Pernikahan Hanya Sandiwara

Kania berjongkok di balik semak kembang sepatu. Napasnya masih tercekat, sisa dari percakapan yang tak sengaja ia dengar. Jadi, ini semua sandiwara. Pernikahan ini, statusnya sebagai istri, semua hanya kunci. Kunci untuk membuka brankas warisan kakek Rendra. Hatinya yang sudah remuk kini terasa hampa. Ia bukan istri, bukan menantu, ia hanya alat.

Yang paling membuatnya gemetar adalah kenyataan bahwa mereka tahu persis kelemahannya. Bintang.

"Cukup ancam adiknya yang sakit, dia akan patuh seperti anjing terlatih."

Kata-kata Nyonya Ratna berputar-putar di kepalanya, tajam dan menghina. Kania menekan dadanya, berusaha meredakan denyutan nyeri yang terasa sampai ke tenggorokan. Ini bukan hanya penderitaan personal lagi, ini adalah peperangan yang tidak adil, di mana nyawa adiknya dijadikan pion.

Sambil memaksakan diri berdiri, Kania mengusap pipinya yang masih terasa nyeri akibat tamparan semalam. Ia harus bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Topeng sempurna seorang "menantu yang penurut" harus dipakai kembali.

Siang itu, Kania disuruh menemani Nyonya Ratna ke perkumpulan arisan sosialita. Biasanya, Kania diizinkan tinggal di rumah, sibuk di dapur. Kali ini, ia wajib ikut.

"Duduk tegak, Kania. Jangan menunduk seperti pengemis. Dan jangan pernah berani membuka suara, kecuali ditanya. Ingat, kamu di sini hanya sebagai aksesoris. Cerminan keluarga terhormat kita," bisik Nyonya Ratna dingin, sesaat sebelum memasuki ballroom hotel bintang lima.

Di antara tawa renyah, perhiasan berkilauan, dan aroma parfum mahal, Kania duduk kaku di sudut, di belakang Nyonya Ratna. Ia merasa seperti alien. Semua mata memandanginya, bukan dengan rasa hormat, melainkan rasa ingin tahu yang merendahkan. Mereka tahu ia "hanya" menantu wasiat yang datang dari desa.

Saat Nyonya Ratna asyik berbincang, salah satu temannya, Ibu Laras, mendekati Kania.

"Jadi, kamu Kania? Istri Rendra?" tanyanya, suaranya dipenuhi nada meremehkan, matanya menyapu penampilan Kania dari atas ke bawah.

Kania menunduk sedikit. "Iya, Tante."

"Oh, ya ampun. Kamu sangat berbeda dari foto-foto Rendra di media sosial. Dia selalu terlihat sangat bahagia, kamu tahu? Kalian tampak harmonis sekali. Saya pikir kamu ini lulusan luar negeri, ternyata..." Ibu Laras menggantung kalimatnya, dan tawanya sangat tidak menyenangkan.

"Saya... saya lulusan SMA, Tante."

"Lulusan SMA? Astaga. Kasihan sekali Rendra. Tapi sudahlah, namanya juga wasiat. Warisan memang selalu punya harga yang harus dibayar mahal, ya?" Ibu Laras berbisik, tapi cukup keras.

Kania merasakan wajahnya memanas. Mereka semua tahu. Mereka semua tahu pernikahan ini palsu, dan mereka menikmati penderitaannya seolah itu tontonan menarik. Mereka tidak peduli dengan martabatnya. Ia hanya barang dagangan yang dipamerkan.

Saat Ibu Laras pergi, Kania merasakan getaran ponselnya di saku. Itu dari rumah sakit.

Perawatan Bintang harus ditunda sore ini. Administrasi belum mengonfirmasi perpanjangan jaminan.

Dunia Kania seolah runtuh. Ditunda. Ini berarti Rendra atau keluarganya sedang memainkan permainan kotor lagi. Mereka menahan jaminan Bintang untuk memberinya pelajaran. Jantung Kania berdebar gila-gilaan. Bintang tidak boleh ditunda perawatannya.

Dengan keberanian yang didapat dari keputusasaan, Kania bangkit dan menghampiri Nyonya Ratna yang sedang tertawa lepas.

"Maaf, Bu. Saya harus bicara sebentar." Kania berbisik, sangat pelan, tapi nadanya penuh tekanan.

Nyonya Ratna langsung menatapnya tajam, matanya menyala marah. Ia menarik tangan Kania kuat-kuat ke sudut yang sepi.

"Berani-beraninya kamu mengganggu saya di depan teman-teman saya, hah?! Apa maumu?!" Nyonya Ratna berbisik penuh ancaman.

"Bintang, Bu. Kenapa perawatannya ditunda? Mohon jangan jadikan Bintang mainan. Kalau saya ada salah, hukum saya. Jangan Bintang." Kania memohon, air matanya sudah siap tumpah.

Nyonya Ratna tersenyum sinis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Oh, Bintang. Sayang sekali. Ya, itu sengaja. Rendra sedang kesal karena kamu masih berani-beraninya melirik pria lain kemarin."

"Saya sudah bilang, saya tidak melirik siapa-siapa! Saya hanya membantu memungut barang! Saya mohon, Bu, jangan main-main. Bintang harus segera dioperasi. Kondisinya-"

Ceklek.

Nyonya Ratna mencengkeram lengan Kania, kukunya menembus kulit Kania. "Dengarkan baik-baik. Jangan pernah membantah. Jangan pernah menangis. Jangan pernah mempertanyakan keputusan kami. Kalau kamu berani melawan sedikit saja, kamu bukan hanya akan kehilangan jaminan Bintang, tapi juga kehilangan Bintang selamanya. Paham?"

Ancaman itu diucapkan dengan nada yang begitu tenang, begitu dingin, sehingga membuat Kania merinding. Itu bukan gertakan, itu janji. Nyonya Ratna punya kekuasaan, dan ia tidak segan menggunakannya.

Kania terhuyung mundur. Ia tidak bisa melawan. Ia harus kembali patuh. Untuk Bintang.

"Saya paham, Bu. Maaf." Kania berbisik, lalu buru-buru kembali ke sudutnya, berusaha keras mengendalikan napasnya agar tidak menimbulkan isak tangis.

Perjalanan pulang terasa seperti menelan batu. Kania duduk di belakang, diapit oleh kebisuan Nyonya Ratna. Begitu sampai di rumah, ia langsung dipanggil ke ruang kerja Rendra.

"Duduk." Perintah Rendra pendek, matanya tertuju pada laporan keuangan.

Kania duduk di kursi kayu keras, berjarak dua meter dari Rendra.

"Nyonya Ratna bilang kamu tadi membuat keributan di arisan. Menangis dan memohon-mohon seperti pengemis. Itu memalukan," ujar Rendra tanpa melihat.

"Maaf, Mas. Saya hanya khawatir dengan Bintang..."

Rendra meletakkan pulpennya. Kini ia menatap Kania, tatapan dingin yang mampu membekukan darah. "Khawatir? Itu bukan khawatir. Itu perlawanan. Saya sudah bilang, tugasmu hanya diam, patuh, dan melayani. Tidak lebih. Statusmu di sini hanyalah penjamin warisan."

Ia bangkit, berjalan mengelilingi meja, dan berdiri di depan Kania. "Sekarang saya akan beri kamu pelajaran, agar kamu tahu siapa yang memegang kendali penuh atas hidupmu dan nyawa adikmu."

Rendra mengeluarkan ponselnya, menelepon seseorang, lalu mengaktifkan mode loudspeaker.

"Halo. Batalkan semua jaminan kesehatan atas nama Bintang Laksana per malam ini. Ganti jaminan ke rumah sakit kelas tiga. Saya tidak peduli alasannya. Lakukan sekarang." Rendra memberi perintah dengan suara datar.

Kania menjerit tanpa suara. Ia bangkit, meraih tangan Rendra.

"Mas! Jangan! Tolong, jangan lakukan itu! Bintang butuh perawatan khusus, Mas. Rumah sakit kelas tiga tidak punya alatnya. Mas, saya mohon!" Kania memeluk kaki Rendra, air matanya membasahi sepatu kulit mahal itu.

Rendra menarik kakinya kasar, membuat Kania tersungkur. Ia menatap Kania, puas.

"Lihat? Inilah yang saya inginkan, Kania. Kepatuhan total. Saya akan mengembalikan jaminan itu, tapi kamu harus ingat, ini bisa saya tarik kapan saja. Kamu harus melakukan apa pun yang saya perintahkan tanpa bantahan. Malam ini, siapkan pakaian saya untuk perjalanan besok. Dan jangan pernah berani menolak saya lagi di kamar. Mengerti?"

Kania hanya bisa mengangguk, terisak-isak, membiarkan rasa sakit di hatinya merambat ke seluruh tubuh. Ia sudah mencapai titik terendah. Di rumah ini, ia benar-benar tak punya harga diri, tak punya suara, dan tak punya pilihan.

Rendra tersenyum kecil, lalu mematikan teleponnya. "Bagus. Sekarang pergi dan siapkan semuanya. Dan jangan lupa bersihkan air matamu. Jangan sampai saya melihat wajah jelekmu itu menangis lagi."

Kania merangkak berdiri, tubuhnya gemetar, lalu berjalan keluar dari ruangan itu seperti robot tanpa jiwa. Ia baru menyadari, ia terjebak dalam lingkaran setan kekerasan emosional dan ancaman yang tak berkesudahan. Dan satu-satunya cara untuk keluar dari lingkaran ini adalah dengan mengorbankan segalanya, termasuk nyawa adiknya sendiri.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.