Kulangkahkan kakiku lebar-lebar menuju teras halaman depan rumah. Kumasukkan sampah-sampah daun yang sudah kusapu tadi ke dalam ember lantas kubawa ke halaman belakang lewat gerbang samping.
Segera kumasukkan sampah daun tersebut kedalam lubang yang sudah disediakan oleh mas Tama, katanya untuk dijadikan kompos.
“Lumayan kita bisa hemat pengeluaran pembelian pupuk untuk tanaman buah-buahan yang ada di halaman belakang rumah. Sehingga pastinya tanaman buah-buahan kita otomatis terbebas dari zat zat kimia," begitu seloroh mas Tama kala itu. Disambut anggukan kepalaku bermakna mengaminkan idenya. Kenapa enggak? Toh tidak merugikan siapapun malah bisa berhemat.
Selesai memindahkan sampah daun yang ada, aku lalu masuk ke rumah melalui pintu dapur. Berniat untuk membuatkan minum dan menyuguhkan kudapan untuk tamuku. Tamu yang sejujurnya masih membuatku bingung dan kesal itu.
Namun bagaimanapun keadaanya dia adalah tamu kami, tamuku dan suamiku. Meskipun aku belum tahu maksud kedatangannya ke rumah ini untuk apa namun aku tetap harus menghormatinya sebagaimana yang sudah diajarkan oleh kedua orang tuaku, agar kita selalu menghormati dan melayani tamu sebaik-baiknya.
Setelah mencuci tangan dengan sabun dan membuatkan teh panas gegas kutemui tamu yang tadi kutinggakan di ruang tamu minimalisku.
Dengan santai aku berjalan menuju ruang tamu dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan brownies kukus sisa sarapan tadi pagi yang hanya tinggal beberapa potong saja, namun kurasa cukuplah untuk kudapan teman teh sore ini. Toh sebentar lagi juga sudah waktunya makan malam.
Namun sesampainya di ruang tamu tak kulihat wanita aneh yang mengaku bernama Soraya di ruang ini, "Hmm ... Kemana wanita itu, yaa?" gumamku.
"Ooo lagi telponan, too! Telponan sama sapa yaa? Kok manja gitu suaranya," aku bersenandika menebak-nebak kira-kira dengan siapa dia sedang berbicara melalui hapenya saat ini.
"Apakah dia saat ini sedang bertelponan dengan mas Tama? Tapi rasanya tak mungkin, karena sampai saat ini mas Tama juga belum menghubungiku. Berarti dia saat ini masih disibukkan oleh kegiatannya disana," hatiku masih terus menerka nerka.
Setelah meletakkan teh panas dan kudapan yang tadi kubawa dari dapur lalu aku duduk di sofa ruang tamu, menunggu dia selesai bertelpon ria. Aku tak ingin mengganggu kegiatannya.
"Biarlah setidaknya aku bisa menyimak pembicaraannya walau hanya dari suaranya sehingga sedikit banyaknya bisa menduga-duga kemana arah pembicaraan mereka," pikirku.
Bukan bermaksud ingin nguping, tapi sejujurnya aku memang sedang mengumpulkan sebanyak banyaknya informasi tentang tamu anehku ini. Salah satunya cara dengan ikut mendengarkan obrolan dia dengan orang lain.
"Iya Bu, Aya sudah sampai di rumah mas Beri. Tapi gak tau nih, dari tadi mas Beri nya enggak keluar-keluar. Istrinya juga enggak ada. Padahal Aya sudah teriak teriak manggil mas Beri," terdengar suara manja Soraya.
Saat ini dia sedang duduk di kursi rotan yang ada di teras depan dengan sebelah kaki ditumpangkan pada kaki satunya.
"Yang ada cuma seorang perempuan katanya namanya Monika," terlihat bibir Soraya sedikit agak dimajukan pertanda dia sedang tidak baik-baik saja.
Sengaja aku mencari tempat duduk di sofa yang strategis, yang bisa melihat semua tingkah lakunya dan juga bisa mendengarkan apa yang dia bicarakan dengan seseorang dari gawainya.
Sayangnya wanita itu tidak meloadspeaker hapenya sehingga aku tak dapat mengetahui obrolan mereka secara keseluruhan. Tapi biarlah, ini pun sudah cukup.
Kini terlihat wanita itu sedang tertawa saat mendengar ucapan dari lawan bicaranya melalui gawai yang dipegangnya. "Mungkin ada sesuatu yang lucu," batinku bermonolog, lagi.
"Mungkin mas Beri sedang keluar sama istrinya, Bu. Biar Aya tunggu aja disini. Enggak papa, Bu. Rumah mas Beri nyaman kok, Aya suka! Tempatnya sejuk banget, penataan barang barangnya juga rapi dan bersih lagi. ART nya lumayan rajin juga!
"... ....'
Sayangnya tadi Aya enggak sempat nanya sama ART nya mas Beri lagi pergi kemana. Nanti deh Aya tanya. Dia tadi sedang bawain sampah ke belakang, tadi waktu Aya datang dia sedang bersih bersih halaman depan, Bu,"
"......"
Hahahaha ... Masa iya mas Beri nyumput, Bu? Aneh-aneh aja deh Ibu ini," ucapnya masih dengan derai tawa.
"......"
"Lagian mas Beri enggak tau kan kalau Aya mau dateng, Bu?" Jadi mana mungkin mas Beri sempat sembunyi, Bu? Lha terus, kenapa mas Beri harus sembunyi, coba? Masa mas Beri enggak kangen sama Aya. Apa mas Beri mau ngeprank, Aya?" lanjutnya masih dengan derai tawa manja.
"....." Sayang sekali tak dapat kudengar jawaban dari lawan bicara Soraya diseberang sana.
What? Kangen? Memangnya dia itu siapa, sih? Kenapa juga mas Tama harus kangen sama dia? Lama lama panas juga hati ini mendengar obrolan obrolan Soraya dengan lawan bicaranya di hape. Astaghfirullahalaziim ... Sabarlah wahai hatiku! Jangan terburu buru, karena terburu buru itu kawannya setan, batinku selalu mensugesti diri sendiri agar bisa selalu bersikap sabar.
Orang diam bukan berarti lemah. Diamku saat ini sedang mengamati. Aku gak mungkin akan berlaku bar bar. Pertama dia datang sebagai tamuku. kemudian akupun belum benar benar tahu ada hubungan apa sosok yang sedang duduk disana itu dengan mas Tama.
Bener kata mbak Mini tadi, aku gak boleh grusa grusu, gak boleh sembarangan. Apa sebenarnya tujuan dia mencari mas? Apakah mas Tama dan wanita yang mengaku bernama Soraya itu memang mempunyai hubungan khusus? Atau hanya wanita aneh itu saja yang merasa punya rasa khusus dengan mas Tama?
Karena aku menyadari mas Tama adalah sosok pria idaman, bahkan dari sejak dia masih bujang. Aku mengetahuinya dari beberapa kawan sekolahnya dulu setelah beberapa kali ikut acara reuni sekolahnya, baik SMP maupun SMA. Wajahnya yang tampan disertai perangai dan tutur katanya yang lembut dan sopan membuat para gadis yang ada disekitarnya berebut ingin bisa memilikinya, belum lagi perlakuannya yang begitu hormat serta sayang pada ibu dan adik adiknya merupakan poin plus baginya sehingga tidak saja para gadis namun ibu ibu pun menginginkannya menjadikan mas Tama sebagai menantunya.
"Bukan, loo! Bukan Noni, Bu! Tapi Monika," ucap Soraya sepertinya terjadi sedikit salah paham antara Soraya dengan orang yang ditelponnya.
“Monika, Bu! M O N I K A, lagi ucap Soraya sengaja mengeja sebuah nama dengan penuh penekanan pada setiap hurufnya.
"Tapi nama itu seperti namaku. Apakah mereka sedang membahas tentang diriku? Yah, sepertinya mereka sedang membahas tentang diriku," aku bersenandika. Aku bisa menyimpulkan saat mendengar pembicaraan sepihak dari Soraya dengan lawan bicaranya.
"Kayaknya dia pembantunya mas Beri deh, Bu," ucapnya membuat emosiku memuncak.
"..."
"Mak War? Bukan, Bu! Dia tadi nyebut namanya Monika," ucap Soraya agak jengkel.
"... ...."
"Belum, Bu! Belum setua Ibu! Sepertinya masih seumuran Aya gitu lah," lanjut Soraya seperti sedang menafsirkan usiaku.
Makanya Aya pikir nanti bakalan minta mas Beri untuk memecat si Monika ini. Kalau mas Beri mau cari ART biar cari yang sudah tua aja. Kalau yang seperti Monika ini bisa bisa mas Beri naksir sama ARTnya kan bisa bahaya, Bu! Soraya tertawa terkekeh.





