Menikahi Mantan Istriku Lagi: Cinta Menyembuhkan Patah Hati

Ketika dia telah sampai di rumah, dengan perlahan dia menyeret kopernya menaiki tangga, dan dia sudah sangat kelelahan sedangkan anak tangga yang harus dinaikinya cukup banyak. Pada akhirnya, dia tinggalkan kopernya begitu saja dan naik ke atas sendirian.

Setelah kembali ke kamarnya, dirinya menjadi lebih tenang dan perlahan ketegangannya mulai kempis seperti balon. Dia merasa seakan dirinya tidak berdaya.

Dia menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur, dan setelah sekian lama dia mencoba untuk tidur, tetap saja dia tidak bisa tertidur. Semua kenangan yang di lewatinya selama tiga tahun di rumah keluarga Sitohang terus menerus terlintas di benaknya, dan diikuti oleh kenangan tentang Jerry.

Ketika dia masih kecil, dia pernah di dorong ke dalam kolam. Dia tidak akan jatuh cinta padanya dan menerima lamaran pernikahannya, jika pada saat itu Jerry tidak mengulurkan tangannya untuk menyelamatkan dirinya. Kemudian, semuanya tidak akan berakhir seperti ini.

Tetapi apa gunanya berpikir tentang kejadiannya itu "jika"? Apa yang telah terjadi biarkan itu telah terjadi. Yang akan menjadi suatu masalah nanti, adalah sekarang dia sedang hamil.

Ketika dia mengingat anak yang berada di dalam kandungannya, Mariana merasa tidak berdaya, dan senyum yang mengejek dirinya sendiri muncul pada wajahnya.

Dia mengetahui bahwa jika dia memanfaatkan anak itu sebagai bagian dari negosiasi untuk meminta Jerry tinggal bersamanya, maka dia akan segera menyeretnya ke rumah sakit untuk mengugurkan kandungannya.

Dia tidak cukup bodoh untuk berpikir bahwa pria yang tidak memiliki perasaan cinta padanya akan meneruskan hidup bersamanya hanya karena anaknya yang belum lahir.

Pria yang ambisius seperti Jerry tidak akan pernah mau melakukan itu. Selain itu, dia tidak akan merendahkan harga dirinya untuk mencoba mengikatnya dengan seorang anak. Kehidupan seperti itu juga akan menjadi sangat menyedihkan.

Dengan semua pikiran yang mengalir di kepalanya, Mariana tidak dapat tertidur hingga fajar menyingsing.

Tidak sampai setengah jam kemudian, pintunya terbuka dengan keras, dan suara lelaki yang kasar terdengar di telinganya.

"Kenapa kamu pulang? Mengapa juga kamu membawa begitu banyak barang bawaan?"

Mariana masih sangat mengantuk sehingga dia tidak ingin bangun sama sekali. Dengan mata yang masih tertutup, dengan malas dia menjawab, "Jerry dan aku telah memutuskan untuk bercerai."

Setelah tertegun diam selama beberapa detik, Leo Gojali menjadi sangat murka. "Maksud kamu apa? Mengapa kamu bercerai? Bangun dan jelaskan!"

Selimut di tubuh Patricia di tarik dan di buang ke lantai oleh Leo. Merasakan hawa dingin yang mengenai tubuhnya, akhirnya Mariana membuka matanya kemudian melihat dengan pandangannya yang samar seseorang dengan sosok tinggi dan besar berada di depannya.

"Bangun! Aku akan menunggumu di bawah. Turun sekarang!" Tanpa menunggu Mariana untuk bangun, Leo pergi, luapan amarahnya tidak dapat dikuasainya, dia berjalan dengan makian dan kutukan keluar dari mulutnya.

Patricia menghela nafasnya. Dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi.

Dia bangkit dari tempat tidurnya, mengenakan mantel tipis, dan turun ke bawah.

Ayahnya, Leo, ibu tirinya, Yolanda Purbasari, dan saudara tirinya, Linda Gojali, semuanya telah berkumpul.

Bahkan sebelum dia berada di depan mereka, Leo berteriak, "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Jerry? Siapa yang meminta cerai duluan?"

Mariana menundukkan kepalanya untuk fokus pada anak tangga, yang tampak tidak jelas di depan matanya. Sebelum dia dapat mengucapkan sepatah kata, Yolanda, yang duduk di samping ayahnya, berkata, "Ya, sepertinya tidak ada masalah di antara mereka. Mengapa mereka mendadak bisa bercerai begitu saja? Ini sedikit mencurigakan."

Apa yang telah dikatakan Yolanda membuat Leo memikirkannya. Setelah beberapa saat, dia bertanya, "Jerry yang meminta cerai, benar?" Dia ingat bahwa tiga tahun yang lalu, ketika Jerry datang kepadanya dengan tujuan melamar Mariana untuk menikah dengannya, Mariana luar biasa merasakan kegembiraan yang seakan menjadikan dirinya seperti terbang diatas awan. Cintanya pada Jerry sudah jelas, jadi tidak masuk akal baginya jika dirinya yang meminta cerai.

Mariana berjalan ke ayahnya dan menatapnya. "Tidaklah menjadi masalah siapa yang mengajukan cerai. Fakta yang terjadi, kami sudah bercerai sekarang."

Melihat sikap ayahnya, dia sedikit kecewa. Dia sudah merasa tertekan. Mengapa ayahnya tidak berusaha menghiburnya dengan sambil menyelidiki alasan perceraiannya? Apakah itu sungguh menjadi hal yang penting? Itu sama sekali bukanlah persoalan yang penting baginya.

Leo menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Tetapi seketika itu juga, dia memikirkan sesuatu dan bertanya padanya dengan terburu buru, "Bagaimana dengan asetnya? Bagaimana cara kamu membaginya? Karir Jerry sangat berkembang pesat dalam tiga tahun ini. Aku memikirkan kalau kekayaannya sekarang sudah melebihi beberapa kali lipat dari kita keluarga Gojali!"

Saat dia berbicara tentang kesuksesan Jerry selama tiga tahun terakhir, Leo yang cerdas terlihat menyipitkan matanya. Sepertinya dia tidak salah dalam menilai Jerry. Ketika Jerry mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Mariana, Leo berpikir bahwa dia akan mencapai kesuksesan yang besar di masa depan. Tentu saja, Jerry ternyata jauh lebih berhasil daripada yang dia bayangkan sebelumnya. Hanya dalam waktu tiga tahun, dia tidak hanya mendapatkan pijakan yang kuat di pasar besar, tetapi dia juga telah mengembangkan Grup Sitohang menjadi konglomerat terbesar di sini. Dia juga telah mendirikan cabang perusahaan di luar negeri.

Mariana hanya dapat menunduk dan tidak menjawab. Semangat yang dia miliki seketika hilang.

Yolanda dan Linda saling bertukar pandang dan sambil tersenyum menghina. "Mariana, apakah kamu menyerahkan semua asetmu dan kembali tanpa membawa apapun?" tanya Linda.

Ketika Leo mendengar perkataan ini, dia terkejut. Dia memandang kearah Mariana dengan tatapan dingin dan bertanya, "Apakah itu benar?"

"Ya." Dengan tanpa keraguan, Mariana menatap ayahnya dan menganggukan kepalanya.

Selama beberapa detik, Leo meliriknya tanpa ekspresi sedikitpun. Kemudian, ketika perkataan itu akhirnya meresap ke dalam hatinya, dia menjadi marah. "Kamu anak perempuan yang tidak berbakti! Mengapa kamu menyerahkan semua aset kamu?"

Dia melompat dari kursi sofa dan bergegas berlari ke arah Mariana. "Apakah kamu melakukan sesuatu yang salah terhadap keluarga Sitohang? Kalau tidak, mengapa kamu menyerahkan semua aset?"

"Dia menawariku uang, tapi aku tidak menginginkannya," jawab Mariana tegas, dan menatap lurus ke mata ayahnya tanpa rasa takut sedikit pun.

Dia sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh keluarga Gojali. Apalagi dia sudah terbiasa menjadi sasaran atas kekecewaan ayahnya. Semua orang di keluarga ini selalu meremehkan dirinya karena dia terlalu rendah hati.

Leo sangat marah sampai ingin menampar putrinya, tetapi dia akhirnya menahan amarahnya dan berdiri tegak. "Berapa banyak uang yang dia tawarkan padamu?"

Dia tidak ingin membuang waktu lagi untuk percakapan ini, jadi dia memberinya jawaban yang jujur. "Dua ratus tiga puluh miliar rupiah."

Mendengar ini, kemarahan Leo melonjak naik dan hampir saja ingin menampar wajah putrinya, tetapi dia menarik telapak tangannya yang terangkat dan mundur beberapa langkah. Kemudian, dia kembali duduk lemas di kursi sofa dengan semua kekuatannya yang telah meninggalkannya. "Dua ratus tiga puluh miliar rupiah? Apakah dia menganggapmu sebagai pengemis di jalanan?"

Melihat sikap Leo, Yolanda menjadi kompor dengan menambahkan beberapa perkataan agar situasi menjadi panas. "Grup Sitohang sekarang bernilai 1, 090 triliun rupiah. Meskipun itu adalah kekayaan atas seluruh anggota keluarga Sitohang, tetapi setidaknya Jerry harus memiliki seratus empat puluh triliun rupiah di tangannya. Dia mendapatkan semua uang itu setelah dirinya menikahi Mariana. Maka memang sudah seharusnya itu dibagi rata di antara mereka setelah bercerai! dan betul angka tersebut senilai dua ratus tiga puluh miliar rupiah. "

Yolanda kemudian terdiam dengan ragu. Semua orang mengetahui apa yang sebenarnya ingin dia katakan.

Linda duduk dengan diam di sana, menghitungnya untuk waktu yang lama di kepalanya sebelum akhirnya dia menarik lengan Yolanda. "Ibu, apakah betul sekarang Jerry sudah menjadi orang kaya?"

Tiga tahun yang lalu, Jerry baru saja kembali pulang ke negaranya setelah dari luar negeri. Saat itu, perusahaan kecilnya hanya bernilai empat puluh tiga milyar rupiah saja. Tetapi hanya dalam kurun waktu tiga tahun, telah terjadi kenaikan jumlah yang mengerikan.

Yolanda tidak memperdulikan atas pertanyaan putrinya. Dia melirik ke arah Leo dan Mariana kemudian melanjutkan perkataannya, "Tapi karena mereka sudah bercerai dan Mariana telah menolak uang itu, maka tidak ada lagi yang dapat dibicarakan."

"Tidak mungkin! Putriku telah bekerja keras seperti pelayan untuk keluarga Sitohang selama tiga tahun, tetapi sungguh berani sekali dia menceraikannya tanpa memberinya sepeser uang? Dia pasti bermimpi jika dia bisa lolos dari masalah ini! Sekalipun jika dia mempekerjakan seorang pelayan dan kemudian dia memecatnya, maka seharusnya dia membayar uang pesangon!"

Perkataan Leo menusuk hati Mariana seperti pisau. Tampaknya keputusan orang yang berada di sekitarnya, apakah itu Jerry atau ayahnya, semuanya hanya ingin untuk mendapatkan keuntungan darinya.

Dia hanya seperti pion dalam permainan yang mereka lakukan.

Meskipun dia sudah mengetahui hal ini, dia tidak merasa terluka atas tindakan Jerry. Tetapi mengapa ayahnya sendiri yang memperlakukan dirinya seperti ini?

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.