POLAROID LOVE Istri Kesayangan Guru BK

Cahaya matahari mengintip dari celah jendela kamarnya. Queen, duduk di depan meja riasnya sambil menopang dagu. Menatap pantulan wajahnya di dalam cermin itu. Seragam sekolahnya sudah ia kenakan. Seragam baru, untuk sekolahnya yang baru pula.

Di liriknya jam dinding yang tergantung di sudut ruangan yang sudah menunjukkan pukul enam. Ia menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Males banget gue..." Keluhnya.

"Susah-susah gue keluar dari sekolah yang lama, malah sekarang gue dimasukin di sekolah yang jurusannya sama. Bener-bener nyebelin!" Gerutunya.

"Queen! Ayok sarapan!" Terdengar suara seorang wanita dari luar kamarnya. Sudah pasti itu suara ibunya yang memintanya segera keluar untuk sarapan. Queen berdecak pelan. "Ck, argh!" Dengusnya.

"Iya, Mah!" Sahut Queen. Langkahnya gontai dan tampak malas, menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sana ayah dan ibunya sudah menunggu, serta kakak laki-lakinya.

"Pagi Queen..." Sapa laki-laki muda yang kisaran usianya hanya selisih beberapa tahun saja dengan Queen.

"Hm, pagi!" Sahut Queen lantas menjatuhkan bokongnya di atas kursi di belakang meja makan.

Laki-laki itu mencondongkan badannya, mengamati wajah adiknya dari jarak yang dekat, membuat Queen refleks memundurkan wajahnya sambil alisnya berkerut, "Apaan sih, Mas Prabu?!" Sergahnya.

Laki-laki itu terkekeh, "pagi-pagi udah kusut aja mukanya! Kayak baju belum di setrika," Ledeknya.

"Ck, gaje!" Umpat Queen. Prabu hanya terkekeh.

"Eeeh... Kok malah pada berantem sih? Makan!" Sergah Riana, mamah Queen.

"Iya, mah... Maaf," sahut Prabu masih dengan sisa-sisa kekehannya.

Queen menyambar setangkup roti yang sudah tersedia di atas piringnya, lalu tampak berdiri. Sontak semua menoleh ke arahnya.

"Mau ke mana kamu, Queen?!" Tanya Baskara, ayahnya Queen yang sedari tadi tengah menyantap sarapannya.

"Mau berangkat!" Sahut Queen.

"Duduk dulu! Sarapan itu harus sambil duduk!" Sergahnya.

"Takut telat!" Sahut Queen sekenanya.

"Nggak! Harus tunggu Papah! Papah antar kamu ke sekolah!"

"Nggak usah, aku bisa naik ojek atau naik taksi kok!"

"No! Nanti kamu malah kabur kayak kemarin!" Tukas Baskara.

"Ck, Ya nggaklah! Kabur mulu emang Papah pikir aku gak capek apa kabur-kaburan terus!"

"Pokoknya papah yang harus antar kamu ke sekolah! Papah harus mastiin kalau kamu benar-benar berangkat ke sekolah! Papa nggak percaya sama kamu!"

"Apaan sih, nggak percayaan banget sama anak sendiri, Aku beneran bakal berangkat ke sekolah kok!" Gerutu Queen.

"Kamu ini! Kalau papa ngomong selalu saja menjawab! Kenapa sih kamu susah banget diatur Queen?!" Bentak Baskara dengan bola matanya yang melebar.

Queen memutar bola matanya, wajahnya seolah muak.

"Queen... Kalau papa ngomong kamu dengerin dong, sayang..." Kata Riana.

"Dari tadi juga aku dengerin kok! Kalau aku nggak dengerin Papah ngomong aku nggak mungkin bisa jawab," sahut Queen.

"Kamu bisa bicara sopan nggak sama orang tua?!" Sergah Baskara.

"Ya ampun, Pah. Dari tadi juga aku sopan kok, Emangnya aku ngomong kasar? Enggak kan?!" Tukas Queen.

Baskara menghela nafasnya, mencoba menetralkan emosinya yang siap meledak kapan saja.

"Ya udah pah, biar Prabu aja yang antar Queen, ya?!" Sela Prabu tatkala melihat emosi sudah muncul di wajah ayahnya.

"Iya pah, biar Prabu yang antar Queen," Riana menimpali. "Prabu, kamu antar adik kamu gih!" Ujarnya. Sambil tangannya mengusap-usap bahu suaminya agar emosinya mereda.

"Iya, Mah..." Sahut Prabu.

"Ayok, gua antar lu ke sekolah!" Kata Prabu sambil menatap ke arah adiknya yang tampak berdiri di samping meja makan sambil mengunyah roti dengan wajah yang masam.

"Ck, orang-orang di rumah ini emang pada ribet!" Gerutu Queen sambil berjingkat. Dia membalikan badannya lalu beranjak.

"QUEEN!!" Bentak Bhaskara.

"Udah, Pah... Udah..." Riana berusaha menenangkan suaminya dengan berbicara lembut kepadanya.

"Astaghfirullahaladzim... Anak kamu itu selalu saja bikin emosi!" Wajah Baskara menjadi merah padam, dadanya naik turun menahan amarah yang membludak. Ia sudah sangat kesal dengan kelakuan Queen yang selalu saja menentang dan selalu membantahnya.

"Pah, Mah! Aku berangkat dulu, ya! Sekalian nganter Queen ke sekolah!" Pamit Prabu sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.

"Iya, nak... Hati-hati di jalan! Terus kamu pastikan adik kamu sampai di sekolah, ya!" Ujar Riana sambil tersenyum.

"Iya, mah!" Sahut Prabu. "Assalamualaikum!" Ucapnya.

"Waalaikumsalam!" Sahut Riana dan Bhaskara.

Prabu bergegas, ia harus menyusul adiknya yang sudah lebih dulu beranjak. Sementara Bhaskara dan Riana masih duduk dan termenung beberapa saat, memikirkan putrinya yang sikapnya tak kunjung berubah. Bahkan semakin hari sikapnya semakin menjadi-jadi saja.

Bhaskara menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, sambil tangannya mengusap dadanya dengan lembut, "Mah, Kita harus melakukan sesuatu. Queen tidak bisa kita biarkan terus-terusan seperti itu. Dia itu anak perempuan! Tapi kelakuannya..."

"Astaghfirullahaladzim..." Bhaskara mengusap dadanya.

Riana menghela nafasnya. Melepas beban yang ada dalam dadanya.

"Apa yang harus kita lakukan, Pah? Segala macam cara udah kita lakukan, kan? Tapi justru semakin ke sini Queen semakin susah diatur, Mamah juga udah pusing ngadepinnya," keluh Riana.

Baskara termenung sambil memijat pelipisnya. Sesekali tampak ia menarik nafas berat, sambil matanya menatap kosong permukaan meja makan berbahan batu marmer yang mengkilat.

"Prabu sama Queen sangat bertolak belakang. Mengurus Prabu tidak sesulit mengurus Queen. Prabu itu anaknya penurut, berbeda dengan Queen. Dia selalu saja membantah dan berbuat ulah, Padahal dia anak perempuan!" Keluh Baskara.

"Lain kepala lain sifatnya, Pah... Penurut dan tidaknya itu tidak bergantung dia laki-laki atau perempuan. Anak kita punya sifat yang berbeda, Prabu anaknya pendiam dan penurut. Sedangkan Queen, sejak kecil dia memang sangat ekspresif, dia suka membantah karena dia tidak suka kemauannya dibantah. Dia cenderung tidak mau diatur, makanya dia selalu melawan sama kita," tutur Riana.

"Iya, tapi yang namanya anak itu harus nurut sama orang tua, kan? Mau jadi apa dia nanti kalau membantah terus seperti itu?! Lagi pula, kita ngatur dia juga supaya kelak masa depannya cerah, supaya dia nggak salah jalan," Ujar Baskara.

Riana terdiam. Dia juga sudah kehabisan cara untuk mendidik anak gadisnya itu. Tak banyak yang bisa dilakukan sekarang. Queen semakin dewasa, dan semakin sulit dikendalikan.

"Papah harus melakukan sesuatu!" Gumam Baskara. Riana langsung menoleh, pancaran matanya, serta kerut di alisnya menggambarkan tanya.

"Sesuatu apa, Pah?" Tanya Riana.

Baskara menoleh ke arah Riana, lalu tampak menghela nafasnya. "Nanti mamah bakalan tahu!" Sahutnya.

Sementara Prabu, tergesa-gesa keluar rumah untuk mengejar Queen. Dan ternyata Gadis itu sudah sampai di gerbang rumah, melenggang dengan tas ransel yang ia kaitkan di salah satu pundaknya.

"Queen!" Panggil Prabu. Gadis itu menghentikan langkahnya lalu menoleh.

"Mau ke mana lu? Ayo gua antar!" Teriak Prabu.

Tanpa menjawab, Queen kembali masuk lalu berjalan menghampiri Prabu. "Main nyelonong aja Lu! Kan tadi gua udah bilang kalau gua mau anterin lo ke sekolah, gimana sih?!" Sergah Prabu.

"Habisnya Mas Prabu kelamaan!" Jawab Queen.

Prabu berdecak, "Jadi orang itu belajar sabar dikit bisa nggak sih? Gua habis pamit dulu sama bokap nyokap! Emang Lu, tiap mau berangkat sekolah bukannya pamit malah ngajak ribut sama orang tua!" Kata Prabu. Tangannya terulur, meraih handle pintu mobilnya lalu menariknya hingga terbuka.

"Masuk!" Ujarnya. Gadis itu merengut, tapi dia tetap menuruti ucapan kakaknya untuk masuk ke dalam mobil.

Prabu berjalan memutar, setengah berlari, lalu masuk melalui pintu yang satunya lagi. Duduk di belakang kemudinya.

Mesin mobilnya ia nyalakan, kemudi mobilnya yang berbentuk bulat dia putar sambil menginjak pedal gas dengan salah satu kakinya. Mobil pun melaju perlahan, turun dari halaman rumah yang permukaan tanahnya lebih tinggi dari jalanan komplek di depan rumah.

BIPP!!

Prabu menekan klakson mobilnya satu kali kepada satpam rumahnya yang bertugas membukakan serta menutup gerbang rumahnya itu.

Sesekali Prabu melirik ke arah Queen, wajah gadis itu masih saja terlihat masam. Dan itu pemandangan yang sudah tidak asing buatnya. "Heh! Lo tuh jangan kebanyakan cemberut, ntar cepet tua!" Kata Prabu.

"Biarin! Siapa tahu kalau gue udah tua udah nggak akan dipaksa-paksa mulu ngelakuin sesuatu yang harus sesuai sama keinginan papah," jawabnya.

Prabu menarik salah satu sudut bibirnya, sambil kepalanya menggeleng pelan. "Lo tuh kenapa sih, Queen? Perasaan nggak pernah banget gua lihat lho akur sama Papah?"

"Habis papanya nyebelin! Apa-apa harus diturutin! Gue nggak mau sekolah di manajemen bisnis malah dia paksa! Gue kan maunya sekolah seni, gaje banget jadi orang tua!"

"Heeeyyy... Lo nggak boleh bilang kayak gitu! Papah pasti punya alasan. Dia mau Masa depan lo cerah," tukas Prabu.

"Cerah apaan?" Gumam Queen.

"Kita itu sebagai anak harus nurut sama orang tua, Queen. Gua yakin apa yang dilakuin papah sama Mamah itu demi kebaikan kita,"

"Ya udah, Mas Prabu aja yang nurut sama mereka sana! Gue sih males! Hidup-hidup gue, Kenapa harus Papah yang nentuin?!"

"Karena dia orang tua kita!" Tukas Prabu.

"Kalau gue nggak happy gimana?!"

Prabu terdiam sejenak. Queen memang selalu teguh pada pendiriannya, kadang memang terkesan bebal dan keras kepala. Tapi itu wujud dari usahanya untuk memperjuangkan kebahagiaannya. Setidaknya itulah yang selalu Queen katakan.

"Hhhh... Ya udahlah, terserah lo aja. Gue sebagai abang Lo cuma bisa ngingetin, jangan sampai Lo jadi anak durhaka kayak Malin Kundang gara-gara ngelawan terus sama Papah," cicit Prabu.

"Ck, amit-amit!" Gumam Queen.

"Makanya jangan ngelawan terus!"

"Gue nggak ngelawan kok! Buktinya, sekarang gue mau pergi ke sekolah pilihan papah. Selama ini juga, waktu masih di sekolah yang lama juga gue tetap pergi ke sekolah walaupun Gue nggak suka, iya, kan? Di mana letak ngelawannya coba?!"

"Iya, Lo emang tetap berangkat ke sekolah, tapi di sekolah Lo bikin masalah mulu!" Tukas Prabu.

"Orang-orangnya aja yang bermasalah sama gue! Masa ada orang nyebelin gue biarin! Ya gue lawan lah!"

Prabu tersenyum miring, "Lo tuh cewek, tapi kelakuan Lo kayak preman! Perasaan gua yang cowok nggak pernah tuh berantem di sekolah, apalagi sampai masuk ruang BK. Lha, Lu langganan banget ruang BK," kata Prabu. Queen hanya mengedikkan bahunya.

"Awas lo! Jangan sampai di sekolah Lo yang baru Lo juga jadi langganan ruang BK!" Ujar Prabu sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah adik perempuannya itu, seperti sebuah peringatan.

"Gue nggak janji!" Sahut Queen.

"Hati-hati... Jangan sampai Lo lama-lama cinlok sama guru BK gara-gara keseringan ketemu," cicit Prabu.

"Issh! Amit-amit! Pacaran sama bapak-bapak dong gue!"

"Eh, siapa tahu guru BK nya masih muda, bisa jadi kan?"

"Ngaco Lu!" Tukas Queen.

Prabu menggelengkan kepalanya, "Ya ampun... Gini amat adik cewek gua," gumamnya pelan namun masih cukup bisa didengar oleh Queen. Hanya saja Queen tidak menanggapi. Hanya melirik sekilas lalu mengabaikannya.

Dalam waktu beberapa menit, mobil yang dikendarai oleh Prabu sudah tiba di halaman sebuah sekolah SMK swasta. Di atas gerbangnya terdapat sebuah tulisan besar yang bertuliskan SMK PERTIWI.

Prabu menghentikan mobilnya tak jauh dari pintu gerbang, lalu mematikan mesin mobilnya. "Udah nyampe, sana turun!" Ujar Prabu.

Queen tidak menjawab, ia tampak membuka pintu mobil lalu menurunkan salah satu kakinya.

"Eehh, bentar!" Panggil Prabu. Seketika Queen menoleh. "Ada apa?!" Tanyanya.

"Salim dulu dong!" Ujarnya sambil menyodorkan punggung tangannya ke arah Queen.

Gadis itu menatap malas, lalu meraih tangan Prabu lantas menempelkannya ke kening.

"Uuuh, anak pintar! Sekolah yang rajin, ya..." Seloroh Prabu sambil menepuk-nepuk puncak kepala adiknya itu.

"Iishh, jijik!" Tukas Queen sambil memutar bola mata malas. Prabu lantas terkekeh. "Udah buruan sana masuk! Jangan lupa salam dulu!" Ujarnya sambil mengibas-ngibaskan tangan.

"Iya! Assalamualaikum!" Ucap Queen.

"Waalaikumsalam!" Sahut Prabu. Ia lantas menggelengkan kepalanya, sambil menatap punggung Queen yang berjalan menuju ke gedung sekolah SMK Pertiwi yang berdiri kokoh di hadapannya.

"Mudah-mudahan Queen betah sekolah di sini, dan nggak bikin ulah terus kayak di sekolahnya yang lama," gumam Prabu.

Dia menghela nafasnya, lalu menghempaskannya. Kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halaman SMK Pertiwi, sekolah baru adiknya.

Sepanjang koridor, Queen berjalan. Sesekali kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari kelasnya berada, yang tidak ia tahu letaknya di mana. "Aduh, kelas gue dimana?" Gumamnya.

Kemarin waktu daftar masuk di sekolah itu Queen malah kabur. Akibatnya, sekarang dia tidak tahu kelasnya yang mana. Itu memang kesalahannya sendiri.

"Ck, aduh gimana nih?" Gumamnya sambil termenung. Ia berdiri di persimpangan lorong sekolah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Kepalanya menoleh ke sekitar, mencari Di mana kelas dua belas berada diantara banyaknya ruangan kelas yang berderet di sana.

Di ujung koridor, Queen melihat ada sebuah ruangan dengan papan tulisan 'Ruang Guru' di bagian atas bingkai pintunya. "Ah, gua tanya sama guru aja deh!" Putus Queen sambil tersenyum tipis, ia lantas melenggangkan kakinya menuju ke arah ruangan itu.

Namun, tiba-tiba saja matanya melihat seseorang yang rasanya tak asing bagi Queen. Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, mengenakan celana bahan dan kemeja berwarna hitam, berjalan di lorong sekolah yang ada di seberang taman.

"Bentar, Kayaknya gue pernah lihat cowok itu deh, tapi di mana ya?" Gumamnya.

Alis Queen mengernyit, matanya memicing memperhatikan wajah laki-laki di seberang sana. Sambil otaknya berpikir, mengingat-ingat di mana Dia pernah melihat laki-laki itu.

"Ah! Gue inget!" Serunya.

"Itu kan cowok yang kemarin mobilnya gue pake buat ngumpet dari papah!"

"Kok dia bisa ada di sini?!" Gumamnya.

Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah di mana Queen berada. Sontak saja Queen terperanjat. "Waduh! Dia ke sini lagi! Gawat!! Jangan sampai cowok itu lihat gue ada di sini!" Dengan wajah yang mulai panik, Queen menggulirkan bola matanya ke arah sekitar, mencari tempat untuknya bersembunyi. Hingga akhirnya dia melihat ada sebuah pot besar berbahan semen terletak di bawah tiang sekolah, tak jauh dari tempatnya berdiri.

Gegas Queen berlari ke arah pot besar itu, kemudian berjongkok di sana. Meluputkan dirinya dari pandangan laki-laki tinggi besar yang tak sengaja bertemu dengannya kemarin.

Queen berjongkok di balik pot besar sambil menggigit-gigit ujung kukunya, dalam hatinya terus meracau. Merapalkan doa agar laki-laki itu tidak melihatnya di sana.

"Bismillahirrahmanirrahim. Mudah-mudahan cowok itu nggak lihat gue ada di sini. Males banget gue ketemu lagi sama dia." Gumamnya.

Queen memejamkan matanya dengan erat tatkala mendengar derap langkah seseorang yang semakin mendekat. Suasana sekolah yang masih sepi, membuat suara langkah kaki itu terdengar begitu jelas di telinganya.

'Aduuuh... Jangan-jangan yang lagi jalan ke sini si cowok itu!' gumam Queen dalam hati, Seraya menggeser kakinya sedikit demi sedikit, merapatkan tubuhnya pada pot besar yang menjadi tempat persembunyiannya sekarang.

Tiba-tiba,

"Hey!" Seseorang menepuk pundaknya.

Queen yang sedang bersembunyi dengan hatinya yang berdebar lantas terlonjak kaget setengah mati.

---

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.