Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Pesona Liar Sang Pelakor
Pesona Liar Sang Pelakor

Pesona Liar Sang Pelakor

9.3
/ 10
Dalam Pesona Liar Sang Pelakor, seorang istri mengungkap rencana busuk mertua yang ingin menggantikannya karena dianggap mandul. Menghadapi pengkhianatan ini, ia bertekad membalikkan keadaan dalam romance novel penuh intrik ini. Baca cerita selengkapnya di web novel modern ini.

Ringkasan Pesona Liar Sang Pelakor

Istri mana yang tak hancur saat memergoki ibu mertua bersekongkol dengan wanita lain? Di balik punggungku, mereka merancang skenario keji untuk menyingkirkanku hanya karena tuduhan mandul. Sosok wanita cantik nan menggoda sengaja dihadirkan untuk memikat Mas Ali demi mendapatkan keturunan. Namun, mereka salah menilaiku. Aku tak akan tinggal diam menjadi korban yang tertindas. Kini saatnya aku membalikkan keadaan, mengikuti permainan licik mereka, dan memastikan mereka berakhir sebagai figuran dalam sandiwaraku sendiri.
Selengkapnya

Pesona Liar Sang Pelakor Bab 1

"Bagaimana, Kak Mel? Sudah enakan?" Harum memijit betisku.

Gadis muda ini adalah pembantuku. Usianya kira-kira sembila belas tahun. Sejak dua bulan lalu dia sudah ikut bersamaku. Saat itu aku bermaksud mencari pembantu karena kondisiku yang sedang hamil. Dia datang bersama ibunya menawarkan diri. Bahkan sangat memelas. Dengan alasan putrinya menganggur di kampung, Mak Uda memohon-mohon.

"Lumayan, Alhamdulillah. Kamu pintar mijitnya, " ucapku masih sedikit meringis.

Entah kenapa akhir-akhir ini kakiku sering keram. Kata dokter yang kutemui dua hari yang lalu, itu biasa dialami oleh seorang perempuan yang sedang hamil tua.

"Kak, kalau kakak melahirkan nanti, Mak Tua ke sini, enggak?"

"Pastilah, tapi mungkin enggak bisa lama. Dia juga punya kesibukan di kampung. Kenapa, kau mau nitip sesuatu dari Mak Uda?" tanyaku.

Mak Tua adalah panggilannya untuk Ibuku. Sedangkan Mak Uda adalah panggilanku untuk ibunya. Rumah orang tuaku di kampung bersebelahan dengan rumah ibunya.

"Enggak, cuma nanya aja. Memang lebih baik kalau dia gak usah lama-lama di sini."

"Kenapa?" Aku kaget mendengar ucapannya.

"Kan udah ada aku yang ngerawat Kakak."

"Iya, sih," sahutku menyimpan tanya.

Aku merasa ada sesuatu yang tersirat dari ucapannya. Naluriku mengatakan ada yang sengaja ditutupi.

Sebenarnya kecurigaanku ini sudah sejak sebulan lalu. Harum akhir-akhir ini bertingkah aneh. Sering kudapati dia mematut diri di depan cermin hias saat membersihkan kamarku. Bahkan pernah kupergoki dia mencoba memakai gaun pemberian Mas Gilang suamiku.

Aku marah dan memintanya jangan pernah sembarangan membuka lemariku lagi. Sayangnya Mas Gilang malah membelanya. Dengan alasan sudah lama kepingin gaun seperti itu, pembantuku beralibi. Esoknya Mas Gilang membelikan gaun yang sama untuknya.

"Jangan kasar! Jangan buat dia tersinggung! Nanti kalau dia merajuk pulang kampung, gimana? Kita kehilangan pembantu, kita juga dicap gak bagus di mata orang kampung," kata suamiku beralasan.

Aku menurut, dan kembali memperlakukan dia dengan baik. Sampai malam harinya setelah kejadian itu, aku dapati Mas Gilang duduk berdua di meja makan. Aku kebelet malam itu.

Aku pikir Mas Gilang masih sibuk di depan. Suamiku memang punya usaha toko pupuk yang lumayan besar. Toko itu di depan rumah kami pusatnya. Sedang cabangnya tersebar di beberapa kecamatan. Kadang dia bekerja sampai malam terutama bila ada pengiriman ke cabang.

"Mas di sini? Kirain di toko?" kataku mengagetkan mereka berdua.

Aku tidak melihat dengan jelas, karena lampu dapur sudah padam. Sepertinya aku melihat Harum duduk dipangkuan suamiku. Saat aku menghidupkan lampu, gadis itu sudah bergeser. Kucoba menghibur hati, bahwa aku hanya salah lihat tadi.

"Iya, ini si Harum dari tadi duduk menyendiri di sini. Kebetulan aku baru pulang dari toko. Aku tanya ngapain gelap-gelapan. Dia bilang masih sedih karena kamu tegur tadi. Dia minta pulang kampung besok. Dari tadi aku sudah membujuknya."

"Rum, kakak udah minta maaf, kan? Kenapa masih merajuk?" tanyaku ikut duduk.

Gadis itu meraba bibirnya. Kenapa di tanya malah meraba bibir? Kulirik kancing bajunya terbuka dua buah bagian atas. Dadaku berdesir, saat itu sebenarnya aku sudah curiga. Tapi, aku tidak tahu harus curiga apa. Perasaanku tidak enak, seolah ada sesatu milikku yang paling berharga telah salah letak. Tapi, aku tidak tahu apa dan di mana.

***

"Kak, aku kembali ke kamarku, ya? Kakak udah bisa tidur, kan?"

Ucapan Harum membuyarkan lamunanku.

"Iya," sahutku menatap pungungnya ke luar kamar.

Kucoba memejamkan mata, melupakan prasangka dan kegundahan. Kurasakan gerakan bayiku seolah menendang. Kubelai perutku penuh kasih sayang. Aku terlelap bersama gerakannya.

Aku tersentak saat sebuah tangan kekar tiba-tiba memeluk dari belakang.

"Mas, sudah tutup tokonya?" tanyaku memegang tangannya.

"Sudah, bagaimana, masih keram kakinya?"

"Sudah enakan. Mas makan dulu sana! Perlu aku hidangin?"

"Tidak usah, Sayang. Kamu tidurlah. Istirahat yang cukup, ya! Kata Dokter dalam minggu ini, kan?"

"Iya, Mas."

"Semoga bisa normal, ya."

"Tidurlah! Mas mau makan, setelah itu kembali ke ruang kerja mengecek laporan penjualan hari ini dari toko cabang!" Dia bangkit dan melangkah ke luar.

"Tunggu! Ada yang mau aku tanyain."

"Apa sih?" Mas Gilang kembali menghadapku.

"Sudah tiga minggu, kita enggak pernah lagi. Aku gak tega, Mas harus nahan selama itu. Belum lagi kalau nanti aku habis lahiran," sergahku.

Mas Gilang tersenyum, lalu berjongkok di sisiku.

"Aku sanggup nahan berapa bulan pun, Sayang. Demi kebaikan dirimu dan bayi kita." Dikecupnya lembut keningku.

Aku kembali mengerjapkan mata, begitu bahagia. Suami yang penuh pengertian.

"Makasih, Mas," bisikku sambil tersenyum.

Dia melangkah ke luar, kupejamkan mata, aku terlelap lagi.

Entah berapa lama sudah aku tertidur. Tiba-tiba aku terbangun karena mimpi buruk. Seseorang yang entah siapa mencuri baju dasterku. Aku kelelahan mengejar dan merebut kembali daster itu. Tapi, kakiku terjerembab lubang kecil, aku jatuh, lututku berdarah.

Kucari Mas Gilang di samping. Tidak ada. Kupikir pasti dia masih di ruang kerjanya. Tenggorokanku terasa kering, kucoba bangkit dan melangkah menuju dapur.

Kulirik ruang kerja Mas Gilang sambil lewat. Sunyi tidak terdengar apa-apa. Apakah suamiku ketiduran? Kubuka pintu dengan pelan. Aku heran melihat lampu tidak menyala di dalamnya. Segera ku tekan saklar di dinding dekat pintu. Ke mana dia? Mungkin dia harus keluar menemui pelanggan atau siapa, pikirku.

Tanpa curiga aku melanjutkan langkah. Sebelum sampai ke ruang makan, aku harus melewati kamar pembantu. Saat itu telingaku seperti mendengar suara desahan. Kucoba menajamkan pendengaran. Aku tidak salah dengar. Suara desahan bahkan rintihan kini semakin jelas. Kucari sumber suara itu. Aku mundur beberapa langkah.

Ini suara Harum. Desahan dan rintihan ini berasal dari kamarnya. Kenapa dia? Apakah dia sedang sakit? Kenapa tidak membangunkan aku kalau sakit.

Aku mulai panik. Sebegitu kesakitan kah gadis itu? Ya, Allah, jangan sampai dia kenapa napa. Spontan kudorong pintu kamar.

"Harum ... kamu kena --"

Suaraku terpotong demi melihat pemandangan di dalam.

Aku terduduk lemas, di depan pintu, kupegangi kepalaku yang berdenyut hebat. Bayi dalam perut ikut meronta-ronta.

***

Bersambung

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
CHRONOPHILE
CHRONOPHILE
Dalam novel modern CHRONOPHILE, sebuah perjodohan memaksa pertemuan kembali dengan pria dari masa lalu. Di tengah misi mempertahankan pernikahan, muncul ancaman balas dendam dan rahasia lama. Baca kisah romance novel ini tentang perjuangan menghargai waktu dan pilihan hidup yang sulit.
Dewa Itu Adalah Patungku
Dewa Itu Adalah Patungku
Dalam Dewa Itu Adalah Patungku, Melinda merawat patung beruang yang ternyata inkarnasi dewa perkasa. Web novel bergenre fantasy romance ini mengikuti transformasi sang dewa saat Melinda dewasa, memicu ketegangan dan takdir baru. Baca fiction fantasy novels ini untuk mengungkap misteri di baliknya.
Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
Di hari ulang tahun pernikahan kedelapan, Jessica mendapati suaminya, Rio Aditya, berselingkuh dengan Nadia. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis kanker ovarium stadium akhir. Menyadari suaminya berniat menceraikannya, Jessica memilih pergi dengan damai. Baca novel romantis modern ini di novel web.
Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
Dalam novel romantis misteri Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku, seorang wanita dipaksa menyerahkan tunangannya di hari pernikahan demi kakaknya yang sekarat. Saat disekap orang tuanya agar tidak mengacau, ia justru dibunuh dengan kejam. Baca novel online gratis ini untuk mengungkap misteri tragisnya.
IPARKU, CANDU SUAMIKU
IPARKU, CANDU SUAMIKU
Dalam romance novel IPARKU, CANDU SUAMIKU, Nadia harus menghadapi hinaan mertua demi cintanya pada Askara. Namun, sebuah mystery muncul saat sikap suaminya berubah drastis. Nadia pun berjuang mengungkap rahasia gelap perselingkuhan suaminya dengan adik iparnya sendiri dalam modern novel ini.
Menyusui Bayi Mafia
Menyusui Bayi Mafia
Dalam Menyusui Bayi Mafia, Lea terjebak tuntutan El Zibrano yang memaksanya merawat sang putra demi imbalan besar. Novel romance ini mengisahkan perjuangan Lea menghadapi obsesi sang mafia. Simak kisah seru mereka dalam mafia romance books ini hanya di platform web novel terpopuler.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.