RAYHAN STORY

Sesampainya disekolah, pintu gerbang sekolah telah tertutup. Hal yang wajar karena jam telah menunjukkan angka delapan pagi. Rafa, Rafi serta Rayhan hanya dapat meratapi nasib jika seandainya mereka akan di hukum. Rafi dengan tampak lesu berdiri di depan gerbang, ia memanggil salah satu satpam yang bertugas menjaga gerbang sekolah.

Tadinya, Rafi menyarankan untuk membolos saja, tetapi langsung di bantah oleh Rafa. “Lebih baik di hukum, daripada bolos,” begitulah perkataan Rafa yang membuat Rafi jengkel setengah mati.

“Pak, bukain lah gerbangnya,” Rafi berucap memelas pada pak Joko, satpam sekolah.

“Aduh. Maafkan saya den Rafi, saya gak punya kewenangan untuk membukakan pintu bagi murid-murid yang datang terlambat,” Pak Joko berkata dengan perasaan bersalah.

“Ayolah pak, saya gak mau kena hukuman lagi,” Rafi memohon dengan menunjukkan puppy eyes andalannya.

Pak Joko terlihat iba, tetapi aturan tetaplah aturan yang harus do taati oleh siapa pun. Jadi yang bisa pak Joko lakukan hanya meminta maaf tak bisa menuruti permintaan Rafi.

“Masa bapak tega sih, kalo misalkan anak tertampan di sekolah ini harus dihukum pagi pagi gini,” ucap Rafi dengan kepercayaan dirinya yang sudah setinggi langit. Rafa dan Rayhan hanya diam, sudah biasa mereka melihat Rafi yang terlalu percaya diri itu.

“Sekali lagi, saya minta maaf den. Saya gak bisa,” pak Joko berkata untuk kesekian kalinya.

“Pak please sebelum guru killer itu datang, terus ia ngehukum kita loh pak, bapak tau kan bu Julia itu galak banget dan sialnya dia malah jadi wali kelas kita, ayolah pak bantu saya kali ini aja,” bujuk Rafi belum menyerah.

Ia sudah lelah dihukum hampir setiap hari. Alasannya karena terlambat, bolos pelajaran atau pun karena Rafi yang begitu menjengkelkan sehingga membuat bu Julia marah padanya.

“Ngapain ngomongin saya!” kata seseorang berdiri di belakang mereka. Ia menatap punggung mereka bertiga yang sedang menghadap ke gerbang. Dengan berkacak pinggang dan juga tatapan tajam ia berikan pada murid yang berani membicarakannya. Dari punggungnya saja, bu Julia hafal kalau itu adalah Rafi, murid yang selalu saja membuat menghabisi stok kesabarannya

“Eh ibu Julia, baru datang bu,” kata Rafi dengan senyum yang begitu di paksakan. Rautnya yang tadi kesal, kini menampilkan senyuman paling manis miliknya. Namun di dalam hatinya, ia merutuki mulutnya yang tidak bisa dijaga.

“Kalian terlambat yah?” Tanyanya pada mereka bertiga. Rayhan menundukkan kepalanya takut. Tatapan tajam dan menginterogasi dari guru itu membuat mereka tak mampu menjawab, kecuali Rafi tentu saja.

“Emm itu bu, kita cuma telat datang aja,” elak Rafi. Rafa yang berdiri di samping Rafi menginjak sebelah kakinya sebagai peringatan.

“AKH. SAKIT TAU!” teriak Rafi.

"Hah? Apa!" tanya bu Julia tak terlalu mendengar ucapan Rafi.

“Telat dikiiiiiit, aja,” ujar Rafi dengan tampang sok polos, berharap bu Julia akan iba dan  membiarkan mereka masuk tanpa mendapat hukuman.

Rayhan menepuk dahinya sendiri. Tak habis pikir mengapa bisa ia memiliki sepupu bego dan gak punya otak kayak Rafi. Untung saja Rafi memiliki wajah yang lumayan tampan.

“Ikut saya sekarang!” perintah bu Julia. “Pak Joko, tolong buka pintunya.”

“Siap bu,” pak Joko dengan sigap membuka gerbang.

“Mau kemana Bu? Mau beliin makanan yah? Kalo beli makanan Rafi ikut Bu,” sela Rafi saat gerbang sudah di buka oleh pak Joko. Ia dengan semangat melangkah masuk. Berharap bu Julia saat ini sedang berbaik hati.

“Saya akan hukum kalian, berdiri di lapangan sekolah dengan posisi hormat pada bendera,” ucap nya tak bisa di bantah.

Rafi yang mendengar kata-kata bu Julia langsung syok dan panik. Ingin kabur tapi gak bisa. Gimana dong? Ia sedang memikirkan cara agar bisa lolos dari hukuman ini.

“Bu jangan deh, perut saya tiba tiba sakit nih,” ucap Rafi pura pura sakit perut. Di tambah ekspresi wajah yang dibuat sesakit mungkin, agar bu Julia percaya.

“Jangan mencoba buat membohongi saya Rafi!” ucap bu Julia menahan marah “mau hukuman kamu saya tambah?”

Bu Julia memang sudah kebal dengan trik yang di berikan oleh Rafi. Anak itu ketika akan di hukum akan memberikan alasannya.

“Janganlah bu, saya gak bohong. Perut saya benar benar sakit,” kata Rafi dengan mimik wajah yang di buat semakin kesakitan.

“Saya gak peduli, kalian bertiga ke lapangan sekarang. Sampai jam kedua berakhir baru kalian boleh beristirahat,” kata bu Julia tak ingin di bantah.

Rayhan dan Rafa langsung pergi kelapangan tanpa protes berbeda dengan Rafi yang masih berdiam diri di tepi lapangan. Ia tentu masih ingin protes meski tahu bu Julia tak akan luluh dengan bujuk rayuannya itu.

“Ngapain kamu masih berdiri disitu,” ujar bu Julia menatap Rafi yang enggan menyusul Rafa dan Rayhan yang berjalan menuju lapangan.

“Bu tolong, saya gak mau dihukum. Sudah sering bu saya di jemur. Untuk kali ini, tolonglah bu mereka berdua, saya juga lelah bu di jemur terus. Emang ibu tega jika misalkan saya gosong,” bujuk Rafi dengan panjang lebar.

Bu Julia hanya menghela nafas lelah. Hal yang sudah biasa menghadapi Rafi yang keras kepala dan nakal itu.

“Rafi jangan buat saya marah, cepat kelapangan atau saya tambah hukuman buat kamu,” kata bu julia yang mulai kesal.

Melihat amarah yang akan meledak, Rafi tak ada pilihan lain selain menjalani hukumannya.

“Ehh iya Bu, jangan marah dong nanti gak cantik lagi loh.”

“RAFI!” Bentak Bu Julia tak tahan dengan muridnya yang satu ini.

“Hehehe, iya bu saya ke lapangan dulu,” kekeh Rafi dan langsung berlari ke lapangan.

Sabar. Punya murid seperti Rafi memang harus banyak sabar. Untung saja murid seperti Rafi hanya ada satu di sekolah ini. Rafa, saudara kembarnya sangat berbanding terbalik dengan perilaku Rafi.

Rafi segera menghampiri kedua saudaranya yang sudah lebih dulu mengambil posisi, menghadap bendera. Ia dengan malas berdiri di samping Rayhan. Sambil mempoutkan bibirnya, Rafi memberikan hormat pada bendera merah putih, kebangsaan Indonesia.

“Lama banget lo,” tegur Rafa yang melihat ekspresi kesal Rafi. Sudah di tebak jika Rafi datang dengan perasaan kesal, maka ia belum bisa meluluhkan hati bu Julia yang sekeras batu.

“Tadi gue rayu dulu tuh guru gendut tapi gak berhasil,” jawab Rafi.

Seketika kecewa karena hal sekecil ini tak dapat Rafi lakukan, padahal dia kan raja gombal. Banyak gadis-gadis yang mengantri ingin mendengar gombalan darinya, tapi meluluhkan hati guru killer ternyata sangat sulit.

Untung saja, pelajaran saat ini sedang berlangsung, jadi Rafi tak perlu malu karena kembali di hukum. Meskipun sebagain murid telah melihatnya yang sudah menjadi langganan guru BK.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.