RAHASIA DI BALIK CINTA

Malam itu, suasana di rumah Adrian dan Maya terasa lebih sunyi dari biasanya. Adrian duduk di sofa, sibuk dengan ponselnya, sementara Maya berada di dapur, membersihkan sisa makan malam. Piring-piring yang biasa mereka cuci bersama, kini menjadi tugas Maya seorang. Sejak beberapa bulan terakhir, Adrian selalu tampak tenggelam dalam pekerjaannya, mengabaikan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu mereka lakukan bersama.

Maya melihat ke arah Adrian dari dapur, menyadari betapa asingnya sosok suaminya sekarang. Dulu, mereka sering berbicara sampai larut malam tentang segala hal-dari pekerjaan hingga impian masa depan. Namun, malam-malam seperti itu semakin jarang terjadi. Adrian lebih sering sibuk dengan ponselnya, dan Maya tak bisa mengabaikan perasaan bahwa ada sesuatu yang salah.

Setelah selesai di dapur, Maya berjalan ke ruang tamu, menghampiri Adrian yang masih asyik dengan ponselnya. Suaminya tampak serius, jarinya bergerak cepat di layar, seolah-olah sedang mengetik pesan penting. Maya duduk di sebelahnya, mencoba mengintip layar ponsel itu, tapi Adrian dengan cepat mematikan layarnya dan meletakkannya di atas meja.

"Kamu sibuk sekali belakangan ini," kata Maya pelan, suaranya berusaha tetap tenang meski ada kecurigaan yang menggerogoti pikirannya.

Adrian tersenyum singkat, tapi ada sesuatu dalam ekspresinya yang terasa aneh bagi Maya. "Iya, banyak kerjaan. Ada proyek besar di kantor yang butuh perhatian ekstra."

Maya mengangguk, mencoba percaya. Tapi jauh di dalam hatinya, sesuatu berbisik bahwa alasan itu tidak sepenuhnya benar. Ketika Adrian bangkit dan berjalan ke kamar mandi, meninggalkan ponselnya di meja, Maya merasakan dorongan kuat untuk memeriksa ponsel suaminya. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, namun kali ini kecurigaannya terlalu kuat untuk diabaikan.

Dengan hati-hati, Maya meraih ponsel Adrian. Tangannya sedikit gemetar saat dia membuka layar dan memeriksa pesan-pesan di aplikasi yang biasa mereka gunakan untuk berkomunikasi. Awalnya, semuanya terlihat normal-pesan dari rekan kerja, beberapa notifikasi media sosial. Namun, saat dia membuka aplikasi pesan instan lainnya, matanya langsung tertuju pada satu nama yang tidak dia kenal: *Siska*.

Pesan terakhir dari Siska terlihat sederhana, tapi kata-katanya mengandung nuansa yang membuat Maya merasakan sengatan tajam di hatinya:

*"Aku tidak sabar bertemu lagi besok. Selalu menyenangkan bersama kamu, Ad."*

Hati Maya berdetak kencang. Jari-jarinya berhenti di layar, dan napasnya tertahan. Siapa Siska ini? Dan mengapa pesannya terasa begitu intim? Dia membaca pesan-pesan sebelumnya, namun Adrian telah menghapus banyak pesan, hanya menyisakan beberapa kalimat singkat yang tidak cukup untuk menjelaskan hubungan mereka.

Ketika Maya mendengar pintu kamar mandi terbuka, dia buru-buru meletakkan ponsel itu kembali ke tempatnya. Hatinya berdebar keras, dan pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. Apakah Adrian berselingkuh? Apakah pesan dari wanita ini sekadar salah paham, atau ada yang lebih dari itu?

Adrian kembali ke ruang tamu, terlihat santai, tidak menyadari bahwa Maya baru saja membuka ponselnya. "Aku akan tidur dulu, kamu tidak ikut?" tanyanya dengan nada biasa.

Maya mengangguk, tapi di dalam hatinya, ada badai emosi yang berkecamuk. "Sebentar lagi," jawabnya sambil memaksakan senyum.

Sepanjang malam, Maya berbaring di tempat tidur, matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. Adrian sudah tertidur di sebelahnya, napasnya teratur. Namun, bagi Maya, malam ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kata-kata dalam pesan itu terus berputar di benaknya. Dia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ada rahasia yang disembunyikan Adrian darinya, sesuatu yang mungkin lebih dari sekadar pekerjaan.

Keesokan paginya, Maya bangun dengan perasaan yang masih terguncang. Dia ingin menanyakan langsung kepada Adrian tentang pesan itu, tapi di sisi lain, dia takut dengan jawabannya. Bagaimana jika dia benar-benar berselingkuh? Bagaimana jika ini semua adalah awal dari kehancuran pernikahan mereka?

Saat sarapan pagi, suasana terasa canggung. Adrian terlihat tenang, seolah tidak ada yang terjadi, sementara Maya berusaha menyembunyikan rasa gelisahnya. Dia ingin menanyakannya saat itu juga, tapi mulutnya seolah terkunci.

Namun, saat Adrian hendak berangkat kerja, Maya akhirnya tak bisa menahan diri lagi. "Ad, siapa Siska?" tanyanya tiba-tiba, suaranya sedikit bergetar.

Adrian terkejut, matanya menatap Maya dengan ekspresi bingung, tapi hanya sekejap. "Siska? Oh, dia rekan kerja di kantor. Kenapa tiba-tiba tanya?"

"Semalam aku lihat ada pesan darinya di ponselmu," jawab Maya dengan hati-hati. "Pesannya... terlihat agak pribadi."

Adrian tertawa kecil, mencoba meredakan ketegangan. "Maya, itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Siska memang teman dekat, tapi tidak ada apa-apa di antara kami. Dia cuma ingin memastikan jadwal rapat besok."

Namun, Maya merasakan bahwa Adrian sedang menutupi sesuatu. Rasa tidak enak di perutnya semakin kuat, tapi dia tidak ingin memperpanjang masalah tanpa bukti lebih. "Baiklah," ucap Maya pelan, meski hatinya masih dipenuhi keraguan.

Adrian mengecup kening Maya sebelum pergi, seolah semuanya baik-baik saja. Namun, setelah pintu tertutup, Maya tahu bahwa tidak ada yang baik-baik saja. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya, dan dia tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya normal. Pesan singkat dari wanita bernama Siska itu mungkin hanyalah puncak dari gunung es yang jauh lebih besar. Maya tahu bahwa dia harus mencari tahu kebenarannya, apapun risikonya.

Maya kembali masuk ke rumah, mencoba menenangkan dirinya. Dia ingin percaya bahwa Adrian tidak mungkin berselingkuh, tapi nalurinya mengatakan sebaliknya. Mungkinkah semua yang selama ini tampak sempurna hanya sebuah kepura-puraan? Bagaimana bisa hubungan yang selama ini dia jaga dengan sepenuh hati mulai retak tanpa dia sadari?

Di dapur, Maya duduk sambil memegang cangkir kopi yang sudah dingin. Dia membuka ponselnya dan mulai mencari-cari nama *Siska* di media sosial. Ada beberapa orang dengan nama yang sama, tetapi hanya satu profil yang terlihat sesuai dengan apa yang dia tahu-seorang wanita muda dengan rambut sebahu, bekerja di kantor yang sama dengan Adrian. Profilnya dipenuhi dengan foto-foto yang tampak bahagia-kumpul bersama teman-teman, perjalanan bisnis, dan beberapa foto di kantor tempat Adrian bekerja. Di salah satu foto, Maya mengenali wajah suaminya, tersenyum di antara kolega-koleganya. Senyuman itu... terlalu familiar.

Maya menahan napas. Matanya berfokus pada satu foto di mana Siska dan Adrian berdiri berdekatan di sebuah acara kantor. Mereka tampak biasa saja bagi siapa pun yang melihat sekilas, tetapi bagi Maya, ada sesuatu yang terasa janggal. Mata Adrian, cara dia menatap Siska-itu bukan hanya tatapan profesional. Maya memalingkan pandangannya, dadanya berdegup kencang. Apakah ini semua hanya bayang-bayang cemburu atau firasat yang benar?

Selama sisa pagi itu, Maya merasa resah. Pikiran untuk bertanya lebih lanjut pada Adrian membuatnya takut akan jawaban yang mungkin dia terima. Tapi diam juga bukan pilihan. Dia tahu bahwa dia harus menemukan cara untuk mengetahui kebenaran, tanpa menimbulkan pertengkaran besar.

Saat siang hari, Maya memutuskan untuk bertemu dengan teman-teman dekatnya di kafe, seperti yang sudah direncanakan. Namun, kali ini dia tidak merasa bersemangat seperti biasanya. Pikiran tentang Adrian dan Siska menghantui langkah-langkahnya. Setibanya di kafe, teman-temannya sudah menunggunya di meja sudut, tersenyum hangat saat melihat Maya datang.

"Hei, Maya! Lama tidak bertemu," ujar Dina, salah satu sahabat terdekatnya, dengan ceria.

Maya berusaha tersenyum, tapi ada sesuatu yang terasa berat di hatinya. Percakapan awal tentang kehidupan sehari-hari, pekerjaan, dan rencana liburan tidak bisa menarik minatnya sepenuhnya. Akhirnya, Maya tidak tahan lagi. Dia butuh bicara.

"Teman-teman... Aku rasa ada yang harus aku ceritakan," ucap Maya pelan, menghentikan percakapan. Teman-temannya langsung menoleh, memandang Maya dengan penuh perhatian.

"Ada apa, May?" Tanya Sarah, teman yang paling dekat dengannya. "Kamu kelihatan beda hari ini."

Maya menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka cerita tentang pesan yang dia temukan di ponsel Adrian. Tentang wanita bernama *Siska*, dan tentang bagaimana Adrian mengklaim bahwa itu hanya masalah pekerjaan, tapi dia tidak bisa menyingkirkan perasaan curiganya.

"Apa kamu yakin dia cuma teman kerja?" Dina bertanya hati-hati. "Pesan seperti itu... terdengar agak mencurigakan."

"Ya, itu yang aku pikirkan," jawab Maya. "Tapi Adrian bersikeras bahwa itu hanya pekerjaan. Meski begitu, aku tidak bisa menghilangkan firasat buruk ini."

Teman-temannya saling berpandangan. Sarah, yang paling mengenal Maya, memegang tangannya dan berkata lembut, "Maya, jika kamu merasa ada yang salah, mungkin kamu harus mencari tahu lebih lanjut. Aku bukan menyarankan untuk mencurigai Adrian, tapi kalau firasat kamu sekuat itu, jangan abaikan."

Maya mengangguk, meskipun hatinya masih bimbang. "Aku hanya takut. Kalau benar Adrian menyembunyikan sesuatu, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau semua ini cuma salah paham, dan aku malah merusak hubungan kami?"

"Kamu harus bicarakan ini dengan Adrian secara serius," ujar Dina. "Jangan biarkan masalah ini membesar sebelum kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Percakapan itu membuat Maya sedikit lebih tenang, meskipun rasa khawatir belum sepenuhnya hilang. Setelah beberapa jam di kafe, Maya pulang dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia ingin percaya pada Adrian, tapi di sisi lain, ada sesuatu yang terus menghantuinya.

Malam itu, ketika Adrian pulang, Maya memerhatikannya dengan lebih seksama. Ia mencoba mencari tanda-tanda dari gestur atau perilaku Adrian yang berbeda, sesuatu yang mungkin bisa memberinya petunjuk lebih jelas. Namun, Adrian tetap sama seperti biasanya-ramah, sedikit lelah dari pekerjaan, tetapi tidak menunjukkan apapun yang mencurigakan.

"Kamu sudah makan malam?" tanya Maya ketika Adrian duduk di meja makan.

"Belum, tadi rapat terus sampai malam. Kamu gimana?" jawab Adrian sambil tersenyum, tampak seperti pria yang tidak menyembunyikan apapun.

Maya ingin menanyakan lagi soal Siska, tapi suaranya seolah tertahan. Pertanyaan itu bergantung di ujung lidahnya, tapi dia tak bisa melontarkannya. Mungkin karena takut jawaban Adrian akan mengubah segalanya. Namun, semakin lama Maya diam, semakin jauh perasaan mereka terpisah.

Dan di tengah keheningan makan malam mereka, Maya merasakan bahwa rahasia di antara mereka semakin nyata. Terselubung di balik senyuman dan percakapan ringan, ada kebenaran yang menunggu untuk terungkap. Sebuah jejak yang tersisa, dan Maya tahu, dia tidak bisa mengabaikannya lebih lama lagi.

Bersambung...

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.