Aretha hanya bisa meringis sambil memandangi luka di lututnya. Memang bukan luka yang serius, tapi lumayan bikin perih. Jam istirahat biasanya dia habiskan di kantin, tapi kini dia terpaksa duduk diam di dalam kelas. Menyebalkan.
"Ngapain diliatin mulu? Kalau udah di kasih antiseptik paling besok atau lusa, lukanya juga udah kering, Tha," Meyra mencoba menenangkan sahabatnya itu. Gadis manis berambut pendek ini pembawaannya memang jauh lebih tenang dan kalem di banding Aretha yang gemar grasak grusuk.
"Tapi ini perih Mey. Bikin gue malas jalan tau nggak," rungut Aretha yang masih tak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya pada Mahesa.
"Minta gendong sama Mahesa aja," ucap Meyra sambil tersenyum mencoba menggoda Aretha.
"Idih. OGAH!!" Aretha menyahut tegas dengan penekanan di setiap katanya. "Sumpah ya, gue kesel banget sama tu cowok. Bisa-bisanya dia ngerjain gue."
"Positive thinking ajalah, Tha. Mungkin ... Mahesa pengen temenan sama kamu," kata Meyra lagi dengan muka polosnya.
"Meyra sayang, gue tahu muka lo itu positif vibes banget. Lo juga lebih mendahulukan berbaik sangka dulu sama orang. Tapi ... bisa nggak untuk Mahesa masuk dalam pengecualian?" pinta Aretha dengan senyum terpaksanya. Dari gelagatnya saja, Mahesa itu tak bisa berteman dengan siapapun. Dia menyebalkan. Terlalu banyak komentar. Dan ... aneh.
"Why? Mahesa keliatannya baik." Meyra masih dengan pikiran positifnya.
"Kan keliatannya doank. Lo udah pernah interaksi langsung sama dia?" tanya Aretha gemas saking kesalnya. Meyra hanya menjawab itu dengan menggeleng cepat.
"Gue Mey. Gue yang ngalamin itu tadi. Percaya deh, nggak ada satu hal pun yang menyenangkan dari tu cowok."
"...."
"Lagian kalau emang dia mau temenan, masih banyak cara sopan. Bukannya nyelakain kayak gini. Itu namanya dia ngibarin bendera perang sama gue."
"Hush ... ! Nggak boleh suuzhan gitu ah," nasehat Meyra seperti biasa.
"Udah dari tadi juga gue suuzhannya," rungut Aretha dengan suara kecil. Dia tak ingin mendengar Meyra berpikiran positif tentang Mahesa lagi. Aretha memang agak lain.
"By the way, kamu kenapa masih di sini?"
"Kan gue udah bilang, gue lagi malas jalan, Meyraaa ...."
"Loh ... kan tadi aku juga bilang, kamu dicariin sama Pak Hendro. Dan dia minta kamu nemuin dia di ruangannya waktu jam istirahat."
Pak Hendro itu wali kelas Aretha. Beliau terkenal galak, tegas, dan ... tidak suka anak murid yang geraknya lamban jika dia panggil. Dan ya ... Aretha sepertinya nyaris masuk dalam deretan murid-murid itu.
"Mati gue!! Kok lo nggak ingetin dari tadi sih, Mey??"
"Gimana mau ingetin, orang kamu sibuk sendiri sama luka di lutut kamu."
"Haduhh ... alamat di omelin habis-habisan gue."
Aretha bergegas meninggalkan kelas dengan langkah tertatih. Bukan lebay, tapi lututnya memang masih terasa perih.
"Duh ... ini semua gara-gara manusia pancaroba nan labil itu. Awas aja tu cowok kalau ketemu, bakal gue jambakin rambutnya, gue patahin hidungnya yang kayak perosotan TK itu. Dan gue robek-robek mulutnya yang songong itu."
Aretha terus saja ngedumel melampiaskan kemarahannya. Bahkan Ia tak peduli dengan tatapan aneh yang dilontarkan oleh teman-temannya yang berpapasan dengannya di koridor.
"Dia pikir, dia siapa? Jagoan? Gue nggak takut. Mau lo adeknya Mike Tyson, atau sepupunya The rock juga, gue tetap nggak takut," ucap Aretha dengan pede nya. Padahal itu hanya ocehan tidak jelasnya saja.
Akhirnya Aretha tiba diruangan guru, dia langsung bergegas menghampiri Pak Hendro yang sudah menunggu di meja kerjanya.
"Permisi, Pak. Bapak manggil saya?"
"Iya. Dari tadi. Duduk kalian," perintah Pak Hendro dengan suara tegasnya.
Kalian? Perasaan gue datang sendiri. Gumam Aretha sedikit bingung.
"Aretha Mahesa saya bilang apa tadi? Duduk," Pak Hendro kembali mengulangi perintahnya.
Aretha Mahesa? Gue belum ganti nama kalik. Batin Aretha semakin bingung dengan situasinya.
"Saya Aretha Saquila, Pak. Bukan Aretha Mahesa." Tak terima namanya di ganti, Aretha langsung protes.
"Loh iya, saya tahu kok. Siapa juga yang tidak hafal nama murid badung kayak kamu."
Hadeuh ... kena lagi kan.
"Tapi kan saya nggak salah nyebut nama kalian. Aretha. Mahesa."
Lagi-lagi pak Hendro menyebut kata 'kalian'. Aretha spontan menoleh ke belakang, dan pak Hendro memang tidak salah. Beliau sudah menyebutkan nama yang benar. Mahesa berdiri tepat di belakang Aretha.
Lalu sepertinya, dia mendengar semua cacian Aretha sepanjang perjalanan menuju ke sini tadi. Lihat saja mukanya yang tampak kesal dan tatapannya yang sedingin es itu, dia pasti sangat ingin menjitak kepala Aretha sekarang.
Huft ... bagaimana bisa Aretha tidak sadar kalau sejak tadi ada Mahesa yang berjalan mengekorinya.
"Ngejambak, matahin hidung, sama mau robek-robek mulut. Sadis juga lo. Psikopat lo?" tutur Mahesa dengan suara sangat pelan dan mungkin hanya Aretha dan dirinya saja yang bisa mendengarnya.
"Loh kalian ngapain masih berdiri? Duduk." Suara Pak Hendro mengalihkan perhatian keduanya.
Sebelum duduk Mahesa membisikkan sesuatu di telinga Aretha,"Urusan kita belum selesai."
Astaga ... apes banget sih gue hari ini? kesal Aretha dalam hati.
***
Usai menemui Pak Hendro, Aretha kembali ke kelas dengan wajah tertekuk, dan bibir manyun semanyun-manyunnya. Meyra yang melihat itu merasa sedikit heran.
"Kenapa lagi sih, Tha? Itu muka di tekuk mulu'. Senyum donk. Semangat. Kan baru dapat guru privat gratis. Ganteng pulak."
"Diem ah Mey. Gue lagi Bete' nih," sungut Aretha yang sama sekali tak bisa senang apalagi semangat seperti perintah Meyra.
Aretha membenamkan wajah dalam lipatan tangannya di atas meja.
"Arghh ... !! Kenapa sih dari semua murid pintar di sekolah ini, harus dia yang di pilih Pak Hendro?!" gerutu Aretha yang rasanya sudah ingin berteriak kencang, namun Ia tahan lantaran tak ingin membuat keributan.
"Hm ... mungkin karena emang udah takdirnya begitu."
Jawaban Meyra memang tidak salah, tapi Aretha rasanya tak ingin mengatakan kalau itu benar. Tapi ya kayaknya emang udah takdir. But ... why Mahesa?
"Jangan-jangan kalian jodoh," ucap Meyra asal dan kali ini membuat Aretha merasa ingin menggeplak kepalanya. Tapi urung karena hati Meyra terlalu lembut bak sponge cake, untuk Aretha pukul.
"Idih ... najis!"
"Hush ... nggak boleh ngomong kayak gitu. Kalau jodoh benaran gimana? Kamu nggak mungkin bisa ngelakkan?"
Aretha mencebik,"Orang tua gue, dulu juga dikira bakal jodoh dunia akhirat, Ujung-ujungnya apa? Divorce juga kan?"
Meyra kembali tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat hambar. Ia tahu betul bagaimana perasaan sahabatnya itu jika sudah berbicara mengenai kedua orang tuanya. Meyra merangkul pundak Aretha seolah ingin menyalurkan pasokan semangat pada Aretha.
"Udah donk, jangan Bete gitu. Kamu harus tetap semangat. Ingat, UN bentar lagi."
"Tapi kan, Mahe-."
"Tha, nggak peduli siapapun mentor kamu. Kamu harus tetap ngelakuin yang terbaik. Ini juga demi masa depan kamu."
Meyra memang ada benarnya, tapi Aretha masih tetap belum bisa menerima kenyataan kalau seorang Mahesa akan menjadi guru privatnya. Lagian, Pak Hendro dapat motivasi darimana sih sampe harus repot-repot nyodorin guru privat untuk Aretha?
Ahh iya, pasti motivasi itu tercetus setelah pak Hendro merasa sakit mata, melihat nilai-nilai Aretha yang dominan merah itu. Pasti karena itu.
"Tapi dia itu ngeselin banget, Mey. Sumpah deh."
"Kenalin aja dulu orangnya lebih dalam, Tha. Baru kamu bisa menilai."
Aretha menatap tak percaya pada Meyra. Entah darimana Meyra dapat stok kalimat-kalimat bijak dan motivasinya. Kayak nggak ada habis-habisnya.
"Woahh ... lo anaknya Mario Teguh, Mey? Referensi lo kayaknya banyak bener."
"Ha maksudnya?" tanya Meyra yang jelas tak mengerti dengan yang baru saja Aretha katakan.
"Nothing. Forget it."
"ARETHA SAQUILA!!" No ini bukan Meyra.
Kehadiran Mahesa yang tiba-tiba dan memanggil namanya dengan suara yang sangat lantang membuat Aretha sedikit terperanjat. Bahkan mungkin bukan hanya Aretha yang kaget, tapi juga Meyra dan murid lain yang menghuni kelas saat ini. Mengingat sebentar lagi jam istirahat akan berakhir.
Mahesa berjalan cepat mendekati bangku yang di tempati Aretha saat ini.
"Lo kenapa? Kesurupan lo?" tanya Aretha dengan tampang sinisnya.
Mahesa memberikan kertas yang sudah di lipat kecil pada Aretha.
"Ini apa'an?"
"Lo bisa bacakan? Atau apa perlu gue mentorin juga?"
"Lo itu, emang terlahir nyebelin ya?" tanya Aretha yang sepertinya memang sudah tak bisa bersikap lemah lembut lagi didepan Mahesa. Dia masih sangat kesal dengan orang ini.
"Baca aja. Dan jangan banyak komentar." Itu bukan permintaan tapi perintah.
"OK. Bawel amat sih."
Mahesa kemudian berlalu pergi, tetap cuek dengan tatapan heran dari para penghuni kelas yang lain. Ya rumornya memang begitulah dia selama ini. Cuek, masa' bodoh dan tidak peduli dengan keadaan sekitar, seakan dia tidak butuh seorang teman.
Namun kadang ada pula saatnya, dia bersikap lebih peduli, lebih perhatian dan lebih ramah. Ya tapi ... itu sangat langka terjadi. Paling hanya beberapa kali dalam satu semester.
Sepeninggal Mahesa, Aretha kemudian membuka perlahan lipatan kertas itu. Matanya melotot hingga nyaris keluar, mendapati tulisan yang tertera di atas kertas. Begitu pun Meyra, dia juga sama kagetnya.
Aretha nggak salah baca kan?
***





