"Saya terlambat, Kak."
"Karena apa?"
"Karena jemput saya, Kak! Maaf," sahut siswi di sebelah Alan.
Pangeran berganti tatapan dengan cewek di sebelah Alan.
"Lo siapa?" tanya Pangeran ke cewek itu.
"Sa-Saya, Reyna Putri Agustin, Kak. Saya juga bagian dari peserta pembinaan di 'Kelas D'," jawab Reyna.
Pangeran memutar bola mata malas. Jadi, dua murid dihadapannya ini tengah terlambat bareng. Oke, asumsi Pangeran akan bisik rumor ada yang berpacaran di 'Kelas D' ternyata benar.
"Dasar! Bocah kemarin sore masih bau bedak udah pacaran aja lo berdua!"
Para penyimak tergelak dalam tawa, kecuali Rani.
"SIAPA YANG SURUH KALIAN KETAWA?!" bentak Pangeran.
Mendadak semua kembali diam.
"Maaf, Kak," kata itu terulang lagi dari mulut Alan sehingga memecah keheningan yang melanda.
"Kalian berdua masuk kelas."
Alan dan Reyna saling pandang. Mereka ragu untuk melangkah.
"Kenapa diem? Nggak mau masuk? Oke biar pintunya saya tutup."
"Iya ..iya. Iya, Kak! Kita masuk," sahut Reyna cepat.
"Kalian berdua berdiri di sini sampai jam pembinaan ketiga. Istirahat nanti kalian boleh keluar kelas. Maaf, ini konsekuensi bukan siksaan. Berani telat, berani bertanggung jawab, harus berani dihukum. Iya, kan?" ujar Pangeran penuh ketegasan. Pangeran menunjuk titik lantai di depan papan tulis.
"Iya, Kak. Saya mengerti," jawab Alan dingin.
Pangeran mengangguk.
Lalu, Pangeran. Dia 'Ketua Osis di SMK Satu Nusa', kembali melanjutkan materi pembinaan untuk siswa barunya. Dia memang punya rasa iba terhadap dua murid yang dia hukum. Tetapi, kesalahan yang mudah dimaafkan pun akan mudah diulangi. Hukuman itu wajib agar mereka jera, asalkan hukuman itu masih pada batas kemanusiaan.
"Kak!" Rani mengangkat tangan kanannya.
Pangeran menoleh terhadap Rani. "Ya?"
"Saya izin ke toilet, Kak!" jawab Rani.
"Oke, jangan terlalu lama! Takut diculik hantu sekolah."
"I-iya kak," ucap Rani.
"Oke."
Alan memandang sejenak ke arah Rani. Tetapi .. dia mendapati sesuatu yang aneh di tubuh Rani. Alan terpusat pada satu titik. Gawat!
Setelah melihat Rani berjalan beberapa langkah. Alan melesat menyusul di belakang Rani.
"Kak, Maaf! Tiba-tiba saya mules! Nanti balik lagi!"
Pangeran yang semula sibuk menjelaskan, tersentak sedikit. Begitupun murid lain yang tadinya fokus.
"Ngagetin aja sialan!" rutuk Pangeran lirih.
"Aduh, itu anak tiba-tiba kok jadi ngintilin si Rani. Jangan-jangan mau godain lagi,"
"Nggak usah mikirin yang aneh-aneh kamu, Udin!" sentak Pangeran.
"Nama saya Heri, Kak! Bukan Udin."
"Ya udah terserah. Yang penting jangan mikirin macem-macem. Orang pacar tercintanya masih dihukum," kata Pangeran logis.
"Iya sih! Kali aja tadi sarapan dia kebanyakan sambel," sahut siswa yang lain.
"Makannya, sebelum berangkat sekolah minum obat anti mencret!"
"Sudah-sudah! Kelas ini bukan ajang gosip dan ejekan! Jadi kita kembali fokus ke materi yang tadi saya jelaskan untuk pengenalan lingkungan sekolah," lerai Pangeran agar suasana kembali kondusif.
Semua murid kembali senyap, hanya tersisa suara Pangeran yang lantang sedang menjelaskan. Namun, pikiran Kalista, teman sebangku Rani cukup penasaran. Itu sebenernya Alan memang beneran mules atau modus untuk ngintilin Rani ke kamar mandi. Kalista pantas curiga, sebab, Rani tak kalah cantik dengan pacar si Alan itu.
"Ish! Masa bodo ah! Palingan juga beneran mules," kata Kalista lirih untuk berusaha menjernihkan pikiran kotornya.
Alan masih mengikuti Rani.
"Duh!" Alan menepuk dahinya. "Gimana gue bilangnya?"
Sementara Rani, dia sadar jika ternyata ada yang mengikutinya. Karna takut, refleks Rani mempercepat langkahnya.
Jangan bilang kata Kak Pangeran jadi kenyataan. Diculik hantu sekolah, batin Rani was-was.





