Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Promise
Promise

Promise

9.6
/ 10
Dalam romance novel bertajuk Promise, Elphia mengasingkan diri ke desa demi menjauhi konflik keluarga. Di sana, ia fokus melukis hingga bertemu pria misterius yang mengubah hidupnya. Saat hubungan mereka mendalam, sang pria pergi meninggalkan tanda tanya besar dalam modern novel ini.

Ringkasan Promise

Elphia memilih menjauh dari konflik keluarga yang menyesakkan dengan mengasingkan diri ke sebuah desa terpencil. Di sana, ia menenangkan diri dan menyalurkan emosinya melalui goresan kuas di atas kanvas. Tak disangka, kesehariannya yang sepi berubah berkat kehadiran seorang pemuda misterius yang setia menemaninya. Namun, kisah manis itu mendadak sirna saat sang pria pergi tanpa penjelasan. Akankah takdir membawa mereka kembali bersatu setelah perpisahan yang memilukan tersebut?
Selengkapnya

Promise Bab 1

Aku merasa asing di tempat ini, tempat yang berbeda dari tempat tinggalku yang dulu. Aku merindukan sesuatu, sangat rindu. Tapi aku sendiri tidak tahu apa itu. Aku sering sekali mendapati perasaan seperti ini. Kini, pikiranku kembali pada tempat pengasingan ini. Tempat yang berada di pantai, pantai yang sangat sepi. Yang terdengar hanyalah suara ombak yang memecah kesunyian. Di belakang rumahku terdapat beberapa bukit dan gunung yang tinggi. Aku mulai membereskan barang-barangku yang tidak terlalu banyak. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada peralatan lukisku, dan hal ini juga yang menyebabkan aku berada di tempat ini. Tapi aku tidak peduli, asalkan aku bisa terus melukis, bagiku itu sudah cukup. Aku tidak peduli walaupun aku diasingkan oleh keluargaku sendiri. Jika mereka saja tidak peduli padaku, lalu untuk apa aku mempedulikan mereka? Walaupun aku adalah anak tunggal mereka.

Aku pasang lukisan kelinciku di dinding yang catnya telah kusam, dan kupandangi lukisan itu lekat-lekat. Aku menghela nafas panjang lalu mengelap lukisan itu dengan perlahan. Lukisan itu mempunyai arti yang dalam bagiku, selain karena lukisan pertamaku, juga karena alasan aku melukisnya.

♡♡♡

Udara pagi hari di sini sangat sejuk. Sepanjang pagi aku hanya melihat laut dan mendengarkan suara gelombang. Ternyata, tempat pengasingan ini lebih menyenangkan dari tempat manapun. Aku terus berjalan, mengikuti arah pantai dan akhirnya tiba di kaki bukit. Aku biarkan kaki melangkah menaiki bukit itu. Terus mendaki dan mendaki, sampai akhirnya aku menyadari bahwa kini aku berada di tengah hutan dengan pohon-pohon tua dan semak-semak berduri. Aku terus berpikir, arah mana yang harus aku lalui, dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti arah ranting yang baru saja aku jatuhkan. Jalan setapak ini mempertemukan aku pada anak sungai dengan batu-batu yang besar. Rasa haus memerintahkan aku untuk meminum air itu.

Aku terus berjalan, berjalan dan berjalan, mengikuti anak sungai itu, yang kemudian mengarah pada suatu perkampungan. Aku bersyukur, karena aku tidak bertemu dengan hewan-hewan yang membahayakan. Aku segera turun dengan tergesa-gesa. Aku tidak tahu di desa apa kini aku berada.

“Maaf!” ucap seorang pria yang baru saja menabrakku. Dia terlihat sangat tergesa-gesa dengan membawa tas gunung yang sangat besar dan terlihat berat. Dia mengenakan baju kaos hitam kusam dengan celana denim sobek dan topi hitam. Walaupun berpenampilan demikian, tetapi dia seperti seorang yang terpelajar. Mungkin usianya sekitar dua tahun lebih tua dariku.

♡♡♡

Hampir sembilan bulan aku berada di sini, dan hanya satu orang yang sering datang ke rumah ini, atau aku yang ke rumahnya. Dia seperti nenekku sendiri. Walaupun rumahku ini jauh dari perkampungan, tetapi aku tidak pernah merasa kesepian.

“Assalamualaikum, Phia!” aku mendengar suara seorang pria yang sedang mengetuk pintu rumahku, langsung saja aku membukakan pintu.

Aku melihat seorang pria yang berwajah tampan. Kulitnya putih bersih, alisnya tebal, hidungnya mancung, bentuk rahangnya juga tegas. Aku yakin banyak wanita yang terpesona dengannya. Apakah termasuk aku?

Sorotan matanya tajam, membuat setiap orang yang ditatapnya akan merasa segan.

Meskipun ditutupi oleh kaos yang dipakainya, aku yakin dia memiliki lengan yang kekar.

Penampilannya tidak terlalu menonjol, terlihat biasa-biasa saja, namun aku tahu dia bukan orang sembarangan.

Suaranya juga tegas namun menenangkan. Aku yakin, jika dia menjadi dokter atau psikolog, maka para pasiennya rela bolak-balik hanya untuk sekedar konsultasi dengannya.

Tunggu, ada apa dengan diriku? Sejak kapan aku mengamati penampilan seseorang? Apakah tinggal di desa terpencil membuatku hobi mengamati segala sesuatu yang ada di sekitarku?

Aku merasa seperti pernah melihatnya, tapi tidak tahu dimana. Beberapa saat kemudian baru kusadari ternyata orang itu adalah pria yang pernah menabrakku di desa sembilan bulan yang lalu. Tapi siapa dia? Aku tidak pernah mengenalnya sama sekali. Lalu bagaimana dia bisa tahu nama dan tempat tinggalku?

“Jadi, kamu yang namanya Phia?” ucap pria itu sambil tersenyum.

Pertanyaan pria itu menyadarkan aku dari lamunanku.

“Aku Aisar. Kamu pasti kenal nenekku! Nenek memintaku mengantarkan ini.”

Pria yang bernama Aisar itu menyodorkan sebuah bungkusan. Aku menyuruhnya masuk tanpa berbicara sepatah katapun.

“Jadi, kamu seorang pelukis ya?” tanyanya tanpa mengharapkan jawaban.

Dia duduk di bangku reot tang ada di depan rumahku. Aku menyuguhkan teh hangat tanpa cemilan. Aku duduk di sebelahnya.

Semilir angin laut membuat teh itu cepat dingin. Pria itu menyeruput teh yang aku buat itu dengan perlahan, seolah menikmati rasa teh yang aku yakin rasanya biasa-biasa saja.

Aroma parfumnya tercium di indra penciumanku. Aroma maskulin yang menenangkan.

Sebanarnya siapa dia? Semua yang ada pada dirinya membuatku penasaran, setidaknya hingga saat ini. Di hari pertama pertemuan aku dengannya.

Kami saling menatap, dia tersenyum menampilkan wajah tampan, yang sekali lagi, aku yakin akan banyak wanita yang bersyukur akan anugerah yang ada di hadapan mereka. Apakah aku salah satunya?

Lagi-lagi dia membuatku penasaran. Dia memiliki daya tarik tanpa harus melakukan ini itu. Entah apapun pekerjaan pria ini, sekali lagi, dia akan membuat orang-orang di sekitarnya merasa kagum.

♡♡♡

Setiap hari Aisar ke rumahku. Aku tidak tahu kenapa, mungkin karena disuruh oleh neneknya, untuk menemani hari-hariku yang sepi tanpa sanak saudara yang memang tidak pernah peduli padaku.

“Kamu mau ke rumah nenek, Phi? Sudah tidak usah, hari ini nenek pergi ke rumah nek Santi.”

Kami duduk di tepi pantai. Aku juga sering melukis dan dia selalu melihatnya. Di sini, tidak ada seorang pun yang dapat melarangku melukis. Aisar sering menceritakan tentang dirinya.

“Aku ke sini saat liburan semester.”

Aku tidak mengerti mengapa dia seperti itu. Dia menceritakan seluruh riwayat hidupnya dan keluarganya. Dia juga tidak pernah terbebani oleh apapun.

“Ah, maaf!”

Aisar menumpahkan catku. Raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan.

“Jangan katakan maaf, karena itu tidak perlu dipermasalahkan. Kehilangan cat segini tidak masalah untukku. Dulu, alat-alat lukisku sering dibuang oleh mereka.”

Perkataanku yang tiba-tiba sepertinya mengagetkan dia. Tentu saja, karena selama aku berada di tempat pengasingan ini, aku tidak pernah berbicara pada siapapun. Untuk membeli sesuatu, aku hanya menunjuk, mengangguk, menggeleng, semua hanya dengan gerakan tubuh. Orang-orang pasti menganggapku bisu, termasuk nenek.

“Loh, jadi kamu bisa bicara, Phi?” tanyanya bingung sekaligus senang.

“Kenapa sih selama ini kamu tidak pernah bicara?” dia menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sikapku selama ini.

Nenek senang sekali saat mengetahui bahwa aku dapat berbicara.

“Kamu seperti adikku,” ucap Aisar tiba-tiba. Kata-katanya terdengar aneh.

“Benar, aku mungkin seperti adikmu, tetapi kamu tidak seperti kakakku. Hanya nenek, yang seperti nenek kandungku.”

Dua bulan sudah kami bersama dan aku selalu mendengarkan cerita-ceritanya.

“Kamu pendengar yang baik.” Aisar mengusap-usap kepalaku.

“Tidak! Aku bukanlah seorang pendengar yang baik. Baik untukmu, nenek, atau siapapun. Pendengar yang baik untuk diri kita adalah Allah dan diri kita sendiri. Bahkan, aku sendiri tidak tahu apakah aku dapat memahami diriku sendiri atau tidak.”

♡♡♡

“Phi, Phi! Ayo cepat, nenek memanggilmu,” kata Aisar terburu-buru.

“Ada apa, nenek sakit, ya?”

Aku melihat Aisar mengangguk.

“Phia, ini! Simpanlah leontin ini, jangan sampai hilang. Apapun yang terjadi, leontin ini harus selalu bersamamu.”

Sementara aku dan nenek berbicara berdua, Aisar berada di luar menunggu kedatangan dokter.

Wajah nenek semakin pucat dan aku tidak dapat membendung rasa sedihku.

Setiap hari aku merawat nenek, sampai akhirnya keadaan nenek semakin membaik.

“Phi, aku harus kembali ke Jakarta dan aku tidak tahu kapan akan kembali lagi ke sini.”

“Tapi ... bagaimana dengan nenek? Apa kamu akan meninggalkannya? Aku tidak keberatan merawatnya, tapi dia juga membutuhkanmu,” kata-kataku mungkin saja membuatnya terbebani, dan aku tidak menginginkan hal ini.

“Apa nenek sudah tahu?” tanyaku buru-buru untuk memecahkan keheningan.

“Ya,” katanya dengan suara sedikit tertahan.

Walaupun sangat sedih, tetapi nenek merelakan Aisar kembali ke Jakarta. Hari ini Aisar memakai pakaian yang sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Terukir kembali di benakku saat-saat itu. Saat-saat yang tidak terduga.

“Sar, berjanjilah padaku kamu akan pulang. Aku ingin saat aku membuka pintu, ada kamu yang sedang menungguku. Aku tunggu kamu di pantai ini, aku tunggu kamu di rumah ini. Aku tunggu, selalu kutunggu sampai kamu kembali, dan satu hal lagi yang tidak boleh kamu lupakan, kamu harus menggunakan baju dan topi yang sama!”

“Aku janji. Tunggulah aku di pantai ini. Pada saat itu, aku pasti akan memakai segala sesuatu yang sama.”

Hari ini telah memisahkan Aisar dari nenek dan aku.

♡♡♡

“Ada apa?”

Tidak seperti biasanya rumah nenek banyak orang.

“Tiba-tiba saja penyakit nenek bertambah parah.”

Agar bisa selalu menjaga nenek, akhirnya aku tinggal di rumah nenek. Setiap hari penyakit nenek semakin bertambah parah.

“Nenek, ayo minum obat dulu, baru nanti tidur lagi. Nenek, nenek!” kataku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.

Beberapa waktu kemudian

“Nenek, sekarang aku sendiri. Aku merasa kesepian, sangat kesepian. Mengapa nenek tidak menunggu Aisar. Dia berjanji akan pulang. Benar kan, nek?” tanyaku di depan kuburan nenek.

Rasa kesepian kembali menyelimuti hatiku sejak kepergian nenek untuk selamanya. Nenek memang bukan nenek kandungku, tapi kasih sayang dan perhatiannya melebihi keluarga kandungku sendiri.

Aku memegang leontin pemberian nenek. Aku rasa leontin ini sangat berharga buat nenek. Aisar bahkan tidak tahu kalau nenek memberikan leontin ini padaku. Kenapa nenenek memberikannya padaku?

Yang datang akan pergi. Jadi jangan berharap mereka akan selalu berada di sisiku.

Nenek pergi, untuk selamanya dan tidak akan kembali.

Aisar pergi, entah untuk berapa lama. Apakah dia akan kembali untuk menepati janjinya? Atau kami akan saling melupakan pertemuan yang singkat itu.

Pertemuan singkat yang menyisakan ruang kosong di hati. Memberikan rasa sepi yang bahkan lebih dalam dari sebelumnya, saat pertama kali aku ke tempat ini.

Setiap pagi, saat aku membuka pintu, dengan keyakinan dia akan datang. Setiap hari selama satu tahun ini aku selalu menunggunya, dan kapankah dia akan pulang. Kutatap, selalu kutatap pantai ini dan mendengarkan suara ombaknya yang bagaikan nyanyian menyayat hati dalam penantian panjang yang tak berujung. Aku memegang erat-erat leontin pemberian yang ada di leherku, dan sekali lagi aku membuka pintu yang menghadap pantai ini.

Biarkan sesuatu menjadi milikku

Hari ini, esok dan selamanya

Bisakah itu terjadi?

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
Derita Menantu Jelita
Derita Menantu Jelita
Dalam novel romantis misteri Derita Menantu Jelita, hidup seorang istri berubah setelah suaminya lumpuh akibat kecelakaan. Demi garis keturunan, sang suami nekat mencekoki istri dan ayahnya sendiri dengan obat. Baca novel online gratis ini untuk mengungkap rahasia keluarga yang kelam.
DOSEN ITU SUAMIKU
DOSEN ITU SUAMIKU
Dalam novel modern DOSEN ITU SUAMIKU, Bunga harus menghadapi realita saat Ezza, suaminya, tiba-tiba mengajar di kampusnya. Temukan rahasia di balik kehadirannya dalam romance novel ini. Baca kisah lengkapnya di platform web novel kami sekarang.
Gadis 100 juta (fatamorgana)
Gadis 100 juta (fatamorgana)
Dalam romance novel Gadis 100 juta (fatamorgana), Daiva terpaksa menjual kehormatannya pada Keyko demi menyelamatkan adiknya. Namun, kemunculan Damian menciptakan persaingan cinta yang rumit. Baca kisah modern novel ini untuk melihat pilihan hidup Daiva di platform web novel kami.
Istri yang Dihancurkan Mereka
Istri yang Dihancurkan Mereka
Dalam Istri yang Dihancurkan Mereka, seorang komposer kehilangan segalanya saat suami dan anaknya lebih memilih menyelamatkan wanita lain. Romance novel ini mengisahkan pengkhianatan pahit yang memicu aksi balas dendam. Baca kisah fiksi modern ini untuk melihat bagaimana ia menghancurkan sangkar mereka.
Mafia In The Night
Mafia In The Night
Dalam Mafia In The Night, William memburu pelaku pengkhianatan yang menewaskan ayahnya. Di tengah aksi balas dendam dan misteri fitnah keluarga, ia harus menghadapi polisi wanita yang menghalangi misinya. Baca mafia novel penuh petualangan ini di webnovel untuk mengungkap kebenaran.
Rahasia Gelap Sang Kekasih
Rahasia Gelap Sang Kekasih
Novel romantis misteri Rahasia Gelap Sang Kekasih mengisahkan kecurigaan yang muncul setelah sebuah pesan video larut malam dari sahabat memperlihatkan sosok wanita misterius. Detail pakaian dalam video tersebut memicu penyelidikan rahasia pacar sendiri. Baca novel online gratis sekarang.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.