Hari pertama tinggal serumah dengan pria asing itu terasa seperti memasuki dunia yang sama sekali berbeda.
Nayra berdiri di depan bangunan tua bergaya Bohemian yang berdiri megah di tepi sungai Vltava. Rumah itu tampak seperti perpaduan antara museum dan laboratorium, dengan dinding batu krem, jendela tinggi dari kayu ek, dan halaman kecil yang dipenuhi bunga lavender.
Elias membuka pintu dengan tenang, lalu menoleh ke arah Nayra yang masih terpaku di depan tangga.
"Selamat datang di rumahku. Atau... sekarang mungkin juga rumahmu sementara," ujarnya datar, tanpa senyum sedikit pun.
Nayra menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba tak karuan. Ia menatap koper besar yang ditentengnya, lalu menatap punggung Elias yang berjalan masuk tanpa menoleh lagi.
Ia ingin berkata sesuatu seperti "terima kasih sudah menampungku" atau "maaf atas semua kekacauan ini", tapi bibirnya justru kelu.
Begitu masuk ke dalam, aroma kayu tua bercampur wangi kopi menyambutnya. Ruangan itu luas, dengan langit-langit tinggi dan rak buku menjulang sampai hampir menyentuh atap. Ada meja besar di tengah ruangan dengan tumpukan kertas, peta kuno, dan beberapa artefak kecil yang tampak rapuh.
"Jangan sentuh apa pun di meja itu," kata Elias cepat tanpa menoleh.
Nayra mendengus. "Aku bahkan belum mengangkat tangan."
"Antisipasi lebih baik daripada penyesalan," balasnya ringan, sambil meletakkan map di rak.
Nayra menatap punggungnya, antara kagum dan kesal.
Dr. Elias Marek mungkin tidak pandai tersenyum, tapi dari cara ia berjalan, dari nada suaranya yang tenang tapi berwibawa, dan dari bagaimana ruang kerjanya tertata rapi dan penuh makna-ia jelas bukan pria biasa.
"Kau tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" tanya Nayra akhirnya, mencoba mencairkan suasana.
Elias menatapnya singkat. "Aku punya asisten yang datang dua kali seminggu. Tapi selain itu, ya, sendirian."
"Kedengarannya sepi."
"Aku menyebutnya tenang."
Nayra mengangkat alis. "Kau selalu menjawab seperti ensiklopedia, ya?"
Elias hanya diam, seolah tak mendengar. Ia berjalan menuju tangga spiral di sisi kanan ruang tamu, lalu berkata tanpa menoleh, "Kamar tamu di lantai dua. Kiri setelah ruang baca. Kunci ada di pintu."
Sikapnya begitu formal, seolah mereka bukan dua orang yang baru saja pura-pura berpacaran di depan dunia. Nayra mendecak pelan dan mulai menarik kopernya naik tangga.
Kamar tamu itu ternyata menenangkan. Tirai putih menjuntai lembut dari langit-langit, jendela menghadap ke sungai, dan di sudut ruangan ada meja kecil dengan vas bunga kering.
Nayra menatap sekeliling, lalu menaruh koper di atas kasur. Ia membuka ritsletingnya pelan, mengeluarkan pakaian satu per satu sambil menghela napas panjang.
"Enam bulan," gumamnya lirih. "Enam bulan tinggal bersama pria yang bahkan tak tahu bagaimana tersenyum."
Ia berhenti sejenak, lalu mengambil ponsel dari saku. Pesan dari redaktur majalahnya sudah menumpuk, semuanya menanyakan hal yang sama: apakah benar ia berpacaran dengan Elias Marek?
Nayra mengetik balasan singkat, "Kami hanya butuh waktu. Tolong jangan percaya semua yang ada di media."
Begitu pesan terkirim, ia melempar ponsel ke atas kasur, lalu berjalan ke arah jendela. Di luar, sinar matahari sore mulai menguning, memantul di permukaan sungai. Dari kejauhan terdengar suara biola jalanan, lembut dan melankolis.
Untuk sesaat, Nayra menutup mata. Ia ingin percaya bahwa semua ini hanya mimpi. Bahwa ketika ia membuka mata nanti, ia sudah kembali ke apartemennya di Paris, dan Calvin tidak pernah mengkhianatinya.
Tapi suara langkah kaki dari luar kamar mengembalikannya ke kenyataan.
"Lima menit lagi makan malam," kata suara berat itu dari balik pintu.
Nayra menoleh cepat. "Apa? Kau bahkan memasak?"
"Tidak. Asistenku meninggalkan makanan di dapur."
"Oh."
"Dan aku tidak menunggu lama," lanjutnya, sebelum langkahnya menjauh.
Nayra menatap pintu yang sudah tertutup. "Aku mulai merasa tinggal bersama robot," gumamnya pelan.
Dapur di lantai bawah tampak seperti campuran antara kafe vintage dan laboratorium sains. Ada peralatan masak lengkap, tapi di sisi lain meja terdapat mikroskop kecil dan peta Eropa abad ke-18 yang dipaku rapi di dinding.
Elias sudah duduk di meja makan, membaca sesuatu di tablet, sementara dua piring sudah tersaji di hadapan mereka.
Sup jagung dan roti panggang. Sederhana, tapi aromanya menggoda.
"Duduklah," katanya tanpa mengangkat pandangan.
Nayra menarik kursi dan duduk.
Mereka makan dalam diam untuk beberapa saat, hanya terdengar suara sendok menyentuh piring.
Sampai akhirnya Nayra tak tahan lagi. "Kau tidak akan bicara sama sekali, ya?"
"Apa yang harus kubicarakan?"
"Entahlah. Mungkin... sesuatu yang dilakukan dua orang normal saat makan malam?"
Elias mengangkat wajahnya perlahan, menatapnya datar. "Aku tidak tahu bagaimana definisi 'normal'-mu."
Nayra menghela napas panjang. "Astaga, ini akan jadi enam bulan terpanjang dalam hidupku."
Elias hanya mengangkat bahu. "Anggap saja riset sosial."
Nayra menatapnya tajam. "Kau bahkan tidak tahu bagaimana bercanda."
"Aku tidak bercanda."
Ia ingin melempar sendok ke wajah pria itu, tapi menahan diri.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Setidaknya jelaskan satu hal. Kenapa kau mau repot-repot membuat perjanjian tinggal bersama ini? Kau bisa saja membiarkanku pergi."
Elias meletakkan sendok, lalu bersandar ke kursi.
"Karena reputasi bukan hal sepele bagiku," ujarnya datar. "Semua yang aku capai selama sepuluh tahun bisa hancur karena satu video viral. Kau membuat kekacauan itu, jadi kau akan menanggung bagiannya."
Nada suaranya dingin, tapi jujur.
Nayra menggigit bibir bawahnya, menunduk. "Aku tahu. Dan aku menyesal."
Untuk pertama kalinya, Elias tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatapnya lama, sampai akhirnya berkata pelan, "Kau bukan perempuan pertama yang menyesal karena keputusan impulsif. Tapi kau satu-satunya yang membuatku ikut jadi headline berita internasional."
Nayra mendongak, lalu melihat senyum tipis di ujung bibirnya. Hanya sepersekian detik, tapi itu cukup untuk membuatnya tertegun.
"Wow, ternyata kau bisa tersenyum juga," ujarnya spontan.
Elias kembali menatap tablet. "Jangan terbiasa melihatnya."
Malam itu, Nayra sulit tidur.
Setiap kali menutup mata, bayangan Calvin dan perempuan itu muncul lagi. Ia masih bisa mengingat betapa sakitnya perasaan dikhianati seseorang yang dulu ia percayai sepenuh hati.
Ia berbalik di atas kasur, menatap langit-langit kamar. Dari luar jendela, terdengar suara jam gereja berdentang lembut, menandakan tengah malam.
Ia bangun, mengambil sweater, dan berjalan pelan menuruni tangga.
Lampu ruang kerja Elias masih menyala.
Ia duduk di meja besar, menulis sesuatu di buku catatan, dikelilingi peta kuno dan lilin kecil. Rambutnya sedikit berantakan, kacamata melorot di ujung hidung, dan wajahnya tampak lelah. Tapi caranya menulis-penuh fokus dan ketenangan-membuat Nayra tak bisa menoleh.
"Masih bekerja di jam segini?" tanyanya pelan dari ambang pintu.
Elias menoleh sekilas. "Kau tidak bisa tidur?"
"Tidak. Aku tidak terbiasa tidur di tempat asing."
"Kalau begitu, duduklah. Jangan mondar-mandir seperti hantu."
Nada suaranya tetap datar, tapi entah kenapa, Nayra merasa diperbolehkan. Ia duduk di kursi seberang, menatap meja penuh kertas itu.
"Semua ini... tentang apa?" tanyanya sambil menunjuk peta.
Elias menatapnya sebentar. "Peradaban yang hilang di Eropa Timur. Aku mencoba memetakan ulang jalur perdagangan kuno yang hilang dari catatan sejarah."
"Kedengarannya rumit."
"Karena memang rumit."
Nayra tersenyum kecil. "Aku editor mode. Dunia kami diisi gaun, parfum, dan deadline. Dunia kau diisi peta dan debu sejarah. Kita benar-benar dua kutub yang berbeda."
Elias menatapnya lama. "Mungkin itu sebabnya dunia suka cerita kita. Mereka suka yang kontras."
Hening beberapa saat. Hanya terdengar suara pena Elias menari di atas kertas. Nayra memperhatikannya dengan seksama-caranya menulis dengan tangan kiri, caranya mengerutkan kening setiap kali berpikir, dan bagaimana matanya berubah lembut saat membaca catatan lamanya.
"Aku tidak menyangka kau... begini," ucap Nayra tiba-tiba.
"Begini?"
"Tenang. Logis. Dingin, tapi... tidak jahat."
Elias terkekeh pelan. "Kau berharap aku jahat?"
"Setidaknya itu akan memudahkan kalau aku mau membencimu."
Pria itu terdiam. Lalu perlahan, senyumnya muncul lagi-kali ini lebih tulus. "Kau tidak akan bisa membenciku lama-lama, Nona Lestienne. Aku tidak cukup menarik untuk dibenci."
Ucapan itu seharusnya terdengar sombong, tapi justru membuat Nayra tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya, tawa itu terasa ringan.
Dua hari berikutnya, kehidupan mereka mulai menemukan ritmenya sendiri.
Elias sibuk dengan pekerjaannya di universitas dan proyek penelitian, sementara Nayra mencoba menyesuaikan diri dengan suasana rumah yang sunyi tapi tenang. Ia mulai menulis artikel freelance dari meja kecil di dekat jendela, sesekali menatap keluar dan memperhatikan lalu lintas turis di jembatan tua.
Kadang mereka bertemu di dapur saat sarapan. Elias selalu menyeduh kopi hitam, sementara Nayra memilih teh chamomile. Obrolan mereka singkat, tapi perlahan mulai terasa alami.
"Jadi kau benar-benar tidak pernah punya pacar?" tanya Nayra suatu pagi sambil menuang madu ke dalam cangkir.
Elias mendongak dari surat kabar. "Kenapa semua orang selalu tertarik dengan kehidupan pribadi orang lain?"
"Karena itu bagian dari jadi manusia."
"Aku lebih suka jadi pengecualian."
Nayra menggeleng, menahan tawa. "Kau terlalu serius untuk seseorang seumuranmu."
"Aku tiga puluh, bukan tiga ratus."
"Kadang tidak kelihatan bedanya."
Ia pikir Elias akan marah, tapi pria itu justru tersenyum samar.
"Mungkin kau benar."
Sore itu, keduanya duduk di taman belakang rumah. Elias sedang memeriksa artefak kecil di tangan, sementara Nayra memotret bunga lavender dengan ponselnya.
"Kau tahu," ujar Nayra pelan, "aku dulu selalu memimpikan kehidupan yang stabil. Pekerjaan bagus, pasangan yang setia, rumah hangat. Tapi sekarang aku bahkan tidak tahu siapa diriku lagi."
Elias berhenti sejenak, lalu menatapnya. "Kau masih dirimu sendiri. Hanya versi yang sedang belajar bertahan."
"Bertahan dari apa?"
"Dari kenyataan bahwa dunia tidak seindah yang kita rencanakan."
Kata-kata itu sederhana, tapi menembus pertahanan Nayra. Ia menatap Elias, mencoba membaca sesuatu di matanya-tapi yang ia temukan justru ketenangan yang aneh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan luka.
"Elias," panggil Nayra pelan. "Kau pernah disakiti juga, ya?"
Pria itu terdiam lama sebelum menjawab. "Setiap orang punya masa lalu. Tapi sebagian dari kami memilih menyimpannya seperti artefak-dikenang, tapi tidak disentuh lagi."
Nayra menunduk. "Aku belum bisa melakukan itu."
"Suatu hari nanti, bisa. Tapi tidak sekarang."
Mereka sama-sama terdiam, menikmati senja yang perlahan turun.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti di antara dua jiwa yang sama-sama lelah tapi enggan menyerah.
Malamnya, ketika Elias sudah kembali ke ruang kerjanya, Nayra duduk di tepi tempat tidur sambil menulis di jurnal kecilnya.
Hari kedua.
Ia tidak seburuk yang kukira.
Tapi aku tidak tahu, apakah ini awal dari sesuatu, atau hanya jeda sebelum badai lain datang.
Ia menutup buku itu, menatap lampu yang mulai redup, dan tersenyum kecil.
Mungkin, hanya mungkin, hidupnya sedang berubah arah-lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Nayra tidak takut.
Udara Prague pagi itu beraroma roti panggang dan dingin logam dari rel trem yang baru saja dilalui. Di balik jendela kaca besar apartemen Elias Marek, matahari menembus perlahan, membias di lantai marmer abu-abu dan menyinari wajah Nayra yang baru saja bangun dengan kepala berat.
Ia mengerjap beberapa kali, menatap langit-langit yang tidak ia kenal. Bukan atap kamarnya di Jakarta. Bukan juga hotel tempatnya seharusnya menginap bersama Calvin—mantan tunangannya yang kini ia benci bahkan untuk diingat namanya.
Yang ia lihat hanyalah langit-langit tinggi khas arsitektur Eropa Timur, lampu gantung bergaya antik, dan aroma kopi yang entah sejak kapan menyeruak dari dapur.
Suara langkah sepatu terdengar. Berat, teratur.
Elias.
“Selamat pagi,” katanya dengan nada datar, tanpa menatap. Ia meletakkan secangkir kopi hitam di meja kayu di dekat sofa tempat Nayra tertidur semalam.
Nayra menatapnya dengan mata menyipit. “Kau tahu, di tempatku tinggal, orang biasa menambahkan ‘kau tidur nyenyak?’ atau ‘butuh sarapan?’ setelah ucapan selamat pagi.”
Elias menatapnya sekilas, ekspresinya tetap datar. “Kau bukan tamu hotel, Nayra. Kau penyusup yang sedang kutampung karena kesalahan publik yang melibatkan namaku.”
Nada suaranya tajam, tapi entah kenapa Nayra malah ingin tertawa. “Benar juga,” katanya lirih, menyeruput kopi itu tanpa izin. Pahitnya menggigit, tapi hangatnya justru menenangkan. “Kau tidak keberatan, kan?”
“Jika aku keberatan, aku tidak akan menuangkannya.”
Nayra menatapnya lebih lama. Pria itu selalu seperti ini—tenang, kaku, tapi caranya berbicara seolah ia tak perlu berteriak untuk membuat orang lain diam. Tubuhnya tegap, wajahnya bersih tanpa ekspresi, dan matanya selalu seperti menimbang sesuatu yang tak pernah ia katakan.
“Jadi,” kata Nayra, memecah hening. “Apa rencanamu, Doktor Marek?”
Elias menutup laptopnya perlahan. “Aku sudah menerima dua panggilan dari lembaga tempatku bekerja. Mereka ingin tahu kebenaran tentang video itu.”
Nayra menelan ludah. “Dan?”
“Aku bilang itu salah paham.”
“Bagus.”
“Tapi kemudian mereka bilang, salah paham macam apa yang melibatkan ciuman di tengah publik?”
Nayra mendesah. “Oke, aku pantas disalahkan untuk itu.”
“Benar. Kau pantas disalahkan.”
Nada dingin itu menusuk, tapi Nayra menegakkan bahunya. “Aku tidak akan minta maaf karena menyelamatkan harga diriku.”
Elias menatapnya, kali ini lebih lama dari biasanya. “Harga diri? Dengan mencium orang asing di depan hotel bintang lima?”
“Aku panik, oke? Aku baru saja melihat tunanganku—mantan tunanganku—berciuman dengan wanita lain.”
“Jadi kau memutuskan membalas dengan ciuman acak.”
“Itu bukan ciuman acak!” Nayra memprotes. “Itu… tindakan impulsif yang… terencana buruk.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Elias terangkat sedikit. “Tindakan impulsif yang terencana buruk. Istilah menarik.”
“Kau boleh mencatatnya di jurnal ilmiahmu.”
Elias menatapnya diam, lalu berdiri. “Kau harus bersiap. Kita akan menemui pengacara siang ini.”
“Pengacara?”
“Ya. Untuk membicarakan kontrak.”
Nayra terbelalak. “Kontrak? Kau serius akan benar-benar menikah denganku?”
“Aku tidak punya pilihan lain.”
Elias berjalan menuju dapur, mengambil mantel panjangnya yang tergantung di kursi. “Jika aku tidak menuruti saran humas dan pihak universitas, reputasiku hancur. Beberapa sponsor sudah menarik diri. Orang-orang berpikir aku sengaja mencium perempuan acak di depan publik demi sensasi. Dan video itu sudah ditonton hampir tiga juta kali.”
Nayra menunduk, hatinya meringkuk. “Aku minta maaf.”
“Aku tidak butuh maaf, Nayra. Aku butuh solusi.”
Kafe di pusat kota Prague itu ramai siang itu. Salju tipis turun di luar, dan aroma kayu manis bercampur vanila mengisi udara. Nayra duduk di seberang Elias dengan gugup, memainkan ujung sarung tangannya sambil menunggu pengacara datang.
“Berhenti menggigit kukumu,” kata Elias tanpa menatap.
Nayra menghentikan gerakannya. “Kau memperhatikan aku?”
“Aku memperhatikan kebisingan.”
Ia mendengus kecil, tapi tidak membalas. Setidaknya pria itu mau menemaninya di sini, bukannya mengusirnya ke jalan.
Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya berjas abu-abu datang dan menyalami Elias. “Dr. Marek, senang bertemu lagi. Dan ini, saya rasa, Nona Lestienne?”
“Ya,” Nayra menjawab ragu.
“Baik. Saya telah membaca laporan situasi. Media sudah mengaitkan hubungan Anda berdua dengan isu akademik dan moral. Jika tidak ada klarifikasi, reputasi keduanya bisa terancam.”
Elias menatap pengacaranya, lalu bertanya datar, “Apa saranmu, Tomas?”
“Publik lebih mudah percaya pada cerita yang terlihat manis. Kalau kalian menikah, bahkan secara kontrak, isu itu akan reda. Setelah beberapa bulan, kalian bisa ‘berpisah baik-baik’. Itu pola umum di sini.”
Nayra menatap Elias tak percaya. “Jadi kita benar-benar akan melakukannya?”
Elias tidak menjawab. Ia hanya menatap cangkir kopinya lama, lalu berkata, “Ya.”
“Tapi ini gila. Aku bahkan tidak tahu tanggal lahirmu.”
“17 Maret.”
“Dan aku tidak tahu warna kesukaanmu.”
“Biru tua.”
Nayra mengerjap. “Kau hafal semua data ilmiah, tapi juga cepat menjawab hal sepele.”
“Aku terbiasa efisien.”
Tomas menatap mereka bergantian. “Saya akan siapkan dokumen pernikahan kontrak. Tiga syarat utama: kalian tinggal di alamat yang sama, menghadiri beberapa acara publik bersama, dan tidak boleh membantah pernyataan resmi yang akan dirilis media.”
“Dan durasinya?” tanya Nayra.
“Enam bulan. Setelah itu kalian bebas memutuskan.”
Elias mengangguk. “Kita lakukan.”
Nayra hampir melompat dari kursinya. “Tunggu dulu! Kau bahkan tidak mau menimbang—”
“Sudah kutimbang,” potong Elias cepat. “Kau tidak tahu seberapa cepat reputasi akademik bisa runtuh hanya karena satu video viral. Aku tidak mau kehilangan karier yang kubangun sepuluh tahun hanya karena ciuman lima detik.”
Nayra menatapnya lama. “Lalu aku? Aku juga punya nama baik.”
Elias menatap balik, pandangannya tegas. “Maka sebaiknya kita selamatkan keduanya.”
Hari berikutnya, berita pernikahan mendadak antara “ilmuwan muda Dr. Elias Marek dan fotografer Indonesia, Nayra Lestienne” memenuhi halaman depan portal berita internasional.
Nayra menatap layar ponselnya dengan wajah kosong.
“Aku bahkan bukan fotografer. Aku manajer event,” gumamnya.
Elias yang duduk di sofa hanya mengangkat bahu. “Kau ingin aku bilang apa? Bahwa kau turis yang menciumku di depan hotel?”
“Bisa saja kau bilang aku teman lamamu.”
“Itu lebih mencurigakan.”
Nayra menghempaskan diri ke kursi, menghela napas berat. “Aku merasa hidupku seperti skrip sinetron murahan.”
“Selamat datang di dunia nyata yang diatur media,” jawab Elias datar.
Keduanya diam lama. Di luar, salju turun makin deras. Di dalam, hening itu terasa menggantung seperti sesuatu yang belum sempat diucapkan.
Nayra akhirnya berkata pelan, “Aku tidak tahu harus berterima kasih atau marah padamu.”
“Tidak perlu dua-duanya. Kita hanya mitra kontrak.”
Namun di balik kata-kata dingin itu, Nayra bisa menangkap sedikit nada yang lain—bukan amarah, bukan sinis. Lebih seperti lelah. Lelaki itu mungkin sama terjebaknya seperti dia.
Malam itu, Nayra berdiri di balkon apartemen, menatap lampu-lampu kota Prague yang berkelip di kejauhan. Udara dingin menampar pipinya, tapi pikirannya terlalu bising untuk kembali ke dalam.
Langkah kaki Elias terdengar dari belakang.
“Kau akan membeku di luar.”
“Aku butuh udara,” jawab Nayra tanpa menoleh.
“Udara dingin tidak menyembuhkan kesalahan impulsif,” katanya datar.
“Tidak juga pernikahan kontrak.”
Keduanya terdiam lagi. Lalu Nayra bertanya lirih, “Kau menyesal?”
Elias berpikir sebentar. “Aku tidak punya waktu untuk menyesal.”
“Itu artinya ya.”
“Tidak juga. Aku hanya… menyesal bahwa dunia terlalu cepat menilai.”
Nayra menatapnya akhirnya. Di bawah cahaya redup, wajah Elias tampak lebih lembut. Tidak sekaku biasanya. Ada bayangan letih di matanya yang tak sempat ia sembunyikan.
“Untuk seseorang yang sangat rasional,” kata Nayra, “kau bisa juga bicara seperti filsuf.”
Elias mengangkat alis tipisnya. “Kau kira aku hanya membaca data dan fosil?”
“Aku kira begitu.”
“Sekarang kau tahu aku bisa berpikir tentang hidup juga.”
Nayra tersenyum kecil. “Kau masih belum minum anggur malam ini. Aneh, untuk orang yang hidupnya baru diacak-acak oleh media.”
“Aku tidak butuh alkohol untuk melupakan kekacauan,” Elias menjawab pelan. “Aku butuh ketenangan.”
“Kau pikir aku tenang?” tanya Nayra balik.
“Tidak. Tapi kau kuat.”
Kata itu membuat dada Nayra bergetar aneh. “Kau tidak tahu aku.”
“Aku tidak perlu tahu banyak untuk melihat seseorang bertahan di tengah badai.”
Ia tidak menjawab. Karena malam itu, di antara dingin dan samar aroma kayu bakar dari rumah-rumah jauh di bawah sana, Nayra tahu: mungkin inilah awal dari sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Bukan cinta, mungkin belum.
Tapi sesuatu sedang tumbuh, perlahan—seperti bunga liar yang muncul di antara retakan salju.





