Reject Me

Malam itu, ayah Eliza baru saja pulang dari perusahaan tempatnya bekerja. Ayah Eliza yang membawa sebuah mobil dengan harga yang lumayan itu menghentikan kendaraannya di tepi jalan saat suara yang dikenalnya terdengar berteriak meminta tolong.

Dia berusaha mencari asal suara itu namun, semakin dia berusaha mencari semakin jauh suara itu terdengar. Ayah Eliza terus mengejar suara itu, dia berharap bisa menolong temannya itu lantaran temannya mengatakan akan ke rumah sakit untuk menemui istrinya yang akan melahirkan.

Dia terus berlari menyusuri jalan yang membawanya ke sebuah hutan belantara yang ada di belakang kota itu, di saat dia mendekat suara teriakan semakin terdengar jelas. Ayah Eliza terus berusaha mengejar suara temannya hingga menemukan beberapa vampir sedang mempermainkan pria dengan tubuh kecil itu.

Teman ayah Eliza dilempar ke sana-kemari dengan cara yang menyedihkan hingga beberapa luka tampak tercipta di tubuhnya akibat goresan ranting dan kerikil yang mengenai tubuhnya.

"Wah wah, ada seekor anjing yang berani datang mengganggu kesenangan kita. Dia bertindak sok jagoan rupanya," ejek pria dengan baju kaus berwarna biru laut itu.

Dia menjatuhkan teman ayah Eliza ke tanah menyebabkan dentuman terdengar meski tidak terlalu keras, ayah Eliza dengan cepat menolong temannya itu. Dia berlari dari tempat itu karena tahu jumlah musuh akan membuat dia kalah, ayah Eliza berhasil mencapai mobilnya meski dengan napas terdengar sedikit tidak teratur.

Dia memasukkan temannya itu ke dalam lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit, beruntung temannya dapat diselamatkan. Merasa keadaan aman ayah Eliza meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke rumahnya, ayah Eliza yang merasakan tidak akan ada masalah membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.

Sayangnya, saat dia memasuki kawasan lenggang penduduk, mobilnya dihantam oleh sesuatu hingga penyok di bagian depan. Saat dia berusaha mengendalikan laju kendaraannya, hantaman kuat juga dia dapatkan dari belakang.

Keadaan mobil hancur di bagian depan dan belakangnya, ayah Eliza mengalami luka di pelipisnya yang dengan cepat mengering karena luka akibat benturan itu tidak terlalu dalam. Saat dia merasa serangan itu telah usai, mobil yang dikemudikannya diseret menjauh menuju jurang yang ada di dekat sana.

Jurang sedalam 20 meter itu di dasarnya adalah sungai dengan laju air yang deras dan batu-batu besar tersusun rapi di tepinya. Ayah Eliza dengan susah payah mencoba keluar dari mobil namun kakinya yang terjepit badan mobil membuat dia kesulitan untuk bergerak.

"Apa kau masih ingat aku, Tuan!" sapa orang itu dengan wajah menyeramkan.

Kukunya berubah panjang dengan bola mata berwarna merah darah, ada dua taring yang muncul di bibirnya dengan darah segar masih terlihat mengalir keluar dari sudut bibirnya. Di baju pria itu juga masih ada noda darah yang melekat dengan begitu jelas, pria itu berdiri di depan kaca mobil bagian depan yang terbuka seolah mengejek keadaan ayah Eliza yang malang.

"Kau, apa yang kau inginkan? Kenapa kau melakukan semua ini? Kalian berbeda, kau tidak pantas untuk putriku yang memiliki darah murni keturunan bangsawan. Jika dia bersamamu maka dia akan diburu oleh keluarga bangsawan untuk dimusnahkan, kau tidak ingin hal itu terjadi bukan?" tanya ayah Eliza masih berusaha bersikap ramah.

Pria itu tertawa dengan begitu besarnya, tawanya yang menyeramkan membuat hewan-hewan malang terbang berhamburan. Dia menyapa ayah Eliza dengan pandangan meremehkan, kasta, selalu itu yang menjadi pemisah mereka yang tidak memiliki darah keturunan murni seperti mereka.

Sejak dulu, selalu kasta yang menghalangi dirinya untuk bersatu dengan wanita yang disukainya, pada akhirnya semua wanita itu mati di tangannya dan dijadikan santapan mereka.

"Kalian hanya peduli dengan kasta yang kalian miliki, kalian tidak memikirkan nasib kami yang dipaksa berubah hanya karena mengikuti keinginan kalian. Kami juga ingin bahagia, kami pantas untuk mendapatkan itu tapi kalian kaum bangsawan selalu meremehkan kami, tidak tahukah kalian kalau kekuatan kami sekarang jauh lebih hebat dari kalian?" Pria itu meraih leher ayah Eliza membuat pria itu kesusahan dalam bernapas.

Ayah Eliza berusaha berganti shift dengan serigala yang ada di dalam tubuhnya namun tidak satupun dari semua panggilannya terhubung, ayah Eliza melihat jurang yang ada di depannya. Dia berusaha melawan namun kekuatan yang dimilikinya seperti terkuras hingga tubuhnya terasa lemah.

Saat dia bisa terhubung dengan serigala yang ada di dalam dirinya sesuatu yang kuat seperti besi menikam dadanya, dengan paksa jantungnya ditarik keluar dari tubuhnya lalu dilahap oleh vampir yang ada di depannya dengan tawa lebar.

"Kekuatanku bertambah lagi, jantung segar dari seekor Alfa berhasil aku dapatkan. Hahahah, kami semakin kuat dan kalian semakin lemah. Kami akan menghancurkan kalian hingga kami yang akan menjadi penguasa tertinggi." Pria itu mendorong tubuh ayah Eliza dengan keras.

Darah segar keluar dari luka lebar yang ada di dada ayah Eliza, sudut bibirnya juga mengeluarkan darah. Matanya menatap tidak percaya ke depan, padahal tadi pagi sebelum berangkat kerja dia sudah berjanji ada putri dan istrinya untuk makan malam bersama.

Mobil itu didorong menuju ke jurang, setelah sampai di tepi mobil itu langsung dijatuhkan. Ledakan keras terdengar saat mobil sampai di bawah sebelum jatuh langsung ke sungai dan hanyut terbawa arus sungai yang deras.

"Bu! Bukankah Ayah mengatakan kalau dia sudah di jalan sejak tadi, tapi kenapa Ayah belum sampai juga di rumah? Ini sudah sangat lama daripada waktu yang dibutuhkan Ayah untuk sampai ke rumah." Eliza melirik jam yang ada di dinding ruang tamu.

Sejak tadi mereka berdua terus menunggu kepulangan ayahnya namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda dia pulang ke rumah, Eliza tampak gelisah, dia melirik terus ke arah halaman rumah.

Saat keduanya sedang berada di dalam dilema, telepon rumah berdering nyaring. Kanaya buru-buru mengangkat telepon, dia berharap itu panggilan dari sang suami namun itu hanya harapan karena suara di sana bukanlah suara suaminya.

"Dengan Ibu Kanaya? Saya dari kepolisian setempat ingin memberitahu Anda tentang sesuatu, bisakah Anda datang ke jembatan Kayu Manis? Kami harap Anda segera datang ke tempat ini," ujar polisi wanita itu dengan penuh keraguan.

Kanaya menatap panggilan yang terputus, rasa tidak nyaman menggerogoti jiwanya apalagi saat tadi jantungnya serasa terbakar dengan rasa perih yang tidak terkira. Meski sekilas dia tahu ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi tapi dia tidak tahu apa itu, Kanaya menatap Eliza yang sibuk menatap ke luar.

Buru-buru Kanaya meletakkan telepon itu di tempatnya lalu berlari ke kamar yang berada di bawah tangga untuk mengambil jaket dan tas miliknya.

"Liza, saat Ibu pergi nanti tolong kau kunci pintu rumah dengan rapat ya! Jangan bukakan pintu untuk orang yang tidak kau kenal mengerti?" Kanaya berpesan sebelum meninggalkan rumah dengan sangat terburu-buru.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.