Sorenya di lapangan tenis yang sudah menjadi tempat favoritnya, Pak Bagas dan Erni sedang asyik bermain. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama, terutama sejak Yudis, anak kedua Pak Bagas, suaminya Erni, pergi ke Jepang untuk pendidikan singkat selama dua tiga bulan. Sebelumnya mereka selalu bertiga.
Latihan tenis menjadi rutinitas yang mereka nikmati, tanpa banyak kata-kata berlebihan, namun dengan keakraban yang terasa tulus.
"Ayah, kok makin jago aja sih!" goda Erni sambil menyeka keringat di dahinya. Wajahnya lelah, tapi penuh senyum.
Pak Bagas tertawa kecil, menyapu keringat di dahinya juga. "Kalau gak ada kamu, Ayah udah males latihan. Kamu yang bikin Ayah semangat terus."
Pukulan demi pukulan mereka lemparkan ke net, diiringi canda ringan. Di sela-sela permainan, obrolan sederhana mengalir.
"Yudis gimana di sana?" tanya Pak Bagas, menarik napas sejenak sambil menatap Erni.
Erni mengangguk pelan. "Baik, Yah. Tapi, tiga bulan tanpa dia tuh terasa lama banget. Rumah jadi sepi."
"Kan ada Gita dan Aldi?" timpal Pak Bagas.
"Iya sih, tapi tetep aja beda, Yah."
Pak Bagas mengangguk mengerti dan menyadari makna kesepian yang dirasakan menantunya. Seketika pikirannya melayang pada Bu Soraya, mungkinkah dia juga kesepian? Pak Fuadi selalu ada, hanya mungkin datang digilir dengan Bu Hajah Linda istri pertamanya.
"Sabar. Tapi kamu masih punya keluarga besar di sini. Terutama ada ayah, kapan pun mau ngobrol atau main tenis, tinggal ajak ayah," hibur Pak Bagas.
Erni tersenyum, matanya berbinar hangat. "Iya, untung ada Ayah Mertua yang sangat pengertian, kalau gak, aku udah kebosanan, tidak ada penyaluran, hehehe."
Sore itu, Erni mengenakan pakaian tenis berwarna cerah-atasan kuning muda dan rok tenis putih yang dipagu dengan legging dan manset hitam, serta jilbab hitam yang simple. Keringat membasahi wajahnya, namun hal itu tak mengurangi pesona semangat yang terpancar darinya.
Sementara itu, Pak Bagas tampak santai dengan celana pendek hitam dan kaos berkerah warna biru tua. Meski sudah berumur, tubuhnya masih tampak bugar, hasil dari rajin berolahraga.
Mereka tampak serasi di lapangan. Keterampilan bermain tenis, canda dan tawa mewarnai setiap pukulan, seakan hubungan mereka hanyalah sebatas mertua dan menantu yang akrab. Namun, di balik itu, bisa jadi ada sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Mungkin perasaan samar yang tanpa mereka sadari.
Permainan selesai, dan mereka berdua duduk di bangku pinggir lapangan, mengatur napas sambil menikmati angin sore. Meski tidak diucapkan, ada kehangatan di antara mereka yang semakin terasa akrab.
Pak Bagas menyerahkan handuk kecil pada Erni. "Kamu tadi mainnya bagus banget, Er."
Erni menerima handuk itu dengan senyum tipis. "Makasih, Yah. Kalau gak ada Ayah yang rutin ngajak latihan, aku udah lama berhenti olahraga."
Mereka tertawa kecil, menikmati obrolan yang terasa ringan. Keduanya duduk berdekatan, tanpa jarak yang mengganggu.
Selesai berlatih, seperti biasa Pak Bagas mengantar Erni pulang. Lapangan tenis memang tak jauh dari rumah Erni, jadi mereka berjalan santai sambil menikmati suasana sore. Sementara sepeda Pak Bagas diparkir di depan rumah Erni.
"Ayah, capek gak? Tadi seru banget mainnya," ucap Erni dengan lirikan manis.
Pak Bagas tersenyum, tak bisa menahan tawa kecil. "Lumayan capek, tapi kalau main sama kamu, selalu jadi semangat."
Erni tertawa lembut mendengar candaan itu, mereka terus berjalan santai. Meski percakapan mereka ringan, suasana keakraban begitu kental. Mereka seolah tak perlu banyak bicara untuk merasakan kenyamanan satu sama lain.
"Hari Minggu ayah mau kondangan ke mertuanya si Letda, kamu mau ikut gak, Er?"
"Oh, keluarganya Sinta ya, wah kejauahn Yah, anak-anak gak bisa ikut deh, kan mereka sekolah, kalau ke sana bolak-balik capek. Dulu aja waktu ikut ngebesan, kelelahan. Jalan kampungnya masih rusak parah sih. Ayah sama siapa ke sana?"
"Ya paling sendirian. Gak enak kalau gak ada perwakilan dari keluarga kita. Lagian Letda Nurdin juga katanya gak bisa pulang dari Papua."
"Iya, aku juga paling titip amplop sama salam aja buat mereka."
"Iya, Ibu, Niken, Hendri dan Azizah juga begitu, pada mau nitip sama ayah, hehehe."
Sampai di depan rumah Erni, mereka berhenti sejenak. Rumah terasa sunyi, berbeda dengan kehangatan sore yang mereka nikmati.
"Masuk dulu, Yah. Minum teh sebentar sebelum pulang," ajak Erni dengan nada lembut.
Pak Bagas menatap Erni dan tersenyum. "Boleh, tapi cuma sebentar, ya. Nanti Ayah malah betah di sini."
Erni tertawa kecil, mengajaknya masuk. Keduanya tampak biasa saja. Namun ada kehangatan yang tak bisa diabaikan.
Saat Erni berdiri di depan meja makan, membuat teh, suasana di dapur begitu hening. Tangan Erni yang sedang mengaduk teh bergetar sedikit, namun dia berusaha tampak tenang.
Dari sudut matanya, dia bisa merasakan kehadiran mertuanya semakin mendekat. Jantungnya berdebar-debar, sementara pikirannya berkecamuk antara keraguan dan keinginan untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pak Bagas berdiri tepat di belakang Erni, jarak mereka semakin dekat. Napasnya terasa di tengkuk menantunya, membuat udara di sekitarnya semakin panas. Sang Mayor pun sekuat tenaga menahan sesuatu yang sejak tadi mengeras di balik celana pendeknya, akibat terlalu fokus memperhatikan pantat menantunya yang seksi dalam balutan rok tenis yang relatif pendek. Ditambah bayangan aksi liar Bu Soraya tadi siang bersama Badri.
Erni tetap mengaduk teh, pura-pura tidak menyadari bahwa mertuanya kini sudah begitu dekat, bahkan nyaris menyentuhnya. Ada perasaan campur aduk di dalam dirinya-rasa bersalah, penasaran, dan ketegangan yang tak terelakkan. Erni bahkan sudah mulai merasakan ada sesuatu yang samar terasa keras dan panas menyentuh tubuh bagian belakangnya.
Pak Bagas merasa sedikit ragu, menunggu tanda dan reaksi menantunya, apakah akan menolak atau tidak. Tapi Erni tidak bergerak, padahal Pak Bagas hampir saja menempelkan selangkangannya pada pantatnya. Erni tetap berdiri dalam posisinya sambil mengaduk teh yang sepertinya sudah lama selesai diaduk.
Di dalam hati, Erni tahu, bahwa jarak di antara mereka sudah tidak ada batas lagi, dan dirinya hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh mertuanya. Akhirnya, Pak Bagas memberanikan diri merapat, tubuhnya benar-benar menyentuh tubuh Erni. Tangannya terulur perlahan, menyentuh bahu menantunya dengan lembut.
Pada saat itu, Erni berhenti mengaduk teh, tubuh dan tangannya sedikit gemetar, namun dia tetap berdiri di tempatnya. Sesaat kemudian, Pak Bagas melingkarkan tangannya di pinggang Erni, menariknya pelan ke dalam pelukannya.
Erni sempat tersentak kecil, mencoba menahan diri untuk berpura-pura menolak.
"Yah, ini... gak seharusnya," bisiknya pelan, meski tubuhnya tak bergerak menjauh. Nada suaranya terdengar lemah, seolah tidak sungguh-sungguh mencegah apa yang tengah terjadi. Rona wajahnya memerah, menahan malu dan gairah yang mulai tersulut.
Pak Bagas hanya terdiam, tak berkata apa-apa. Dia menunggu reaksi lebih lanjut, namun Erni tak menunjukkan perlawanan yang nyata. Pelukan itu semakin erat, membuat kehangatan di antara mereka semakin terasa. Tubuh mereka benar-benar hanya dipisahkan pakaian masing-masing.
Pak Bagas menarik Erni semakin erat dalam pelukannya, gerakan tubuhnya halus namun penuh keyakinan. Erni masih terdiam, meskipun ada pergulatan dalam hatinya, dia tak bisa menyangkal kehangatan seperti ini sudah diimpikan lama sekali dan kini perlahan-lahan merayap membakar sekujur tubuhnya.
Kedua tangan Pak Bagas makin erat memeluk perut ramping menantunya, perlahan-lahan turun hingga salah satu telapak tangan lelaki berusia 59 tahun itu mulai menempel tepat di atas bukit hangat di balik rok tenis Erni. Kedutan lembut pun mulai Erni rasakan namun dia belum brani berbuat banyak. Desiran darah dan degup jantungnya masih terlalu kuat mendominasu rasa yang berkecamuk dalam dirinya.
Pak Bagas menundukkan wajahnya, menyesap leher menantunya walau terhalang kerudung, namun tetap mesra. Aroma tubuh Erni yang bercampur keringat, kian membuatnya bergairah. Erni sedikit memiringkan kepalanya.
Wajah mereka kini begitu dekat. Mata mereka bertemu dalam sekejap yang terasa begitu panjang, saling membaca tanpa perlu kata-kata. Telapak tangan Pak Bagas semakin berani bergerak lembut mengelus-elus vagina Erni, walau masih terhalang rok, lagging dan celana dalamnya.
Dengan gerakan lembut, Pak Bagas mengangkat dagu Erni, mengarahkan wajahnya ke arah dirinya. Erni sedikit ragu, namun tidak menghindar. Napas mereka kini menyatu dalam keheningan yang begitu intim. Tanpa terburu-buru, Pak Bagas mendekatkan bibirnya ke bibir Erni, memberikan sebuah ciuman yang dalam, perlahan, dan penuh kehangatan.
Ciuman itu terasa begitu mesra dan mengalir. Sentuhan bibir mereka penuh rasa dan keintiman yang sudah lama terpendam. Erni pun menutup matanya, tenggelam dalam momen yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi juga sebelumnya. Tubuhnya mulai merespons, ikut larut dalam ciuman yang terasa begitu mendalam. Sungguh lelaki plamboyan nan matang ini sangat luar biasa.
Di tengah-tengah keheningan itu, hanya ada mereka berdua, mertua dan menantu yang kini terperangkap dalam sebuah perasaan yang sulit dijelaskan. Ciuman mereka bukan sekadar nafsu, melainkan sebuah ungkapan dari kedekatan yang selama ini tidak terucapkan.
Mereka semakin tenggelam dalam gelombang birahi yang membara, tangan-tangan mereka pun mulai ikut beraksi, menjalar ke beberapa wilayah yang bisa mereka jangkau untuk mengungkapkan segala keresahan dalam dirinya yang kian bergemuruh.
Erni sedikit menekan dan mengoyangkan pantatnya, membalas tekanan benda keras dan panas di pantat kenyal nan montoknya. Ia bahkan bisa merasakan seolah benda tersebut menempel tanpa penghalang. Dan yang pasti dia juga bisa meyakinkan jika benda itu jauh lebih keras, lebih besar dan lebih panjang dibandung milik Yudis, suaminya.
"Yaaaah," Erni sedikit melenguh dalam desah napas yang tersengal. Tangannya yang sedikit bergetar pun mulai merayap perlahan ke belakang pantatnya, hendak meraba benda bulat panjang yang sangat membuatnya bergairah sekaligus penarasan. Benda yang masih terlinduk celana dalam dan celana tenis sang ayah mertua.
Untuk sejenak Pak Mayor, benar-benar melupakan bayangan besannya, fokus dengan menantunya yang kini sudah makin pasarah dalam pelukannya, walau masih terasa ada sedikit-sedikit penolakan. Entah karena tidak mau atau hanya berpura-pura. Namun yang pasti layanan lidah Erni semakin liar, dan tangannya semakin nekad memegangi senjata andalan mertuanya, walau masih dibalik celana.
Namun tiba-tiba...
^*^





