"Bagi dikit dong," pinta Diaz dengan wajah memelas. Dia menarik-narik jaket Cal yang kini duduk di sebelahnya.
"Nggak boleh. Kamu beli sendiri aja sana!" tolak Calista dengan agak sewot, dan terus mengunyah camilannya itu. Pipinya melotot akibat banyak menampung makanan, sudut bibirnya pun sedikit cemong terkena rontokan bumbu tabur.
"Ish, pelit banget sih! Jangan gitu, lah." Diaz mendengus lalu memalingkan wajah, merasa sangat kesal dan sebal terhadap sikap pelit temannya itu yang lagi kumat. Mana pagi ini dia memang sedang tidak membawa uang lagi, gimana mau beli sendiri coba?
Huh, dia juga pengen jajan!
"Biarin, wleeeks." Calista mengejek dan menjulingkan matanya, sehingga wajahnya tampak aneh.
Sontak saja hal itu berhasil membuat Diaz bergidig ngeri dan kembali melengos ketika melihat ekspresi menggelikan itu.
Tak jauh dari tempat keduanya duduk, sekumpulan remaja tengah beratraksi memainkan sepeda bmx.
Mereka berputar, melompat, menukik, meniti berbagai rintangan yang telah disediakan sebelumnya dan juga banyak lagi atraksi lainnya.
Yah, pagi ini memanglah hari yang khusus digunakan oleh para pejalan kaki ataupun pesepeda untuk menjelajah ruas jalan utama kota Purwodadi, dengan bebas karena diberlakukannya sistem Car free day.
Sehingga ada begitu banyak orang dari mulai usia balita hingga para lansia, para pedagang pun banyak yang sudah berjejer sejak pukul 5 pagi, di sepanjang trotoar untuk menjajakan dagangannya.
"Cal. Beliin air putih dingin lima botol, sama satu tissue." Fahmi tiba-tiba datang ke hadapan keduanya, memberikan titah dan langsung menyodorkan uang kepada gadis itu.
"Hah?" Calista melongo dan dengan agak lambat ia berpikir keras, berusaha mencerna ucapan cepat yang ditujukan padanya tadi, dengan mulut terbuka dan mie lidi yang masih tinggal separuh di dalam mulutnya.
"Beliin air minum sama tissue, gue haus," ulang Fahmi dengan wajah datarnya.
"Oh, oke." Calista segera menyambar uang itu dan berjalan menghampiri penjual minuman tak jauh dari tempatnya duduk tadi.
Sedangkan Diaz hanya menggeleng dan bersalaman ala cowok dengan Fahmi.
"Gimana Bro? Lancar latihannya?" tanya Diaz sekedar basa-basi. Dan hanya dijawab dengan anggukan.
"Gini amat yak, punya dua temen kok nggak ada yang normal." Diaz mengeluh sembari menabok dahinya frustasi dan menggeleng.
Fahmi hanya meliriknya sekilas dan kembali memperhatikan Calista yang kini nampak kerepotan membawa kantong plastik.
"Nih air dinginnya sama tissue." Gadis itu memberikan plastik dan ingin kembali duduk di tempat asalnya tadi. Tetapi ...
"Bagiin ke mereka." Fahmi kembali memberikan kantong plastik kepada Calista dan menyuruhnya untuk membagikan kepada teman pesepeda lainnya yang tengah beristirahat.
Calista menerimanya dan mengangguk patuh. "Okay."
Empat botol air telah dibagikan. Calista kembali ke Fahmi, lalu mengulurkan tangan dan berkata, "Sudah aku bagiin. Upahnya mana?"
"Uhhuk-uhhuk! Upah apaan Cal?" Diaz tersedak minuman hingga tersembur airnya dan terbatuk-batuk sesaat. Wajahnya langsung memerah kesakitan.
"Kan aku udah ngebeliin terus ngebagiin air minum itu, sekarang bagi upahnya lah! Gitu aja masih nanya," seru Calista dengan bersemangat menjelaskan, tanpa merasa bersalah karena telah menyebabkan temannya itu tersedak.
"Gila memang ini punya temen. Astaghfirullah, mimpi apa semalem." Diaz mengusap dadanya.
"Nih, terima kasih," ucap Fahmi sembari memberikan uang dua puluh ribu.
Calista memekik senang dan menerima uang itu segera dengan senyum sumringah. "Okay, sama-sama."
"Coba ngadep sini Cal." Fahmi mengambil tissue dan mengusap area bawah bibir gadis itu dengan perlahan.
"Hah?" Calista kembali melongo dan mengerjap bingung, merasakan sapuan tissue di area wajahnya.
"Nah, sekarang upah aku mana?" Gantian Fahmi yang mengulurkan tangannya.
"Oh, ini. Makasih." Calista berucap sembari mengembalikan uang dua puluh ribu yang tadi didapatnya.
Diaz memutar mata jengkel, tiba-tiba ia mendapat ide yang menurutnya brilian. Dengan gerakan berlebihan ia memegang perutnya dan mengeluh, "Aduh! Perutku laper banget nih, enak kayaknya kalau makan soto."
"Cal, pesenin gih." Fahmi melirik sahabat konyolnya sekilas, lalu kembali memerintah.
Calista mengangguk patuh dan tanpa merasa ada yang janggal, berlari menuju penjual soto, dan memesan beberapa porsi tanpa terlihat keberatan atau bersedih karena telah kehilangan uang upahnya tadi.
"Bu, pesan sotonya tiga porsi dong." Calista memesan.
Ibu penjualnya menjawab, "Iya mbak, tunggu sebentar ya."
"Hay, Cal!" sapa seorang gadis yang datang dengan menaiki sepeda bmx nya.
Lalu mengambil tempat duduk di sebelah Calista.
"Hay, juga Siti." Calista melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.
Gadis bernama Siti yang merupakan salah satu anggota dari tim bmx itu, membalas senyumannya dan berucap basa-basi, "Gimana sekolahmu kemaren, Cal?"
"Sekolahku baik-baik saja dan masih di tempatnya kok, ada apaan memangnya nanyain sekolahanku?" jawab Calista dengan lugunya dan sedikit mengerutkan alis.
"Eerrr ... lupakan saja!" Siti mendengus kesal, ketika mengingat bahwa lawan bicaranya saat ini sebenarnya susah untuk diajak berkomunikasi secara normal.
"Oh, okay." Calista mengangguk sekilas lalu menunduk untuk mengamati layar ponselnya.
"Cal ... hmm, kamu ... kamu itu suka nggak sih sama Fahmi?" tanya Siti dengan ragu-ragu.
Calista mengangkat wajahnya dan menatap aneh pada gadis di sebelahnya itu. Dalam hati dia menggerutu, "Ini si Siti kok nanyanya aneh banget sih! Iya kali kalau aku nggak suka sama Fahmi, ngapain kita temenan semenjak masih menjadi bayi dulu hingga saat ini."
Siti menjadi salah tingkah sendiri ketika ditatap seperti itu. Dia pun segera beranjak dan pergi tanpa mengucap satu patah kata lagi.
Meninggalkan Cal yang mengangkat bahu tidak peduli.
"Mbak, ini soto nya sudah siap, silahkan." Ibu penjual soto memberikan baki berisi tiga mangkok nasi soto.
Calista menerimanya, lalu membawa ke tempat Diaz dan Fahmi untuk segera disantap bersamaan selagi panas.
"Nih uangnya, kamu bayar gih." Kembali si Fahmi memberikan uang dua puluh ribu, dan menyuruh gadis itu untuk membayar.
Calista mengangguk kembali dan hendak membayar, tetapi dia berbalik kembali dan bertanya dengan ekspresi rumit, "Sedari tadi aku disuruh melulu, upahnya mana?"
Nah baru nyadar dia.
"Ya elah, itu nanti kan ada kembaliannya Cal. Lo ambil aja dah." Yang menjawab adalah Fahmi. Dan membuat Calista kembali mengangguk antusias, menghampiri penjual soto tadi dan membayarnya.
"Ini Mbak, kembaliannya dua ribu."
Calista segera mengambil uang itu dan bahkan bersorak penuh kesenangan, sembari mencium lembar uang kertas ia berteriak, "Yeay, aku dapat uang upah. Lumayan!"
Semua teman satu tim bmx yang melihat interaksi ketiganya, seketika menggeleng dan bahkan menggerutu, "Ini sebenarnya, Calista yang bodoh atau si Fahmi yang pintar, sih?"
"Hmm, mungkin kita nya aja yang belum memahami cara mereka berinteraksi."
"Hahaha."
Mereka semua tertawa. Entah apa yang ditertawakan.
***





