Siapa Takut Pengkhianat Cinta

“Lo terlalu baik.”

Andini menoleh sekilas dan mendesah berat. Cewek itu bersandar sambil bersedekap. Matanya menatap langit di depannya yang terhalang oleh kaca depan mobil sedan Irvan. Sahabatnya itu sedang memarkirkan mobilnya di depan rumah Andini. Dia membiarkan saja ketika Andini tidak ingin turun dari mobil.

“Maksud lo?”

“Soal Carvian dan sepupu bejat lo itu.”

Andini memutar bola matanya dan mendengus. “Baik sekali cowok bernama Irvan ini, ngatain sepupu orang di depan saudara si sepupu tersebut.”

“Kenyataannya, Aulia Serenity itu orang bejat. Orang yang hanya memerhatikan orang lain dari tampang dan harta. Kan gue udah cerita, dia menolak gue karena lebih memilih cowok lain yang lebih tampan dan kaya dibandingkan dengan gue.” Irvan berdecak jengkel. “Dan tadi, jelas-jelas dia megang lengan cowok lo, di depan muka cantik lo, seolah nggak mau Carvian pergi ninggalin dia.”

“Lo salah paham. Dia—“

“Oh, come one!” seru Irvan, memotong kalimat Andini. Gemas sekali dia dengan cewek di sampingnya ini. “Dia mau ngerebut cowok lo, Din. Buka dong itu mata belo lo. Kurang belo emangnya tuh mata?”

Andini mencibir dan menjitak kepala Irvan. “Gue cuma nggak mau ribut sama saudara sendiri hanya karena masalah cowok.”

“Terus, kalau dia berhasil rebut Carvian dari lo? Baru lo mewek nggak karuan dan nyesel.”

“Van,” panggil Andini lembut. Cewek itu tersenyum dan menggenggam tangan Irvan. “Kalau Carvian ditakdirkan buat gue, dia pasti akan jadi milik gue. Jodoh nggak akan ketukar, kok. Kalau dia bukan jodoh gue, ya dia nggak akan pernah menjadi milik gue. Sesimpel itu, Van.”

“Ya udah, lo nikah aja sama gue!”

Seruan itu membuat Andini mematung dan mengerjap. Cewek itu tidak bisa berkata-kata. Irvan sendiri langsung bungkam seribu bahasa. Dalam hati, dia memaki ketololannya karena sudah kelepasan berbicara yang aneh-aneh.

“Din, itu, maksud gue—“

“Bakal gue pertimbangkan,” potong Andini dengan nada geli. “Kalau gue dan Carvian emang nggak berjodoh, gue akan cari lo dan menikah sama lo. Menikah sama lo nggak terlalu buruk juga. Lo baik, perhatian, lucu, banyak duit—“

“Ck! Kenapa semua cewek—“

“—Dan yang penting, lo nggak pernah nyakitin gue dan selalu ada di sisi gue.”

Irvan mengerjap. Cowok itu mendengus dan terkekeh. “Jadi, ini proposal yang tertunda?”

Andini mengedikkan bahu. “Something like that.”

Keduanya saling tatap dan tertawa bersama. Irvan mengacak rambut Andini, sementara Andini sibuk menghindari serangan Irvan. Tanpa keduanya sadari, seseorang mengawasi dari kejauhan. Seseorang yang kini tersenyum tipis dan memainkan ponsel di tangannya.

“Gotcha!”

###

“Sejak kapan kamu selingkuh sama Irvan di belakang aku?”

Pertanyaan itu membuat Andini mengerutkan kening dan menatap Carvian yang sudah berdiri di hadapannya. Cowok itu tidak malu-malu menampakkan wajah emosinya juga tatapan dinginnya. Carvian yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Carvian yang biasanya. Carviannya menghilang entah ke mana dan kini digantikan dengan Carvian lain, yang tidak pernah Andini kenali sebelumnya.

“Maksudnya apa, ya?” Andini balas bertanya dengan nada sekalem mungkin. Tentu saja dia merasa tenang dan kalem, karena apa yang dituduhkan Carvian barusan tidak pernah dia lakukan.

“Jangan pura-pura bego, Din.” Dan ini yang pertama kalinya bagi Andini, Carvian mengatainya seperti itu. Hatinya berdenyut sakit, tapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja. “Kamu sama Irvan pergi bedua semalam. Dia nganterin kamu pulang. Dan kalian ketawa bareng di dalam mobil Irvan, di malam hari.”

Andini menaikkan satu alisnya. “Bukannya kamu ada di tempat kejadian waktu Irvan bilang dia bakalan nganterin aku pulang semalam? Bukannya kamu cuma diam aja dan tersenyum sambil mengangguk dan keliatan senang karena harus mengantarkan Aulia pulang? Bukannya justru kamu yang keliatan akrab dan dekat sama Aulia untuk ukuran orang yang baru saling mengenal? Dan, apa salahnya ketawa bareng sama sahabat sendiri? Toh kita nggak ngelakuin apa-apa di dalam mobil. Aku sama Irvan cuma ngobrol ringan sebentar.”

Carvian mendengus. “Tapi—“

“Carv,” potong Andini, masih dengan nada kalemnya. Cewek itu selalu tidak pernah bisa terbaca jika sudah berhadapan dengan lawan bicaranya. Sikapnya yang selalu tenang dan kalem, meski dalam keadaan apa pun, adalah poin lebihnya sehingga lawan bicaranya akan selalu kehilangan ketenangannya. “Kamu mata-matain aku?”

Carvian mengerjap. “Apa?”

Andini mengedikkan bahu. “Kamu tau sampai ke detail aku dan Irvan ketawa bareng di dalam mobil. Cuma ada dua opsi: kamu ada di sana dan ngeliat dengan mata kepala sendiri atau kamu menyuruh orang lain untuk memata-matai aku. Atau, kalau mau yang lebih ekstrim lagi, ada orang lain yang memata-matai aku dan kasih informasi itu ke kamu.”

Kedua tangan Carvian mengepal kuat di sisi tubuhnya. “Jadi, kamu mau bilang kalau Aulia sengaja mengambinghitamkan Irvan untuk mengadu domba kamu sama aku? Supaya kita ribut terus putus? Gitu?”

Ah, jadi Aulia Serenity penyebabnya. Andini menganggukkan kepala samar. “Aku nggak pernah ngomong kayak gitu, justru kamu yang baru aja berasumsi demikian.”

Mendengar itu, Carvian tidak mampu berkata-kata.

“Carv, mending kamu jujur.” Andini menatap tegas Carvian. Senyuman itu tersungging di bibirnya, membuat Carvian menelan ludah tanpa sadar. “Sejak kapan kamu punya hubungan sama Aulia?”

“Apa?”

“Kamu mau menyalahkan aku, menuduh aku berselingkuh dengan Irvan.” Andini menyilangkan kaki kanannya ke kaki kiri. “Di saat kamu tau betul kalau Irvan dan aku hanya bersahabat. Bahwa kamu, sebagai sahabat Irvan, seharusnya lebih mengenal Irvan untuk tahu dia masih menyimpan rasa buat Aulia, cewek yang dia ceritain dulu. Cewek yang menolak dia. Terus, kamu mulai menuduh aku berselingkuh dengan Irvan di saat Aulia datang. Kalau kamu emang mau nuduh aku dan Irvan, kenapa kamu nggak lakuin itu dari dulu?”

Rahang Carvian mengeras. Giginya mengertak. Cewek di hadapannya ini benar-benar tidak bisa diremehkan. Cewek di hadapannya ini benar-benar pintar dan tangguh.

“Aku sayang sama kamu. Benar-benar sayang sama kamu. Tapi, kalau kamu udah menjalin hubungan sama Aulia di belakang aku sejak lama, aku terpaksa harus mundur. Hati aku terlalu berharga untuk disakitin sama kamu kayak gini. Itu artinya juga, Aulia udah menyadarkan aku kalau kamu bukan cowok yang pantas buat aku. Kalau kamu itu brengsek bukan main, bersembunyi di balik topeng manis kamu itu. Don’t you think so too, Irvan?”

Mendengar nama Irvan disebut, otomatis Carvian menoleh dan mematung. Entah sejak kapan, sahabatnya itu sudah berada di ambang pintu, bersedekap sambil menyandarkan sebelah pundaknya ke dinding.

“Kalau kamu mau putus, kamu tinggal bilang aja padahal,” lanjut Andini lalu berdiri dari duduknya. Dia mendekati Carvian dan membelai pipinya dengan lembut. Lantas, cewek itu berbisik, “Aku bebasin kamu dari aku, Carv. Kamu bebas. Aku nggak tau sejak kapan kamu kenal sama Aulia dan pacaran sama dia, tapi, aku harap kamu bisa bahagiain dia. Oh, dan ingat... karma itu nyata. Karma is a bitch.”

Selesai berkata demikian, Andini menepuk pundak Carvian beberapa kali dan meninggalkan cowok itu. Andini melambaikan tangan tanpa berbalik, membiarkan Irvan menggenggam tangannya dan membawanya keluar dari ruangan neraka tersebut.

Sebenarnya, sejak semalam Andini berpikir mengenai keanehan Aulia dan Carvian. Lalu, dia tidak sengaja mendengar percakapan Aulia di telepon karena sepupunya itu menginap di rumahnya semalam. Aulia melapor pada Carvian bahwa dia sudah berhasil mendapatkan video dirinya dan Irvan yang bisa mereka gunakan untuk memojokkan Andini sehingga Carvian nantinya bisa putus dengan Andini. Karena itulah, Andini mengatur serangan balik.

Di salah satu rumah makan cepat saji, Andini memakan kentang gorengnya tanpa terlihat sedih sama sekali. Diliriknya Irvan saat dia menyadari cowok itu sedang menatap ke arahnya.

“Apa?” tanya cewek itu dengan nada santai.

“Kok lo nggak nangis?”

“Kenapa harus?”

“Karena lo udah dikhianati dan disakitin?”

Andini menarik napas panjang dan meminum es lemonnnya. “Gue mikir, buat apa gue sia-siain air mata gue untuk cowok macam dia? Dan lagi, gue udah melabrak Aulia semalam. Hati gue udah plong waktu gue marah-marah sampai orang tua gue bingung dan nanya apa yang terjadi.”

“Lo sama Carvian kan udah lama banget jadiannya, Din.” Irvan memang sudah mendengar keseluruhan ceritanya dari Andini semalam karena cewek itu mengiriminya pesan singkat dan mereka terus chatting sampai pagi hari. “Nggak sayang sama hubungan kalian?”

“Van, masih pacaran aja dia udah selingkuhin gue, apalagi kalau nanti sampai kami menikah? Nggak deh, makasih. Sakit hati emang, tapi mau gimana lagi? Tuhan udah kasih gue petunjuk kalau Carvian itu bukan cowok baik buat gue.”

Irvan diam. Cowok itu memakan kentang gorengnya dan mengepalkan sebelah tangannya yang berada di bawah meja hingga buku tangannya memutih. Dia mengutuk Carvian di dalam hatinya. Rasanya ingin sekali menghajar cowok itu sampai terkaing-kaing dan memohon ampun.

“Tawaran lo semalam masih berlaku, nggak?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Irvan, membuatnya mengerjap dan melongo ketika menatap raut wajah santai dan senyuman geli Andini.

“Hah? Tawaran yang mana?”

“Soal lo ngajak gue nikah. Masih berlaku atau nggak?”

“Lo... serius?”

“Kalau gue nggak serius, ngapain gue nanya?” Andini membersihkan mulutnya dengan tisu dan meraih sundae ice creamnya. “Atau, lo yang nggak serius?”

“Serius! Gue serius!” Irvan buru-buru mengangguk dan menggenggam erat tangan Andini. “Tapi, lo beneran mau? Beneran siap? Hati lo sendiri gimana?”

Andini nampak berpikir. “Lo... punya rasa sama gue?”

Hening sejenak, sampai kemudian Irvan mengangguk. “Gue suka sama lo. Udah lama gue mendam perasaan gue ini karena gue nggak mau hancurin hubungan lo sama Carvian. Karena rasanya nggak etis menyukai pacar dari sahabat sendiri. Tapi, sekarang urusannya udah lain. Lo udah putus dan lo sendiri yang mengingatkan gue soal tawaran pernikahan itu. Asal lo tau aja, gue nggak ada niatan untuk ngelepasin lo kalau lo udah setuju. Lo sendiri gimana?”

“Lo orang baik, Van. Gue rasa, nggak akan susah untuk jatuh cinta sama lo. Gue terima lamaran lo. Lo tinggal datang ke rumah gue dan meminta gue secara baik-baik ke orang tua gue. Setelah itu, kita tinggal mengurus semua keperluan pernikahan. Gimana?”

Irvan tersenyum lebar dan mengangguk. “Gue nggak akan pernah bikin lo sedih dan nangis, Din. Gue akan selalu menjaga dan melindungi lo, terutama hati lo.”

Andini hanya mendengus dan tertawa. Jika keduanya berpikir ini akan semudah yang mereka bayangkan, mereka salah besar. Andini dan Irvan tidak pernah tahu bahwa prahara bernama Carvian dan Aulia akan datang kembali untuk menghancurkan kehidupan pernikahan mereka.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.