Matahari siang itu memancarkan sinarnya yang terik, menyusup melalui tirai jendela kamar tidur yang masih terbuka. Alina duduk di pinggir tempat tidur, tangannya menggenggam erat selembar foto lama. Foto itu menangkap momen kebahagiaan mereka, senyum lebar di wajah Arya dan dirinya, yang tampak tak tahu apa yang akan datang. Seperti itulah hidup; penuh dengan ketidakpastian, dengan luka yang tak terduga.
Beberapa hari berlalu sejak pertemuan tegang mereka di ruang makan, dan sepertinya waktu tidak cukup untuk menyembuhkan apapun. Arya masih tidak banyak bicara, menatap jauh, menjauh setiap kali Alina mencoba mendekat. Alina tahu Arya sedang berjuang, dan ia merasa terjebak di antara harapan dan keputusasaan. Ia tidak tahu berapa lama lagi mereka bisa bertahan seperti ini, seperti dua orang asing yang terpaksa tinggal dalam rumah yang sama.
"Alina, bisa bicara sebentar?" suara Arya terdengar di luar pintu kamar. Suara itu begitu tenang, bahkan seperti bisikan, tetapi cukup untuk membuat jantung Alina berdebar kencang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah ke pintu.
Alina membuka pintu, dan di sana, berdiri Arya, wajahnya masih terbungkus kekecewaan, tapi ada sesuatunya di matanya-sebuah kilasan yang membuat harapan kecil di dada Alina berkobar. "Aku ingin kau mendengarkan aku," Arya berkata, suara yang bergetar, seolah mengandung beban yang luar biasa.
"Baik, aku dengarkan," jawab Alina, suaranya hampir tak terdengar. Ia melangkah mundur, memberi ruang bagi Arya untuk masuk ke dalam kamar. Keduanya duduk di ujung tempat tidur, jarak mereka hanya beberapa inci, tapi rasanya seperti jurang yang tak terjangkau.
"Alina, aku tidak tahu bagaimana aku bisa menerima kenyataan ini. Kau tahu, aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi padaku. Aku selalu percaya bahwa kejujuran adalah dasar dari setiap hubungan. Tapi sekarang, aku merasa seperti hidupku hanya berupa kebohongan."
Alina menunduk, bibirnya bergetar. "Aku tahu aku salah, Arya. Aku tahu aku seharusnya memberitahumu lebih dulu. Tapi itu bukan berarti aku tidak mencintaimu, atau aku tidak ingin kamu tahu siapa aku sebenarnya. Aku hanya... takut. Takut kehilanganmu."
Arya memejamkan mata, seolah mencoba mengusir bayangan rasa sakit yang menghantui pikirannya. "Aku tidak bisa mengabaikan kenyataan, Alina. Kau tahu itu. Setiap kali aku melihatmu, aku tidak bisa menghilangkan gambaran tentang masa lalu itu, tentang semua yang terjadi sebelum kita. Itu membuatku merasa seperti aku tidak mengenalmu lagi."
"Lalu, bagaimana kita bisa kembali? Kalau kau terus mengingat masa lalu itu, bagaimana kita bisa melangkah maju?" Alina berkata dengan suara penuh keputusasaan, matanya memohon.
Arya menatap Alina, matanya basah, tidak bisa disembunyikan lagi. "Aku tidak tahu, Alina. Aku tidak tahu jika aku bisa melupakan semuanya, atau bahkan memaafkanmu. Tapi aku juga tidak ingin hidup tanpa dirimu. Jadi, aku harus mencari cara, entah bagaimana."
Keheningan menyelimuti mereka lagi. Alina merasakan dinding-dinding di sekitar hatinya semakin rapuh, seakan-akan semua perasaan yang selama ini ia tahan akhirnya meluap. Ia ingin berteriak, memprotes semua ketidakadilan ini, tetapi ada sesuatu dalam tatapan Arya yang membuatnya menahan diri. Ia tahu Arya berjuang sama kerasnya.
"Arya..." Alina akhirnya berkata, suaranya serak. "Apakah kita bisa mulai dari awal? Meskipun sulit, meskipun kau merasa aku sudah kehilangan sebagian dari diriku, apakah kita bisa mencoba untuk memperbaiki semuanya?"
Arya terdiam, matanya masih tertuju pada Alina, tetapi ada kekosongan di sana, seolah-olah semua emosi itu belum mencapai puncaknya. "Mungkin... kita bisa mencoba," jawabnya, suaranya seperti bisikan, penuh keraguan. "Tapi aku butuh waktu, Alina. Aku butuh waktu untuk memahami, untuk menghapus bayangan itu, untuk melihatmu seperti dulu."
Alina mengangguk, air matanya jatuh, kali ini tidak bisa ditahan. Ia tahu proses ini tidak akan mudah. Mereka sedang berjalan di atas tali yang rapuh, dan setiap langkah yang mereka ambil semakin mendekatkan mereka pada jurang yang dalam. Namun, di satu sisi, ia merasakan ada secercah harapan.
"Jika kau mau, aku akan menunggu," Alina berkata dengan suara yang penuh keyakinan. "Aku akan berjuang, bahkan jika itu berarti aku harus berjuang sendirian."
Arya menatapnya dengan mata yang mulai berembun, dan untuk pertama kalinya sejak hari itu, ada seberkas senyum kecil di wajahnya, meskipun terlihat sangat rapuh. "Aku tidak ingin kau berjuang sendirian, Alina. Tapi aku hanya bisa berjanji akan berusaha sebaik mungkin."
Mereka duduk dalam keheningan, saling mendekat dalam diam. Tidak ada kata-kata, hanya dua jiwa yang berusaha mencari jalan di antara reruntuhan yang telah terjadi. Meskipun masih banyak yang harus diperbaiki, ada sesuatu yang berbeda di antara mereka malam itu. Mungkin, dalam kekacauan ini, cinta masih memiliki sedikit ruang untuk tumbuh.
Mereka berdua tahu, perjalanan ini masih panjang, dan mungkin akan ada lebih banyak air mata sebelum semuanya kembali seperti semula. Tapi untuk saat ini, mereka memiliki satu sama lain, dan itu sudah cukup untuk bertahan.





