Pintu kamar mandi terbuka pelan, dan suara langkah kaki berat terdengar masuk ke dalam. Selina sontak menoleh cepat. Napasnya tercekat saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Duke.
Tanpa berkata apa-apa, pria itu melangkah masuk dan menghampirinya. Wajah Selina langsung panik-refleks ia memalingkan wajahnya, membelakangi cermin, menyembunyikan matanya yang mulai memerah karena perasaan malu dan rapuh yang menyerangnya bertubi-tubi.
Namun Duke berhenti tak jauh darinya, menatapnya dengan sorot yang berbeda dari yang lain.
"Apa kau hanya bisa diam?" tanyanya lirih, namun dalam. "Kau bisa melawannya, Selina. Bahkan menamparnya semaumu kalau kau mau."
Kalimat itu menampar keras sisi batin yang selama ini Selina kubur. Ia mengangkat kepalanya, menatap Duke dengan mata bingung.
"Untuk apa?" balasnya datar, namun getir. "Untuk sekadar memuaskan harga diriku? Buat apa..."
Duke hanya menghela napas. Matanya memandang Selina dengan prihatin. Sangat prihatin.
Ia benar-benar berubah.
Gadis paling bersinar di sekolah dulu... kini begitu kurus, wajahnya pucat dan lelah. Tak ada sisa glamor atau sorot percaya diri yang dulu selalu memikat siapa pun yang menatapnya. Dulu Selina adalah pusat perhatian - dengan tubuh semampai dan gaya yang selalu sempurna. Kini, yang berdiri di depannya hanyalah bayangan redup dari cahaya yang dulu pernah menyala terang.
Tanpa peringatan, Duke mendekat.
Selina terkejut, menelan salivanya gugup saat punggungnya menyentuh tepi wastafel. Ia tak bisa mundur lagi, dan kini hanya bisa berdiri membeku saat Duke memegang kedua bahunya dengan lembut.
"Selina," gumam Duke pelan. "Apa pernikahanmu... baik-baik saja?"
Matanya menelusuri wajah Selina, mencari jawaban dari sorot matanya yang sayu.
"Bagaimana sikap suamimu padamu? Apa dia memperlakukanmu dengan layak?"
Selina menatap Duke. Dan untuk sesaat, matanya berkaca. Tapi pertahanannya masih tegak. Ia menarik napas pendek.
"Kau... bahkan tak ada bedanya dengan Raselyn," gumamnya, nyaris berbisik.
Duke langsung menggeleng, cepat dan tegas. "Tidak, Selina. Aku bukan dia. Aku menanyakan ini bukan karena ingin tahu. Tapi karena aku-" ia menahan napas, "aku peduli."
Tangannya menggenggam lembut kedua bahu Selina, namun tak menekan.
"Katakan saja... jika suamimu berbuat buruk padamu. Kau bisa memberitahuku kapan pun. Aku serius."
Dan di detik itu, pertahanan yang Selina bangun selama ini mulai goyah.
Ia menunduk, matanya mulai berkaca. Rasanya seperti segumpal batu di dadanya runtuh pelan-pelan. Seketika ia teringat akan semua masalah yang ia hadapi di rumah: bentakan, pengabaian, rasa sepi yang menyesakkan... semua kembali muncul dalam satu helaan napas.
Namun Selina masih memilih diam. Menahan tangis itu di tenggorokan. Ia bahkan tak tahu kenapa, tapi ia terlalu terbiasa memendam.
Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berusaha mengalihkan arah pembicaraan.
"Kau sendiri bagaimana?" gumamnya. "Di mana istrimu? Apa... kau sudah punya anak?"
Duke terdiam.
Lalu perlahan, ia menatap mata Selina. Dalam. Hangat. Tapi juga mengandung kesedihan.
"Aku tidak menikah."
Hening. Seketika.
Kata-katanya menggantung di udara seperti embun dingin.
Matanya tetap menatap Selina tanpa berkedip, seakan ingin mengatakan lebih dari sekadar jawaban.
Dan di antara keheningan itu, hanya suara napas mereka berdua yang terdengar. Dua jiwa yang pernah bersinar di masa lalu, kini bertemu kembali-dalam diam yang penuh luka, tapi juga... harapan.
Duke, tanpa aba-aba, langsung mencium bibir Selina.
Bibirnya yang penuh dan sensual mendesak masuk, menuntut, mencuri napas Selina.
Mata Selina melebar, terkejut namun tenggelam dalam sensasi yang luar biasa; sentuhan liar, intens, dan nikmat yang membangkitkan gairah terpendam.
Dunia seakan berhenti berputar, hanya ada ciuman itu, panas dan memabukkan.
Namun, bayangan suaminya di rumah menusuk kesadarannya.
Selina tersentak, menarik diri dari belitan bibir Duke.
Duke membuka mata, kepalanya masih miring, tatapannya kaku, "Suamimu... tidak pernah menciummu seperti ini?" bisiknya, suara serak bercampur ejekan dan rasa ingin tahu yang membara.
Selina menelan saliva, pipinya memerah padam.
"Tolong... jagalah jarakmu," bisik Selina, suaranya bergetar, dipenuhi rasa takut. "Seseorang akan curiga, salah paham jika kau di sini."
Duke tersenyum miring, tatapan nakalnya kembali tertuju pada bibir Selina. Ia berbisik, "Justru, aku ingin semua orang curiga pada kita."
Selina menatapnya, takjub dan takut bercampur aduk. Sekali lagi, bibir mereka bertemu, kali ini lebih dalam, lebih mendesak.
Duke memegang pinggang Selina, mendorongnya hingga duduk di meja wastafel.
"Selina..." panggilnya, suara serak hampir tak terdengar.
Wajah Duke mendekat, napasnya hangat membasahi kulit Selina.
"Berikan aku sedikit ciuman lagi... sepertinya aku tak hanya mabuk alkohol, tapi juga mabuk bibirmu," bisiknya sebelum kembali mencium bibir Selina, lidahnya menyusup, menjelajahi rongga mulut Selina dengan penuh gairah.
Tubuhnya merapat di antara paha Selina, tanpa gentar akan kedatangan orang lain.
Selina tak mampu menolak. Lima tahun pernikahan yang hampa sentuhan, tanpa kecupan mesra di bibir, bahkan di ranjang sekalipun.
Ini adalah ciuman pertamanya, liar dan memabukkan.
Tangan Duke yang usil mulai meraba paha Selina, menyusup masuk ke dalam rok span hitamnya, meremas lembut kulit pahanya yang halus.
Tangan Duke semakin berani, merayap naik dari paha Selina, melewati lekuk tubuhnya yang terbalut kain tipis.
Sentuhannya menimbulkan sensasi yang menggetarkan, campuran rasa takut dan gairah yang membingungkan.
Selina mendesah pelan, tubuhnya menegang namun juga meronta-ronta dalam dekapan Duke yang semakin erat.
Napas mereka memburu, campuran aroma parfum dan keringat memenuhi ruangan kecil itu.
Duke mencium leher Selina, gigitan lembutnya meninggalkan jejak merah di kulit putih mulus.
Selina merintih, tangannya meraih rambut Duke, menariknya lebih dekat. Ciuman mereka semakin dalam, lidah mereka bertautan dalam permainan sensual yang tak terbendung.
Duke melepaskan ciumannya, matanya menatap mata Selina, melihat hasrat yang sama berkobar di dalamnya.
Dengan gerakan pelan namun pasti, Duke membuka kancing kemeja Selina, kulitnya yang putih bersih terekspos.
Sentuhannya lembut, namun setiap sentuhannya terasa seperti sengatan listrik yang mengaliri tubuh Selina.
Ia merasakan gairah yang selama ini terpendam, meledak dalam ciuman dan sentuhan Duke yang tak pernah berhenti.
Selina meraih tangan Duke, menuntunnya untuk menjelajahi tubuhnya, menemukan titik-titik sensitif yang membuat tubuhnya bergetar.
Udara di antara mereka terasa panas, dipenuhi aroma gairah dan hasrat yang tak tertahankan.
Ketakutan awal telah sirna, digantikan oleh gelombang kenikmatan yang membuncah.
Hingga Selina tersadarkan akan aksi gilanya barusan, ia mendorong Duke yang tengah mencumbui dadanya, merapikan bajunya dengan cepat.
"Kenapa?" Tanya Duke saat Selina turun dari meja wastafel dan membenahi semua pakaiannya dengan baik dan cepat, seperti seseorang sedang mengejarnya.
"Maaf, aku tidak seharusnya melakukan ini, aku sudah menikah," katanya yang mana bayangan suaminya yang terlintas di otak membuat Selina sadar.
Duke berdecak dan memegang kedua bahu Selina, "Aku tahu ada sesuatu dalam pernikahanmu. Aku tahu kamu tidak bahagia dengannya. Ceraikan dia dan menikahlah denganku. Aku akan membuatmu bahagia." Selina menghempaskan tangan Duke dengan kasar.
"Jangan mimpi, aku tidak akan melakukannya!" Sentaknya lalu melenggang pergi keluar dari kamar mandi meninggalkan Duke dengan kesendiran dan kekecewaan setelah nikmat sesaat yang ia dapat barusan.





