuh kebencian.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.