---
"... sakit?"
"Ti... Tidak."
"Kamu yakin ini tidak sakit?" Nona D menekan ujung heels merahnya. Pria dengan mata tertutup itu mengeluh, dia menahan suaranya. Urat lehernya seakan memanjang hingga menekan otot perutnya yang menegang. Dia menahan injakkan Nona D di dekat tulang selangkanya.
"Tidak ini sama sekali tidak sakit! Teruskan!" Erangnya. Kedua tangannya mencengkram tali pengikatnya, dia memaksa refleks tubuhnya. Jelas terlihat bekas siksaan yang menyakitkan, meninggalkan ruam-ruam di tubuhnya. Tetapi hal itu malah membuatnya bertambah gila dan minta dipuaskan rasa ketagihannya.
"Nona D..." Pria itu menggeliat, dia mempunyai lekuk tubuh yang kencang dan fit. Otot-otot perutnya timbul dipamerkannya, sebagai bukti bahwa dia rajin berolahraga. Pria itu lebih melebarkan kedua pahanya... Tampaknya kejantanan pria itu sudah sangat terangsang. Gairahnya melonjak sangat tinggi.
Nona D tersenyum senang, ekspresi tersembunyi di balik topengnya.
"Anak nakal! Kenapa kamu begitu terangsang?" Nona D melecutkan pemukul kulitnya ke udara seperti suara petasan yang berbunyi keras. Pria dengan mata tertutup itu tampak terkejut tetapi semakin kegirangan. Napasnya terus menderu, terlihat dari gerakan dada dan perutnya yang bergerak cepat.
"Saya anak nakal! Saya anak nakal! Tolong hukum saya, Nona D!" Pekiknya, tanda dia sangat haus ingin segera dipuaskan.
"Lihatlah, batang kotormu itu mengotori sepatuku!" Nona D mengusapkan sepatunya di sekitar kejantanannya. Dia memukulkan lagi pecut kulitnya, kali ini lebih dengan keras sebagai hukumannya!
Pria berumur 35 tahun itu mengerang, reaksi napasnya tertahan di perut hingga dadanya. Pria itu gelisah dan menggerakkan pinggulnnya, dia terlihat sangat erotis. Mata Almond setengah terpejam, mengimbangi berat tekanan birahinya. Nona D tahu, pria ini sedang menikmati rangsangannya.
"Beri aku lebih, Nona D!" Suaranya gemetar, tetapi bukanlah tanda dia ketakutan.
Sekali lagi, Nona D melecutkan pemukul itu dan mendarat lebih keras. Bekas merah memanjang di dadanya meninggalkan jejak memar. Pria itu melenguh dan meracau berat, rasa gelisahnya semakin membumbung.
Nona D menarik kuat pemecut dari kulit itu, menahan dengan tangannya. Sebelum meneruskan permainannya, dia memperhatikan kondisi pria di bawah tubuhnya terlebih dahulu.
"Nona D... Hukum saya lebih kuat!" Pintanya, urat di keningnya tampak mengurat keluar. Peluhnya mengucur deras. Pria seksi ini sangat menyukai sensasi menyakitkan dari rasa perih itu.
Nona D tertawa, dia langsung duduk di atas perut rata pria itu.
"Sabar! Apakah kamu sudah hampir keluar anak bodoh?" bisik Nona D sambil mengusapkan ujung pemecut itu ke mulutnya.
Pria itu mengangguk, dia pasrah saat Nona D memasukkan ujung pemecut itu ke dalam mulutnya.
"... Kamu bodoh sekali. Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu untuk bersabar? Kenapa Kamu ingin permainan ini berakhir?"
Nona D menarik kuat ring penjepit yang sudah terpasang pada puting pria itu. Pria itu langsung berteriak karena tidak menyangka penjepit itu ditarik paksa. Tetapi, bukannya kesakitan dia malah menyukainya. Nona D bisa melihat pori-pori kulitnya timbul karena merinding, pria ini sangat seksi.
"Nona... Nona...!" Erangannya terdengar gelisah.
Nona D dengan cepat langsung menarik penjepit itu sekuat-kuatnya hingga terlepas. Pria itu memekik, dia mengerang berat hingga kepalanya terangkat. Dengan mata yang tertutup dan tangannya yang terikat, tentu dia tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya mengejang menyambut klimaksnya. Cairannya akhir itu melompat jauh mengenai tubuh Nona D.
"Ini yang kedua kalinya..." Goda Nona D sambil memainkan puting pria itu dengan pemecutnya.
"Demi Tuhan, aku menyukainya," desah pria itu. Napasnya berat tersenggal-senggal, dia masih menikmati puncak klimaksnya.
Nona D membuka ikatan mata pria yang dia tidak ingat namanya itu. Pria itu melekatkan pandangan, berusaha menembus mata di balik topeng hitam itu. Bagianya Nona D sangatlah luar biasa.
"Aku sangat menyukaimu," ucap pria itu. Dia tersenyum terlihat sangat puas.
Nona D hanya tertawa, lalu menegakkan tubuhnya. Dia masih duduk di atas perutnya dan memainkan lekuk otot yang sempurna di perut pria yang sudah menikah itu.
"Tubuhmu luar biasa indah," pria itu menatap seluruh tubuh Nona D yang memakai lingerie seksi berwarna dan transparan. Dia bisa melihat jelas puting berwarna cokelat manis itu.
"Sudah saatnya kamu pulang." Nona D melepaskan ikatan tangan pria itu.
"... Apakah aku bisa mendapat jadwal lagi?"
"Tidak tahu... Apa kamu tidak takut cidera karena terlalu sering bermain?" Nona D beranjak dari atas tubuhnya. Langkahnya terlihat genit, seraya dia mengambil rokok di atas meja
"Cukup susah mencari pemain seperti dirimu." Pria itu mengusap bekas memar di dadanya. Dia mengambil pematiknya dan cepat-cepat menyalakan rokok Nona D.
"... Aku menyukai sikapmu tidak pernah tertarik berhubungan seks dengan submisif," bisiknya. Matanya merayapi lagi topeng Nona D, dia sangat penasaran dengan sosok asli Nona D. Dia hampir mencium bibir Nona D.
"Cobalah, mendaftar lagi... Semoga beruntung..." Nona D menjauhkan tubuh pria itu dengan kaki jenjangnya. Pria itu tertawa, dia mengangkat kedua tangannya. Permainan mereka memang usai. Jika dia memang Nona D, penjaga di luar kamar hotel akan menembaknya mati.
Pria tampan itu pun mengambil pakaiannya yang tercecer, lalu meninggalkan beberapa lembar uang dollar di atas kasur, padahal dia sudah mentransfer sejumlah uang yang banyak untuk biaya bermain. Nona D bersikap kaku, menunggunya selesai berpakaian... sampai pria itu keluar dari kamar hotel.
"Ah, akhirnya! aku benar-benar mengantuk," Leanna menghela napas panjang dan membuka topengnya kucingnya. Lea merasa konyol. Dia mengisap sisa rokok terakhirnya, padahal... sebenarnya dia tidak terlalu suka merokok.
"... Submisif malam ini cukup tampan dan berbadan bagus. Sayang, dia tidak pernah klimaks saat berhubungan seks dengan istrinya," Leanna berbicara sendiri sambil merapikan beberapa barang bermainnya yang tercecer. Tatapan Lea terhenti, dia memandangi dirinya di depan cermin. Senyumnya tersungging dingin.... Penampilannya memang terlalu seksi dengan pakaian dalam yang transparan itu. Nona D memang menggoda...
Leanna adalah salah satu "Pemain" dalam aplikasi online bernama Hadiah. Aplikasi ini hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu dan anggota yang berani menggelontorkan biaya yang cukup mahal. Hadiah menawarkan permainan berbeda bagi siapa pun yang mencari kepuasan orientasi seks yang berbeda, yang tidak mungkin di dapan dalam kehidupan nyata. Aplikasi itu akan memilih pemain dan sang submisif yang mendaftar secara acak. Nona D atau inisial lain Leanna, adalah pemain khusus untuk para submisif.
Terdengar ketukan pintu. Leanna cepat-cepat memungut topengnya yang dia lempar ke lantai. Penjaga mengintip. "Kami harus segera merapikan barang-barang..."
"Iya... Aku sudah selesai," ucap
Lea sambil memakai mantel untuk menutupi tubuhnya, tidak lupa dia memasukkan tips uang Dollar tadi ke dalam tasnya. Tidak berapa lama ponselnya berbunyi lagi... dia mengabaikannya.
---





