PERNIKAHAN DIATAS KERTAS

Bab 3

BERTEMU TETANGGA

“Terserah kamu sajalah! Oya, mulai besok, Nindy akan bekerja di kantor kita!”

“Apa? Memangnya dia bisa bekerja?” ejek Adel.

“Ma, jangan merendahkan orang seperti itu! Dia itu menantu kamu!” tegur Jarvis kepada istrinya.

Adel tak menanggapi ucapan suaminya.

“ Lagipula, apa kamu tidak tahu, dia ini sarjana ekonomi. Dia lulusan terbaik di kampusnya,” lanjut Javis.

“Trus, dia mau ditempatkan dimana? Kantor kita kan, sedang tidak membutuhkan karyawan,” tanya Nathan.

“Dia akan menjadi sekretaris kamu!”

“Sekretaris, Pa?” tanya Nathan tak percaya.

“Iya, kenapa? Keberatan?”

“Bukan begitu, Pa. Dia itu kan belum punya pengalaman kerja, apa gak sebaiknya dimulai dari bawah dulu?” tanya Nathan yang tampak keberatan.

“Benar itu, Pa. Meskipun dia menantu Papa, Papa tidak boleh mengistimewakannya. Nanti jadinya manja,” sahut Adel.

“Saya yakin dia bisa. Keputusan Papa sudah bulat. Mulai besok, dia akan menjadi sekretaris kamu.”

Nathan menghembuskan nafas panjang.

“Ya sudah, jika itu keputusan Papa, aku gak bisa menolak, tapi aku minta satu hal,” ujar Nathan.

“Apa itu?”

“Aku mau statusnya sebagai istriku dirahasiakan dulu,” ujar Nathan.

“Kenapa begitu?” tanya Jarvis heran.

“Biar dia bisa berbaur dengan pegawai lain, Pa. Kalau mereka tahu dia menantu Papa, pasti tidak ada yang berani dekat dengan dia, apalagi menegurnya saat melakukan kesalahan.” Nathan memberi penjelasan.

“Bagaimana menurut kamu, Nindy?” tanya Jarvis kepada Nindy.

“Aku rasa Mas Nathan benar, Pa. Aku harus banyak belajar dari karyawan lain yang lebih senior.”

“Baik, jika itu keputusan kalian, Papa bisa menerimanya. Tapi ingat, jika tiba waktunya, Papa mau kalian mengumumkan pernikahan kalian dan mengadakan resepsi.”

“Pasti, Pa!” sahut Nathan sambil tersenyum sumringah.

“Nindy, sudah selesai belum sarapannya?” tanya Nathan.

“Sudah, Mas. Aku bantu Bibi beres-beres dulu, ya!” sahutnya.

“Gak perlu, ayo kita berangkat sekarang!” ajak Nathan.

“Iya, Mas! Aku ambil barang dulu di atas!” sahut Nindy.

Setelah mengambil barangnya yang tak seberapa, Nindy segera berpamitan kepada mertuanya dan mencium tangannya.

“Ma, Nindy pamit dulu!” ujarnya.

“Hm!” sahut Adel acuh.

“Pa, nindy pamit dulu!”

“Iya, Papa titip Nathan ya. Kalau dia macam-macam, kamu lapor saja sama Papa!”

“Iya, Pa!” sahut Nindy.

Dengan mengendarai mobil sport miliknya, Nathan membawa Nindy ke apartemen miliknya. Selama perjalanan, tak ada obrolan di antara mereka.

Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga puluh menit, mereka sudah sampai di tujuan.

Nathan membawa Nindy ke lantai sepuluh.

"Dihafalkan caranya. Setelah ini, kamu harus bisa keluar masuk apartemen ini sendiri. Aku tidak mungkin mengawalmu terus-menerus," ujar Nathan.

"Iya, Mas!" sahut Nindy.

Nathan membuka kunci apartemen dan memasukinya.

"Itu kamarku dan itu kamarmu!" tunjuknya.

"Selebihnya, kamu bisa melihat-lihat sendiri. Sudah, aku mau pergi!" ujar Nathan.

"Mas!" panggil Nindy.

"Apa lagi?" tanya Nathan.

Nindy meraih tangan Nathan dan mencium tangannya.

"Kamu tidak perlu melakukannya! Ralat, kamu tidak perlu melakukan kewajiban apapun! Kita jalani kehidupan kita masing-masing!" ujar Nathan, lalu melangkah meninggalkan Nindy.

"Satu lagi, jangan coba-coba masuk ke kamarku! Aku tidak suka kamarku disentuh sembarangan orang!" ujarnya.

Nindy menghela nafas panjang.

Dia mencoba menghibur hatinya dengan berkeliling. Dia ingin melihat seluruh ruangan di apartemen ini.

Apartemen ini cukup luas. Desainnya minimalis tapi memberikan kesan elegan dengan warna dominan putih. Apartemen ini memiliki dua buah kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah untuk menonton televisi, dapur yang menyatu dengan ruang makan, dan balkon.

Hatinya tertarik untuk melangkah ke area balkon. Dari sana, tampak pemandangan kota dan gedung-gedung di sekitar apartemen.

"Halo, tetangga!" sapa seseorang dari balkon sebelah.

Nindy tampak terkejut. Pria tersebut memberikan senyum termanisnya.

"Kenalkan, saya Aron, baru pindah hari ini. Nama kamu siapa?" tanyanya ramah.

Nindy tak menanggapi. Dia tak berani berbincang dengan orang asing. Dia segera melangkah masuk ke dalam apartemen kembali.

"Yach … kok pergi sih!" teriaknya.

Nindy tak menggubris. Dia segera melangkah ke kamarnya dan menata barang-barangnya.

Usai berbenah, Nindy segera menuju ke dapur dan membuka kulkas. Ternyata, tak ada apapun disana. Dia ingat, di lantai bawah ada supermarket.

Segera dia mengambil dompet di kamarnya dan melangkah keluar apartemen. Usai mengunci pintu apartemen, Nindy melangkah menuju lift.

Sesampainya di lantai dasar, Nindy segera menuju supermarket dan berbelanja beberapa kebutuhan dapur. Saat sedang asyik memilih-milih, tiba-tiba seseorang menyapanya.

"Halo, tetangga! Kita ketemu lagi!" sapa pria tersebut.

Nindy memandang pria tersebut sekilas, lalu kembali asyik dengan belanjaannya.

"Sombong amat, sih! Diajak kenalan gitu aja gak mau!" ujar Aron yang masih mengikuti langkah Nindy.

"Maaf, saya tidak biasa berbincang dengan orang asing!" ujar Nindy sambil terus melangkah.

"Saya bukan orang asing! Kita tetangga, lho!" ujar Aron lagi.

Nindy menghela nafas panjang.

"Mau kamu apa, sih, sebenarnya?" tanya Nindy pasrah.

"He … cuma mau kenalan doang! Aku Aron!" ujarnya sambil mengulurkan tangannya.

"Nindy!" sahut Nindy singkat. Usai berjabat tangan, Nindy melanjutkan aktivitasnya.

"Kamu sudah lama tinggal disitu?" tanya Aron yang masih mengikutinya.

"Tidak, baru hari ini."

"Tinggal sama siapa?"

"Sama suami," sahut Nindy singkat.

"Suami?" tanya Aron tak percaya.

"Iya, kenapa?"

"Gak … aku pikir … kamu masih sendiri."

"Apa di keningku harus aku tulis kalau sudah ada pemiliknya?" ujar Nindy.

"Gak gitu juga, hanya saja kamu masih tampak seperti …." Aron tak melanjutkan kalimatnya.

"Kayak apa?"

"Kayak ABG, he …. Abisnya, masih kelihatan imut gitu," sahut Aron.

Nindy tak menanggapi ucapan Aron. Dia segera menyelesaikan acara belanjanya dan menuju ke kasir. Usai membuat belanjaannya, dia segera kembali ke apartemennya.

"Hei, tunggu!" teriak Aron.

"Apa lagi?" tanya Nindy jengah.

"Bareng. Kita kan tetanggaan," ujar Aron santai.

"Memang kalau tetangga harus barengan gitu?" tanya Nindy sewot.

"Gak juga, hanya saja kan lebih enak kalau ada temannya. Lagian, kamu kan penghuni baru juga, pasti belum punya teman. Iya kan?"

"Sok tahu!" sahut Nindy.

"Lha, kan emang bener!" ujar Aron ngotot.

Sesampainya di depan apartemen, Nindy segera membuka pintu dan masuk.

"Kamu tidak mengundang tetanggamu berkunjung?" tanya Aron.

"Maaf, suamiku sedang tidak di rumah. Permisi!" ujar Nindy, lalu segera menutup pintunya.

"Galak amat, tapi manis. He …. Sayang, sudah punya suami!" ujar Aron kepada dirinya sendiri

Di dalam apartemen, Nindy segera membongkar barang belanjaannya, lalu melanjutkan aktivitasnya dengan memasak.

Sore ini, Nindy ingin memasak sesuatu untuk suaminya. Nindy memutuskan untuk membuat ayam saus pedas manis. Usai memasak dan menyiapkan makanan, Nindy menunggu sang suami pulang.

Ceklek.

Terdengar, suara pintu apartemen dibuka tepat saat masakannya sudah siap.

Nindy segera menyongsong kedatangan suaminya.

Dia segera meraih tangan Nathan dan hendak menciumnya, namun Nathan segera menghempaskannya.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.