Ranjang Panas Istri Kedua

Setelah persetujuan itu, Bella dan kedua orang tuanya pulang ke rumah. Langkah mereka terasa berat, seolah setiap hentakan kaki membawa beban yang tak terlihat. Begitu pintu rumah tertutup, Bella segera melangkah ke kamarnya. Tangannya gemetar saat meraih tas besar di sudut ruangan. Ia mulai melipat pakaian satu per satu, namun matanya berkaca-kaca, menahan air mata yang terus mendesak keluar.

"Aku siap-siap dulu, Pak, Bu... Takut kalau kelamaan nanti Juragan Bram marah lagi pada kita," ucapnya dengan suara parau, berusaha tersenyum meski hatinya bergetar.

Joko berdiri di ambang pintu, wajahnya muram. "Apa kita pergi saja dari sini? Biar kamu tidak jadi istri keduanya," ujarnya dengan nada ragu, namun tatapannya penuh harap.

Intan yang berdiri di belakang suaminya langsung mengangguk. "Iya, benar. Kita pergi saja. Kita masih bisa memulai hidup di tempat lain."

Bella menghentikan lipatan bajunya. Ia menunduk, jemarinya meremas kain baju yang ada di pangkuannya. "Menurutku itu bukan solusi, Pak, Bu. Kita tahu siapa Juragan Bram. Kalau kita sembarangan pergi, itu justru akan membawa masalah yang lebih besar untuk kita bertiga. Aku... sudah ikhlas menerima takdirku. Semoga saja ini memang jalan hidup terbaikku," ucapnya pelan.

Setelah itu, ia kembali membereskan pakaian, memasukkannya ke dalam koper dengan gerakan kaku. Dalam hatinya, ia berulang kali meyakinkan diri bahwa ia kuat... meski kenyataannya, hatinya hancur.

Sementara itu, di sebuah kamar mewah yang dikelilingi perabotan mahal, suasana terasa tegang. Bram duduk santai di kursi kulit hitam, sementara di hadapannya Tiara berdiri tegak. Napas Tiara memburu, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Tatapan matanya tajam, penuh kemarahan yang berusaha ia tahan.

"Coba kamu pikir baik-baik, mas. Kenapa kamu harus menikah lagi? Aku tidak mau dimadu seperti ini!" serunya, suaranya meninggi, penuh emosi.

Bram hanya menghela napas, lalu menatapnya dengan dingin. "Kalau tidak mau dimadu, berikan aku anak. Sudah lebih dari sepuluh tahun kita menikah, Tiara. Sampai sekarang kamu belum juga hamil. Kalau aku tidak punya anak, siapa yang akan meneruskan semua ini? Aku anak tunggal. Orang tuaku jauh di Belanda. Menikahi Bella adalah keputusan terbaik yang bisa aku ambil. Suka atau tidak, kamu harus menerimanya. Kalau tidak... silakan keluar dari rumah ini."

"Bram!!" bentak Tiara, dadanya naik turun menahan amarah dan luka yang menyesakkan.

"Apa? Tidak terima?" Bram menaikkan sebelah alisnya, nada bicaranya meremehkan.

Tiara terdiam. Kepalanya menunduk, matanya terasa panas. Air mata hampir jatuh, tapi ia menahannya. Ia tahu, meski sekeras apa pun ia berusaha, tubuhnya memang tidak mampu memberikan anak pada suaminya.

"Baik," ujarnya lirih setelah hening sesaat. "Aku tidak akan menghalangi pernikahan itu. Tapi... setelah dia punya anak, ceraikan dia."

Bram bangkit perlahan, langkahnya mantap menuju Tiara. Tatapannya berubah tajam, penuh amarah yang terpendam. Tanpa ragu, ia mencengkeram wajah Tiara, membuat wanita itu meringis kesakitan.

"Jangan mengaturku," ucapnya dengan suara rendah namun penuh ancaman. "Kau tidak punya hak untuk mengatur hidupku."

Dengan kasar, Bram melepaskan cengkeramannya, mendorong Tiara hingga terhempas ke sofa. Tiara memegangi pipinya yang perih, menatap suaminya dengan campuran rasa sakit dan benci.

Sebelum keluar dari kamar, Bram sempat menoleh, matanya menusuk seperti pisau. "Pernikahan kami akan dilaksanakan malam ini. Jangan membuat kekacauan."

Pintu tertutup keras, meninggalkan Tiara sendirian. Ia jatuh terduduk, dadanya bergetar hebat, dan kali ini ia tidak mampu lagi menahan air mata.

***

Sore itu, Bella tiba kembali di rumah mewah milik Bram. Gerbang besar terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas dengan taman yang tertata rapi. Namun, keindahan itu tak mampu mengusir rasa sesak di dadanya. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap injakan membawa beban yang tak terlihat.

Begitu memasuki ruang tamu yang megah dengan lampu gantung kristal berkilauan, ia disambut oleh seorang wanita paruh baya. Wajahnya ramah, senyumnya hangat, berbeda kontras dengan hawa tegang yang menyelimuti rumah itu.

"Selamat datang, Non. Ayo, saya antar ke kamar. Saya sudah menunggu Non Bella sejak tadi," ucap wanita itu lembut.

Bella mengangguk pelan. "Iya, Mbok. Nama Mbok siapa?" tanyanya lirih, suaranya nyaris tenggelam di antara denting halus jam dinding.

"Panggil saja Mbok Inem," jawabnya sambil tersenyum.

Bella kembali mengangguk. Mereka berjalan menuju tangga besar yang membelah ruang tamu, naik ke lantai atas menuju kamar yang telah disiapkan. Namun, langkah Bella terhenti tiba-tiba. Sebuah tangan mencengkeram lengannya dengan keras.

Ia menoleh, dan di hadapannya berdiri seorang wanita cantik dengan gaun mahal, namun wajahnya dipenuhi amarah. Tatapan matanya tajam, menusuk seperti pisau.

"Jadi kau orangnya? Kau yang akan menikah dengan suamiku," kata Tiara, suaranya dingin namun penuh penekanan.

Bella hanya mengangguk pelan, tak berani membalas tatapan itu. Ia tahu, di hadapannya kini adalah istri pertama Bram, wanita yang sedang dikuasai amarah.

"Kau pikir kau bisa mendapatkan suamiku? Kau akan menderita di sini," ujar Tiara, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh ancaman.

Bella menelan ludah. "Saya tidak bermaksud merebut suami Anda. Saya hanya menjalankan apa yang suami Anda minta," jawabnya pelan, mencoba menjaga suara tetap tenang meski jantungnya berdebar keras.

Tiara mendekat, jaraknya kini hanya sejengkal. Tangan halus namun kuat itu mencengkeram wajah Bella, memaksanya menatap. Sorot matanya penuh kebencian.

"Dengarkan baik-baik. Dia tidak akan mencintaimu. Dia hanya ingin anak darimu. Setelah anak itu lahir, kau akan pergi dari sini. Jangan pernah berharap mendapatkan harta... atau dirinya," ucap Tiara dengan nada yang nyaris seperti bisikan namun terasa seperti racun di telinga Bella.

Setelah itu, Tiara melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Tumit sepatunya berderap di lantai marmer saat ia pergi, meninggalkan Bella yang terhuyung sedikit.

Bella menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran di dadanya. Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Pasrah... hanya itu yang bisa ia lakukan.

"Ayo, Non," suara lembut Mbok Inem memecah keheningan. Ia mempersilakan Bella masuk ke kamar yang telah disiapkan.

Kamar itu luas, dengan ranjang besar berseprai putih bersih, lemari tinggi dari kayu jati, dan tirai tebal yang menutupi jendela. Bella duduk di tepi ranjang, matanya kosong menatap ke depan.

Sore ini mungkin ia masih aman. Namun malam nanti, ia harus menghadapi sesuatu yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Seseorang yang tidak pernah ia cintai... akan menuntutnya di ranjang.

"Apa aku bisa melakukannya? Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara melayaninya." gumamnya dalam hati, jemarinya menggenggam erat ujung seprai, seolah itu satu-satunya pegangan di tengah badai yang akan datang.

Bab kedua

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.